Agus Setiaman


Media Massa dan Pelestarian Budaya Nasional
November 7, 2008, 10:23 am
Filed under: KAJIAN MEDIA MASSA

Agus Setiaman

Abstrak

Pada hakikatnya manusia adalah pencipta kebudayaan, namun sebaliknya manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya juga ditentukan oleh kebudayaan. Kualitas hubungan timbal balik ini merupakan tolok ukur suatu masyarakat kebudayaan.

Media massa berperan untuk tumbuh dan berkembang sebuah budaya. Karena media massa sebuah budaya nasional dapat tetap bertahan dan karena media massa pula sebuah budaya nasional dapat mati terlindas oleh eksistensi budaya lain. Media massa memiliki kemampuan untuk mempopulernya sebuah budaya sehingga diapresiasi, dicintai dan dipergunakan seolah-oleh sebagai pegangan dan pedoman dalam bertindak dan berprilaku, sebaliknya budaya yang tidak dipopulerkan media massa akan ditinggalkan untuk kemudian punah.

Abstract

Agus Setiaman, S.Sos, adalah staf edukatif Universitas Padjadjaran, Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Manajemen Komunikasi, dan sekretaris Divisi Penelitian, Pengabdian, dan Penerbitan Jurnal FIKOM UNPAD. Telah Dipublikasikan di Jurnal FIKOM UNPAD pada bulan Juli 2008


Pendahuluan

Abad ke- 21 telah kita lalui hampir 8 tahun, kehidupan manusia di zaman teknologi ini bergerak dengan cepat. Semua bergerak dinamis dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Karenanya, pergerakan ini menuntut perubahan-perubahan yang revolusioner dalam segala bidang. Dan seringkali kita mengalami kesulitan yang nyata dalam beradaptasi terhadap perubahan-perubahan tersebut.

Disadari ataupun tidak, manusia adalah mahluk yang selalu melahirkan budaya dalam setiap nafasnya. Budaya menjadi bagian dari kehidupannya, sekaligus sistem nilai yang mempengaruhi hidupnya. Dan seiring dengan perubahan-perubahan zaman yang cepat menuntut sistem nilai untuk mengikuti, untuk turus berubah seiring dengan peralihan zaman.

Komunikasi dalam hal ini media massa, yang berkembang cepat di abad ke-20, memegang peranan yang besar dalam perubahan ini. menakjubkan sekali bagaimana komunikasi massa dapat mentransfer informasi, pesan-pesan, sistem nilai, norma-norma sosial, budaya, pemikiran dan sebagainya secara cepat ke dalam rungan dan pikiran masyarakat saat ini.

Seolah-olah komunikasi dalam hal ini media massa telah menghapuskan batas-batas teritorial negara dan berusaha menjadikan masyarakat dunia saat ini sebagai masyarakat global, yang berpikiran sama, bersistem nilai sama, berprinsip sama pula.

Karena media massa sebuah budaya dapat tumbuh dan berkembang. Juga karena media massa sebuah budaya dapat mati terlindas eksistensi budaya lain. Sebuah budaya yang dipopulerkan oleh media massa, kemungkinan besar akan dicintai oleh khalayaknya, sebaliknya budaya yang tidak dipopulerkan media massa akan ditinggalkan untuk kemudian punah.

Hal ini kiranya yang sedang dialami budaya daerah-daerah di Indonesia pada umumnya: ditinggalkan dan dilupakan masyarakatnya sendiri. Mungkinkah hal ini disebabkan oleh kemampuan adaptasi budaya daerah-daerah yang telah ada sejak beratus tahun lalu ini yang rendah?


Budaya yang telah menjadi sistem nilai masyarakat Indonesia selama ini tampaknya statis dan tidak relevan lagi. Sementara budaya-budaya lain kian bermunculan dan mengisi ruang-ruang kosong kebutuhan masyarakat saat ini lewat media massa. Dan lewat media massa pula budaya-budaya lain yang dinamis dan sesuai dengan kebutuhan manusia itu hadir lebih dekat dan lebih lekat kepada kehidupan masyarakat saat ini dan dijadikan sistem nilai baru yang dianggap sesuai dengan tuntutan zaman.

Hakikat Kebudayaan

Kebudayaan yang hidup dalam suatu daerah tertentu terus tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Budaya tersebut membentuk dan dibentuk oleh pendukungnya selama kurun waktu berabad-abad sehingga terkristalisasi dan terekam dalam pikiran serta prilaku pada tata kehidupan masyarakatnya, dan mereka mengembangkan suatu sistem nilai yang secara operasional terlihat dalam berbagai interaksinya. Oleh karena itu, budaya dalam arti luas adalah sistem nilai yang dianut oleh sebagian besar anggotanya dalam masyarakat tertentu dalam menyingkapi dan menjalani berbagai segi kehidupan.

