<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agus Setiaman</title>
	<atom:link href="http://agussetiaman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agussetiaman.wordpress.com</link>
	<description>kajian komunikasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Mar 2012 06:31:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agussetiaman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agus Setiaman</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agussetiaman.wordpress.com/osd.xml" title="Agus Setiaman" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agussetiaman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PERSPEKTIF EVOLUSI</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-evolusi/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-evolusi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan –salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=56&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan –salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara dua kota itu. Kota yang satu menderita gangguan setan dan yang satunya lagi mendapat rahmat tuhan. Kedua kota itu mempunyai keyakinan, harapan dan cinta yang berbeda..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Di dunia modern ide kemajuan menjadi tema dominant dan di abad ini saja kemajuan itu muncul dalam pikiran manusia.<span> </span>Teoritisi perkembangan percaya bahwa pada dasarnya evolusi manusia dan masyarakat itu berjalan lambat namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Perkembangan masyarakat menurut August Comte</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Comte (1798-1857) umumnya telah dikenal sebagai Bapak Sosiologi sebagian karena ia menciptakan nama sosiologi, kalau dilihat karyanya Comte sebenarnya bukan penemu tetapi lebih sebagai orang yang mensistematiskan karya sosiologi. Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Aspek statis sosiologi serupa dengan apa yang kita sebut sekarang ini dengan struktur social, system social dan aspek dinamisnya mengacu pada perubahan social, kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Studi sosiologi dinamis mengkaji tentang urutan perkembangan manusia dan masyarakat dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Tugas sosiologi adalah menemukan hokum-hukum yang menentukan urutan-urutan perkembangan itu. Penemuan hokum-hukum itu selanjutnya akan menyediakan basis rasional bagi memudahkan kemajuan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam menemukan hokum-hukum rentetan sejarah perkembangan manusia dan masyarakat sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya yaitu: tingkat teologis atau khayalan, tingkat metafisik atau abstrak, tingkat ilmiah atau positif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Ketiga tibgkat itu Comte menyebutnya sebagai hokum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tahap Teologis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pada tingkat ini fikiran berfungsi mengira semua fenomena diciptakan oleh zat adikodrati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Comte membagi lagi tahap ini menjadi tifa tingkat yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kepercayaan terhadap kekuatan jimat ( fetishisme)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kepercayaan terhadap jimat menandai awal teologis umat manusia. Di tingkat ini manusia membayangkan semua benda yang ada di alam ini dihidupkan oleh kekuatan yang sama yang menghidupkan dirinya. Pada tingkat ini kekuasaan mulai muncul ( kekuasaan ketua suku, dukun, dll). Prilaku lebih banyak didasarkan pada kepasrahan dan kepura-puraan disbanding dengan pertimbangan akal. Mulai ada usaha menaklukan alam. Kehidupan keluarga mulai muncul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kepercayaan terhadap banyak dewa (polyteisme)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pada periode ini mumcul kehidupan kota, pemilikan tanah menjadi institusi social, muncul system kasta dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kepercayaan terhadap keesaan Tuhan (monotheisme)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tahap ini mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja gagal memberikan basis yang langgeng bagi kehidupan social. mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan Negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat local kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tahap Metafisik atau Abstrak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tingkat ini merupakan modifikasi dari tingkat pertama yang mengasumsikan fikiran bukan ciptaan adikodrati tetapi ciptaan kekuasaan abstrak, sesuatu yang benar-benar dianggap ada, yang melekat dalam diri seluruh manusia dan mampu menciptakan semua fenomena..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Seiring dengan perkembangan pemikiran dalam tahap ini maka kekuasaan gereja dan militer mulai merosot.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tahap Positif atau Ilmiah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Di tingkat ini fikiran manusia tidak lagi mencari id-ide absolute, yang asli dan yang mentakdirkan alam semesta dan yang menjadi penyebab fenomena tetapi mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena artinya menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah-ubah dan kesamaannya. Nalar dan pengamatan menjadi alat utama dalam berpikir. Tata masyarakat yang akhirnya akan lahir dari berpikir ini akan menjadi suatu keadaan ideal dimana faktor-faktor materiil, pikiran dan moral akan digabungkan dengan tepat untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Ditingkat positif agama dan kemunusiaan akan muncul, sosiolog akan menjadi pendeta agama baru dan akan membingbing manusia dalam kehidupan yang harmonis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kemajuan terjadi melalui penggunaan nalar dalam tingkat positif dari sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Menurut Comte tiga faktor yang menyebabkan manusia ingin maju yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tingkat kebosanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Lamanya umur manusia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Faktor demografi (pertambahan jumlah penduduk, tingkat kepadatan, mobilitas penduduk).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Perkembangan masyarakat menurut Herbert Spencer</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam pandangannya perkembangan masyarakat dianalogikan dengan perubahan masyarakat homogen ke masyarakat heterogen seperti masyarakat primitive dan masyarakat modern. Suku-suku primitive serupa dalam seluruh bagian-bagiannya tetapi masyarakat modern semua struktur dan fungsinya tidaklah sama. Selanjutnya seriring dengan peningkatan heterogenitas meningkat pula hubungannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Apa yang menggerakan mekanisme pertumbuhan ini? Dalam pandangan Spencer mekanismenya adalah perjuangan mempertahankan hidup antara berbagai masyarakat. Kesekuruhan proses penggabungan dan penggabungan ulang, perubahan dari homogenitas ke heterogenitas mustahil tanpa terjadinya konflik antara suku-suku dan antara bangsa-bangsa. Karena kelompok yang menyerang dan yang bertahan memerlukan kerjasama<span> </span>yang selanjutnya akan menuju ke peradaban. Dengan mengakui kengerian yang dihasilkan dari konflik itu Spencer berpendapat bahwa bila umat manusia terlepas dari konflik maka dunia ini tentu masih tetap dihuni oleh manusia lemah yang hidup di gua-gua dan hidup dengan mengumpulkan makanan dari hutan dan sungai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sebaliknya begitu manusia keluar dari pertumpahan darah antara masyarakat yang suka berperang itu, maka konflik antara manusia tdk diperlukan lagi. Ini membawa pikiran kita pada dua tipe masyarakat yang dapat diklasifikasikan dalam yaitu masyarakat militant dan masyarakat industri yang merupakan tipe umum evolusi manusia. Tetapi kedua tipe ini tidak saling meniadakan dalam teori dan kenyataannya., kedua tipe ini saling bercampur baur. Namun kecenderungan evolusi adalah dari tipe militant ke tipe masyarakat industri..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Karakteristik masyarakat militant:</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Diorganisasikan berdasarkan kerjasama yang diwajibkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Masyarakat<span> </span>militant mempunyai kekuasaan sentral, kekuasaan mutlak terhadap prilaku individu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Individu dikuasai oleh Negara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pemeliharaan masyarakat menjadi perhatian utama sementara pemeliharaan individu bisa menjadi perhatian nomor sekian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">rakyat memiliki jiwa patriotisme yang berlebih-lebihan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kepatuhan terhada kekuasaan mereka anggap penting dan tak terelakkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sementara Karakteristik Masyarakat Industri</span></em></strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kebebasan yang semakian berkembang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesetiaan semakin berkurang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Keyakianan kecil kepada penguasa/pemerintah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Patriotisme mulai memudar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Penghormatan terhadap individualitas orang lain semakin besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Jadi Spencer memiliki pandangan terhadap suatu masyarakat dimana control pemerintah minimal dan setiap orang mengejar kebahagiaan mereka sendiri secara relative<span> </span>bebas sama dengan pandangan Adam Smith, Herbert Spencer yakin bahwa tujuan akhir masyarakat adalah masyarakat bebas (<em>laissez fair society) </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Teori Evolusi Dalam Konteks Modernisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi perubahan social pada hakekatnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju atau modern dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur yang serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Dibangun dari premis seperti ini, para teoritisi modern secara implicit membangun kerangka teori dgn ciri-ciri sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Modernisasi merupakan proses yang bertahap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Modernisasi dapat dikatakan sebagai homogenisasi sehingga masyarakat terbentuk dengan tendesi dan struktur yang serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Modernisasi terkadang mewujudkan dirinya dalam bentuk lahirnya sebagai proses Erofanisasi atau Amerikanisasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Moderinisasi merupakan proses yang tidak dapat mundur karena tidak bisa dihentikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Modernisasi merupakan perubahan progresif artinya memang diinginkan dan diperlukan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Modernisasi memerlukan waktu yang panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=56&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-evolusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSPEKTIF SOSIOLOGI</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-sosiologi/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-sosiologi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-sosiologi/</guid>
		<description><![CDATA[PENGERTIAN Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya. Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=52&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<h2><strong><em><span lang="EN-US">PENGERTIAN</span></em></strong></h2>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span lang="EN-US">erspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">erspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ecara ringkas dapat disimpulkan bahwa perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">D</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">alam konteks sosiologi juga memiliki perspektif yang memandang<span> </span>proses sosial didasarkan pada sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang melingkupi<span> </span>proses sosial yang terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">D</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">alam mengamati perubahan<span> </span>ekonomi, politik dan sosial, para teoritisi menggunakan berbagai label dan kategori teoritis yang berbeda untuk menggambarkan ciri-ciri dan struktur masyarakat lama yang telah runtuh dan tatanan masyarakat baru yang sedang terbentuk. Misalnya <strong>F. Tonnnies</strong> menggunakan istilah <em>Gemeinschaft</em> dan <em>Gesellschaft</em>, <strong>Emil<span> </span>Durkheim</strong> mengamati dengan <em>solidaritas mekanik</em> dan <em>solidaritas organik</em>. <em>Herbet Spencer</em><span> </span>melihatnya dengan kategori <em>masyarakat militer</em> dan <em>industri</em> serta<span> </span><strong>August Comte</strong> mengujinya dengan tiga tahap perkembangan yaitu tahap <em>teologis, metafisik</em> dan <em>positif</em> atau <em>ilmiah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ada perkembangan selanjutnya terdapat empat perspektif dalam sosiologi yang akan dipaparkan dalam tulisan ini yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.4pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perspektif Struktural Fungsional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.4pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perpektif Konflik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.4pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perpektif Evolusi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:50.4pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perpektif Interaksi Simbolis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perspektif Struktural Fungsional</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">T</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">okoh-tokoh perpektif ini yang dikenal luas antara lain: Talcot Parsons, Neil Smelser.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">C</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">iri pokok perspektif ini adalah gagasan tentang kebutuhan masyarakat (<em>societal needs</em>). Masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat<span> </span>melangsungkan keberadaannya atau setidaknya berfungsi dengan baik. Ciri dasar kehidupan sosial struktur sosial muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan merespon terhadap permintaan masyarakat sebagai suatu sistem sosial. Asumsinya adalah ciri-ciri sosial yang ada memberi kontribusi yang penting dalam mempertahankan hidup dan kesejahteraan seluruh masyarakat atau subsistem utama dari masyarakat tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">emahaman seperti ini dalam pandangan <strong>Talcot Parsons</strong> menghantarkan kita untuk memahami masyarakat manusia dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">truktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama<span> </span>lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">O</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">leh karena setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas, demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat. Setiap lembaga dalam masyarakat melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan pertumbuhan masyarakat tersebut. <strong><em>Functional imperative</em></strong> menggambarkan empat tugas utama yang harus dilakukan agar masyarakat tidak mati yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">A</span></em></strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">daptation to the environnment</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Contoh lembaga ekonomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">G</span></em></strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">oal attainment</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Contoh pemerintah bertugas untuk mencapai tujuan umum</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">I</span></em></strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ntegration</span></em></p>
<h4><span lang="EN-US">Contoh : lembaga hukum, dan lembaga agama </span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">L</span></em></strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">atentcy</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Contoh : keluarga dan lembaga pendidikan bertugas untuk usaha pemiliharaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">A</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">nalogi dengan tubuh manusia mengakibatkan Parsons merumuskan konsep keseimbangan <strong>dinamis-stasioner</strong>, jika satu bagian tubuh manusia berubah maka bagian lain akan mengikutinya. Demikian juga dengan masyarakat, masyarakat selalu mengalami perubahan tetapi teratur. Perubahan sosial terjadi pada satu lembaga akan berakibat perubahan di lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">B</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">erikutnya Parsons merumuskan konsep faktor kebakuan dan pengukur <em>(pattern variables)</em> untuk menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Faktor kebakuan dan pengukur ini menjadi alat utama untuk memahami hubungan sosial yang berlangsung berulang dan terwujud dalam sistem kebudayaan. Faktor tersebut adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">A</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ffective vs Effective-Neutral</span></em></strong></p>
<h3><span lang="EN-US">Masyarakat<span> </span>tradisional<span> </span>cenderung<span> </span>memiliki<span> </span>hubungan<span> </span>yang</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">pribadi<span> </span>dan<span> </span>emosional,<span> </span>sedangkan masyarakat modern memiliki</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">hubungan<span> </span>kenetralan<span> </span>yaitu<span> </span>hubungan<span> </span>kerja yang tidak langsung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">dan menjaga jarak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">articularistic vs Universalistic</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="EN-US">Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat dari kelompok lain sehingga ada rasa untuk memikul tanggungjawab bersama. Masyarakat modern berhubungan satu sama lain dengan batas norma-norma universal yang pribadi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">C</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ollective vs<span> </span>Self Orientation</span><span lang="EN-US"> </span></em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Masyarakat tradisional biasanya memiliki kewajiban-kewajiban<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">kekeluargaan, komunitas dan kesukuan. Masyarakat modern </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:25.2pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">lebih bersifat individualistik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">A</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">scription<span> </span>vs Achievement</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="EN-US">Masyarakat tradisional memandang penting status bawaan dan warisan, masyarakat modern tumbuh dalam persaingan yang ketat dan dinilai melalui prestasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;text-indent:-25.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">F</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">unctional Difused vs Functionally Specific</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:61.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi kelembagaan secara jelas. Masyarakat modern sudah jelas merumuskan tugas kelembagaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span> </span></span><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">D</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ari sejumlah asumsi dasar tersebut maka secara esensial pendekatan ini mengkaji kehidupan sosial manusia sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">M</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">asyarakat merupakan sistem yaang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan tergantung satu sama lain, serta setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">etiap bagian dari suatu masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi dalam memelihara eksistensi dan stablitas masyarakat secara keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">emua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya yaitu mekanisme yang dapat merekatkanya menjadi satu. Mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaann dan nilai yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">M</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">asyarakat cenderung mengarah pada suatu keseimbangan <em>(equilibrium</em>) dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian<span> </span>pada bagian lain agar tercipta harmoni atau stabilitas.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span lang="EN-US">erubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perspektif Konflik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">M</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">anusia membuat sejarah; sejarah yang kita buat selalu terjadi dalam suasana interaksi dengan orang lain. Manusia adalah mahluk sosial yang keberadaannya diciptakan dalam acuan interaksi sosial. Karena itu beberapa pemikir melihat interaksi sosial sebagai mekanisme yang mengerakan perubahan, terutama menggerakan konflik. Beberapa tokoh seperti <strong>Ibnu Khaldun, Karl Marx, Vilfredo Pareto</strong> melihat jalannya sejarah didorong oleh konflik antar manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">erhatian manusia terhadap konflik telah tercermin dalam literatur kuno. Max Weber menyatakan <em>perang antar dewa di zaman kuno bukan hanya untuk melindungi kebenaran nilai-nilai kehidupan sehari-hari, tetapi juga keharusan memerangi dewa-dewa lain, sebagai komunitas mereka juga berperang dan dalam peperangan inipun mereka harus membuktikan kemahakuasaan mereka.</em> Sebagai contoh dalam mitologi Yunani mengenal <strong>Ares</strong> dewa perang yang dibenci oleh dewa-dewa lain karena sifatnnya yang kejam, saudara perempuannya <strong>Eris</strong> adalah dewi percekcokan yang gemar bertengkar dan berperang. Rekannya dari Romawi adalah <strong>Mars</strong> dan <strong>Discardia</strong>.