Dengan demikian, masyarakat bagaimana laju pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat akan tergantung pada seberapa jauh wawasan dan jangkauan sistem nilai tersebut dapat berfungsi sebagai acuan dan panduan yang diandalkan, seberapa luas cakupan dan sebaran sistem nilai tersebut dalam berbagai aspek kehidupan, seberapa tinggi relevansi sistem nilai tersebut mengikuti perkembangan zaman, seberapa dalam penghayatan para anggotanya atas sistem nilai tersebut, dan seberapa besar kepedulian masyarakat membina dan mengembangkan sistem nilai tersebut secara terarah dan terencana.

Meskipun manusia adalah pencipta kebudayaan, namun sebaliknya manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya juga ditentukan oleh kebudayaan. Kualitas hubungan timbal balik ini merupakan tolok ukur suatu masyarakat kebudayaan.

Kebudayaan daerah yang sering disebut dengan kebudayaan etnis dalam tatanan melinium baru merupakan semacam peta bagi Indonesia untuk menemukan sains, teknologi, estetika, dan etika bagi berbagai wilayah multikultural. Selain sebagai dasar dialog multikultural guna memenuhi distribusi sosial dan ekonomi Indonesia dalam tatanan globalisasi, kebudayaan ini juga merupakan landasan menentukan arah dan panduan pemecahan masalah, baik pada tingkat daerah maupun nasional.


Banyak aspek nilai dan pengetahuan yang terdapat pada budaya masyarakat tradisional yang relevansinya cukup signifikan dengan kehidupan modern dalam era globalisasi yang tengah berlangsung dewasa ini. nilai-nilai budaya tersebut pada dasarnya dapat dikaji dan diabstraksi melalui bidang-bidang kehidupan yang berkaitan dengan religi dan kepercayaan, moral dan etika, estetika, konsep tentang alam semesta, falsafah tentang kehidupan manusia dengan alam, sistem sosial kemasyarakatan, kepemimpinan, adat istiadat, sistem keturunan dan kekerabatan, tata kelompok, tata rumah tangga dan kehidupan keluarga, etos kerja, sistem pendidikan, konsep tentang hukum dan hukuman, harga diri, karya sastra, karya seni, dan lain-lain. Nilai-nilai budaya ini terutama berkenaan dengan konsep dasar yang bernilai tinggi berperan dan berpotensi untuk dikembangkan dan diberdayakan dalam mengantisipasi berbagai krisis yang sedang dihadapi saat ini.

Pada dasarnya, kebudayaan berubah seirama dengan perubahan hidup masyarakat. Perubahan tersebut dapat berasal dari pengalaman baru, pengetahuan baru, teknologi baru, dan akibat dari penyesuaian cara hidup baru serta kebiasaan pada situasi baru. Sikap mental dan nilai budaya turut dikembangkan guna tumbuhnya keseimbangan dan integrasi baru. Tidak semua perubahan itu suatu kemajuan, karena perubahan tidak jarang disertai timbulnya krisis, konflik, pergeseran nilai-nilai lama, dan pada suatu ketika terjadilah pengingkaran terhadap hasil budaya yang telah dibangun sekian lama, atau sebaliknya akan lebih memperkaya warisan budaya dan peningkatan terhadap nilai-nilai yang ada.

Perubahan dalam masyarakat berharga adalah apabila ketahanan budaya dan nilai-nilai objektifnya selalu sanggup memperbaharui diri. Dalam proses pembaharuan dengan perubahan tersebut sikap mental dan ketahanan budaya berperan positif untuk menjaga keseimbangan antara kesinambungan sistem nilai yang disepakati dengan unsur perubahan menuju kemajuan. Inilah yang secara umum harus dianggap sebagai muatan konsep dasar kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Nasional dan Tantangan yang Dihadapi: Kebebasan Media Massa

Aspek kebebasan pada media massa di Indonesia yang mengalami pergeseran ke arah liberal beberapa tahun belakangan ini merupakan kebebasan yang terdiri dua jenis yaitu: Kebebasan Negatif dan Kebebasan Positif.


Kebebasan negatif merupakan kebebasan yang berkaitan dengan masyarakat dimana media massa itu hidup. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan dari interferensi pihak luar organisasi media massa yang berusaha mengendalikan, membatasi atau mengarahkan media massa tersebut.

Kebebasan yang positif adalah kebebasan yang dimiliki media massa secara organisasi dalam menentukan isi media, berkaitan dengan pengendalian yang dijalankan oleh para pemilik media dan manajer media terhadap para produser, penyunting serta kontrol yang dikenakan oleh para penyunting terhadap karyawannya. Singkatnya kebebasan ini berhubungan dengan kemerdekaan pers dalam hal penentuan editorial, kebebasan pers internal dan kebebasan pers berkreasi bagi para produser media tersebut.

Kedua jenis kebebasan tersebut, bila melihat kondisi media massa Indonesia saat ini pada dasarnya bisa dikatakan telah diperoleh oleh media massa kita. Memang kebebasan yang diperoleh pada kenyataannya tidak bersifat mutlak, dalam arti media massa memiliki kebebasan positif dan kebebasan negatif yang kadarnya kadang-kadang tinggi atau bisa dikatakan bebas yang bebas-sebebasnya tanpa kontrol sedikitpun.

Dalam sistem pers yang bebas sekalipun kontrol atau pembatasan dari pihak pemerintah atau undang-undang selalu ada. Hal ini bisa dilihat pada regulasi di Amerika Serikat sekalipun yang menganut pers liberal regulasi tetap ada.

Semua pandangan menyangkut kebebasan media massa itu tidak menjamin akan adanya iklim ideal yang tanpa tekanan atau kontrol apapun, tetapi dapat memberikan harapan bahwa media massa akan mampu melakukan berbagai upaya untuk menciptakan dan memelihara suasana independent, serta mencegah masuknya kekuatan eksternal untuk memaksakan kontrol, persekutuan dengan kelompok yang mementingkan diri sendiri yang dapat mengganggu iklim kebebasan pers.

Kebebasan pers yang didapatkan hendaknya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan khalayak media massa, tidak hanya sekedar ajang untuk membebaskan media massa dan para pemiliknya dari kewajiban memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat.

Telah menjadi rahasia umum bahwa media massa sekarang ini secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi perantara penetrasi budaya asing. Media massa cenderung mengusung budaya massa atau budaya populer yang berorientasi pada industri massal dan berkiblat pada budaya Barat. Prof, Soejoko menyatakan bahwa budaya massa merupakan budaya yang dibuat untuk tujuan konsumersime, karena itu, budaya ini dibuat asal jadi, asal menghibur, asal menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.


Khalayak seolah-olah tidak lagi memperdulikan falsafah-falsafah hidup yang terdapat dalam sebuah kebudayaan (terutama kebudayaan daerah), dan digiring untuk menikmati hasil produksi budaya baru yang hanya berorientai pada kesenangan semata. Disinilah nilai budaya daerah atau nasional diuji eksistensinya dan ketahanannya menghadapi penetrasi pengaruh budaya asing yang tidak bisa ditahan-tahan agi.

Sebenarnya lunturnya nilai-nilai budaya nasional dalam kehidupan masyarakat bukanlah sebuah isyu baru. Jauh-jauh hari, masyarakat Indonesia telah diperingatkan akan penetrasi budaya asing ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memulihkan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap budaya nasional, namun sepertinya hingga saat ini kekuatan budaya asing masih sulit dihadang. Terutama bila hal ini menyangkut ada atau tidaknya nilai ekonomis dalam suatu budaya, karena budaya nasional sudah mulai kehilangan pasar dan kurang memiliki nilai jual secara ekonomis dalam masyarakat.

Yang patut disayangkan adalah media massa cenderung melupakan tanggungjawab terhadap budaya bangsa dan lebih mementingkan kepentingan industri dan konsumerisme. Padahal potensi media massa lah besar dalam mendorong budaya nasional untuk bangkit.

Peranan Media Massa dalam Kesadaran Pelestarikan Budaya Nasional

Media massa tanpa kita sadar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Dengan kemampuannya media massa telah menembus batas-batas ruang dan berada dimana-mana (omnipresent), membuat media massa memiliki potensi yang besar dalam menyebarkan pengaruh-pengaruh yang dibawanya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, selain dapat menjadi hambatan budaya nasional untuk berkembang, media massa juga menjadi alat yang potensial untuk melestarikan budaya nasional yaitu dengan cara menanamkan nilai-nilai budaya pada masyarakat melalui isi pesan yang dibawanya.


Media massa dalam aktifitasnya dapat berfungsi sebagai penyedia tempat bagi budaya nasional untuk kembali diapresiasi oleh khalayaknya. Budaya daerah yang tadinya telah atau hampir kehilangan tempat di hati masyarakatnya, kembali menemukan tempat apresiasinya di media massa. Sebagai contoh, pagelaran wayang golek atau wayang kulit yang sarat dengan makna yang digelar di pesta-pesta adat Sunda maupun Jawa, kini harus bersaing dengan orkes dangdut, organ tunggal yang lebih meriah dan atraktif sekalipun pada aspek lain murah meriah, miskin makna dan sarat dengan pesan-pesan erotisme. Disini tempat aspirasi wayang terbatas, semakin terancam dengan budaya lain yangg lebih disukai masyarakat. Namun pada saat ini wayang golek dan wayang kulit kembali menemukan tempat aspirasinya di media massa televisi dan radio lewat program-programnya. Acara features seperti yang ditayangkan TVRI, Indosiar TPI, Metro TV, Bandung TV, S TV, dan statsiun televisi lainnya menampilkan sisi lain yang eksotis dari suatu budaya. Media cetak pun turut berperan dalam hal ini dengan menyajikan informasi seputar budaya daerah seperti yang dilakukan Harian Umum Pikiran Rakyat, Mangle, media lokal lainnya.