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span lang="EN-US">ejumlah pengamat politik dan sosial lain menekankan pentingnya konflik dalam kehidupan manusia; antara lain <strong>Polybius sejarawan Romawi, Khaldun, Machiavelli, Jean Bodin dan Thomas Hobbes</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Konflik antar kepentingan diri sendiri dan kepentingan sosial meliputi karya <strong>Adam Smith</strong>, temuan <strong>Charles Darwin</strong> yang menyatakan bahwa “<em>Yang kuatlah yang paling beruntung dalam perjuangan mempertahankan hidup.” </em>Ide Darwin diterapkan pada tatanan sosial dalam ideologi sosial Darwinisme, yang mula-mula menerapkannya adalah <strong>Herbert Spencer</strong> dan <strong>WG Summer</strong>. Mereka menyatakan apa yang kemudian diakui sebagai landasan pembenaran ilmiah bagi taktik bisnis yang kejam dari kapten industri abad 19. Para kapten industri adalah anggota masyarakat <em>yang terkuat</em> dan orang yang <em>kurang mampu yang tidak cakap</em> harus menerima nasib mereka demi kesejahteraan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">J</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">adi, evolusi sosial dibayangkan sejalan dengan evolusi biologis. Orang yang mampu bertahan hidup terbukti adalah orang yang terkuat. Di Amerika abad 19, kapten industri adalah mereka yanng terkuat, pemenang dari perjuangan keras untuk mempertahankan hidup dalam dunia bisnis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">andangan tersebut yang kemudian mendasari asumsi bahw evolusi sosial dan kultural sepenuhnya adalah hasil dari konflik antar kelompok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Perang antar kelompok dapat disamakan dengan perjuangan untuk mempertahankan hidup dan yang terkuatlah yang menang dalam kehidupan sosial. Kebencian yang besar dan yang melekat antar kelompok, antar ras dan antar orang yang berbeda menyebabkan konflik tak terelakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">P</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">enaklukan dan pemuasan kebutuhan melalui pemerasan tenaga kerja dan ditaklukan merupakan tema besar sejarah manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Vilfredo Pareto</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> <em>melukiskan sejarah sebagai perjuangan memperebutkan kekuasaan yang tak berkesudahan, kelompok dominan berusaha memelihara dan mempertahankan kedudukannya; kekuatan adalah faktor terpenting dalam mempertahankan stabilitas, kekerasan mungkin diperlukan untuk memulihkan keseimbangan sosial jika keseimbangan itu terganggu. Kekerasan tidak memerlukan pembenaran moral, karena kekerasan mempunyai kualitas pembaharuan membebaskan manusia untuk mengikuti ketentuan tak rasional dari sifat bawaannya sendiri</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">Albion Small</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> dan <strong>Lester Ward</strong> menegaskan bahwa setiap jenis struktur apakah inorganik, organik atau sosial diciptakan oleh interaksi kekuatan-kekuatan yang bersifat antagonis. Interaksi demikian merupakan hukum universal dan hukum itu berarti bahwa struktur terus menerus berubah, mulai dari tingkat primordial yang sangat sederhana hingga ke tingkat kedua yang lebih rumpil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">B</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">erbeda dengan pandangan Pareto, <strong>Ward</strong> tidak menghubungkan konflik antar kelompok dengan kebencian bawaan tetapi lebih disebabkan pelanggaran tak terelakkan oleh satu kelompok atas hak dan wilayah kelompok lain. Dari konflik antar kelompok ini munculah negara dan konflik antar negara memperbesar efisiensi sosial dan meningkatkan peradaban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">M</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">enurut <strong>Dahrendorf,</strong> konflik sosial mempunyai sumber struktural yakni hubungan kekuasaan yang berlaku dalam struktur organisasi sosial, dengan kata lain konflik antar kelompok dapat dilihat dari sudut konflik tentang keabsahan hubungan kekuasaan yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">D</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">ari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perspektif ini memiliki proporsi sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">etiap masyarakat dalam segala hal tunduk pada proses perubahan; perubahan sosial terjadi dimana saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">etiap masyarakat dalam segala hal memperlihatkan ketidaksesuaian dan konflik; konflik sosial terdapat dimana saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">etiap unsur dalam masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan perubahannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-US"><span>Ê<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:18pt;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US">etiap masyarakat berdasarkan atas penggunaan kekerasan oleh sebagian anggotanya terhadap anggota yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=52&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perspektif-sosiologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANOMI: KRISIS BANGSA YANG TAK KUNJUNG SELESAI  OLEH: AGUS SETIAMAN</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-krisis-bangsa-yang-tak-kunjung-selesai-oleh-agus-setiaman/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-krisis-bangsa-yang-tak-kunjung-selesai-oleh-agus-setiaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’ii Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=48&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Pendahuluan</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena<span> </span>dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’</span><span style="font-family:&quot;">ii</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai <em>Mr. Clean</em> menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cuku</span><span style="font-family:&quot;">p</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> bagus, Mar’i</span><span style="font-family:&quot;">i</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai <em>mentri mari berhemat</em> mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia<span> </span>miliki bisa menjamin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (<em>rush</em>) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Permasalah</span><span style="font-family:&quot;">an</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala<span> </span>yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi<span> </span>semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Lama sangat lama bangsa kita berada dalam keterpurukan, terhimpit dalam keadaan yang serba tidak jelas, berkubang dalam lobang ketidakpastian. Penantian yang panjang, sangat panjang kita mendambakan keadaan yang serba berkecukupan, cita-cita <em>gemah ripah loh jinawi </em>sepertinya tetap menggantung diatas langit tanpa sedikitpun kita bisa mendekapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-family:&quot;">Konflik baik horizontal maupun vertikal dapat kita baca dari suguhan media massa setiap hari, dengan kasat mata kita menyaksikan parade amuk massa ditayangkan media massa, entah kasus pedagang kaki lima yang melawan aparat Trantib sampai dengan perang antar warga kampung karena alasan yang sepele. Negeri ini seperti negeri preman yang seolah-olah daerah itu di kavling-kavling sesuai dengan kekuasaannya, persis seperti ungkapan <em>sesama preman jangan saling ganggu.</em> Apakah negeri subur ini sedang mengalami anomi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span><strong><em>Konsep Anomi</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-14.2pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span></em></strong><strong><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh <em>Emile Durkheim</em> seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah <em>keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. </em>Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi<span> </span>industri yang terjadi di Perancis waktu itu.</span><span style="font-family:&quot;"> Seperti yang kita pahami bahwa salah satu dampak revolusi industri adalah pada kemampuan dalam mengendalikan peralatan teknologi yang relatif kompleks tidak seperti pada era pertanian teknologi yang dipergunakan masih sederhana, dengan kata lain pada era industri masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi sehingga keahlian tertentu menjadi modal dasar untuk bekerja di dunia industri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis<span> </span>pada abad 19,<span> </span>tekanan berat yang dialami seorang individu<span> </span>karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan<span> </span>anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut <em>anomi suicide</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;">Sementara </span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. <em>Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya. Dengan kata lain,<em> Anomi terjadi bila<span> </span>struktur<span> </span>budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku</em>.</span><span style="font-family:&quot;"> Pada dasarnya struktur budaya yang hidup bersifat umum seperti nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan disisi lain warga masyarakat cerminan pola prilakunya ditentukan oleh struktur sosialnya sehingga andaikan ia seorang pejabat negara maka seyogyanya memberi tauladan bagi warganya, bila di seorang penegak hukum maka ia adalah penjaga gerbang keadilan, dan kalau ia guru atau dosen maka ia adalah pengawal nilai-nilai moralitas. Anomi terjadi ketika warga masyarakat mengakui bahwa hukum itu ada tapi hukum tidak memberikan rasa keadilan yang didambakan. Warga masyarakat memahami bahwa proses hukum tidak bisa menjanjikan kepastian, hukum hanya ada dalam kitab undang-undang mereka mencari dan menyelesaikan hukum sendiri-sendiri sesuai dengan kamus dan kepentingan sendiri-sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.2pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">GEJALA ANOMI TERJADI</span></strong><strong><span style="font-family:&quot;">KAH</span></strong><strong><span style="font-family:&quot;"> <span lang="EN-US">D</span></span></strong><strong><span style="font-family:&quot;">ALAM MASYARAKAT KITA?</span></strong><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.2pt;"><span style="font-family:&quot;">Berbagai krisis yang menerpa bangsa ini </span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis ekonomi</span><span style="font-family:&quot;"> dan keuangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>4)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penyelesaian politik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>5)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis kepemimpinan nasional</span><span style="font-family:&quot;"> dan lokal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>6)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis moral</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan<span> </span>blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur</span><span style="font-family:&quot;"> serta kesan sebagian masyarakat pemimpin nasional yang seringkali ragu dalam mengambil keputusan.</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu<span> </span><em>mismanagemen </em>negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu</span><span style="font-family:&quot;"> sebagai warisan generasi Bapak-Bapak kita terdahulu <em>(Akankah warisan mismanagemen negara ini juga diberikan pada generasi kita? Maukah kita?)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kalau di Perancis tumbuh anomi <em>suicide</em> </span><span style="font-family:&quot;">yakni individu yang merasa tidak bisa mengikuti perubahan sosial yang sedang berlangsung cenderung menyendiri dan merasa tidak berharga yang akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri maka yang terjadi </span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda <em>(entah guilt culture</em> atau <em>shame culture?)</em> seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung<span> </span>menyakiti atau membunuh orang lain atau <em>anomie homicide.</em> Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja<span> </span>bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang.</span><span style="font-family:&quot;"> Hanya karena tersinggung karena anggota kelompoknya dipalak oleh anggota kelompok lain maka cukup alasan untuk menyerang kelompok lain. Karena jagoannya kalah dalam pemilihan kepala daerah sudah lengkap alasan untuk kemudian bertindak murka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;">Kondisi anomi di Indonesia menampakan karakter khas dengan munculnya kelompok-kelompok sosial dimana dalam kelompok ini tumbuh solidaritas yang tinggi, kondisi ini seringkali memunculkan solidaritas kelompok sehingga ketika anggota kelompoknya disakiti mereka membentuk solidaritas untuk menyakiti kembali. Hemat penulis tumbuhnya kelompok-kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari proses politik yang terjadi pada orde reformasi ini, diakui atau tidak pergantian orde baru ke orde reformasi melalui proses politik dan secara teoritis semua proses politik pada dasarnya adalah pembentukan kelompok, semakin tinggi solidaritas kelompok maka semakin baik pula proses politik yang dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.8pt;margin:6pt 0 .0001pt 14.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.2pt;"><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE</span></em></strong><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 32.2pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan<span> </span>baik krisis ekonomi, politik, sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">ANOMIE INDIVIDU</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">MODAL SOSIAL</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan <em>seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Terdapat sepuluh modal sosial yaitu<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:18.75pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">1. Tan</span></em><em><span style="font-family:&quot;">g</span></em><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">gungjawab</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap<span> </span>masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:15pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">2. Kepercayaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.25pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">3. <em>Kerjasama</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.25pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">4. Kemandirian</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:14.25pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">5. Kebersamaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:15pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">6. Keterbukaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:15pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">7. Keterusterangan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:15pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">8. Empati</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:18pt;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">9. Solidaritas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>10. </span></span><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Toleransi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><strong><span style="font-family:&quot;">BUKU RUJUKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Johnson Paul Doyle, (terjemahan Robert MZ Lawang), 2000, <em>Teori Sosiologi Klasik dan Modern, </em>Gramedia, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Kazhim Musa (editor), 1998, <em>Menuju Indonesia Baru, Menggagas Reformasi Total,</em> Pustaka Hidayah, Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Philipus, Nurul Aini, 2004, <em>Sosiologi dan Politik</em>, RajaGrafindo Persada, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Ritzer George, Goodman J Douglas, 2004, <em>Modern Socioloical Theory. 6th edition,</em> McGrow Hill, USA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Rush Michael, Althoff Phillip, 2006,<span> </span><em>Pengantar Sosiologi Politik,</em> RajaGrafindo Persada, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Soekanto, Soerjono, 2004, <em>Sosiologi suatu Pengantar,</em> Rajawali Press, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, 1999, <em>Sosiologi Kelompok,</em> Rajawali Press, Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Soesanto Astrid S, 1990, <em>Sosiologi dan Perubahan Sosial, </em>Rajawali Press, Jakarta.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=48&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-krisis-bangsa-yang-tak-kunjung-selesai-oleh-agus-setiaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERUBAHAN SOSIAL</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perubahan-sosial/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perubahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan didunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan Ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus Kedalam masa depan yang suram, diledakan oleh konflik, Menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari Bentuk kehidupan yang lebih berarti.(T.S. ELIOT) PENDAHULUAN Seperti yang diungkapkan oleh TS Eliot, saat ini kita memerlukan pemahaman tentang perubahan sosial . Pandangan para pemikir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=43&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoPlainText"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <span style="font-family:&quot;">Kehidupan didunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Kedalam masa depan yang suram, diledakan oleh konflik,</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Bentuk kehidupan yang lebih berarti.(T.S. ELIOT)</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">PENDAHULUAN</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Seperti yang diungkapkan oleh TS Eliot,<span> </span>saat ini kita memerlukan pemahaman tentang<span> </span>perubahan sosial . Pandangan<span> </span>para pemikir masa lalu bermanfaat dan dapat dijadikan landasan, baik untuk memahami dunia sekarang maupun untuk menyusun perspektif baru masa yang akan datang. Namun demikian beberapa tulisan masa lalu cenderung mengkaburkan arti perubahan sosial itu sendiri, dan dilandasi asumsi-asumsi yang terbukti keliru. Teori-teori masa lalu dibangun berdasarkan asumsi-asumsi di atas mitos<span> </span>tentang perubahan. Mitos-mitos ini merintangi dan menghalangi kita<span> </span>dalam menyusun perspektif<span> </span>baru tentang perubahan sosial.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">ARTI PERUBAHAN</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Kebanyakan difinisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert Moore mendefiniskan perubahan sebagai perubahan penting dari struktur sosial. Struktur sosial disini diartikan pola-pola prilaku dan interaksi sosial. Moore memasukan kedalam definisi perubahan sosial berbagai ekspresi mengenai struktur norma, nilai, dan fenomena kultural, jelaslah definisi demikian serba mencakup.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Definisi lain tentang perubahan sosial<span> </span>menyatakan sebagai variasi atau modifikasi dalam setiap aspek proses sosial, pola sosial, dan bentuk-bentuk sosial, dan setiap modifikasi pola antar hubungan yang mapan dan standar<span> </span>prilaku. </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dari definisi yang dikemukakan para ahli dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang serba mencakup, yang menunjuk pada perubahan fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individual hingga tingkat dunia. </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Perubahan sikap sama pentingnya dan sama logisnya dengan perubahan institusional, yang perlu diperhatikan adalah perubahan penting<span> </span>pada tingkat tertentu tapi tidak harus penting pada tingkat yang lain.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Perubahan sikap mungkin mencerminkan perubahan hubungan antar individu, antar organisasi atau antar instansi, tetapi mungkin pula tidak. </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">MITOS TENTANG PERUBAHAN</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>1.Mitos Penyimpangan</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sejumlah besar pemikiran sosiologis membayangkan perubahan<span> </span>sosial dalam arti sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Artinya keadaan normal peristiwa dalam masyarakat adalah terus menerus, institusi atau nilai-nilai atau pola-pola kebudayaan dibayangkan stabil sepanjang waktu. Sebagai contoh Auguste Comte miskipun mengakui peranan manusia dalam kemajuan sosial, ia menurunkan peranan tersebut kepada salah satu alat perombak intelektual. Utopia yang menurut Comte adalah salah satu bentuk masyarakat ilmiah, akan muncul jika orang berpikir ilmiah. Peranan sosiolog adalah menggiring masyarakat untuk berpikir ilmiah.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Perspektif yang dominan dalam dekade belakangan ini adalah perpektif Stuktural Fungsional<span> </span>yang memusatkan perhatian dan dukungannya pada tatanan sosial yang ditandai stabilitas dan integrasi, pemusatan perhatian pada stabilitas ini (akibatnya mengabaikan perubahan) dengan asumsi bahwa analisis statis dapat dilakukan tanpa mempersoalkan perubahan, dan untuk memahami perubahan sosial, terlebih dahulu diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat dalam keadaan statis. Perspektif ini memusatkan perhatian pada struktur ketimbang proses, sekalipun menganalisis proses sosial analisisnya dalam batas-batas struktural yang sempit.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Sifat terus menerus<span> </span>dan teratur telah dipandang sebagai keadaan normal dari peristiwa; dan perubahan telah dipandang sebagai sejenis penyimpangan sosial.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dengan demikian, akan lebih realitis dan bermanfaat melihat perubahan sebagai melekat di dalam sifat sesuatu termasuk melekat didalam kehidupan sosial, Apakah kita berbicara dalam alam fisik, sejarah manusia, atau intelek manusia, akan kita temukan tak ada yang tetap seperti apa, dimana, dan keadaan semula, melainkan segala sesuatu bergerak, berubah, terjadi dan berubah keadaannya. </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Realitas tidak statis seperti yang diamati filsuf Yunani Heraclitus semua mahluk senantiasa mengalir, terus-menerus berubah, terus-menerus tercipta dan lenyap.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Adanya perubahan dimana-mana, barangkali akan mudah diterima oleh masyarakat modern, maupun masyarakat tradisional atau masyarakat kuno. Mengenai masyarakat kuno dapat diambil masyarakat Cina sebagai contoh. Dalam pandangan Hegelian masyarakat Cina telah melampaui tingkat kemandegan struktur sosial, tak dapat lagi dipertahankan. Jelas bahwa sejarah Cina mengalami pergolakan, perubahan tiba-tiba dan perubahan bertahap. Misalnya di zaman yang disebut zaman revolusi, Cina sangat berubah bersama dengan masyarakat besar lainnya.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Dapat disimpulkan bahwa perubahan adalah wajar atau normal dan perubahan terjadi dimana-mana. Karena itu permasalahan perubahan sosial lebih merupakan masalah tingkat perubahan itu sendiri dibanding masalah ada atau tidaknya perubahan. Yang perlu diteliti adalah pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa masyarakat tertentu dan pada waktu tertentu menunjukan perubahan yang luar biasa cepatnya atau luar biasa lambatnya; faktor apa yang mempengaruhinya dan bagaimana pengaruhnya. Apakah ada tingkat perubahan optimal<span> </span>umat manusia.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">2. Mitos tentang trauma</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Pemikiran yang menyatakan<span> </span>perubahan adalah abnormal sering dihubungkan dengan pemikiran yang menyatakan bahwa perubahan adalah traumatis. Perubahan dipandang sebagai siksaan, krisis, dan agen asing yang tak terkendali.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Spicer memberikan pandangan mengapa orang trauma dalam menghadapi perubahan penyebabnya adalah :</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>a.<span> </span>Perubahan itu dibayangkan dapat mengancam keamanan dasar. </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>b.<span> </span>Perubahan itu tidak dipahami masyarakat.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span><span> </span><span> </span>c. <span> </span>Perubahan itu terlalu dipaksakan.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Perubahan bukanlah rintangan yang tak terelakan, kadang-kadang diwaktu lain orang membuat perubahan, perubahan berkaitan dengan ketegangan yang dialami oleh individu atau masyarakat. Perubahan yang cepat dapat menimbulkan ketegangan yang luar biasa, Kenneth Kenison seorang ahli psikologi berpendapat inovasi yang tidak henti-hentinya menandai kehidupan orang Amerika merupakan bagian dari sumber ketegangan terdalam didalam kehidupan bangsa Amerika. Alvin Toffler telah menciptakan ungkapan goncangan masa depan (future shock)<span> </span>Riset yang dilakukan Vinohur dan Selzer menemukan bahwa terdapat korelasi antara tingkat perubahan yang dibayangkan dengan tingkat kegelisahan yang dialami, semakin besar tingkat perubahan yang dibayangkan semakin tinggi tingkat kegelisahan yang dialami oleh individu atau masyarakat itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Studi lain disimpulkan oleh Strabuch, bahwa anggota organisasi akan menjadi tidak bahagia jika berada dalam lingkungan yang terlalu stabil maupun dalam lingkungan yang terlalu berubah-ubah.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">3.Mitos perubahan satu arah dan Pandangan Utopia</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Auguste Comte dalam teori evolusi sosialnya menyatakan bahwa semua masyarakat menuju pada tujuan<span> </span>yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula untuk mencapai tujuan tersebut. Teori ini melukiskan<span> </span>urutan perkembangan masyarakat pada urutan yang tak terelakan, yang menjurus ke arah tujuan yang telah ditakdirkan sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Teori ini beranggapan masyarakat yang menerima teknologi Barat, tak terelakan akan meniru pula masyarakat Barat yang mengirim teknologi itu.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Dalam pandangan Utopia berasumsi bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertingginya dalam prestasi manusia. Karena itu, penyelesaian<span> </span>masalah dunia<span> </span>adalah terletak pada usaha membantu negara-negara berkembang memodernisasikan dirinya secepat dan sebaik mungkin sehingga serupa dengan Barat, dengan demikian negara-negara berkembang akan segera menikmati perdamaian dan kesejahteraan.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Pandangan ini banyak ditentang<span> </span>oleh sejumlah bukti penting, diantaranya<span> </span>:Antitesis antara tradisional dengan modern adalah keliru.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">Dalam studinya di Cantel , Guetemala, Nash menemukan sejumlah besar kehidupan tradisional berlanjut bahkan tumbuh subur pada tingkat lebih tinggi di dalam proses industrialisasi.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Peranan struktur kekeluargaan terhadap urbanisasi dan modernisasi memberikan contoh yang baik tentang bagaimana tradisi Jepang telah membantu perubahan. Urbanisasi di Jepang berlangsung menurut cara yang lebih teratur dibanding dengan yang terjadi di Eropa maupun Amerika, dan sedikit banyak ditentukan atau dikendalikan oleh organisasi keluarga. Secara khas seorang anak laki-laki akan tetap tinggal di desa dan mewarisi kekayaan keluarganya, sementara anak yang lain pergi ke kota dan mencari kerja.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Karena itu, tak ada konflik yang melekat antara aspek tradional dan aspek modern, jadi tak ada alasan untuk menyatakan bahwa semakin modern suatu bangsa semakin perlu melepaskan tradisinya.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Beberapa faktor yang sering dihubungkan dengan pengalaman di Barat, mungkin berkorelasi negatif dengan apa yang terjadi di negara-negara berkembang. Pada tingkat perkembangan tertentu faktor-faktor seperti kemampuan baca tulis, pertumbuhan media massa, pendidikan formal, dan urbanisasi mungkin berkorelasi negatif dengan pertumbuhan terus-menerus. Pemerintah negara berkembang mengalami situasi yang rumit berhadapan dengan keinginan melaksanakan pembangunan pendidikan berskala luas, yang secara politis penting tetapi disisi lain secara ekonomi tak mungkin dilaksanakan karena akan mengganggu akumulasi<span> </span>kapital yang diperlukan guna membangun ekonomi.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;">PENUTUP</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sosiologi sebagai ilmu tentang tatanan sosial dan perubahan sosial<span> </span>lahir di tengah pergolakan abad 19. Auguste Comte sebagai Bapak Sosiologi , menjadi bapak yang tidak hanya menjelaskan basis aktif struktur masyarakat tetapi juga rangkaian perkembangan manusia.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Perspektif baru tentang perubahan sosial berasumsi bahwa perubahan adalah normal, wajar; bahwa pada dasarnya perubahan tidak mengandung trauma, bahwa perubahan yang beraneka ragam terbuka bagi setiap masyarakat.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=43&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/perubahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANOMI DI INDONESIA</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-di-indonesia/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 07:07:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[SOSIOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#60;!&#8211; /* Font Definitions */ @font-face {font-family:&#8221;Cambria Math&#8221;; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:&#8221;Monotype Sorts&#8221;; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:Symbol; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:&#8221;Bookman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=41&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><br />
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }<br />
  &lt;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&#8221;Cambria Math&#8221;; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:&#8221;Monotype Sorts&#8221;; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:Symbol; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:&#8221;Bookman Old Style&#8221;; 	panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;,&#8221;serif&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:-2; 	mso-list-type:simple; 	mso-list-template-ids:-1;} @list l0:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-text:*; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:0cm; 	text-indent:0cm; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @list l1 	{mso-list-id:425460756; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:853938808 -1882680418 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @list l2 	{mso-list-id:1133791754; 	mso-list-type:simple; 	mso-list-template-ids:-1701837446;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:&#8221;Monotype Sorts&#8221;;} @list l3 	{mso-list-id:1509127564; 	mso-list-type:simple; 	mso-list-template-ids:-1597085692;} @list l3:level1 	{mso-level-start-at:10; 	mso-level-text:&#8221;%1\. &#8220;; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	mso-level-legacy:yes; 	mso-level-legacy-indent:18.0pt; 	mso-level-legacy-space:0cm; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:14.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;,&#8221;serif&#8221;; 	mso-ansi-font-weight:normal; 	mso-ansi-font-style:normal; 	text-decoration:none; 	text-underline:none;} @list l0:level1 lfo2 	{mso-level-start-at:1; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-numbering:continue; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	mso-level-legacy:yes; 	mso-level-legacy-indent:18.0pt; 	mso-level-legacy-space:0cm; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]&gt;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-priority:99;<br />
	mso-style-qformat:yes;<br />
	mso-style-parent:&#8221;";<br />
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0cm;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:10.0pt;<br />
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;,&#8221;serif&#8221;;}</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Pendahuluan</span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena<span> </span>dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’I Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai <em>Mr. Clean</em> menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cukuo bagus, Mar’i yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai <em>mentri mari berhemat</em> mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia<span> </span>miliki bisa menjamin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (<em>rush</em>) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Permasalah yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala<span> </span>yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi<span> </span>semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh <em>Emile Durkheim</em> seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah <em>keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. </em>Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi<span> </span>industri yang terjadi di Perancis waktu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis<span> </span>pada abad 19,<span> </span>tekanan berat yang dialami seorang individu<span> </span>karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan<span> </span>anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut <em>anomi suicide</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span></em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. <em>Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dengan kata lain,<em> Anomi terjadi bila<span> </span>struktur<span> </span>budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">GEJALA ANOMI YANG TERJADI DI INDONESIA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Permasalahan yang dihadapi bangsa ini antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis ekonomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Penyelesaian politik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis kepemimpinan nasional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 54pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>ò<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Krisis moral</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan<span> </span>blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur . Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu<span> </span>mismanagemen negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kalau di Perancis tumbuh anomi <em>suicide</em> di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda <em>(entah guilt culture</em> atau <em>shame culture ?)</em> seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung<span> </span>menyakiti atau membunuh orang lain atau <em>anomie homicide.</em> Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja<span> </span>bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE</span></em></strong><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan<span> </span>baik krisis ekonomi, politik, sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>Þ<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">ANOMIE INDIVIDU</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">MODAL SOSIAL</span></strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan <em>seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Terdapat sepuluh modal sosial yaitu<span> </span>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">1. Tanggungjawab</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18.75pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap<span> </span>masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">2. Kepercayaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 15pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">3. <em>Kerjasama</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 14.25pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">4. Kemandirian</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 14.25pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">5. Kebersamaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 14.25pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">6. Keterbukaan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 15pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">7. Keterusterangan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 15pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">8. Empati</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 15pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">9. Solidaritas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"><span>10. </span></span><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Toleransi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 .0001pt 18pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-size:14pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=41&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/25/anomi-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONTRIBUSI KONSEPSI PSIKOLOGI BEHAVIOURISME TERHADAP PERKEMBANGAN TEORI DALAM ILMU KOMUNIKASI  Slamet Mulyana dan Agus Setiaman</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/19/kontribusi-konsepsi-psikologi-behaviourisme-terhadap-perkembangan-teori-dalam-ilmu-komunikasi-slamet-mulyana-dan-agus-setiaman/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/19/kontribusi-konsepsi-psikologi-behaviourisme-terhadap-perkembangan-teori-dalam-ilmu-komunikasi-slamet-mulyana-dan-agus-setiaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 05:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[PSIKOLOGI KOMUNIKASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Abstrak Behaviorisme banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen dan ini diakui secara luas sebagai jasa besar para behavioris dalam penelitian tentang prilaku manusia termasuk juga ilmu komunikasi yang mengkaji manusia dan prilakunya banyak dipengaruhi oleh konsepsi behavioris Lahirnya paham ini merupakan reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=31&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Abstrak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Behaviorisme banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen dan ini diakui secara luas sebagai jasa besar para behavioris dalam penelitian<span> </span>tentang<span> </span>prilaku manusia<span> </span>termasuk juga ilmu komunikasi yang mengkaji manusia dan prilakunya banyak dipengaruhi oleh konsepsi behavioris<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Lahirnya paham ini merupakan reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak) yang sangat sulit diamati, diukur dan diramalkan. Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia<span> </span>kecuali <em>instink</em> adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep &#8220;<strong>manusia mesin</strong>&#8221; <em>(Homo Mechanicus).</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Latar Belakang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">“Ilmu komunikasi ibarat oasis, yang menjadi persimpangan jalan dan tempat perjumpaan berbagai ilmu (musafir) dalam perjalanan ke tujuan keilmuannya masing-masing. Walaupun sebagian musafir itu sekedar mampir sebentar, ilmu yang dikembangkannya pada saat mampir itu membantu pertumbuhan ilmu si musafir dan memperkaya oasis tersebut“ demikian kata Wilbur Schramm, salah seorang Bapak Ilmu Komunikasi (Dahlan, 1996). Komunikasi adalah suatu ilmu yang cakupannya luas dan perlintasan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik, ilmu politik, dan sebagainya. Sebagian dari para peletak dasar ilmu komunikasi memang berlatar belakang ilmu lain, yang kemudian tertarik pada ilmu komunikasi, seperti Harold Lasswell yang ahli ilmu politik, Claude Shannon dan Warren Weaver yang ahli fisika, atau Paul Lazarsfeld yang seorang sosiolog. Sementara Wilbur Schramm sendiri adalah seorang ahli bahasa Inggris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kenyataan tersebut menyebabkan banyak teori-teori komunikasi yang sebenarnya ‘dipinjam’ dari berbagai disiplin ilmu lain. Fakta bahwa sejauh ini ilmu komunikasi belum menghasilkan teori-teori besar (<em>grand theories</em>), seperti sosiologi atau psikologi, dianggap sebagai kelemahan ilmu komunikasi oleh sebagian pengamat. Namun, sebagian pengamat lain menegaskan justru di situ pulalah kekuatannya (Mulyana, 1999). Kenyataan bahwa ilmu komunikasi bersifat multidisipliner dan merupakan ilmu yang relatif baru tidak membuat membuat ‘rendah diri’ para pakar ilmu komunikasi, karena hal itu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan ilmu komunikasi sejajar dengan ilmu-ilmu sosial yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Menurut Rakhmat (2001), banyak teori dalam ilmu komunikasi dilatarbelakangi konsepsi‑konsepsi psikologi tentang manusia. Paling tidak, ada empat teori psikologi yang paling dominan yang dianggap sebagai akar dari teori komunikasi, yaitu Psikoanalisis, Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Setiap pendekatan (konsepsi) tersebut memandang manusia dengan cara yang berlainan, yang akan mempengaruhi pandangannya tentang karakteristik manusia sebagai pelaku utama komunikasi. Dalam tulisan ini akan dibahas konsepsi behaviorisme, yang pada dasarnya melihat manusia sebagai <em>Homo Mechanicus</em> (Makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Secara umum, pembahasan materi dalam tulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang kontribusi pandangan (konsepsi) Psikologi Behaviorisme terhadap perkembangan teori dalam Ilmu Komunikasi, dalam tulisan ini dibahas pemahaman singkat tentang perkembangan konsepsi psikologi behaviorisme, yang mencakup perkembangan pemikirannya sekaligus tokoh-tokohnya. Selanjutnya dibicarakan kontribusi behaviorisme dalam konteks komunikasi interpersonal,<span> </span>dan komunikasi massa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sejarah Singkat Mahzab Behaviorisme </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Dalam perkembangan Psikologi, bidang ilmu yang mengkaji tentang tingkah laku manusia, yang mendapat sebutan mazhab ‘kedua’ adalah karya para ahli yang berhu­bungan dengan teori Behaviorisme. Teori yang bersifat umum ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Saat itu Watson adalah seorang guru besar psikologi di Universitas Johns Hopkins. la berupaya menjadikan studi tentang manusia seobjektif dan seilmiah mungkin, karenanya seperti Sigmund Freud, ia berusaha mereduksikan tingkah laku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia<span> </span>kecuali <em>instink</em> adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep &#8220;<strong>manusia mesin</strong>&#8221; <em>(Homo Mechanicus).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kini kata ‘behaviorisme’ biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bi­dang psikologi, sosiologi dan ilmu‑ilmu tingkah laku meliputi bukan hanya karya John Watson, melainkan juga karya to­koh‑tokoh seperti Edward Thorndike, Clark Hull, John Dol­lard, Neal Miller, B.F. Skinner, dan masih banyak lagi. Para pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan metode ilmiah di bidang ilmu‑ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari bina­tang‑binatang yang lebih rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Behaviorisme amat banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen. Walaupun Watson sering dianggap tokoh utama aliran ini, tetapi sebenarnya perkembangannya dapat dilacak sampai kepada empirisisme dan hedonisme pada abad XVIII – XVIII.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632 ‑ 1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai &#8220;warna mental&#8221;. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman satu‑satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (<em>sensory experience</em>). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan perilaku masa lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Salah satu kesulitan <em>emprisme </em>dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. <em>Hedonisme, </em>salah satu paham filsafat etika, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam <em>utilitarianisme, </em>seluruh perilaku manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Menurut Jeremy Bentham (1879), <em>&#8220;Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters, pain and pleasure.” </em><span> </span>Bila empirisme digabung dengan utilitarianisme dan hedonisme, menurut Goldstein (1980:17), maka akan diketemukan apa yang disebut behaviorisme (dalam Rakhmat, 2001).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Teori Freud dikembangkan terutama dengan mendengarkan para pasiennya dan dari hasil interpretasi subjektif­nya atas aneka <em>neurosis</em> para pasiennya itu. Sebaliknya, kaum Behavioris memusatkan diri pada pendekatan ‘ilmiah’ yang sungguh‑sungguh objektif. Lagi pula, Freud menempatkan rangsangan‑rangsangan dan dorongan‑dorongan dalam seba­gai sumber motivasi, sementara kaum Behavioris menekankan kekuatan‑kekuatan luar yang berasal dari lingkungan. Dalam teori mereka segala yang berbau subjektif sama sekali diabaikan. Menurut Watson, &#8220;<em>Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">John Watson secara istimewa dipengaruhi oleh karya psikolog Rusia, Ivan Pavlov, yang berhasil membuktikan bahwa anjing‑anjing akan mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi garpu tala, sekalipun mereka itu tidak mendapatkan daging. Peristiwa ini disebut <em>refleks bersyarat</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<h1><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mekanisme Belajar</span></h1>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Secara umum terdapat<span> </span>tiga mekanisme<span> </span>yang biasa terjadi dalam belajar. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Ketiga mekanisme itu adalah :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:left;text-indent:-18pt;line-height:normal;" align="left"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mekanisme belajar yang pertama adalah<span> </span><strong><em>Asosiasi.</em></strong> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:18pt;text-indent:0;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Anjing<span> </span>Pavlov<span> </span>be­lajar<span> </span>mengeluarkan<span> </span>air<span> </span>liur<span> </span>pada<span> </span>saat mendengar<span> </span>garpu<span> </span>tala<span> </span>berbunyi<span> </span>karena<span> </span>sebelumnya<span> </span>disajikan daging setiap saat terdengar bunyi. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan<span> </span>air<span> </span>liur<span> </span>bila mendengar<span> </span>bunyi<span> </span>garpu tala<span> </span>meskipun<span> </span>tidak<span> </span>disajikan<span> </span>daging, karena anjing<span> </span>itu<span> </span>mengasosiasikan<span> </span>bel<span> </span>dengan<span> </span>daging.<span> </span>Kita<span> </span>belajar berperilaku<span> </span>dengan<span> </span>asosiasi.<span> </span>Misalnya,<span> </span>kata<span> </span>“Nazi”<span> </span>biasanya diasosiasikan<span> </span>dengan<span> </span>kejahatan mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita<span> </span>telah<span> </span>belajar<span> </span>mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Mekanisme belajar kedua adalah <strong><em>reinforcement</em></strong><em>. </em></span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;"><span lang="EN-US">Orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak‑haknya. Atau seorang mahasiswa mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor dikelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah, dan membentaknya kembali.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah <strong><em>imitasi</em>.</strong> Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap      dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar      bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal      itu. Anak-anak dan remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan      meniru pembicaraan orang tua mereka pembicaraan orang tua mereka selama      kampanye pemilihan. Imitasi bisa terjadi tanpa adanya reinforcement      eksternal, hanya melalui observasi biasa terhadap model. </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kaum Behavioris sangat mengagungkan proses belajar asosiatif atau proses belajar asosiatif stimuslus respon ini sebagai pen­jelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Perbedaan antara teori Freud, yang memberi tekanan pada dorongan dari dalam pada manusia, dengan keyakinan kaum Behavioris pada kekuatan‑kekuatan &#8220;luar&#8221; atau kekuatan‑kekuatan dari lingkungan dalam diri manusia dapat dilihat dengan jelas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kepribadian merupakan himpunan aneka tindakan yang dapat diungkap lewat pengamatan yang sungguh‑sung­guh terhadap tingkah laku dalam waktu yang cukup lama agar diperoleh informasi yang “dapat diandalkan&#8221;, kata Wat­son. <em>&#8220;Dengan kata lain, kepribadian hanyalah merupakan hasil akhir dari berbagai sistem kebiasaan kita.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Salah satu asumsi dasarnya mengatakan bahwa kesusilaan sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Maka kaum Behavioris menganut paham relativisme budaya dan moral. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya. Seorang Behavioris tidak menaruh minat pada soal‑soal budaya dan moral kecuali bahwa ia adalah seorang ilmuwan. Tak peduli, manusia macam apapun. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tahun‑tahun awal kehidupan seseorang merupakan tahun‑tahun yang penting mengenai soal yang satu ini sebenar­nya semua aliran psikologi sependapat. Dari sini muncul imbauan agar para orang tua bersikap serba membolehkan, serba memuaskan dan tidak menuntut terhadap anak‑anak selama tahun‑tahun awal kehidupan mereka, khususnya da­lam soal‑soal menyuapi, melatih kebersihan, memberi pendi­dikan awal di bidang seksualitas, dan menanamkan cara me­ngendalikan amarah serta agresi. Setiap bentuk frustrasi pada masa ini dipandang dapat melahirkan kecenderungan ke arah neurosis di masa dewasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pandangan di atas dipaparkan secara ringkas oleh dua pengarang mutakhir, Gardner Lindzey dan Calvin Hall, yang telah menganalisis dan membandingkan berbagai teori ke­pribadian. Mereka melukiskan karya dua tokoh Behavioris seangkatan mereka sebagai berikut: &#8220;Dollard dan Miller ber­pendapat bahwa konflik yang tak disadari, yang sebagian be­sar diperoleh selama masa bapak dan masa kanak‑kanak, me­rupakan pangkal bagi kebanyakan gangguan emosional berat dalam kehidupan di kemudian hari. Mereka sependapat de­ngan para teoretikus psikoanalitik yang menyatakan bahwa aneka pengalaman pada enam tahun pertama kehidupan sese­orang merupakan penentu sangat penting tingkah lakunya dimasa dewasa. Penting untuk disadari bukan hanya bahwa konflik neurotik dipelajari oleh anak, melainkan bahwa konflik semacam itu dipelajari oleh anak terutama akibat berbagai kondisi yang diciptakan oleh orang tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pada awal tahun 1930‑an, Institut Hubungan Manusia di Universitas Yale mencoba mempersatukan disiplin‑disiplin il­mu psikologi, psikiatri, sosiologi dan antropologi. Di bawah pimpinan Clark L. Hull, seorang pendukung. Behaviorisme yang bersemangat, lembaga ini merupakan markas sekelom­pok ilmuwan behavioral terkemuka. Di bawah kuasa Hull, institut ini memiliki pengaruh yang kuat dan lama pada satu generasi ilmuwan sosial muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sejak dari Thorndike dan Watson sampai sekarang, kaum behavioris berpendirian: <em>organisme dilahirkan tanpa sifat‑sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan betapa elastisnya manusia</em>. la mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Dalam bukunya yang memikat tentang sejarah pemikir­an‑pemikiran di dunia, <em>The Broken Image, </em>Floyd W. Matson mengutip kata-kata Watson sebagai berikut: <strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-.55pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">&#8220;Pendek kata, semboyan kaum Behavioris adalah Berilah saya seorang bayi dan kekuasaan serta keluasaan untuk membesarkannya, maka saya buat ia mampu merangkak dan berjalan; akan saya buat<span> </span>ia<span> </span>mampu memanjat dan menggunakan kedua belah tangannya untuk mendirikan. bangunan‑bangunan dari batu atau kayu akan saya jadikan pencuri, penembak atau, pecandu narkotika atau kemungkinan untuk membentuk, seseorang ke segala arah tiada hampir tidak ada batasnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Ucapan Watson ini dibuktikan dengan suatu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins, tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Eksperimen Albert dengan tikus putih kesayangannya bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (<em>classical conditioning</em>). Diambil dari Sechenov (1829 ‑ 1905) dan Pavlov<strong> </strong>(1849‑ 1936), pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tak terkondisikan ‑ <em>unconditioned</em> <em>stimulus) </em>yang melahirkan<span> </span>perilaku<span> </span>tertentu<span> </span><em>(unconditioned response).<span> </span></em>Setelah<span> </span>pemasangan ini terjadi berulang‑ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus, dilakukan pemukulan batangan baja <em>(unconditioned stimulus).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Seperti Freud dan pendahulunya, Darwin, kaum Beha­vioris memandang manusia hanya sebagai salah satu jenis binatang tanpa ada perbedaan yang esensial dengan jenis‑jenis binatang lainnya dan memiliki kecenderungan &#8211; kecenderungan merusak dan antisosial yang sama. Dalam bukunya yang ber­judul <em>Behaviorism, </em>Watson mengatakan, “Sejak semula hingga kini kami tetap yakin bahwa manusia ada­lah binatang. Berbeda dengan binatang‑binatang lainnya ha­nya dalam hal bentuk‑bentuk tingkah laku yang ditampilkan­nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&lt;!&#8211;[if supportFields]&gt;<i><span lang="EN-US"><span></span><span> </span>SHAPE<span> </span>\* MERGEFORMAT <span></span></span></i>&lt;![endif]&#8211;&gt;<!--[if gte vml 1]&gt;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span>John      Watson, Tokoh Utama Behaviorisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>John Broades Watson dilahirkan di Greenville      pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25      September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan      memperoleh gelar PhD pada tahun 1903 dengan disertasi ber udul <em>&#8220;Animal Education&#8221;. </em>Watson      dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang      psikologi binatang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalarn      psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University      di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di      universitas tersebut. Antara tahun 1920‑1945 ia meninggalkan universitas      dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>John Watson dikenal sebagai pendiri aliran      behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah      &#8220;Psychology <em>as the Behaviourist      view it&#8221; </em>(1913). Menurut Watson dalarn beberapa karyanya,      psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak      mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi.      Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang      mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus      dibatasi dengan ketat pada penyelidikan‑penyelidikan tentang tingkahlaku      yang nyata saj a. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun      harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia      berkembang metode­metode obyektif dalam psikologi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Peran      Watson dalam bidangpendidikanjugacukup penting. Ia menekankan pentingnya      pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan      memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat      membuat seorang anak mempunyai sifat‑sifat tertentu. Ia bahkan memberikan      ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan      mengatakan: <em>&#8220;Berikan kepada      saya sepuluh orang anak, maka saya akan<span> </span>jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya.”</em></span><em></em></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if !vml]--><span style="position:relative;z-index:251657728;"><span style="position:absolute;left:-4px;top:-4px;width:540px;height:648px;"><img src="/Users/Agus/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" alt="" width="540" height="648" /></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/Users/Agus/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image003.gif" alt="" width="528" height="634" /><!--[endif]--></span></em>&lt;!&#8211;[if supportFields]&gt;<i><span lang="EN-US"><span></span></span></i>&lt;![endif]&#8211;&gt;<em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">F. Skinner, seorang psikolog dari Harvard dan penganjur serta pemimpin tradisi Behavioris masa kini, berkata, &#8220;Satu‑satunya perbedaan antara tingkah laku tikus dan ting­kah laku manusia yang mungkin saya saksikan (terlepas dari beda yang amat besar dalam hal kompleksitasnya) terletak dalam soal tingkah laku verbal. Karena percaya akan ke­samaan hakiki antara manusia dan binatang, untuk mudah­nya, dan demi alasan‑alasan objektivitas, para psikolog Be­havioris mendasarkan sebagian besar karya mereka pada percobaan‑percobaan dengan menggunakan binatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Etika, moral, dan nilai‑nilai hanyalah hasil proses belajar asosiatif.<span> </span>“Suatu analisis ilmiah akan memaksa kita menolak segala pesona jangka pendek berupa kebebasan, keadilan, pengetahuan ataupun kebahagiaan da­lam menatap akibat‑akibat jangka panjang kelangsungan hidup&#8221;, kata Skinner.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya sebagai <em>operant conditioning</em>. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak (yang dapat diamati). Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil pada dinding kotak. Makanan ke luar dan merpati bahagia. Mula‑mula merpati tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian merpati tidak sengaja menyentuh tombol, dan makanan turun lagi. Sekarang bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Bila setiap anak menyebut kata dengan sopan, segera kita memujinya, anak itu. kelak akan mencintai kata‑kata sopan dalam komunikasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali‑kali, disebut peneguhan <em>(reinforcement). </em>Pujian dalam hal ini disebut dengan peneguh <em>(reinforcer).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pada tahun 1957, Calvin Hall dan<span> </span>Gardner Lindzey menyatakan sebagai berikut: &#8220;Pene­rapan konsep‑konsep stimulus‑respon pada berbagai gejala behavioral di luar laboratorium sebagian besar terjadi selama 25 atau 30 tahun terakhir. Dalam jangka waktu ini<em> </em>telah ber­hasil dikumpulkan sejumlah besar hasil penelitian empiris yang relevan. Selain itu, sejumlah psikolog muda yang mum­puni telah pula tampil dalam tahun‑tahun terakhir, khusus­nya di Universitas Yale dan di Universitas Iowa, tokoh‑tokoh muda yang memiliki keterampilan teknis serta keyakinan teo­retis yang diperlukan untuk melipatgandakan jumlah bukti empiris yang sudah berhasil dikumpulkan. Dalam masa‑masa terakhir ini memang telah terjadi bukan hanya ledakan hasil penelitian empiris di bidang ini melainkan juga munculnya se­jumlah besar tokoh yang secara aktif melibatkan diri dalam usaha memperluas serta menyempurnakan konsep‑konsep yang baru saja kita bicarakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pengaruh dahsyat pandangan ini yang terus bertahan di­benarkan dalam sebuah pernyataan lebih mutakhir yang di­kemukakan oleh Floyd W. Matson pada tahun 1966, sebagai berikut: &#8220;Adalah suatu kebenaran yang dapat dibuktikan<span> </span>bahwa prinsip‑prinsip dasar Behaviorisme tidak hanya hidup subur di laboratorium‑laboratorium para eksperimentalis, melainkan juga menempati posisi yang mantap dan menonjol dalam skema konseptual mereka.” Selain itu hampir tidak pernah terasa berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam deretan pemimpin paling militan dari gerakan ilmu Behavioral ini terdapat pula para pendukung aliran lain di bidang psikologi yang memiliki nama setaraf. Lebih mutakhir lagi (1968), sekelompok cendekiawan terkemuka yang mewakili arus pemikiran ilmu behavioral di Inggris, Eropa Daratan, India, Afrika dan Australia berkesimpulan bahwa di negara‑negara tersebut kecenderungan telah bergeser dari Freudianisme ke arah Behaviorisme.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<h5><span lang="EN-US">Beberapa Teori Dalam Psikologi Behaviorisme </span></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Selama beberapa tahun, pendekatan yang do­minan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan belajar. Pokok pikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebia­saan, dan bila menghadapi situasi itu kembali, orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu. Bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menja­batnya, karena itulah yang telah kita pela­jari untuk menanggapi uluran tangan itu. Bila seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada kita, mungkin kita akan membalasnya atau mungkin kita akan mela­kukan hal yang sam pada orang lain, tergan­tung pada apa yang telah kita pelajari di<span> </span>ma­sa lampau. Pendekatan dengan belajar menjadi populer di tahun 1920‑an dan merupakan da­sar Behaviorisme. Mula‑mula Pavlov dan John B. Watson yang menjadi pendukungnya yang pa­ling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F. Skinner, Neal Miller, dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial, dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan yang disebut <em>Social Learning Theory.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">a. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Dapat dikatakan bahwa pelopor dari teori <em>Conditioning </em>ini adalah Pavlov, seorang ahli psikologi‑refleksologi dari Rusia. Ia mengadakan percobaan‑percobaan dengan anjing. Secara ringkas percobaan‑percobaan Pavlov dapat kita uraikan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya, di­masukkan ke kamar yang gelap. Di kamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya, tempat menyodorkan. makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan‑percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung di luar kamar. Dengan dernikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan per­cobaan‑percobaan. Alat‑alat yang dipergunakan dalam percobaan‑percobaan itu ialah makanan, lampu senter untuk menyorotkan bermacam‑macam warna, dan se­buah bunyi‑bunyian. Dari hasil percobaan‑ percobaannya, Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan­-gerakan refleks itu dapat dipelajari; dapat berubah karena mendapat latihan. Dengan demikian dapat dibeda­kan dua macam refleks, yaitu refleks<em> w</em>ajar (<em>unconditioned reflex</em>) dan refleks<em> </em>bersyarat atau refleks yang dipelajari (<em>con­ditioned‑reflex</em>). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;">Sesudah Pavlov, banyak ahli‑ahli psikologi lain yang mengadakan percobaan‑percobaan dengan binatang, antara lain Guthrie, Skinner, Watson dan lain‑lain. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;">Watson mengadakan eksperimen‑eksperimen tentang <em>perasaan takut </em>pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson yang mula‑mula tidak takut kepada kelinci dibuat menjadi takut kepada kelinci. Ke­mudian anak tersebut dilatihnya pula sehingga tidak men­jadi takut lagi kepada kelinci.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;">Demikianlah maka menurut teori <em>conditioning </em>belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena ada­nya <em>syarat‑syarat </em>(conditions) yang kemudian menimbul­kan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;">Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada <em>conditi­oning. </em>Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan-­kebiasaan mereaksi terhadap syarat‑syarat/perangsang­-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;">Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata‑mata ter­gantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentu­kan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubung­kan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal‑hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar yang mengenai <em>skills</em> (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak‑anak kecil.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">b. <em>Teori Conditioning dari Guthrie</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sebagai penjelasan kami berikan dari percobaan Pavlov sebagai berikut: Pada mulanya anjing percobaan keluar air liur ketika disodorkan makanan. Setelah berkali‑kali sambil menyodorkan makanan dilakukan juga menyorotkan sinar merah kepada anjing itu; pada suatu ketika hanya dengan menyorotkan sinar merah, anjing itu keluar juga air liurnya. Jadi, dalam hal ini terjadi asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluar­nya air liur (respons). Yang penting pula diperhatikan dalam percobaan itu ialah; dapat diubahnya suatu stimulus (unit) tertentu dengan stimulus yang lain. Karena itu, menurut Guthrie untuk mengubah kebiasaan‑kebiasaan yang tidak baik, harus dilihat dalam rentetan deretan unit‑unit tingkah lakunya, kemudian kita usahakan untuk menghilangkan unit yang tidak baik itu atau menggantinya dengan yang lain yang seharusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Berikut ini sebuah contoh sebagai penjelasan. Seorang ibu datang menanyakan kepada Guthrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melempar­kan tas dan pakaiannya ke sudut kamarnya, kemudian ganti pakaian dan terus makan tanpa meletakkan tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah tersedia untuk itu. Teguran‑teguran ibu untuk menggantungkan tas dan pakaian pada tempatnya, hanya berlaku satu atau dua, hari saja, sesudah itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Bagaimana cara memperbaiki kebiasaan buruk pada anak tersebut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Guthrie menyarankan (sesuai dengan teori condition­ing) perbaikan seperti berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Teguran ibu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah anak itu makan, akan tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan menyandang tasnya dan kemudian anak itu masuk ke rumah lagi terus menggantungkan tasnya dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi, proses ber­langsungnya unit‑unit tingkah</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">laku itu harus diulang dari semula. Perhatikan gambar berikut:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/Users/Agus/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image005.gif" alt="" width="513" height="192" /><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:12pt;">Sumber: Purwanto, 1999.</span></p>
<h4 style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Metode‑metode Guthrie</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Beberapa metode dipergunakan Guthrie dalam meng­ubah tingkah laku atau kebiasaan‑kebiasaan pada hewan maupun pada manusia ialah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Metode Reaksi Berlawanan</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(Incompatible Response Method) Manusia itu adalah suatu organisme yang se­lalu mereaksi kepada perangsang‑perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang‑perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubah­nya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Metode Membosankan</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(Exchaustion Method). Hu­bungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S‑R) pada tingkah laku yang buruk itu <em>dibiarkan </em>saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga <em>men­jadi bosan.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Metode Mengubah Lingkungan</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(Change of Environ­ment Method). Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangkan kebiasaan‑kebiasaan buruk yang di­sebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">c. Teori Operant Conditioning (Skinner) ,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Seperti Pavlov<span> </span>dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons. Hanya perbedaannya, Skinner membuat perinci­an lebih jauh, Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Respondent response</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang‑perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter­tentu. Pada umumnya, perangsang‑perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Operant response</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(instrumental response): yaitu res­pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe­rangsang‑perangsang tertentu. Perangsang yang demiki­an itu disebut <em>reinforcing stimuli </em>atau <em>reinforcer, </em>kare­na perangsang itu memperkuat respon yang telah di­lakukan oleh organisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Di dalam kenyataan, respon jenis pertama (respondent/reflexive response/behavior) sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response atau behavior merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin­an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini. Jadi yang menjadi soal adalah: bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku (dalam belajar atau dalam pen­didikan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Prosedur pembentukan tingkah laku dalam <em>operant conditioning </em>secara sederhana adalah seperti berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Mengindentifikasi hal‑hal apa yang merupakan <em>reinforcer </em>(hadiah) bagi tingkah laku yang akan dibentuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Menganalisis, dan selanjutnya mengidentifikasi kom­ponen‑ komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Komponen‑komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada ter­bentuknya tingkah laku yang dimaksud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Berdasarkan urutan komponen‑komponen itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing‑masing komponen itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan meng­gunakan urutan komponen‑komponen yang telah di­susun. Kalau komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibat­kan komponen tersebut cenderung untuk sering di­lakukan. Kalau ini sudah terbentuk dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (kom­ponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah); demikian berulang‑ulang sampai komponen kedua itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya, sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk. (Bandingkan teori Skinner ini dengan teori Guthrie). Dewasa ini<span> </span>bteori Skinner sangat besar pengaruhnya, ter­utama di Amerika Serikat<span> </span>dan negara‑negara lainnya. Di dalam dunia pendidikan khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program‑program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasar atas teori Skinner tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">d. <em>Teori Systematic Behavior (Hull)</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Seperti halnya dengan Skinner, maka Clark C Hull meng­ikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip‑prinsip yang digunakanya mirip de­ngan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus‑respon dan adanya <em>reinforcement.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu <em>kebutuhan a</em>tau &#8220;keadaan terdorong&#8221; (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat di­perkuat atas dasar <em>pengurangan kebutuhan </em>itu. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon‑respon yang dibuat individu itu. Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil‑hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya: uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial ting­kat tinggi). Jadi, prinsip yang utama adalah suatu ke­butuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya <em>incentive motivation </em>(motivasi insentif) dan <em>drive stimulzis reduction </em>(pengurangan stimulus pendorong). Kecepatan berespon berubah bila besarnya hadiah (reward) berubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:37.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Penggunaan praktis teori belajar dari Hull ini untuk kegiatan dalam kelas, adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Teori belajar didasarkan pada <em>drive‑reduction </em>atau <em>drive stimulus reduction.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Intruksional objektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Ruangan kelas harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terjadinya proses belajar. Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana atau mudah menuju kepada yang lebih kompleks atau sulit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Latihan harus didistribusikan dengan hati‑hati supaya tidak terjadi inhibisi. Dengan perkataan lain, kelelahan tidak boleh mengganggu belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga mata pelajaran yang terdahulu tidak menghambat tetapi justru harus menjadi perangsang yang men­dorong belajar pada mata pelajaran berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;vertical-align:baseline;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">e. <em>Teori Conectionism (Thorndike)</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Menurut teori <em>trial and error </em>(mencoba‑coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan‑tindakan yang sifatnya coba‑coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba‑coba itu secara ke­betulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian &#8220;dipegangnya&#8221;. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sebagai contoh kami kemukakan di sini percobaan Thorn­dike dengan seekor kucing yang dibuat lapar dimasukkan ke dalam kandang. Pada kandang itu dibuat lubang&#8221; pintu yang tertutup yang dapat terbuka jika suatu pasak di pintu itu tersentuh. Di luar kandang diletakkan sepiring makanan (daging). Bagaimana reaksi kucing itu? Mula‑mula kucing itu bergerak kesana-kemari mencoba‑coba hendak ke luar melalui ber­bagai jeruji kandang itu. Lama kelamaan pada suatu ketika secara kebetulan tersentuhlah pasak lubang pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka, dan kucing itupun keluarlah menuju makanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Percobaan diulang lagi. Tingkah laku kucing itupun pada mulanya sama seperti pada percobaan pertama. Hanya waktu yang diperlukan untuk bergerak kesana‑kemari sampai dapat terbuka lubang pintu, menjadi makin singkat. Setelah di­adakan percobaan berkali‑kali, akhirnya kucing itu tidak perlu lagi kian kemari mencoba‑coba, tetapi langsung menyentuh pasak pintu dan terus keluar mendapatkan makanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-indent:-21.3pt;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">1 )<span> </span> trial and error </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(mencoba‑coba dan mengalami kegagalan), dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;"><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">2) <span> </span>law of effect; </span></em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik‑baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menye­nangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat‑syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada pe­rangsang yang mempengaruhi dirinya. Terjadinya otomatis­me dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law <em>of effect </em>itu. Dalam kehidupan sehari‑hari <em>law of effect </em>itu dapat terlihat dalam hal memberi <em>penghargaan atau ganjaran </em>dan juga dalam hal <em>memberi hukuman </em>dalam pendidikan. Akan tetapi me­nurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pen­didikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Karena adanya <em>law of effect </em>terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan <em>hasil biaya </em>(effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga <em>Connectionism.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.6pt;text-indent:16.4pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kelemahan dari teori ini ialah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara <em>trial and error. </em>Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respons. Sehingga yang dipentingkan <span> </span>dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan‑latihan, atau ulangan‑ulangan yang terus‑menerus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;vertical-align:baseline;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;font-family:Symbol;" lang="EN-US"><span>¨<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Karena proses, belajar berlangsung secara mekanistis, maka &#8220;&#8216;pengertian&#8221; tidak dipandangnya sebagai suatu yang po­kok dalam belajar. Mereka mengabaikan &#8220;pengertian&#8221; sebagai unsur yang pokok dalam belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">f. Teori Belajar Sosial (Bandura)</span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Albert Bandura menambahkan konsep belajar sosial (<em>social</em> <em>learning). </em>la mempermasalahkan peranan, ganjaran, dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman dan peneguhan. Bandura menyatakan bahwa belajar terjadi karena peniruan (<em>imitation</em>). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor penting dalam belajar, tetapi faktor yang penting dalam melakukan satu tindakan <em>(performance).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Jadi menurut Bandura, bila anak selalu diganjar (dihargai) karena mengungkapkan perasaannya, ia akan sering melakukannya. Tetapi jika ia dihukum atau dicela ia akan menahan diri untuk bicara walau pun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan satu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Selanjutnya Bandura menjelaskan bahwa dalam proses belajar sosial ada empat tahapan proses, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;text-indent:-21.25pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(1)<span> </span>Proses perhatian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;text-indent:-21.25pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(2)<span> </span>Proses pengingatan (<em>retention</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;text-indent:-21.25pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(3)<span> </span>Proses reproduksi motoris</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1cm;text-align:justify;text-indent:-21.25pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(4)<span> </span>Proses motivasional<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kontribusi Psikologi Behaviorisme Terhadap Perkembangan Teori Komunikasi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Seperti telah dijelaskan sebelumnya, behaviorisme sebagai salah satu mazhab dalam psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang tingkah laku manusia. Dalam hal ini, pandangan behaviorisme tentang manusia berbeda secara signifikan dengan tiga pendekatan psikologi lain yang dominan, yaitu psikoanalisis, psikologi kognitif, dan psikologi humanisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Di lain pihak, komunikasi adalah suatu proses yang ditandai beberapa karakteristik di antaranya adalah komunikasi itu bersifat simbolik, <em>irreversible</em>, kompleks, berdimensi sebab akibat, dan mengandung potensi problem. Karakteristik di atas memperlihatkan betapa rumitnya suatu proses komunikasi. Oleh karenanya suatu tindakan komunikasi sepatutnya dikelola secara tepat. Dengan mengelola perilaku komunikasi dalam berbagai konteksnya maka berbagai kecenderungan yang mengarah pada terjadinya <em>communication breakdown</em> dapat dihindari. Dalam hal ini, pandangan psikologi behaviorisme dapat membantu memahami berbagai kecenderungan tingkah laku komunikan kita sebagai sasaran<span> </span>utama dalam kegiatan komunikasi yang kita lakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Secara lebih khusus, penulisan pada<span> </span>bagian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ringkas tentang kontribusi psikologi behaviorisme terhadap perkembangan teori komunikasi. Adapun pembahasannya difokuskan kepada teori-teori komunikasi dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa yang masing-masing hanya dikemukakan satu contoh. Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa pada masing-masing konteks komunikasi, pandangan behaviorisme telah memberikan kontribusinya secara signifikan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Konteks Komunikasi Interpersonal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Teori dari perspektif behaviorisme yang akan dibahas dalam konteks komunikasi interpersonal adalah Teori Pertukaran Sosial (<em>Social Exchange Theory</em>) dari Thibault dan Kelley.<span> </span>Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang tokoh utama teori ini, menyimpulkan teori pertukaran sosial sebagai berikut: “<em>Asumsi utama yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.”</em><strong> </strong>Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan konsep-konsep pokok dalam teori ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Ganjaran</span></em></strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan interpersonal. Ganjaran bisa berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial (<em>social approval</em>) lebih berharga daripada uang. Bagi si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasinya kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Biaya</span></em></strong><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan interpersonal. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri, serta kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Hasil</span></em></strong><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">atau<strong> <em>laba</em></strong> adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sementara <strong><em>tingkat perbandingan</em></strong> menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan<span> </span>interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Konteks Komunikasi Massa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sumbangan yang terbesar untuk memahami cara ber­komunikasi massa mengambil bahagian dalam proses sosialisasi adalah melalui <em>modelling theory </em>yang diperkenalkan o1eh psikolog Albert Bandura serta para pembantunya di tahun 1960‑an. Sebagian besar isi teori ini sebenarnya bermuara pada teori psikologi : <em>social</em> <em>learning theory </em>yang telah dijelaskan. Kita akan mengenal berapa aplikasinya pada studi yang berkaitan dengan komunikasi massa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.45pt;text-align:justify;text-indent:-35.45pt;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">1. Teori belajar sosial (belajar mengobservasi)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Teori ini memang tidak secara khusus belajar mengenai pengaruh terpaan media massa tetapi secara umum dapat men­jelaskan bagaimana orang memperoleh bentuk‑bentuk yang baru dari perilakunya yang diperolehnya dari masyarakat sekelilingnya. Disebut belajar sosial karena penekanannya pada bagaimana individu mengamati aktivitas orang lain kemudian mengadopsi perilakunva sebagai bentuk aktivitas untuk menghadapi masalah dalam beragam situasi dan kondisi atau kejadian‑kejadian lain, yang dialaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Alekis Tan (1981) dalam Hardy (1985) mengemukakan bahwa pada prinsipnya teori belajar sosial menunjukkan sebenarnya setiap manusia tidak dilahirkan dengan memiliki suatu sikap atau nilai dan pandangan tertentu terhadap dunianya. Dunialah yang sebalikya mempengaruhi dan membangun persepsi kita. Kita belajar dari dunia karena kita membuat reaksi terhadap setiap rangsangan yang masuk dari luar. Ada banyak teori mengenai perilaku sudah pernah diulas dan sebagian besar mene­kankan tentang hal ini yaitu bagaimana manusia dan juga hewan belajar dari lingkungannya hanya karena berinteraksi untuk meme­nuhi kebutuhan hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Namun demikian menurut Albert Bandura dalam Hardy (1985) mengajukan teori bercakupan luas tentang perilaku manusia yang disebutnya dengan teori belajar sosial itu. Teori ini menjelas­kan bagaimana manusia belajar sccara langsung dari pengalaman­nya sebaik‑baiknya dan menjadikan sesuatu yang pernah diamati­nya itu sebagai modelnya. Bandura juga menambahkan bahwa teori belajar sosial menerangkan perilaku manusia sebagai konstruk dari lingkungan sosial serta faktor‑faktor kognitif dari setiap manusia.<span> </span>Yang penting dari teori Bandura yang perlu diingat adalah bahwa proses belajar mengikuti sesuatu dimulai dari tahap:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proses memperhatikan; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proses mengingatkan kembali; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proses gerakan untuk menciptakan kembali; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(4)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proses mengarahkan gerakan sesuai dengan dorongan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.75pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Albert Bandura ingin menerangkan misalnya kita melihat suatu kejadian maka kita memperhatikan kejadian itu dengan saksama. Kemudian kita mengingat‑ingat kembali apakah kita mempunyai pengalaman yang sama dengan apa yang dilihat itu. Menyusul setiap orang karena pengingatannya kembali mencipta­kan reaksi‑reaksi terhadap apa yang dilihatnva, reaksi‑reaksi ter­sebut terhadap apa yang dilihatnya, reaksi‑reaksi tersebut merupa­kan perulangan pengalaman yang pernah dilakukannya. Arah dari perlakuan gerakan itu disesuaikan dengan motivasi yang dimiliki orang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Peranan media massa dalam hubungannya dengan teori belajar sosial tersebut dapat, mengisi keempat proses yang diajukan Bandura. Media massa melalui pesan‑pesannya dapat mengakibat­kan seseorang lebih memperhatikan suatu pesan tertentu, atau dapat mengakibatkan seseorang mengingat. kembali pengalamannya. Media juga dapat mendorong, atau mempercepat proses gerakan, reaksi untuk menciptakan kembali cara‑cara. yang sama yang pernah dilakukannya, dan<span> </span>media juga membantu meneguhkan motivasi yang dimiliki seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Aplikasi dari teori belajar sosial dapat dirinci dengan kehadiran empat teori berikut yang dikemukakan melalui tulisan Bittner(1986) dan Bradac (1989),<span> </span>yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">a)<span> </span>Teori Chatarsis</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Prinsip dasar teori ini bahwa kita dapat menghilangkan sikap frustasi yang dimiliki dengan menonton film‑film kekerasan di televisi. Anggapan teori ini bahwa ada satu keuntungan yang diper­oleh akibat menonton film kekerasan di televisi karena kekerasan itu dapat memecahkan masalah frustasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">b)<span> </span>Teori Aggresive Cues</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Menurut<span> </span>teori<span> </span>aggressive cues<span> </span>bahwa terpaan berita atau film kekerasan pada siaran televisi dapat menumbuhkan atau merangsang penonton membuat semacam katalisator yang kuat dalam mempertahankan <strong>diri kalau terjadi </strong>hal yang sama melanda dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;text-indent:-14.2pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">c)<span> </span>Teori reinforcemeni</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Teori ini menyatakan bahwa kekerasan yang disiarkan di televisi dapat meneguhkan perilaku yang sudah ada yang selama ini dilakukan oleh para penontonnya.<strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">d)<span> </span>Teori belajar mengobservasi</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.2pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Berdasarkan teori ini<span> </span>bahwa kita menyelidiki dengan saksama dan mempelajari serta menganalisis pelbagai perilaku kekerasan yang muncul di televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Banyak penelitianpun dilakukan untuk menguji kembali kebenaran teori‑teori tersebut dan menemukan memang benar bahwa jika dibandingkan dengan media cetak maka ternyata pelukisan kekerasan melalui media massa elektronik terutama media televisi lebih kuat. Karena orang melihat secara langsung penggambaran perilaku terutama proses suatu peristiwa secara dinamik daripada di surat kabar yang membutuhkan suatu pemikiran untuk memahami dan menjelaskan konsep proses. Media massa khususnya elektronik (dapat lebih baik sebagai agen sosialisasi) dalam waktu panjang dan lebih cepat jika dibandingkan dengan media non elektronik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">2. Proses pemodelan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proses pemodelan atau <em>modelling theory</em> digunakan untuk menggambarkan aplikasi dari <em>teori sosial learning</em> secara umum yang membentuk perilaku yang baru melalui penggambaran media. Media memberikan peluang yang membuat daya tarik besar dari pola‑pola perilaku yang dinyatakan dalam media oleh komunikator. Pelbagai kepustakaan melukiskan bahwa anak‑anak maupun orang‑orang menyusun sikapnya apakah itu kesan, emosi, gaya hidup baru akibat terpaan media dari film dan televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pembentukan perilaku yang baru akibat terpaan komunikasi massa dalam proses pemodalan dapat dirumuskan ke dalam beberapa proposisi :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(a)<span> </span>Seorang individu yang menjadi anggota khalayak media massa dapat mengamati atau membaca perilaku model yang ditunjukkan seseorang melalui sebagian isi media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(b)<span> </span>Para pengamatan yang mengidentifikasi model‑model itu percaya dan lambat laun menyukai model, ingin menjadi seperti model itu, atau melihat model sebagai, daya tarik yang cepat dan patut ditiru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(c)<span> </span>Pengamat dapat dengan sadar menghubungkan gambaran perilaku yang diamati dengan fungsi perilakunya. Karena seseorang menjadi lebih percaya dan yakin bahwa gambaran perilaku melalui media dapat membawa daya tarik yang lebih besar berhasil diimitasi orang lain dalam sebagian situasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(d)<span> </span>Pada waktu individu mengingat kembali aksi‑aksi dari suatu individu dari suatu model yang dilihatnya pada situasi yang relevan maka ia akan mengulangi atau memperbanyak perilaku yang sesuai dengan itu berdasarkan situasi dan kondisinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(e)<span> </span>Penampilan atau pengulangan setiap sikap perilaku dalam suatu situasi perangsang yang cocok akan membawa seseorang semakin mendekat pada model karena dorongan, sokongan, ganjaran, atau faktor pemuas yang diberikan media. Media meneguhkan perilaku seseorang melalui model yang patut ditiru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-20.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(f)<span> </span>Penguatan yang positif akan meningkatkan peluang bagi seseorang dalam menggunakan model itu untuk memper­banyak perilaku yang sama pada situasi yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:29.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Proposisi ini dapat terlihat hasilnya dalam suatu penelitian oleh Prof. George Comstock yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan perilaku agresif, hasilnya adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(a)<span> </span>Film siaran kartun tentang kekerasan seakan‑akan hidup sesuai dengan kejadian aslinya dan dapat mempengaruhi sikap agresif bagi sebagian penontonnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(b)<span> </span>Pengulangan suatu terpaan film kartun tentang kekerasan tidak dapat menghapuskan kemungkinan terpaan berita yang baru yang juga dapat mempengaruhi penampilan yang agresif dari seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(c)<span> </span>Penampilan perilaku yang agresif sama sekali tidak bebas terhadap bentuk‑bentuk frustasi lainnya meskipun peluang untuk menjadi agresif diabaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">(d)<span> </span>Meskipun efek yang diteliti pada setiap eksperimen itu menunjukkan seseorang &#8220;lebih agresif” namun tidak diper­oleh kesan bahwa seseorang menjadi anti Sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kesimpulannya bahwa sebenarnya tidak semua sikap anti sosial berasal dari siaran kekerasan di televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(e)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Secara sederhana sebenarnya faktor‑faktor yang memungkinkan semakin meningkatnya sikap agresif seseorang juga adalah sugesti. Dengan sugesti dimaksudkan bahwa seseorang semakin agresif karena ia menerima sesuatu contoh cara dari orang‑orang yang lain tanpa bersikap kritis terlebih dahulu. Perilaku agresif seolah‑olah membenarkan suatu kenyataan sosial, suatu kondisi yang semrawut, atau dimotivasi oleh rasa benci, balas dendam yang dilakukan seseorang. Perilaku‑perilaku ini pada kelompok anak muda lebih mirip dengan apa yang ditontonnya sehingga lingkungan meng­anggapnya hanya diakibatkan. oleh pesan media massa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span>Namun demikian tidak ada alasan yang mendasar bagi kita bahwa pengulangan terpaan pesan kekerasan yang pernah dilihat sekelompok remaja bisa membuat mereka menjadi lebih kebal, yang bisa dicurigai malah akibat terpaan dari televisi justru merangsang anak‑anak itu kembali cepat merasakan kekerasan dalam lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-indent:13.5pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Dapat disimpulkan babwa kekerasan di televisi membuat kita harus ingat bahwa sebagian besar issu yang menjadi tema kekerasan itu dapat mempengaruhi keputusan setiap orang bagi masa depannya melalui pesan‑pesan yang disosialisasikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span> </span></span></strong><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Berdasar pada pembahasan<span> </span>sebelumnya maka pada akhir tulisan ini dapat kami simpulkan bebarapa hal yang dianggap penting, antara lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Pendekatan Behaviorisme memusatkan pada pendekatan ilmiah yang objektif sehingga dalam pendekatan ini hal-hal yang berbau subjektifitas sama sekali diabaikan. Dalam pendekatan yang dilakukan kaum behaviorisme menekankan pada kekuatan-kekuatan luar yang berasal dari lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US"><span>(2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Penganut paham behavior sangat percaya bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada proses pembelajaran<em>. </em>Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan­-kebiasaan bereaksi terhadap syarat‑syarat atau perangsang­an-perangsangan tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya. Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:12pt;">3) <span> </span>Demikian pula dalam konteks komunikasi baik komunikasi interpersonal, kelompok maupun komunikasi massa teori-teori yang dikembangkan tidak lepas dari asumsi dasar bahwa manusia belajar dari lingkungannya (S-R) dengan demikian teori komunikasi menitik beratkan pada kondisi dan situasi lingkungan yang mempengaruhi komunikan kita.</span></p>
<h2 style="margin-left:0;"><span style="font-size:12pt;"> </span></h2>
<h2 style="margin-left:0;text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Daftar Pustaka</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Depari Edward, Collin Mac Andrews, 1991, <em>Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan</em>, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Fisher, B.Aubrey, 1990, <em>Teori-Teori Komunikasi Massa</em>, Remadja Karya, Bandung.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Griffin EM, 2002, <em>A First Look At Communication Theory</em>, Fifth Edition, Mc. Graw Hill, Boston.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry Jusuf), 1985, <em>Komunikasi Kelompok Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya</em>, edisi pertama, UI Press, Jakarta.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, <em>Pengantar Psikologi</em>, Erlangga, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Liliweri Alo, 1991, <em>Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat</em>, Citra Aditya Bakti, Bandung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Matson, Floyd, 1966,<span> </span><em>The Broken Image, </em>Doubleday, New York.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sarwono, Sarlito Wirawan. 1986. <em>Berkenalan dengan Alirah­ Aliran dan Tokoh‑Tokoh Psikologi,<span> </span></em>Bulan Bintang: Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-33.2pt;"><span style="font-size:12pt;" lang="EN-US">Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, <em>Psikologi Sosial</em>, edisi lima, Erlangga, Jakarta.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=31&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/19/kontribusi-konsepsi-psikologi-behaviourisme-terhadap-perkembangan-teori-dalam-ilmu-komunikasi-slamet-mulyana-dan-agus-setiaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEDIA MASSA DAN IMPERIALISME KULTURAL</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-massa-dan-imperialisme-kultural/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-massa-dan-imperialisme-kultural/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 04:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAJIAN MEDIA MASSA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[1. Latar belakang Everett M. Rogers dalam bukunya Communication Technology; The New Media in Society, mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=28&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<h1><strong><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">1. Latar belakang</span></em></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Everett M. Rogers</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> dalam bukunya <em>Communication Technology; The New Media in Society, </em>mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Marshall McLuhan</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> dalam bukunya <em>Understanding Media – The Extensions of Man</em>, mengemukakan ide bahwa “ <em>medium is massage</em>” (pesan media ya media itu sendiri). <em>McLuhan</em> menganggap media sebagai perluasan manusia dan bahwa media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Pengaruh media telah berkembang dari individu kepada masyarakat. Dengan media setiap bagian dunia dapat dihubungkan menjadi desa global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pengaruh media yang demikian besar kepada masyarakat menghantarkan pemikiran <em>McLuhan</em> untuk menyampaikan <strong><em>Teori</em></strong> <strong><em>Determinime Teknologi</em></strong> yang mulanya menuai banyak kritik dan menebar berbagai tuduhan. Ada yang menuduh bahwa <em>McLuhan</em> telah melebih-lebihkan pengaruh media. Tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, media memang telah sangat maju. Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak di antara bangsa-bangsa. Ungkapan <em>Mcluhan</em> tidak dapat lagi dipandang sebagai<span> </span>sebuah ramalan belaka. Sebagai sebuah perbandingan perkembangan teknologi media dewasa ini; dibutuhkan hampir 100 tahun untuk berevolusi dari telegraf ke teleks, tetapi hanya dibutuhkan 10 tahun sebelum faks menjadi populer. Enam atau tujuh tahun yang lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi sekarang mereka-mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan di anggap ketinggalan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Di masyarakat dapat disaksikan bahwa teknologi komunikasi terutama televisi, komputer dan internet telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat), setiap saat kita semua menyaksikan realitas baru di masyarakat, dimana realitas itu tidak sekedar sebuah ruang yang merefleksikan kehidupan masyarakat nyata dan peta analog atau simulasi-simulasi dari suatu masyarakat tertentu yang hidup dalam media dan alam pikiran manusia, akan tetapi sebuah ruang dimana manusia bisa hidup di dalamnya. Media massa merupakan salah satu kekuatan yang sangat mempengaruhi umat manusia di abad 21. Media ada di sekeliling kita, media mendominasi kehidupan kita dan bahkan mempengaruhi emosi serta pertimbangan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<h2><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">2. Media Baru adalah Dunia Baru</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sebagaimana yang dilihat perkembangan media di masyarakat, bahwa media baru yang dirasakan amat bermanfaat dan memiliki masa depan menjanjikan adalah media interaktif dan media jaringan. Kedua media ini telah merubah peradaban umat manusia terutama paradigma interaksi manusia satu dengan yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Paling tidak ada dua hal yang menandai perubahan paradigma diatas,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pertama,</span></em></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> adalah media sebagaimana disebutkan <strong><em>Mcluhan</em></strong> adalah pesan itu sendiri, telah berubah menjadi subjek komunikasi yang sangat interaktif, dimana media telah menjadi sehabat baru manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kedua,</span></em></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>interaksi manusia melalui media jaringan telah menciptakan ruang baru bagi kehidupan manusia yang disebut dengan <em>cybercommunity</em> yaitu sebuah “kehidupan” masyarakat manusia yang tidak dapat secara langsung diindera melalui (seluruh) penginderaan manusia, namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai realitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Perubahan paradigma interaksi manusia di atas membawa manusia kepada dunianya yang baru, yaitu sebuah dunia yang sangat kecil sekaligus sebuah dunia yang tanpa batas dengan pola-pola hubungan sosial yang sangat luas dan transparan. Inilah dunia masa depan umat manusia, sebuah dunia baru yang dikonstruksikan oleh media baru setiap saat, setiap waktu sehingga sebenarnya dunia masa depan adalah sebuah dunia yang berada di atas ”telapak tangan” media.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<h2><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">3. Teknologi, Konvergensi Media dan Kepentingan Kapitalis</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Pada dasawarsa sekarang kita melihat begitu banyak produk-produk teknologi media, persoalan ini menjadi penting untuk dibicarakan ketika teknologi menjadi prasarat sosial yang tidak saja penting dan fungsional namun juga menjadi subtansial dalam pranata-pranata sosial. Umpamanya seseorang tidak akan diterima di sebuah perusahaan kalau ia tidak dapat mengendarai mobil, begitu pula perusahaan-perusahaan hanya akan menerima pegawai yang dapat mengopersikan komputer. Sebaliknya, penciptaan teknologi yang laku di masyarakat hanyalah teknologi yang terpakai sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti teknologi rumah tangga yang tidak saja fungsional bagi keluarga namun juga fungsional bagi individu. Sehingga nantinya seorang pemuda tidak akan berani melamar anak gadis orang kalau ia belum bisa menggunakan dan menyediakan teknologi dalam keluarganya kelak. Begitu juga seorang gadis belum berani menikah kalau tidak dapat menggunakan teknologi rumah tangga dengan baik, karena teknologi-teknologi macam ini yang akan menemani mereka dalam rumah tangga kelak. Bahkan dalam kasus lain, begitu fungsionalnya teknologi di sebuah perguruan tinggi, sehingga mahasiswa misalnya tidak dapat melanjutkan studi ke semester berikutnya karena tidak mampy menggunakan mesin herregestrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Konvergensi teknologi yang terbesar dalam pandangan sosial di zaman ini adalah ketika ditemukannya telepon, televisi dan komputer, kemudian ketiga teknologi ini dapat disatukan dalam sebuah teknologi baru yang bernama internet yang akhirnya berkembanga tanpa batas. Sehingga nantinya penemuan media rasa, media aroma, dan media sentuhan akan menciptakan teknologi yang serba manusiawi yaitu teknologi yang sangat akrab dengan manusia serta berbasis komputer dan internet jaringan. Misalnya saja seluruh komputer di dunia ini dapat disatukan dalam jaringan internet karena biaya telepon begitu murah atau justru internet sudah dapat menggunakan jaringan listrik sebagai basis jaringan. Penemuan teknologi nir-kabel sudah begitu meluas sehingga masyarakat tidal lagi membutuhkan tiang-tiang telepon dan tiang listrik. Dengan demikian tidak saja komputer di dunia ini yang dapat disatukan dalam jaringan global setiap saat namun alat-alat rumah tangga, pemanas air, lampu, AC, mesin cuci dan sebagainya. Dapat terkoneksi dalam jaringan-jaringan global tersebut. Contohnya robpt yang yang dapat mengkabarkan adanya kebakaran di rumahnya kepada pusat pemadam kebarakaran atau kulkas yang terkoneksi dengan pusat-pusat perbelanjaan sehingga ia dapat menginformasikan kepada supermarket kalau daging ayam atau buah-buahan sudah habis tanpa di suruh oleh pemilik kulkas itu, jasa hantaran sudah langsung mengirimkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Begit pula dengan alat-alat teknologi rumah tangga lainnya dapat terkoneksi langsung dengan pusat-pusat kebutuhan rumah tangga sesuai dengan fungsi masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam dunia media massa saat ini dan akan datang konvergensi media massa tidak saja sebuah keharusan namun sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri, sehingga lahirlah media-media baru seperti radio online, televisi online, majalah online, journal online. Dengan demikian format media massa di waktu mendatang akan berubah menjadi <em>media massa mixer.</em> Karena sebuah perusahaan radio dengan kemampuan teknologi dan reporter-reporter mereka yang serba canggih, maka sayang sekali kalau informasi yang ada hanya dapat didengar oleh masyarakat melalui indera telinga, karena itu mereka dapat enerbitkan media cetak, koran atau majalah. Informasi itu masih sangat mubazir kalau tidak dapat dilihat pemirsanya, karena itu mereka perlu mendirikan televisi atau membuka <em>web</em> di internet dan sebagainya. Dengan demikian deversifikasi media massa bukan saja persoalan konvergensi namun sebuah kebutuhan idealisme media massa itu dengan kata-kata misalnya <em>”karena kita ingin semua indera dapat menangkap berita kami.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Perkembangan sosioteknologi ini juga sangat erat dengan konstruksi sosial teknologi sebuah pendekatan sosiologikal lain<span> </span>terhadapa teknologi. Bahwa teknologi adalah sebuah pencitraan <em>demand </em>masyarakat yang dapat merubah citra masyarakat itu. Jadi, kebutuhan terhadap teknologi adalah benar-benar sebuah kebutuhan sosial itu sendiri dan bukan sekedar kebutuhan teknologi semata. Bahkan perkembangan teknologi hanya didasarkan pada kebutuhan sosial dan masyarakat terhadap teknologi itu serta upaya pencitraan terhadap teknologi.<span> </span>Citra terhadap teknologi tidak pernah lepas dari simbol dan kelas sosial masyarakat bahkan masyarakat memberi penghargaan kepada teknologi tidak saja karena fungsi teknologi itu bermanfaat untuk masyarakat namun karena teknologi itu menjadi simbol dan pencitraan terhadap kelas sosial seseorang. Dengan demikian teknologi memiliki dua fungsi yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Mekanik yang melekat sebagai sebab fungsional teknologi dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Fungsi sosial bahwa teknologi adalah pencitraan terhadap masyarakat yang memakainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Fungsi-fungsi teknologi ini kadang tidak memiliki hubungan sebab-akibat bahwa fungsi mekanisasi teknologi tidak selamanya berhubungan dengan fungsi sosial. suatu contoh, seseorang yang membeli BMW tidak ada hubungan dengan manfaat mekanik yang ia peroleh karena kalau menaiki mobil mewah dan nyaman sebenarnya ia memiliki banyak mobil semacam itu, namun justru ia memperoleh manfaat sosial yang tinggi dan pencitraan kelas tertinggi bagi masyarakat yang menggunakan mobil mewah bermerk BMW.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dengan demikian, konstruksi sosial terhadap fungsi-fungsi sosial teknologi berupa simbol kemegahan, simbol<span> </span>kecanggihan, simbol kenyamanan, simbol keselamatan, simbol kemajuan, simbol kemodernan dan sebagainya dari sebuah teknologi yang semuanya menjadi piranti-piranti kokoh dalam sebuah konstruksi pencitraan terhadap simbol kelas sosial yang tinggi di masyarakat. Sebaliknya simbol kelas sosial ini memiliki padanan terhadap nilai-nilai kebendaan yang tinggi pula dan dapat dipertukarkan serta melekat pada kelas sosial tertentu. Jadi misalnya <strong>HP</strong> (telepon genggam) adalah simbol kemodernan dan gaya hidup masyarakat modern dan karena itulah harganya relatif mahal atau biaya operasionalnya relatif mahal tetapi gaya hidup masyarakat modern tidak pernah mempersoalkan harga yang mahal yang penting ia dapat bergaya modern/gaul/gaya hidup kota metropolitan. Dengan<span> </span>biaya yang harus dikeluarkan mereka mendapat menikatai kesenangan<span> </span>apa saja yang ada pada telepon genggam itu dan semua kesenangan yang ada dalam masyarakat. Ada nilai yang sepadan antara gaya hidup orang kota dengan kemampuan ekonominya serta kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya di masyarakat. Karena itu pula maka hampir semua barang mewah selalu identik dengan kelas sosial tertentu, dengan uang, dengan wanita cantik. Sebuah padanan yang secara klasik selalu berhubungan satu dengan lainnya, yaitu kelas sosial dapat memobilisasi uang dan wanita cantik atau sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Dengan demikian model produksi teknologi media adalah untuk melayani kebutuhan kapitalis dan kebutuhan kapitalis selalui mengeksploitasi kepentingan masyarakat ke dalam kepentingan pribadi mereka untuk melipatgandakan kapitalnya sebanyak-banyaknya. Inilah akar persoalannya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Jadi konvergensi media massa yang menggabungkan berbagai media massa menjadi media massa <em>mixer</em> dalam konsepsi komunikasi massa di satu sisi terkesan memanjakan masyarakat serta merupakan kebutuhan dan kemudahan artifak budaya masyarakat yang bernama teknologi itu, namun disisi lain pencitraan terhadap teknologi itu merupakan upaya kapitalisme untuk mencari untung di balik keuntungan teknologi tersebut. Sayangnya masyarakat seringkali tidak menyadari bahwa teknologi milik mereka, karya mereka, hak azasi mereka, karena itu tidak satupun kepentingan yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan yang lain, bahkan sebaliknya, justru masyarakat menjadi bagian terpenting dari sistem produksi kapitalis itu sendiri dengan memberi dukungan terhadap kaum kapitalis dengan cara mengkonsumsi teknologi (reproduksi kapitalis) tersebut.<span> </span>Semua ini karena masyarakat memang tidak berdaya dan kehilangan keberdayaannya ketika menghadapi kapitalisme. Memang paham ini yang memenangkan pertarungan hari ini dan esok tapi lusa dan kemudian hari siapa yang menang kita tanya saja pada rumput yang sedang bergoyang!!!???</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US">4. Imperialisme Struktural</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Salah satu kelompok teori yang paling keras mengecam dominasi negara maju atas negara berkembang dalam penyebaran arus informasi adalah kelompok Imperialisme, dengan salah satu tokoh terkemukanya adalah Johann Galtung. Beliau tidak masuk dalam jajaran ilmuwan komunikasi tetapi teori-teori yang dilontarkan sangat relevan untuk memahami<span> </span>gejala ketidakseimbangan arus informasi. Galtung memperkenalkan teori yang diberi nama Teori Struktural tentang Imperialisme. Menurut Galtung berlangsung sebuah pola hubungan antara negara maju dengan negara dunia ketiga yang tidak seimbang dimana negara maju endominasi negara lain dalam berbagai aspek kehidupan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Galtung mendefinisikan imperialisme secara sederhana yaitu coraj hubungan dimana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya, ini bisa berlangsung secara parsial ( sebagian-sebagain) atau secara struktural ( keseluruhan ). Misalnya saja bila buah-buahan<span> </span>Thailand mendominasi pasar di Indonesia sudah bisa dikatakan adanya dominasi Thailand di Indonesia; namun itu hanya dalam tahap parsial, itu berkembang menjadi dominasi yang bersifat struktural, bila dominasi berlangsung di segenap aspek penting kehidupan lainnya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Imperialisme struktural dalam pandangan Galtung adalah sebuah imperialisme dalam sektor ekonomi, politik, militer, sosial, sosial, kultural dan komunikasi. Dan dominasi akan menemukan wujud yang optimal seandainya itu berlangsung secara serentak di semua wilayah dan segenap aspek kehidupan dengan tekanan khusus pada sektor kultural. Bila sifatnya imperialisme parsial maka setiap saat dominasi itu bisa diganti, misalnya buah-buahan tadi atau bahkan barang-barang elektronik Jepang, bila ada negara lain yang menawarkan produk unggul dengan harga lebih murah dengan mudah negara yang semula mendominasi akan disingkirkan, akan tetapi bila dominasi itu dalam bidang kebudayaan, komunikasi, ekonomi, politik dan sebagainya tentu saja tidak mudah suatu negara memilih mitra yang satu dan menyingkirkan mitra yang lain hanya karena “lebih murah” misalnya. Hubungan antara negara Barat dan negara berkembangan dalama Galtung berada dalam bentuk imperialisme struktural tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Menurut Galtung hubungan imperialistik ini sebetulnya berlangsung sudah sejak lama akan tetapi bentuknya yang<span> </span>berbeda-beda semula negara Barat menjajah dan mengeksploitasi negara non-Barat dengan cara pemaksaan menggunakan kekuatan militer, kini penjajahan dilakukan secara halus. Sebagai analogi penjajahan berlangsung secara halus tampak pada pola pertukaran yang didasarkan pada <em>comparative advantages</em>, misalnya negara berkembang memasok bahan menth (seperti minyak, gas bumi, hasil pertanian) sementara negara maju memasok barang<span> </span>manfaktur. Dalam pola hubungan ini seolah-olah terjadi interaksi yang simetris padahal sebuah jurang sangat mungkin terbuka dan akan melebar sebagai akumulasi dari apa yang diperoleh kedua belah pihak dari pertukaran itu.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Persoalannya menurut Galtung terdapat perbedaan mendasar dalam efek yang termuat di dalam interkasi. Ini terutama sekali terlihat dalam hal tingkat pengolahan (<em>level of processing</em>). Dalam negara produsen bahan mentah, hampir-hampir tidak ada efek intra-aktor( dalam negeri) yang posistif. Sementara dalam negara yang memproduksi manufactured goods, efeknya sangat luas karena kompleksitas produk dan keterkaitannya dengan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Contoh sederhana: negara yang memproduksi barang elektronik membutuhkan riset. Ide-ide baru tidak datang dengan sendirinya, namun membutuhkan pemikiran dan pengkajian serius yang terus menerus. Namun untuk bisa mengembangkan riset juga dibutuhkan infrastruktur, salah satunya adalah basis kultural di universitas. Dan ketika pusat-pusat penelitian dikembangkan, ini pada gilirannya memiliki efek dalam wilayah sosial, politik dan militer. Semakin tinggi tingkat pemrosesan (seperti komputer dibandingkan tekstil), semakin jauh efek ikutannya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Bandingkan dengan negara yang terutama memproduksi bahan mentah, seperti minyak. Karena proses pengelohan minyak tidak rumit, tidak ada kebutuhan serius bagi pengembangan lembaga-lembaga riset. Karena tidak ada infrastruktur riset, negara-negara ini terpaku pada produk yang itu-itu saja. Ketika itu terus berlangsung, negara-negara tersebut terus tertinggal. Tambahan lagi tingkat elastisitas tuntutan kedua jenis kebutuhan itu juga berbeda. Kebutuhan akan bahan mentah terbatas. Berbeda sekali dengan kebutuhan akan barang konsumen yang sangat elastis. Bandingkan antara kebutuhan beras dan kebutuhan barang elektronik.!!!</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Menurut Galtung agar eksploitasi terselubung ini bisa langgeng bertahan harus ada kerjasama antara elit di negara maju dengan elit di negara berkembang. Dalam hal mekanisme penetrasi merupakan faktor yang menentukan. Gagasan dasar dari penetrasi adalah negara maju memnetrasi “dibawah kulit” negara berkembang dengan membangun sebuah “bridgehead” (jembatan penghubung) disana. Yang disebut jembatan penghubung adalah elit-elit negara berkembang yang akan berperan penting dalam struktur keseluruhan imperialisme. Di negara berkembang elit ini adalah kalangan yang berpendidikan tinggi, memiliki status sosial ekonomi tinggi, memiliki mobilitas tinggi dan menempati posisi menentukan dalam proses pengambilan kebijakan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Terdapat dua elemen dasar dalam<span> </span>mekanisme <em>bridgehead</em> yaitu:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:54.75pt;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">Harmoni antara elit di negara manju dengan elit di negara berkembang untuk menjadikannya berfungsi maka bridgehead harus tetap memperoeh tingkat kehidupan yang sangat menyenangkan. Kaum elit di negara maju harus senantiasa bersedia menganugrahkan kepada kuam bridgehead ini sebagian besar daripada yang mereka sendiri nikmati dan miliki. Hubungan harmonis antara keduanya akan menjadi penjamin bagi kelanggengan dominasi. Dengan kata lain kaum elit harus dimanjakan kehidupannya, mereka harus dibuat seolah-olah menjadi bagian sah dari sebuah masyarakat elit dunia. Apa yang dinikmati atau menjadi simbol budaya kaum elit di negara maju harus bisa dinikmati dan menjadi simbol budaya kaum elit negara berkembang. Dalam hal ketersediaan segenap budaya populer (musik, film, fastfood) negara maju di negara berkembang merupakan bagian dari pemanjaan kaum elit tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:54.75pt;"><span lang="EN-US">Ketika kaum elit negara berkembang merasa menjadi bagian dari sebuah masyarakat elit dunia maka diteorikan mereka dengan sendirinya akan selalu mengacu pada kepentingan kaum elit negara maju. Dengan kata lain mereka tidak akan bersedia mengubah tatanan hubungan yang ada karena perubahan itu akan mengancam segenap kenikmatan yang selama ini mereka rasakan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:54.75pt;text-indent:-18.75pt;"><!--[if !supportLists]--><em><span lang="EN-US"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><span lang="EN-US">Dan sebagai<span> </span>akibat elemen pertama diatas maka berlangsung apa yang Galtung sebut sebagai “<em>Distribusi Ketidakmerataan Yang Tidak Egaliter” (inegalitarian distribution of inequality) </em>maksud konsepnya bukan hanya akan terdapat ketidakmerataan antara negara maju dan negara berkembang namun juga antara jurang yang jauh lebih buruk antara kaum elit dengan kaum alit di negara berkembang. Jadi dalam pandangan Galtungmengingat kehidupan rata-rata di negara berkembang jauh lebih rendah maka agar elit di negara berkembang bisa menikmati segenap kemewahan yang telah di miliki elit negara maju maka jumlah elit di negara berkembang harus berjumlah sedikit. Dengan kata lain jarak elit dan massa di negara berkembang pastilah besar. <em></em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:54.75pt;"><span lang="EN-US">Ini terjadi karena daya dukung ekonomi negara berkembang sebenarnya terbatas dan tidak mampu membiayai gaya hidup kaum elit di negara berkembang akibatnya kaum elit di negara berkembang terpaksa menyerap proporsi yang besar dari kekayaan ekonomi nasional, pembagian kekayaan di negara berkemabang menjadi tidak proporsional. Misalnya saja barang-barang kebutuhan mewah yang harus diimprot dari negara maju itu mahal, tuntutan gaji kaum elit menjadi sangat tinggi dibanding dengan tuntutan gaji massa. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Demikianlah menurut <em>Johann Galtung</em> pembentukan kesubmisifan antara antara kaum elit dengan massa di negara berkembang tergantung pada internalisasi total dari ideologi negara maju yang hanya bisa dicapai melalui proses penetrasi, dalam proses inilah komunikasi massa menjadi penting adanya</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US">5. Imperialisme Kultural</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Bila Galtung melahirkan teori imperialisme struktural dengan komunikasi sebagai salah satu komponen terpenting <em>maka Herbert Schiller</em> memberikan perhatian lebih khusus pada dominasi komunikasi di tingkat arus informasi internasional.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Schiller berangkat dari asumsi bahwa dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi oleh negara-negara Barat – terutama Amerika Serikat adalah bagian niscaya dari logika pembentukan sistem kapitalisme dunia, dengan negara-negara tersebut berada dalam puncak hirarki-nya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Menurut Schiller, konsep imperialisme kultural adalah <em>keseluruhan proses dengan mana sebuah masyarakat digiring ke dalam sistem dunia modern dan strata yang mendominasi (maksudnya elit) diiming-imingi, ditekan, dipaksa, dan kadang-kadang disuap untuk menjadikan pranata-pranata sosial serasi dengan atau bahkan mendukung nilai dan struktur pusat sistem yang mendominasi. </em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Dengan kata lain Schiller melihat dominasi komunikasi oleh Barat lebih spesifiknya lagi Amerika Serikat tidak lain adalah sarana perluasan pasar yang dibutuhkan dalam proses akumulasi kapital para industrialis Barat.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Menurut Schiller, dalam sebuah sistem kapitalisme dunia, negara-negara berkembang akan dipandang sebagai bagian dari pasar tunggal, dengan produksi yang ditentukan di pusat-pusat perusahaan multinasional (disebut juga MNC, <em>Multinational Corporation</em>). Untuk itu negara-negara maju berkepentingan untuk mempromosikan dan kemudia memasarkan<span> </span>barang-barangnya ke negara-negara berkembang tersebut. Masalahnya proses tersebut seringkali terganggu dengan adanya aturan-aturan yang menghambat kelancaran pemasaran barang, misalnya karena adanya aturan untuk menomorsatukan produksi atau budaya dalam negeri atau aturan yang sama sekali menolak sejumlah produk dari luar negeri (misalnya barang mewah)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Sikap protektif semacam ini dianggap menghalangi peluang untuk menjadikan dunia ini sebagai pasar tunggal. Karena itu harus ada upaya untuk menciptakan kesamaan nilai dan asumsi terutama di kalangan manajemen tingkat atas di negara-negara tersebut. Dalam hal inilah menurut <em>Schiller</em>, informasi dan komunikasi menjadi komponen-komponen vital. Melalui informasi yang terus menerus ke jajaran elit sebuah negara, akan berlangsung apa yang disebutnya sebagai pengambilalihan kebudayaan (<em>cultural takeover</em>) sebagaimana <em>Johann Galtung</em>, <em>Herbert</em> <em>Schiller</em> menyebut bahwa itu semua berlangsung melalui proses penetratif, melalui pendidikan, bisnis kebudayaan, bahasa, turism, dan tentu saja media massa. Karena itu, negara-negara maju berkepentingan sekali dengan kebebasan arus informasi antar negara karena itu sarana ampuh penyebaran ideologi dan nilai.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Dalam pandangan Schiller dominasi negara-negara maju—terutama Amerika Serikat diorganisir oleh sebuah kelompok komandan komersial yang sangat terkonsentrasi, meluas ke seluruh penjuru dunia, wilayah tersebut tumbuh secara signifikan dari tahun ke tahun. Dalam hal ini sebuah sistem komunikasi yang sangat berkekuatan hadir untuk mengamankan perluasan tersebut dengan mengidentifikasikan kehadiran Amerika dengan kebebasan—kebebasan perdagangan, kebebasan berbicara, dan kebebasan berusaha. Dengan kata lain, menurut Schiller, ketika AS bicara tentang kebebasan pers sebagai pilar utama demokrasi sebenarnya mereka sedang bicara tentang kebebasan untuk mempromosikan dan memasrkan barang-barangnya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Dalam strategi ini, para pengusaha bisnis AS ini tidak berjalan sendiri melainkan didukung (bila tidak boleh dikatakan dilindungi?!) oleh para pengambil kebijakan pemerintah AS. Perjuangan kebebasan arus informasi<span> </span>dala hal ini dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai forum internasional.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:36pt;"><span lang="EN-US">Bila kita menggunakan kerangka berpikir Galtung dan Schiller</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">terlihat bahwa arus informasi dari negara maju ke negara berkembang pada dasarnya bukanlah hal yang essensial bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat negara berkembang sendiri. Perubahan nilai-nilai tradisional yang oleh kaum modernis dipandang sebagai prasyarat pembangunan justru dalam pandangan <em>Galtung</em> dan <em>Schiller</em> adalah sekedar prasyarat yang dibutuhkan agar negara berkembang dapat terus menjadi sarana eksploitasi atau menjadi pasar potensial bagi produk negara maju.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span><em>Michael Kunczik</em> misalnya menyatakan, akibat dari membanjirnya arus informasi negara maju ke negara berkembang lahirlah apa yang disebutnya sebagai <strong><em>konsumerisme parasitik. </em></strong>Jadi, alaih-alih meniru sistem nilai yang menghasilkan tradisi kewiraswastaan yang ditemukan di<span> </span>negara maju, kaum elit negara berkembang hanya mengadopsi gaya konsumsi masyarakat negara maju yang menjadi panutannya. Padahal gaya konsumsi massa tinggi itu <em>– seperti diteorikan Rostow</em> — hanya bisa dijalankan pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah matang dan mapan. Ketika gaya semacam itu diadopsi saat tingkat pertumbuhan ekonomi rendah, yang terjadi adalah pengurasan tabungan untuk hal-hal yang tidak produktif, apalagi barang-barang mewah itu harus diimport; maka pembangunan ekonomi pun terhambat. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Tidak hanya itu saja sebenarnya sumber ke khawatiran lain adalah dampak budaya dari arus globalisasi ini, mengapa demikian? Sebuah produk budaya sesungguhnya tidaklah berdiri sendiri. Produk budaya itu dipengaruhi oleh gagasan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat yang melahirkannya; dipengaruhi oleh kondisi-kondisi politik-sosial-ekonomi yang tengah berlangsung pada saat dilahirkannya; dipengaruhi oleh kepentingan dan kepedulian para artis yang menciptakannya dan sebagainya. Ketika produk itu telah lahir dan disebarluaskan—sebagai barang dagangan atau tidak, misalnya sebagai kaset musik, film, acara televisi, berita, buku ilmiah bahkan komik—memang nampak seperti “berdiri sendiri” namun pada dasarnya ia tidak dapat dilepaskan dari kompleksitas unsur-unsur tadi.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Contohnya adalah produk-produk media Barat yang semakin permisif secara seksual. Ini harus dikaitkan dengan revolusi seks yang berkembang sejak tahun 1950-an, perkembangan desakralisasi seks, perubahan cara pandang<span> </span>mengenai keluarga, berkaitan pula dengan perubahan cara pandang mengenai kesucian agama serta keberagaman masyarakat Barat. Ini tercermin dalam berbagai produk media Barat; dari lirik musik sampai Iklan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Ketika disebarkan di AS sendiri, produk-produk tersebut mungkin memang tidak menimbulkan masalah serius karena masyarakat yang mengkonsumsinya hidup dalam konteks kebudayaan yang sama. Namun ketika disebarkan di negara-negara berkembang, hal ini potensial sekali untuk terjadinya konflik dalam masyarakat karena ketidaksesuaian dengan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Contoh lain, adalah film Amerika yang dihasilkan saat ini mencerminkan sebuah masyarakat kapitalistik yang mencapai kemajuan ekonomi yang sangat mengagumkan—yang antara lain dicirikan dengan konsumsi massa bahkan terhadap barang-barang mewah. Ketika masyarakat negara berkembang menyaksikan dan mengagumi gaya hidup semacam itu, itu akan menimbulkan masalah karena ekonomi negara-negara berkembang sebenarnya belum siap menganut gaya hidup semacam itu.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Budaya dalam hal ini juga berarti budaya politik. Informasi dipandang sebagai sesuatu yang ditentukan oleh sistem politik yang sangat mewarnai budaya politik yang berlaku di masing-masing negara. Misalnya dalam hal kebebasan pers. Di negara-negara berkembang, dinamika politik yang sangat diwarnai konflik tidak menjadi karakteristik budaya politik mereka. Di negara-negara tersebut, tidak ada anggapan bahwa harus ada oposisi atau bahwa pers harus berperan sebagai lembaga pengontrol pemerintah. Juga tingkat penghormatan kepada pimpinan politik di Barat jauh lebih rendah dibanding dengan di Timur. Akibatnya dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi melalui media massa negara maju yang diwarnai budaya mereka sendiri dianggap potensial menciptakan konflik.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US">6. Konsumerisme sebagai Produk Budaya Global</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Masyarakat kapitalisme global dibangun di atas iklim persaingan yang tinggi. Persaingan yang ketat antar perusahaan mendorong strategi untuk menciptakan persaingan dalam gaya hidup; antar kelas, antar golongan, antar tetangga, antar umur,. Kehidupan sosial kemudian dikonstruksi atas dasar budaya perbedaan; penampilan, gaya, gaya hidup yang senantiasa<span> </span>berubah<span> </span>dengan tempo yang semakin tinggi. Diciptakan fobia terhadap sesuatu yang usang; dikondisikan gaya belanja yang berlebihan, diciptakan kegandrungan terhadap citra ketimbang fungsi atau subtansi.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Konsumsi dalam bentuknya yang sekarang di dalam masyarakat kapitalisme global tidak lagi sekedar berkaitan dengan pemenuhan nilai fungsional dalam pengertian yang sempit; ia kini adalah cara pemenuhan material sekaligus simbolik.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Memenuhi kegiatan konsumsi dengan makna-makna simbolik tertentu (prestise, status, kelas) dengan pola dan tempo pengaturan tertentu, itulah sebetulnya hakikat dari apa yang disebut budaya konsumerisme. <strong><em>Budaya konsumerisme adalah sebuah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan diferensi secara terus menerus lewat penggunaan citra, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi</em></strong>. Ia adalah juga budaya belanja<span> </span>yang proses perubahan dan perkembangbiakannya di dorong oleh logika hasrat (<em>desire</em>), dan keinginan (<em>want</em>) ketimbang logika kebutuhan (<em>need</em>).</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Oleh sebab itulah, mesin kapitalisme global disebut juga sebagai mesin hasrat artinya disamping memproduksi barang-barang, kapitalisme juga memproduksi hasrat sekaligus. Barang-barng yang diproduksi sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat pada diri manusia yang tanpa batas. Kapitalisme adalah sebuah sistem <em>self-production</em> hasrat yang tanpa henti. Salah satu fondasi dari produktifitas hasrat di dalam sistem kapitalisme global<span> </span>adalah sebuah kondisi yang diciptakannya sehingga seolah-olah hasrat itu selalu dilegitimasi oleh kebutuhan, artinya ada upaya-upaya secara sistematis untuk menjadi hasrat sebagai kebutuhan yaitu dengan cara menciptakan kebutuhan yang bukan <em>essensial</em> melainkan <em>artifisial.</em> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Dalam hal ini, kapitalisme selalu menciptakan perasaan kurang (<em>lack</em>) atau perasaan tidak sempurna (<em>imperfection</em>) pada diri setiap orang, yang mendorong mereka untuk terus mengkonsumsi, semata-mata agar proses produksi kapitalisme dapat terus berlanjut.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Di dalam kapitalisme global yang mengalir dari satu kawasan ke kawasan lain tidak hanya sekedar barang atau produk akan tetapi juga energi-energi hasrat yang beroperasi di balik barang atau produk itu. Yang mengalir dari satu negara ke negara lain tidak hanya sekedar <em>body lotion, video clip, slimming master</em> atau <em>trendy suit</em> akan tetapi juga meliputi kegairahan, kemabukan, kecabulan global, dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan ekspansi teritorial, kapital, dan pasar akan tetapi lebih dalam lagi ekspansi terhadap nilai-nilai kultural, adat, moral, dan keagamaan lewat perputaran <em>energi libido</em> bersamanya. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US">Sebuah <em>mini suit</em> tidak hanya mengajak setiap orang bergerak bebas tetapi juga mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran moral, ajaran adat bahkan agama yang telah diwarisi.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Logika budaya lain kapitalisme adalah logika kecepatan. Kecepatan dan percepatan di dalam wacana kapitalisme global adalah sebuah kebutuhan bagi percepatan dalam perputaran dan akumulasi modal sehingga diciptakan tempo konsumsi yang tinggi. Apa yang disebut dengan percepatan <em>turn-over</em> tidak lain dari upaya percepatan produksi, sirkulasi, dan konsumsi barang-barang konsumtif. Dalam kapitalisme waktu perputaran modal ini cenderung semakin diperpendek, dengan cara mempercepat tempo produksi dan dengan demikian mempercepat tempo kehidupan secara total.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Kapitalisme global adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan sebuah keyakinan <em>laissez faire</em> yang memberikan kepercayaan penuh pada mekanisme pasar dalam menentukan arah pertumbuhan (ini tercermin dari prinsip pasar bebas). Salah satu bentuk utama dari mekanisme pasar adalah bahwa agar pertumbuhan tetap berlangsung, maka di satu pihak industri harus tetap berproduksi, di lain pihak orang harus tetap mengkonsumsi. Dengan perkataan lain agar tetap hidup kapitalisme global harus memproduksi konsumsi itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Memproduksi konsumsi artinya menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial, luks atau semu, yang sebenarnya tidak <em>essensial.</em> Masyarakat dikonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah untuk memenuhi segala bentuk hasratnya (<em>prestasi, status, simbol</em>)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US">7. Penutup </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"><span> </span>Wajah globalisasi adalah wajah paradoks. Paradoks globalisasi tercipta sebagai akibat hadirnya secara bersamaan—dan dalam ruang waktu yang sama—dua sifat yang saling bertentangan<span> </span>satu sama lain secara kontradiktif, misalnya: globalitas vs lokalitas, homogenisasi vs heterogenisasi. Di satu sisi ada kecenderungan terciptanya unifikasi, aliansi dan kesalingbergantungan; terjadinya homogenisasi, standarisasi dan generalisasi; terciptanya dunia tanpa batas (<em>borderless world</em>), masyarakat terbuka (<em>open society</em>),<span> </span>dan pasar bebas (<em>free market</em>) sementara di sisi lain berkembang separatisme, otonomi, dan desentralisasi, pluralisme.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Di Indonesia sendiri berkembangkan pola-pola yang kontradiktif yang seperti itu mewarnai perubahan sosial dan kultural akhir-akhir ini: kontradiktif antara integrasi atau disintegrasi, globalisme atau lokalisme, sentralisasi atau desentralisasi. Di satu pihak kehidupan sosial masyarakat kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai bentuk konflik sosial dan kultural yang dilandasi oleh berbagai sentimen kesukuan, keagamaan, ras dan kedaerahan yang kemudian berkembang ke dalam berbagai bentuk konflik dan kekerasan, kerusuhan dan pembataian. Berbagai bentuk konflik dan kekerasan tersebut tidak dapat dipisahkan pula dengan berbagai gagasan otonomi, separatisme bahkan kemerdekaan yang disuarakan oleh kelompok suku, agama dan daerah tertentu, yang menciptakan sebuah ancaman disintegrasi baik pada tingkat geopolitik maupun pada tingkat geokultural.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Di lain pihak, pola-pola kehidupan sosial dan kultural sehari-hari masyarakat akhir-akhir ini memperlihatkan berbagai pengaruh yang amat kuat dari apa yang disebut sebagai pola-pola kehidupan masyarakat global (<em>global society</em>) dan budaya global (<em>global culture</em>). Lewat berbagai teknologi (teknologi informasi, telekomunikasi, televisi, internet), lewat berbagai agen (kapitalis, produsen, artis) dan berbagai produknya (barang, tontonan, hiburan) budaya global tak henti-hentinya melancarkan serangan<span> </span>terhadap masyarakat etnis, yang sampai satu titik mereka menerima berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup bahkan pandangan hidup yang dilain pihak telah mengancam eksistensi berbagai bentuk warisan adat, kebiasaan, nilai identitas nasional, dan simbol-simbol dari budaya lokal.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><strong><em><span lang="EN-US">8. Sumber Buku Rujukan</span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">MacBride,<span> </span>S,<span> </span>1983,<span> </span><em>Aneka<span> </span>Suara,<span> </span>Satu<span> </span>Dunia</em>,<span> </span>PN<span> </span>Balai </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:90pt;text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Pustaka-Unesco, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:36pt;"><span lang="EN-US">Mahayana, Dimitri,<span> </span>1999,<span> </span><em>Menjemput<span> </span>Masa<span> </span>Depan</em>, Remaja </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:72pt;text-indent:36pt;"><span lang="EN-US">Rosdakarya, Bandung.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:36pt;text-align:left;" align="left"><span lang="EN-US">McLuhan, Marshal, 1999,<span> </span><em>Understanding Media, The Extension </em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:72pt;text-align:left;text-indent:36pt;" align="left"><em><span lang="EN-US">Of<span> </span>Man,<span> </span></span></em><span lang="EN-US">The MIT Press, London.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:left;" align="left"><span lang="EN-US"><span> </span>Mulyana,<span> </span>Deddy,<span> </span>1999,<span> </span><em>Nuansa<span> </span>-<span> </span>Nuansa<span> </span>Komunikasi</em>, </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:90pt;text-align:left;text-indent:18pt;" align="left"><span lang="EN-US">Rosdakarya, Bandung</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Piliang,<span> </span>Yasraf<span> </span>Amir,<span> </span>2004,<span> </span><em>Posrealitas<span> </span>Realitas Kebudayaan </em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:90pt;text-indent:18pt;"><em><span lang="EN-US">dalam Era Posmetafisika,</span></em><span lang="EN-US"> Jalasutra, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:18pt;"><span lang="EN-US">Tester,<span> </span>Keith, 2003, diterjemahkan Muhammad Syukri, <em>Media,</em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:72pt;text-indent:36pt;"><em><span lang="EN-US"><span> </span>Budaya,<span> </span>Moralitas,</span></em><span lang="EN-US"><span> </span>Kerjasama<span> </span>Juxtapose<span> </span>dan </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left:72pt;text-indent:36pt;"><span lang="EN-US">Kreasi Wacana, Yogyakarta.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=28&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-massa-dan-imperialisme-kultural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEDIA TELEVISI DAN  PRODUK BUDAYA MASSA</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-televisi-dan-produk-budaya-massa/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-televisi-dan-produk-budaya-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 04:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAJIAN MEDIA MASSA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Setiap saat, setiap waktu, dari bangun sampai menjelang tidur sekalipun sadar atau tidak, suka ataupun tidak kita berada atau berhadapan dengan televisi. Sajian media televisi sepertinya sulit kita hindari, tayangan si kotak ajaib ini sepertinya menyihir setiap akativitas kita lalu dampak seperti apa yang muncul kemudian ketika kita santap dengan lahap setiap tayangan media [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=24&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--> <strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:18pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">S</span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">etiap saat, setiap waktu, dari bangun sampai menjelang tidur sekalipun sadar atau tidak, suka ataupun tidak kita berada atau berhadapan dengan televisi. Sajian media televisi sepertinya sulit kita hindari, tayangan si kotak ajaib ini sepertinya menyihir setiap akativitas kita lalu dampak seperti apa yang muncul kemudian ketika kita santap dengan lahap setiap tayangan media ini mulai dari tayangan politik, butik, musik, sampai dengan mistik? Apa yang terjadi kemudian ketika media televisi langsung ataupun tidak menyebarkan ideologi baru, menyemai bibit benih baru yang sering disebut orang sebagai budaya massa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Sekedar mengingat kembali sekitar awal<span> </span>Pebruari sampai pertengahan Maret tahun 2003 lalu, bahkan mungkin sampai saat ini, perhatian<span> </span>sebagian<span> </span>orang sempat<span> </span>tertuju pada fenomena goyang Inul Daratista. Artis pendatang baru di dunia musik dangdut, asal kota santri Kabupaten<span> </span>Pasuruan,<span> </span>Jawa Timur. Ketika itu, tidak<span> </span>hanya orang dewasa yang membicarakan goyang ngebor Inul,<span> </span>remaja dan<span> </span>bahkan anak-anak SD ramai meniru goyang Inul. Tidak hanya dikota-kota besar, bahkan dipelosok pedesaan terpencil sekalipun orang ramai membahas goyang Inul. Lebih dari itu, pembicaraan tentang goyang Inul menghiasi hampir seluruh media massa baik cetak maupun elektronik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Berbagai komentar bermunculan dari berbagai kalangan baik mulai dari para artis, pengamat sosial, agamawan, budayawan, ilmuwan, mahasiswa, pelajar, karyawan, sopir bahkan tukang becak sekalipun. Komentar nya<span> </span>bermacam-macam ada yang merasa miris, resah, marah, prihatin, kagum, senang, dan berbagai perasaan lain yang mungkin berbeda-beda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menunjukkan sikap<span> </span>gerahnya<span> </span>dengan<span> </span>melakukan pelarangan tampil kepada artis Inul karena goyang ngebornya dinilai telah mengundang seksualitas penonton.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Lantas, apa sebetulnya yang membuat berbagai pihak “gerah”, menyaksikan goyang Inul padahal pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari fenomena<span> </span><em>goyang, gitek, dan geol</em> yang bisa disaksikan dalam tari jaipongan, bajidoran, organ tunggal, dan sebagainya<span> </span>yang tak kalah panas dan tak kalah seronok dengan goyang <em>ngebornya</em> Inul Daratista.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Fenomena seperti itu tidak lepas dari ideologi media massa yang concern terhadap setiap fenomena sebagai sebuah produk yang harus dikemas, dipelihara sebagai sebuah komoditas yang siap disajikan kepada khalayak. Dengan konsep setiap fenomena merupakan komoditaslah yang menjadikan fenomena apapun akan makin menancapkan kukunya karena media massa baik cetak maupun elektronik kemudian <em>mem-blow up</em><span> </span>berbagai komentar dari berbagai kalangan masyarakat baik yang keberatan maupun yang mendukung terhadap fenomena yang berkembang.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Di lain pihak,<span> </span>diakui ataupun tidak,<span> </span>perkembangan ekonomi yang semakin baik, interaksi dngan budaya luar memiliki dampak yang relatif luas, sehingga<span> </span>fenomena fun, fashion, dan fast food menempati pangsa pasar tersendiri pada masyarakat<span> </span>hedonestik<span> </span>yang sedang menggejala saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Tak pelak lagi kehadiran aneka macam hiburan, menjadi pusat perhatian dalam fenomena budaya massa akhir-akhir ini dengan goyang pinggul artis dangdut yang membuat semua mata laki-laki<span> </span>sulit berkedip menatap goyangannya, dengan gaya pakaian yang ditampilkan di televisi yang sulit membuat pemirsanya sukar menutup matanya, yang sajian makanan dan minumannya sulit menahan selera untuk segera mencicipinya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Fun, fashion, dan fast food<span> </span>adalah fenomena sebuah kehadiran ketika produk-produk budaya lahir yang dari mobilitas media. Hiburan, gaya pakaian, mode pakaian serta makanan cepat saja<span> </span>adalah fakta dari sebuah kehadiran dan wajah budaya pop yang dibesarkan oleh ideologi media. Dalam pandangan budaya massa publik adalah objek yang dihadapkan pada dua pilihan membeli atau tidak membeli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Mitos Perempuan<span> </span></span></strong></p>
<h1 style="margin-left:0;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Kelompok manusia yang sering disetarakan atau disebut-sebut dalam konteks budaya massa adalah kalangan perempuan suka ataupun tidak dalam pemahaman ini perempuan<span> </span>seringkali<span> </span>dikonsepkan<span> </span>secara<span> </span><em>kultural</em><span> </span><span> </span>dan <em>struktural</em><span> </span>sebagai mahluk yang cantik, lembut, sabar, emosional. Bahkan mahluk cantik yang bernama perempuan<span> </span>ini sering dikonsepkan sebagai mahluk yang tak bisa berpikir secara logis rasional.<span> </span>Perempuan <em>katanya, </em><span> </span>mahluk yang cenderung berpikir<span> </span>menurut kata hatinya yang lembut dan emosional.<span> </span></span></h1>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Isu yang senantiasa berkembang dalam permasalahan perempuan adalah<span> </span>tentang kodrat perempuan. Sering kita dengar <em>perempuan boleh bekerja asal jangan melupakan kodratnya.</em> Kodrat perempuan adalah mengurus anak, suami dan rumah tangganya.<span> </span>Kodrat perempuan seperti itu sepertinya benar padahal keliru karena mencerminkan kekurangpahaman orang akan penggunaan kata kodrat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam pemahaman <em>R. Valentin Sagala, </em><span> </span>seorang aktivis perempuan, bahwa kodrat adalah ketentuan Tuhan. Karena itu, ia tak terbantahkan, kodrat perempuan adalah ia bervagina, memiliki rahim, mempunyai indung telur, berpayudara. Secara kodrati perempuan berbeda dengan laki-laki yang mempunyai penis, sperma dan buah zakar, karena itu fungsi reproduksi perempuan adalah melahirkan, menyusui,<span> </span>dan menstruasi. Lain halnya dengan laki-laki yang tidak memiliki<span> </span>ketiga fungsi tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Kodrat berupa alat-alat biologis itu melekat pada manusia baik laki-laki maupun perempuan secara permanen dan universal serta tak dapat dipertukarkan antar keduanya. Perempuan tahun 1900-an sama dengan perempuan abad milenium sekarang ini. <em>Universalitas</em><span> </span>kodrat<span> </span>perempuan dapat kita lihat perempuan di Jawa sama dengan perempuan di Sumatera, di Papua maupun di belahan bumi Eropa maupun Amerika sekalipun.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dari paparan tersebut diatas,<span> </span>jelas<span> </span>bahwa mengurus anak, suami dan rumah tangga jelaslah bukan kodrat. Ini lebih merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa, salah kaprah, dari sini sebenarnya muncul konsep gender.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Gender</span></em></strong><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"> adalah seperangkat ciri, sifat, karakteristik yang mengidentifikasikan kaum perempuan dan laki-laki yang dikonstruksikan oleh keadaan sosial dan kultural masyarakat.<span> </span> Berbeda dengan konsep kodrat yang permanen dan universal, gender dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dapat dipertukarkan dalam arti bahwa dalam kehidupan masyarakat dapat ditemukan ada perempuan yang rasional, perkasa dan sebaliknya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, dan keibuan misalnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam konteks inilah, barangkali kehadiran perempuan yang tampil “berani” membuka auratnya, yang terbuka menyapaikan aibnya bisa<span> </span>menjadi bahan hujatan sebagian masyarakat kita, karena dalam mitos perempuuan di Indonesia, posisi perempuan masih dipertahankan dalam kodratnya sebagai perempuan yang mengurus anak, menyusui, mengurus suaminya di rumah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Proses<span> </span>konstruksi<span> </span>sosial<span> </span>dan<span> </span>kultural<span> </span>yang<span> </span>melahirkan<span> </span>isu<span> </span>gender ini telah berlangsung secara bertahap dan terus-menerus di dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Posisi media massa dalam kaitannya dengan isu gender menjadi menarik karena media massa dapat mendorong atau bahkan menghambat terjadinya perubahan yang signifikan. </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Bila media massa yang berfungsi sebagai media informasi bagi masyarakat masih meletakan unsur ketidakadilan gender pada produk dan institusinya maka sulit dibayangkan bagaimana proses pemberdayaan <em>(empowering)</em><span> </span>berjalan dengan baik.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Proses pemberdayaan ini sendiri menjadi penting mengingat saat ini banyak pihak yang menyadari bahwa salah satu akar ketimpangan dan posisi marjinal perempuan sesungguhnya terjadi karena posisi tawar kaum perempuan dihadapan laki-laki. Dalam upaya menghapuskan terjadinya eksploitasi, diskriminasi dan marjinalisasi kaum perempuan maka pemberdayaan menjadi jalan keluar<span> </span>terbaik.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam pandangan <em>Caroline Moser</em> aktivis perempuan, bahwa<span> </span>yang menjadi inti dari pemberdayaan perempuan itu bukanlah penciptaan perempuan yang lebih unggul dari laki-laki atau pendominasian balik dari yang satu terhadap yang lainnya, melainkan lebih pada pembentukan kerangka kapasitas perempuan meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal ( Soemandoyo, 1999 : 61-62). </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dengan demikian, yang seharusnya diperjuangkan dalam hal ini adalah dipenuhinya hak perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya serta memberikan kekuasaan kepada perempuan melalui pendistribusian kembali kekuasaan di dalam masyarakat, yang antara lain melalui media massa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Fenomena gender dapat dengan mudah kita temukan dalam media massa<span> </span>berbagai berbagai tayangan program seperti film, sinetron, iklan, musik dan isi pemberitaan. Dalam tayangan iklan jamu atau kondom misalnya mensugestikan bahwa dengan mengkonsumsi jamu atau kondom seorang istri dapat mengikat suami agar betah dirumah. Dalam hal ini istri dipandang sebagai mahluk yang bernafsu, penuntut seks. Hal semacam ini menggambarkan betapa pengaruh patriarki telah subur di dalam diri para kreator iklan dan agensi-nya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US">Media Massa dan Budaya Massa</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam perkembangan masyarakat saat ini,<span> </span>media massa dipandang sebagai pencipta kebudayaan massa. Di satu sisi media massa merupakan konsekuensi dari lahir dan adanya masyarakat industri, di sisi lain dengan kemampuannya sebagai <strong><em>extension of man </em></strong>dan potensinya melipatgandakan pesan media massa membawakan dan menyebarluaskan simbol-simbol budaya masyarakat industri yang kemudian <em>me-massa.</em> Tetapi juga harus dipahami media massa dilahirkan dari perut masyarakat industri. Dengan kata lain,<span> </span>kebudayaan massa lebih diartikan sebagai hasil lingkungan masyarakat industri yang telah berkembang. Karena industri biasanya berkembang di kota-kota,<span> </span>maka budaya massa juga terutama ada dan berkembang di kota-kota.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dari sinilah timbul keyakinan<span> </span>bahwa<span> </span>kebudayaan kota merupakan hasil sentuhan lembaga-lembaga industri, perusahaan komersial dan lembaga lain yang kemunculannya menyusul dan berkaitan dengan berlangsungnya proses industrialisasi.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span>Dalam setting budaya massa aspek utama adalah pada faktor hiburan bukan kedalaman makna apalagi kedalaman filosofi yang<span> </span>dikembangkan dalam suatu tayangan. Hiburan telah menjadi semacam <em>ideologi </em>utama bagi industri media massa. Ini berarti segala sesuatu yang akan dijadikan acara atau program media massa akhirnya harus dikemas sebagai hiburan. Demikian pula dengan para pemirsa atau pembaca media massa memiliki <em>predisposisi</em> untuk menikmati hiburan. Sehingga tolok ukur penilaian bagus tidaknya suatu tayangan atau program ditentukan seberapa besar kandungan hiburannya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=24&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/14/media-televisi-dan-produk-budaya-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori Efek Komunikasi Massa dari Melvin De Fleur</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/teori-efek-komunikasi-massa-dari-melvin-de-fleur/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/teori-efek-komunikasi-massa-dari-melvin-de-fleur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 10:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAJIAN MEDIA MASSA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Teori Perbedaan Individu ( Individual Differences Theory) Asumsi teori ini adalah : Pesan-pesan yang disampaikan media massa ditangkap individu sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan personal individu. Efek komunikasi pada individu akan beragam walaupun individu menerima pesan yang sama. Terdapat faktor psikologis dalam menerima pesan yang disampaikan media massa. Masing-masing individu mempunyai perhatian, minat, keinginan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=16&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><strong><span lang="EN-GB">Teori Perbedaan Individu ( Individual Differences<span> </span>Theory)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Asumsi teori ini adalah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pesan-pesan yang disampaikan media massa ditangkap individu sesuai dengan<span> </span>karakteristik dan kebutuhan<span> </span>personal individu. Efek komunikasi<span> </span>pada individu akan beragam walaupun individu menerima pesan yang sama. Terdapat faktor psikologis dalam menerima pesan yang disampaikan media massa. Masing-masing individu mempunyai perhatian, minat, keinginan yang berbeda yang dipengaruhi faktor-faktor psikologis yang ada pada diri individu tersebut sehingga mempengaruhi dalam menerima pesan yang disampaikan<span> </span>media massa.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Teori Penggolongan Sosial (Social Category Theory)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Asumsi teori ini adalah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Individu yang masuk<span> </span>dalam kategori sosial tertentu atau sama akan cenderung memiliki<span> </span>prilaku atau sikap yang kurang lebih<span> </span>sama terhadap<span> </span>rangsangan-rangsangan tertentu. Pesan-pesan yang disampaikan media massa cenderung ditanggapi sama oleh individu yang termasuk dalam kelompok sosial tertentu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Penggolongan sosial ini berdasarkan :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Usia<span> </span>: anak-anak, dewasa, orangtua</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Jenis kelamin<span> </span>:<span> </span>laki-laki, perempuan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Suku bangsa : Sunda, Jawa, Batak, Minang, Aceh, Papua, Bali, dll</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Profesi<span> </span>: dokter, pengusaha, pedagang, sopir, tukang becak, dll.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pendidikan<span> </span>: sarjana, tamatan SLTA, SLTP,<span> </span>SD, buta<span> </span>hurup.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Kegemaran<span> </span>atau Hobby<span> </span>: Olahraga, kesenian, dll.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Status sosial : Kaya, biasa, dan miskin.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Agama : Islam, Kristen,<span> </span>Hindu, Budha, Konghucu, dll.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Dengan adanya<span> </span>penggolongan sosial ini muncullah media massa yang sifatnya special atau khusus yang<span> </span>diperuntukan<span> </span>bagi kalangan tertentu, dengan mengambil segmentasi/pangsa pasar tertentu misalnya<span> </span>:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Majalah Femina, Kartini, Wanita , dll yang diperuntukan wanita kalangan tertentu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Majalah Bobo<span> </span>misalnya diperuntukan<span> </span>untuk anak-anak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Majalah Bola, Soccer, Go, F1, dll diperuntukan<span> </span>mereka yang senang olahraga.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Majalah<span> </span>Adil, Amanat, Bangkit misalnya diperuntukan mereka yang senang politik.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Monitor, Cek and Ricek,<span> </span>misalnya diperuntukan mereka yang senang dengan berita seputar gosip para<span> </span>artis.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Begitu juga di media elektronik disajikan<span> </span>acara-acara tertentu yang memang diperuntukan bagi kalangan tertentu dengan memprogramkannya sesuai dengan waktu dan segmen khalayaknya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Teori Hubungan Sosial (Social<span> </span>Relationship Theory)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Asumsi teori ini adalah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pada dasarnya pesan-pesan<span> </span>komunikasi massa<span> </span>lebih banyak diterima<span> </span>individu melalui hubungan personal dibanding langsung<span> </span>dari media massa.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Informasi melalui media massa<span> </span>tersebar melalui hubungan-hubungan sosial di dalam masyarakat. Teori ini berhubungan dengan teori Two Step Flow Communication.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Teori Norma Budaya ( Norm and Cultural Theory)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Asumsi teori ini adalah :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media massa melalui informasi yang disampaikannya dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkan kesan yang oleh khalayak disesuaikan<span> </span>dengan norma-norma<span> </span>dan nilai-nilai budayanya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media massa mempengaruhi budaya-budaya masyarakatnya dengan cara<span> </span>:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pesan-pesan yang disampaikan media massa<span> </span>memperkuat budaya yang<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>ada.Ketika suatu budaya telah kehilangan tempat<span> </span>apresiasinya, kemudian </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>media massa<span> </span>memberi lahan atau tempat maka budaya<span> </span>yang pada </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>awalnya sudah mulai luntur menjadi hidup kembali.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>Contoh : Acara pertunjukan Wayang Golek atau Wayang<span> </span>Kulit yang </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>ditayangkan<span> </span>Televisi terbukti telah memberi tempat pada budaya<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>tersebut untuk diapresiasi oleh<span> </span>masyarakat.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media massa telah menciptakan pola baru tetapi tidak bertentangan<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>bahkan menyempurnakan budaya lama.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>Contoh : Acara Ludruk Glamor misalnya memberi nuansa baru terhadap </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>budaya<span> </span>ludruk dengan tidak menghilangkan esensi budaya asalnya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media massa mengubah budaya lama dengan budaya baru yang berbeda </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>dengan<span> </span>budaya lama.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>Contoh : Terdapat acara-acara<span> </span>tertentu<span> </span>yang<span> </span>bukan<span> </span>tak mungkin </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span>lambat laun<span> </span>akan menumbuhkan budaya baru.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Menurut Paul Lazarfeld dan Robert K Merton terdapat empat sumber utama kekhawatiran masyarakat terhadap media massa, yakitu<span> </span>:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Sifat Media Massa yang mampu hadir dimana-mana (Ubiquity) serta kekuatannnya yang potensial untuk memanipulasi dengan tujuan-tujuan tertentu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Dominasi kepentingan ekonomi dari pemilik modal untuk menguasai media massa dengan demikian media massa dapat dipergunakan untuk menjamin ketundukan masyarakat terhadap status quo sehingga memperkecil kritik sosial dan memperlemah kemampuan khalayak<span> </span>untuk berpikir kritis.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media<span> </span>massa dengan jangkauan yang besar dan luas dapat membawa khalayaknya pada cita rasa estetis dan standar budaya populer yang rendah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Media massa dapat menghilangkan sukses sosial yang merupakan jerih payah para pembaharu selama beberapa puluh tahun yang lalu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=16&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/teori-efek-komunikasi-massa-dari-melvin-de-fleur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Media Massa dan Pelestarian Budaya Nasional</title>
		<link>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/media-massa-dan-pelestarian-budaya-nasional/</link>
		<comments>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/media-massa-dan-pelestarian-budaya-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 10:23:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agussetiaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[KAJIAN MEDIA MASSA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agussetiaman.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Agus Setiaman Abstrak Pada hakikatnya manusia adalah pencipta kebudayaan, namun sebaliknya manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya juga ditentukan oleh kebudayaan. Kualitas hubungan timbal balik ini merupakan tolok ukur suatu masyarakat kebudayaan. Media massa berperan untuk tumbuh dan berkembang sebuah budaya. Karena media massa sebuah budaya nasional dapat tetap bertahan dan karena media massa pula sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=13&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;page-break-after:avoid;" align="center"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Agus Setiaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="page-break-after:avoid;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Abstrak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pada hakikatnya manusia adalah pencipta kebudayaan, namun sebaliknya manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya juga ditentukan oleh kebudayaan. Kualitas hubungan timbal balik ini merupakan tolok ukur suatu masyarakat kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Media massa berperan untuk<span> </span>tumbuh dan berkembang sebuah budaya.<span> </span>Karena media massa sebuah budaya nasional dapat tetap bertahan dan karena media massa pula sebuah budaya nasional dapat mati terlindas oleh eksistensi budaya lain. Media massa memiliki kemampuan untuk mempopulernya sebuah budaya sehingga diapresiasi, dicintai dan dipergunakan seolah-oleh sebagai pegangan dan pedoman dalam bertindak dan berprilaku, sebaliknya budaya yang tidak dipopulerkan media massa akan ditinggalkan untuk kemudian punah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Abstract</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid black;width:367.2pt;padding:0 6pt;" width="490" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:6pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:2.9pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Agus Setiaman, S.Sos, adalah staf edukatif Universitas   Padjadjaran, Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Manajemen Komunikasi, dan   sekretaris Divisi Penelitian, Pengabdian, dan Penerbitan Jurnal FIKOM UNPAD. Telah Dipublikasikan di Jurnal FIKOM UNPAD pada bulan Juli 2008<br />
</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
</div>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section2">
<h2 style="page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pendahuluan</span></h2>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Abad ke- 21 telah kita lalui hampir 8 tahun, kehidupan manusia di zaman teknologi ini bergerak dengan<span> </span>cepat. Semua bergerak dinamis dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Karenanya, pergerakan ini menuntut perubahan-perubahan yang revolusioner dalam segala bidang. Dan seringkali kita mengalami kesulitan yang nyata dalam ber</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;">a</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">daptasi terhadap perubahan-perubahan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Disadari ataupun tidak, manusia adalah mahluk yang selalu melahirkan budaya dalam setiap nafasnya. Budaya menjadi bagian dari kehidupannya, sekaligus sistem nilai yang mempengaruhi hidupnya. Dan seiring dengan perubahan-perubahan zaman yang cepat menuntut sistem nilai untuk mengikuti, untuk turus berubah seiring dengan peralihan zaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Komunikasi dalam hal ini media massa, yang berkembang<span> </span>cepat di abad ke-20, memegang peranan yang<span> </span>besar dalam perubahan ini. menakjubkan sekali bagaimana komunikasi massa dapat mentransfer informasi, pesan-pesan, sistem nilai, norma-norma sosial, budaya, pemikiran dan sebagainya secara cepat ke dalam rungan dan pikiran masyarakat saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Seolah-olah komunikasi dalam hal ini media massa telah menghapuskan batas-batas teritorial negara dan berusaha menjadikan masyarakat dunia saat ini sebagai masyarakat global, yang berpikiran sama, bersistem nilai sama, berprinsip sama pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Karena media massa sebuah budaya dapat tumbuh dan berkembang. Juga karena media massa sebuah budaya dapat mati terlindas eksistensi budaya lain. Sebuah bud</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;">a</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">ya yang dipopulerkan oleh media massa, kemungkinan besar akan dicintai oleh khalayaknya, sebaliknya budaya yang tidak dipopulerkan media massa akan ditinggalkan untuk kemudian punah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Hal ini kiranya yang sedang dialami budaya daerah-daerah di Indonesia pada umumnya: ditinggalkan dan dilupakan masyarakatnya sendiri. Mungkinkah hal ini disebabkan oleh kemampuan adaptasi budaya daerah-daerah yang telah ada sejak beratus tahun lalu ini yang<span> </span>rendah?</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section3">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Budaya yang telah menjadi sistem nilai masyarakat Indonesia selama ini tampaknya<span> </span>statis dan tidak relevan lagi. Sementara budaya-budaya lain kian bermunculan dan mengisi ruang-ruang kosong kebutuhan masyarakat saat ini lewat media massa. Dan lewat media massa pula budaya-budaya lain yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan manusia itu hadir lebih dekat dan lebih lekat kepada kehidupan masyarakat saat ini dan dijadikan sistem nilai baru yang dianggap sesuai dengan tuntutan zaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<h2 style="page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Hakikat Kebudayaan</span></h2>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebudayaan yang hidup dalam suatu daerah tertentu terus tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Budaya tersebut membentuk dan dibentuk oleh pendukungnya selama kurun waktu berabad-abad sehingga terkristalisasi dan terekam dalam pikiran serta prilaku pada tata kehidupan masyarakatnya, dan mereka mengembangkan suatu sistem nilai yang secara operasional terlihat dalam berbagai interaksinya. Oleh karena itu, budaya dalam arti luas adalah sistem nilai yang dianut oleh sebagian besar anggotanya dalam masyarakat tertentu dalam menyingkapi dan menjalani berbagai segi kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dengan demikian, masyarakat bagaimana laju pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat akan<span> </span>tergantung pada seberapa jauh wawasan dan jangkauan sistem nilai tersebut dapat berfungsi sebagai acuan dan panduan yang diandalkan, seberapa luas cakupan dan sebaran sistem nilai tersebut dalam berbagai aspek kehidupan, seberapa tinggi relevansi sistem nilai tersebut mengikuti perkembangan zaman, seberapa dalam penghayatan para anggotanya atas sistem nilai tersebut, dan seberapa besar kepedulian masyarakat membina dan mengembangkan sistem nilai tersebut secara terarah dan terencana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Meskipun manusia adalah pencipta kebudayaan, namun sebaliknya manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya juga ditentukan oleh kebudayaan. Kualitas hubungan timbal balik ini merupakan tolok ukur suatu masyarakat kebudayaan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebudayaan daerah yang sering disebut dengan kebudayaan etnis dalam tatanan melinium baru merupakan semacam peta bagi Indonesia untuk menemukan sains, teknologi, estetika, dan etika bagi berbagai wilayah multikultural. Selain sebagai dasar dialog multikultural guna memenuhi distribusi sosial dan ekonomi Indonesia dalam tatanan globalisasi, kebudayaan ini juga merupakan landasan menentukan arah dan panduan pemecahan masalah, baik pada tingkat daerah maupun nasional.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section4">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Banyak aspek nilai dan pengetahuan yang terdapat pada budaya masyarakat tradisional yang relevansinya cukup signifikan dengan kehidupan modern dalam era globalisasi yang tengah berlangsung dewasa ini. nilai-nilai budaya tersebut pada dasarnya dapat dikaji dan diabstraksi melalui bidang-bidang kehidupan yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan, moral dan etika, estetika, konsep tentang alam semesta, falsafah tentang kehidupan manusia dengan alam, sistem sosial kemasyarakatan, kepemimpinan, adat istiadat, sistem keturunan dan kekerabatan, tata kelompok, tata rumah tangga dan kehidupan keluarga, etos kerja, sistem pendidikan, konsep tentang hukum dan hukuman, harga diri, karya sastra, karya seni, dan lain-lain. Nilai-nilai budaya ini terutama berkenaan dengan konsep dasar yang bernilai tinggi<span> </span>berperan dan berpotensi untuk dikembangkan dan diberdayakan dalam mengantisipasi berbagai krisis yang sedang dihadapi saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pada dasarnya, kebudayaan berubah seirama dengan perubahan hidup masyarakat. Perubahan tersebut dapat berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, teknologi baru, dan akibat dari penyesuaian cara hidup baru serta kebiasaan pada situasi baru. Sikap mental dan nilai budaya turut dikembangkan guna tumbuhnya keseimbangan dan integrasi baru. Tidak semua perubahan itu suatu kemajuan, karena perubahan tidak jarang disertai timbulnya krisis, konflik, pergeseran nilai-nilai lama, dan pada suatu ketika terjadilah pengingkaran terhadap hasil budaya yang telah dibangun sekian lama, atau sebaliknya akan lebih memperkaya warisan budaya dan peningkatan terhadap nilai-nilai yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Perubahan dalam masyarakat<span> </span>berharga adalah apabila ketahanan budaya dan nilai-nilai objektifnya selalu sanggup memperbaharui diri. Dalam proses pembaharuan dengan perubahan tersebut sikap mental dan ketahanan budaya berperan positif untuk menjaga keseimbangan antara kesinambungan sistem nilai yang disepakati dengan unsur perubahan menuju kemajuan. Inilah yang secara umum harus dianggap sebagai muatan konsep dasar kebudayaan Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:normal;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebudayaan Nasional dan Tantangan yang Dihadapi: Kebebasan Media Massa</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Aspek kebebasan pada media massa di Indonesia yang mengalami pergeseran ke arah liberal beberapa tahun belakangan ini merupakan kebebasan yang terdiri dua jenis yaitu: Kebebasan Negatif dan Kebebasan Positif.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section5">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebebasan negatif merupakan kebebasan yang berkaitan dengan masyarakat dimana media massa itu hidup. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari interferensi pihak luar organisasi media massa yang berusaha mengendalikan, membatasi atau mengarahkan media massa tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebebasan yang positif adalah kebebasan yang dimiliki media massa secara organisasi dalam menentukan isi media, berkaitan dengan pengendalian yang dijalankan oleh para pemilik media dan manajer media terhadap para produser, penyunting serta kontrol yang dikenakan oleh para penyunting terhadap karyawannya. Singkatnya kebebasan ini berhubungan dengan kemerdekaan pers dalam hal penentuan editorial, kebebasan pers internal dan kebebasan pers berkreasi bagi para produser media tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kedua jenis kebebasan tersebut, bila melihat kondisi media massa Indonesia saat ini pada dasarnya bisa dikatakan telah diperoleh oleh media massa kita. Memang kebebasan yang diperoleh pada kenyataannya tidak bersifat mutlak, dalam arti media massa memiliki kebebasan positif dan kebebasan negatif yang kadarnya kadang-kadang tinggi atau bisa dikatakan bebas yang bebas-sebebasnya tanpa kontrol sedikitpun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dalam sistem pers yang bebas sekalipun kontrol atau pembatasan dari pihak pemerintah atau undang-undang selalu ada. Hal ini bisa dilihat pada regulasi di Amerika Serikat sekalipun yang menganut pers liberal regulasi tetap ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Semua pandangan menyangkut kebebasan media massa itu tidak menjamin akan adanya iklim ideal yang tanpa tekanan atau kontrol apapun, tetapi dapat memberikan harapan bahwa media massa akan mampu melakukan berbagai upaya untuk menciptakan dan memelihara suasana <em>independent, </em>serta mencegah masuknya kekuatan eksternal untuk memaksakan kontrol, persekutuan dengan kelompok yang mementingkan diri sendiri yang dapat mengganggu iklim kebebasan pers.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kebebasan pers yang didapatkan hendaknya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan khalayak media massa, tidak hanya sekedar ajang untuk membebaskan media massa dan para pemiliknya dari kewajiban memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Telah menjadi rahasia umum bahwa media massa sekarang ini secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi perantara penetrasi budaya asing. Media massa cenderung mengusung budaya massa atau budaya populer yang berorientasi pada industri massal dan berkiblat pada budaya Barat. <strong><em>Prof, Soejoko</em></strong> menyatakan <em>bahwa budaya massa merupakan budaya yang dibuat untuk tujuan konsumersime, karena itu, budaya ini dibuat asal jadi, asal menghibur, asal menghasilkan uang sebanyak-banyaknya</em>.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section6">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Khalayak seolah-olah tidak lagi memperdulikan falsafah-falsafah hidup yang terdapat dalam sebuah kebudayaan (terutama kebudayaan daerah), dan digiring untuk menikmati hasil produksi budaya baru yang hanya berorientai pada kesenangan semata. Disinilah nilai budaya daerah atau nasional diuji eksistensinya dan ketahanannya menghadapi penetrasi pengaruh budaya asing yang tidak bisa ditahan-tahan agi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sebenarnya lunturnya nilai-nilai budaya nasional dalam kehidupan masyarakat bukanlah sebuah isyu baru. Jauh-jauh hari, masyarakat Indonesia telah diperingatkan akan penetrasi budaya asing ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memulihkan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap budaya nasional, namun sepertinya hingga saat ini kekuatan budaya asing masih<span> </span>sulit dihadang. Terutama bila hal ini menyangkut ada atau tidaknya nilai ekonomis dalam suatu budaya, karena budaya nasional sudah mulai kehilangan pasar dan kurang memiliki nilai jual secara ekonomis dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Yang patut disayangkan adalah media massa cenderung melupakan tanggungjawab terhadap budaya bangsa dan lebih mementingkan kepentingan industri dan konsumerisme. Padahal potensi media massa lah besar dalam mendorong budaya nasional untuk bangkit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="line-height:normal;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Peranan Media Massa dalam Kesadaran Pelestarikan Budaya Nasional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Media massa tanpa kita sadar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Dengan kemampuannya media massa telah menembus batas-batas ruang dan berada dimana-mana (<em>omnipresent</em>), membuat media massa memiliki potensi yang<span> </span>besar dalam menyebarkan pengaruh-pengaruh yang dibawanya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, selain dapat menjadi hambatan budaya nasional untuk berkembang, media massa juga menjadi alat yang potensial untuk melestarikan budaya nasional yaitu dengan cara menanamkan nilai-nilai budaya pada masyarakat melalui isi pesan yang dibawanya.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section7">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Media massa dalam aktifitasnya dapat berfungsi sebagai penyedia tempat bagi budaya nasional untuk kembali diapresiasi oleh khalayaknya. Budaya daerah yang tadinya telah atau hampir kehilangan tempat di hati masyarakatnya, kembali menemukan tempat apresiasinya di media massa. Sebagai contoh, pagelaran wayang golek atau wayang kulit yang sarat dengan makna yang digelar di pesta-pesta adat Sunda maupun Jawa, kini harus bersaing dengan orkes dangdut, organ tunggal yang lebih meriah dan atraktif sekalipun pada aspek lain murah meriah, miskin makna dan sarat dengan pesan-pesan erotisme. Disini tempat aspirasi wayang terbatas, semakin terancam dengan budaya lain yangg lebih disukai masyarakat. Namun pada saat ini wayang golek dan wayang kulit kembali menemukan tempat aspirasinya di media massa televisi dan radio lewat program-programnya. Acara <em>features</em> seperti yang ditayangkan TVRI, Indosiar TPI, Metro TV, Bandung TV, S TV, dan statsiun televisi lainnya menampilkan sisi lain yang eksotis dari suatu budaya. Media cetak pun turut berperan dalam hal ini dengan menyajikan informasi seputar budaya daerah seperti yang dilakukan Harian Umum Pikiran Rakyat, Mangle, media lokal lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Melalui tayangan-tayangannya media massa dapat pula melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu budaya, tapi tidak sampai mengubah inti dari budaya tersebut. Hal ini dilakukan melalui program-program yang telah mengalami modifikasi seperti Ketorak Humor, Inohong di Bojong Rangkong ataupun Lenong Rumpi, Lenong Bojah ataupun drama radio yang mengetengahkan tema kehidupan dengan latar belakang budaya nasional. Hal lain yang dapat dilakukan, misalnya menayangkan acara masak-memasak hidangan nusantara yang menghidangkan sajian khas daerah yang telah dimodifikasi bahan maupun rasanya. Diharapkan melalui cara-cara ini kelestarian budaya nasional dapat tetap dipertahankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Media massa dapat juga mengingkatkan kesadaran masyarakat untuk kembali meng-empati kepeduliannya terhadap budaya nasional dengan cara menyajikan artikel-artikel dan informasi, yang isinya menghimbau masyarakat agar tidak melupakan akar budaya daerah masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh media massa untuk meningkatkan kesadaran akan kebudayaan nasionalnya. Acara-acara <em>off air-pun</em> dapat dilakukan oleh media massa dengan melakukan peliputan terhadap kegiatan-kegiatan saresehan. Seminar, maupun pagelaran-pagelaran budaya yang disponsori langsung oleh media massa. Dengan cara ini, khalayak dapat lebih merasakan manfaat yang diberikan dari kegiatan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<div class="Section8">
<h2 style="page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Penutup</span></h2>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;page-break-after:avoid;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Media massa mempunyai potensi yang<span> </span>besar dalam penyebaran pesan dan pengaruh kepada masyarakat. Dengan maraknya budaya massa yang ditawarkan oleh media massa, serta bergesernya nilai-nilai kemasyarakatan, eksistensi kebudayaan nasional seperti berada di ujung tanduk. Kebudayaan yang telah lama diciptakan dan menjadi acuan dan tuntunan hidup masyarakat kini hampir punah dan lepas dari perhatian masyarakat pendukung budaya tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sayangnya, media massa saat ini lebih cenderung mementingkan komersialisme dan industrialisme, sehingga aktifitas media massa tidak lain hanyalah upaya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Sementara disisi lain, budaya daerah sebagai pendukung budaya nasional yang sudah tidak dilirik lagi oleh masyarakatnya kurang mempunyai nilai ekonomis dan bisnis.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dengan kebebasan yang didapatkannya sekarang ini menjadikan kontrol pemerintah terhadap media massa seakan hilang begitu saja. Media massa bebas menentukan acara apa yang ingin ditampilan tidak peduli apakah itu membahayakan eksistensi dan nilai moral kebudayaan masyarakat selama itu disukai oleh khalayaknya dan mendatangkan keuntungan finansial yang sebanyak-banyaknya maka media massa akan menayangkannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Selain menjadi tantangan bagi kelangsungan hidup kebudayaan nasional, media massa juga melakukkan hal-hal yang mendukung perkembangan kebudayaan nasional. Bila hal ini dilakukan untuk mendukung perkembangan kebudayaan nasional dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebudayaan nasional yang selama ini telah menjadi acuan dan tuntunan kehidupan masyarakat, maka media massa patut mendapat apresiasi dan acungan jempol serta dihargai setinggi-tingginya.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Dan kita sebagai anggota masyarakatpun harus menyambut gembira dan turut mendukung pelestarian budaya nasional dengan sebaik yang kita bisa lakukan.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sumber Rujukan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Abdullah, Irwan,<span> </span>2001, <em>Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan,</em> <span> </span>Tarawang Press, Yogyakarta</span></p>
</div>
<p><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">DeFleur, Melvin,<span> </span>Everette E. Dennis, 1985<em>,<span> </span>Understanding Mass <span> </span>Communication,</em><span> </span>Houghton Mifflin Company, Boston.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Effendy, U Onong, 2005, <em>Komunikasi dan Modernisasi</em>, Mandar Maju, <span> </span>Bandung.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Liliweri, Alo, 1991, <em>Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam <span> </span>Masyarakat,</em> Citra Aditya Bakti, Bandung.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Keith Tester, 2002, <em>Media, Budaya dan Moralitas</em>, Kanisius, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Siregar, Ashadi, 1997, <em>Budaya Massa (Catatan Konseptual Tentang <span> </span>Produk Budaya Dan Hiburan Massa),</em> dalam Jurnal ISKI Vol. 1 <span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Soemandoyo, Priyo, 1999, <em>Wacana Gender dan Layar Televisi</em>, LP3Y, <span> </span>Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11.5pt;font-family:&quot;" lang="SV">Winarso, Puji Heru, 2005, <em>Sosiologi Komunikasi Massa</em>, Prestasi Pustaka, <span> </span>Jakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agussetiaman.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agussetiaman.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agussetiaman.wordpress.com&#038;blog=4771105&#038;post=13&#038;subd=agussetiaman&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agussetiaman.wordpress.com/2008/11/07/media-massa-dan-pelestarian-budaya-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/86f3f48600daf75544149ec084ca6efa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agussetiaman</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