Melalui tayangan-tayangannya media massa dapat pula melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu budaya, tapi tidak sampai mengubah inti dari budaya tersebut. Hal ini dilakukan melalui program-program yang telah mengalami modifikasi seperti Ketorak Humor, Inohong di Bojong Rangkong ataupun Lenong Rumpi, Lenong Bojah ataupun drama radio yang mengetengahkan tema kehidupan dengan latar belakang budaya nasional. Hal lain yang dapat dilakukan, misalnya menayangkan acara masak-memasak hidangan nusantara yang menghidangkan sajian khas daerah yang telah dimodifikasi bahan maupun rasanya. Diharapkan melalui cara-cara ini kelestarian budaya nasional dapat tetap dipertahankan.

Media massa dapat juga mengingkatkan kesadaran masyarakat untuk kembali meng-empati kepeduliannya terhadap budaya nasional dengan cara menyajikan artikel-artikel dan informasi, yang isinya menghimbau masyarakat agar tidak melupakan akar budaya daerah masing-masing.

Masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh media massa untuk meningkatkan kesadaran akan kebudayaan nasionalnya. Acara-acara off air-pun dapat dilakukan oleh media massa dengan melakukan peliputan terhadap kegiatan-kegiatan saresehan. Seminar, maupun pagelaran-pagelaran budaya yang disponsori langsung oleh media massa. Dengan cara ini, khalayak dapat lebih merasakan manfaat yang diberikan dari kegiatan ini.


Penutup

Media massa mempunyai potensi yang besar dalam penyebaran pesan dan pengaruh kepada masyarakat. Dengan maraknya budaya massa yang ditawarkan oleh media massa, serta bergesernya nilai-nilai kemasyarakatan, eksistensi kebudayaan nasional seperti berada di ujung tanduk. Kebudayaan yang telah lama diciptakan dan menjadi acuan dan tuntunan hidup masyarakat kini hampir punah dan lepas dari perhatian masyarakat pendukung budaya tersebut.

Sayangnya, media massa saat ini lebih cenderung mementingkan komersialisme dan industrialisme, sehingga aktifitas media massa tidak lain hanyalah upaya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Sementara disisi lain, budaya daerah sebagai pendukung budaya nasional yang sudah tidak dilirik lagi oleh masyarakatnya kurang mempunyai nilai ekonomis dan bisnis.

Dengan kebebasan yang didapatkannya sekarang ini menjadikan kontrol pemerintah terhadap media massa seakan hilang begitu saja. Media massa bebas menentukan acara apa yang ingin ditampilan tidak peduli apakah itu membahayakan eksistensi dan nilai moral kebudayaan masyarakat selama itu disukai oleh khalayaknya dan mendatangkan keuntungan finansial yang sebanyak-banyaknya maka media massa akan menayangkannya.

Selain menjadi tantangan bagi kelangsungan hidup kebudayaan nasional, media massa juga melakukkan hal-hal yang mendukung perkembangan kebudayaan nasional. Bila hal ini dilakukan untuk mendukung perkembangan kebudayaan nasional dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebudayaan nasional yang selama ini telah menjadi acuan dan tuntunan kehidupan masyarakat, maka media massa patut mendapat apresiasi dan acungan jempol serta dihargai setinggi-tingginya.

Dan kita sebagai anggota masyarakatpun harus menyambut gembira dan turut mendukung pelestarian budaya nasional dengan sebaik yang kita bisa lakukan.

Sumber Rujukan

Abdullah, Irwan, 2001, Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang Press, Yogyakarta


DeFleur, Melvin, Everette E. Dennis, 1985, Understanding Mass Communication, Houghton Mifflin Company, Boston.

Effendy, U Onong, 2005, Komunikasi dan Modernisasi, Mandar Maju, Bandung.

Liliweri, Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Keith Tester, 2002, Media, Budaya dan Moralitas, Kanisius, Yogyakarta.

Siregar, Ashadi, 1997, Budaya Massa (Catatan Konseptual Tentang Produk Budaya Dan Hiburan Massa), dalam Jurnal ISKI Vol. 1

Soemandoyo, Priyo, 1999, Wacana Gender dan Layar Televisi, LP3Y, Yogyakarta.

Winarso, Puji Heru, 2005, Sosiologi Komunikasi Massa, Prestasi Pustaka, Jakarta


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: