Agus Setiaman


MEDIA MASSA DAN IMPERIALISME KULTURAL
November 14, 2008, 4:28 am
Filed under: KAJIAN MEDIA MASSA

1. Latar belakang

Everett M. Rogers dalam bukunya Communication Technology; The New Media in Society, mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel dan sebagainya.

Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media – The Extensions of Man, mengemukakan ide bahwa “ medium is massage” (pesan media ya media itu sendiri). McLuhan menganggap media sebagai perluasan manusia dan bahwa media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Pengaruh media telah berkembang dari individu kepada masyarakat. Dengan media setiap bagian dunia dapat dihubungkan menjadi desa global.

Pengaruh media yang demikian besar kepada masyarakat menghantarkan pemikiran McLuhan untuk menyampaikan Teori Determinime Teknologi yang mulanya menuai banyak kritik dan menebar berbagai tuduhan. Ada yang menuduh bahwa McLuhan telah melebih-lebihkan pengaruh media. Tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, media memang telah sangat maju. Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak di antara bangsa-bangsa. Ungkapan Mcluhan tidak dapat lagi dipandang sebagai sebuah ramalan belaka. Sebagai sebuah perbandingan perkembangan teknologi media dewasa ini; dibutuhkan hampir 100 tahun untuk berevolusi dari telegraf ke teleks, tetapi hanya dibutuhkan 10 tahun sebelum faks menjadi populer. Enam atau tujuh tahun yang lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi sekarang mereka-mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan di anggap ketinggalan!

Di masyarakat dapat disaksikan bahwa teknologi komunikasi terutama televisi, komputer dan internet telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat), setiap saat kita semua menyaksikan realitas baru di masyarakat, dimana realitas itu tidak sekedar sebuah ruang yang merefleksikan kehidupan masyarakat nyata dan peta analog atau simulasi-simulasi dari suatu masyarakat tertentu yang hidup dalam media dan alam pikiran manusia, akan tetapi sebuah ruang dimana manusia bisa hidup di dalamnya. Media massa merupakan salah satu kekuatan yang sangat mempengaruhi umat manusia di abad 21. Media ada di sekeliling kita, media mendominasi kehidupan kita dan bahkan mempengaruhi emosi serta pertimbangan kita.

2. Media Baru adalah Dunia Baru

Sebagaimana yang dilihat perkembangan media di masyarakat, bahwa media baru yang dirasakan amat bermanfaat dan memiliki masa depan menjanjikan adalah media interaktif dan media jaringan. Kedua media ini telah merubah peradaban umat manusia terutama paradigma interaksi manusia satu dengan yang lainnya.

Paling tidak ada dua hal yang menandai perubahan paradigma diatas,

Pertama, adalah media sebagaimana disebutkan Mcluhan adalah pesan itu sendiri, telah berubah menjadi subjek komunikasi yang sangat interaktif, dimana media telah menjadi sehabat baru manusia.

Kedua, interaksi manusia melalui media jaringan telah menciptakan ruang baru bagi kehidupan manusia yang disebut dengan cybercommunity yaitu sebuah “kehidupan” masyarakat manusia yang tidak dapat secara langsung diindera melalui (seluruh) penginderaan manusia, namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai realitas.

Perubahan paradigma interaksi manusia di atas membawa manusia kepada dunianya yang baru, yaitu sebuah dunia yang sangat kecil sekaligus sebuah dunia yang tanpa batas dengan pola-pola hubungan sosial yang sangat luas dan transparan. Inilah dunia masa depan umat manusia, sebuah dunia baru yang dikonstruksikan oleh media baru setiap saat, setiap waktu sehingga sebenarnya dunia masa depan adalah sebuah dunia yang berada di atas ”telapak tangan” media.

3. Teknologi, Konvergensi Media dan Kepentingan Kapitalis

Pada dasawarsa sekarang kita melihat begitu banyak produk-produk teknologi media, persoalan ini menjadi penting untuk dibicarakan ketika teknologi menjadi prasarat sosial yang tidak saja penting dan fungsional namun juga menjadi subtansial dalam pranata-pranata sosial. Umpamanya seseorang tidak akan diterima di sebuah perusahaan kalau ia tidak dapat mengendarai mobil, begitu pula perusahaan-perusahaan hanya akan menerima pegawai yang dapat mengopersikan komputer. Sebaliknya, penciptaan teknologi yang laku di masyarakat hanyalah teknologi yang terpakai sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti teknologi rumah tangga yang tidak saja fungsional bagi keluarga namun juga fungsional bagi individu. Sehingga nantinya seorang pemuda tidak akan berani melamar anak gadis orang kalau ia belum bisa menggunakan dan menyediakan teknologi dalam keluarganya kelak. Begitu juga seorang gadis belum berani menikah kalau tidak dapat menggunakan teknologi rumah tangga dengan baik, karena teknologi-teknologi macam ini yang akan menemani mereka dalam rumah tangga kelak. Bahkan dalam kasus lain, begitu fungsionalnya teknologi di sebuah perguruan tinggi, sehingga mahasiswa misalnya tidak dapat melanjutkan studi ke semester berikutnya karena tidak mampy menggunakan mesin herregestrasi.

Konvergensi teknologi yang terbesar dalam pandangan sosial di zaman ini adalah ketika ditemukannya telepon, televisi dan komputer, kemudian ketiga teknologi ini dapat disatukan dalam sebuah teknologi baru yang bernama internet yang akhirnya berkembanga tanpa batas. Sehingga nantinya penemuan media rasa, media aroma, dan media sentuhan akan menciptakan teknologi yang serba manusiawi yaitu teknologi yang sangat akrab dengan manusia serta berbasis komputer dan internet jaringan. Misalnya saja seluruh komputer di dunia ini dapat disatukan dalam jaringan internet karena biaya telepon begitu murah atau justru internet sudah dapat menggunakan jaringan listrik sebagai basis jaringan. Penemuan teknologi nir-kabel sudah begitu meluas sehingga masyarakat tidal lagi membutuhkan tiang-tiang telepon dan tiang listrik. Dengan demikian tidak saja komputer di dunia ini yang dapat disatukan dalam jaringan global setiap saat namun alat-alat rumah tangga, pemanas air, lampu, AC, mesin cuci dan sebagainya. Dapat terkoneksi dalam jaringan-jaringan global tersebut. Contohnya robpt yang yang dapat mengkabarkan adanya kebakaran di rumahnya kepada pusat pemadam kebarakaran atau kulkas yang terkoneksi dengan pusat-pusat perbelanjaan sehingga ia dapat menginformasikan kepada supermarket kalau daging ayam atau buah-buahan sudah habis tanpa di suruh oleh pemilik kulkas itu, jasa hantaran sudah langsung mengirimkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Begit pula dengan alat-alat teknologi rumah tangga lainnya dapat terkoneksi langsung dengan pusat-pusat kebutuhan rumah tangga sesuai dengan fungsi masing-masing.

Dalam dunia media massa saat ini dan akan datang konvergensi media massa tidak saja sebuah keharusan namun sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri, sehingga lahirlah media-media baru seperti radio online, televisi online, majalah online, journal online. Dengan demikian format media massa di waktu mendatang akan berubah menjadi media massa mixer. Karena sebuah perusahaan radio dengan kemampuan teknologi dan reporter-reporter mereka yang serba canggih, maka sayang sekali kalau informasi yang ada hanya dapat didengar oleh masyarakat melalui indera telinga, karena itu mereka dapat enerbitkan media cetak, koran atau majalah. Informasi itu masih sangat mubazir kalau tidak dapat dilihat pemirsanya, karena itu mereka perlu mendirikan televisi atau membuka web di internet dan sebagainya. Dengan demikian deversifikasi media massa bukan saja persoalan konvergensi namun sebuah kebutuhan idealisme media massa itu dengan kata-kata misalnya ”karena kita ingin semua indera dapat menangkap berita kami.”

Perkembangan sosioteknologi ini juga sangat erat dengan konstruksi sosial teknologi sebuah pendekatan sosiologikal lain terhadapa teknologi. Bahwa teknologi adalah sebuah pencitraan demand masyarakat yang dapat merubah citra masyarakat itu. Jadi, kebutuhan terhadap teknologi adalah benar-benar sebuah kebutuhan sosial itu sendiri dan bukan sekedar kebutuhan teknologi semata. Bahkan perkembangan teknologi hanya didasarkan pada kebutuhan sosial dan masyarakat terhadap teknologi itu serta upaya pencitraan terhadap teknologi. Citra terhadap teknologi tidak pernah lepas dari simbol dan kelas sosial masyarakat bahkan masyarakat memberi penghargaan kepada teknologi tidak saja karena fungsi teknologi itu bermanfaat untuk masyarakat namun karena teknologi itu menjadi simbol dan pencitraan terhadap kelas sosial seseorang. Dengan demikian teknologi memiliki dua fungsi yaitu:

1. Mekanik yang melekat sebagai sebab fungsional teknologi dan

2. Fungsi sosial bahwa teknologi adalah pencitraan terhadap masyarakat yang memakainya.

Fungsi-fungsi teknologi ini kadang tidak memiliki hubungan sebab-akibat bahwa fungsi mekanisasi teknologi tidak selamanya berhubungan dengan fungsi sosial. suatu contoh, seseorang yang membeli BMW tidak ada hubungan dengan manfaat mekanik yang ia peroleh karena kalau menaiki mobil mewah dan nyaman sebenarnya ia memiliki banyak mobil semacam itu, namun justru ia memperoleh manfaat sosial yang tinggi dan pencitraan kelas tertinggi bagi masyarakat yang menggunakan mobil mewah bermerk BMW.

Dengan demikian, konstruksi sosial terhadap fungsi-fungsi sosial teknologi berupa simbol kemegahan, simbol kecanggihan, simbol kenyamanan, simbol keselamatan, simbol kemajuan, simbol kemodernan dan sebagainya dari sebuah teknologi yang semuanya menjadi piranti-piranti kokoh dalam sebuah konstruksi pencitraan terhadap simbol kelas sosial yang tinggi di masyarakat. Sebaliknya simbol kelas sosial ini memiliki padanan terhadap nilai-nilai kebendaan yang tinggi pula dan dapat dipertukarkan serta melekat pada kelas sosial tertentu. Jadi misalnya HP (telepon genggam) adalah simbol kemodernan dan gaya hidup masyarakat modern dan karena itulah harganya relatif mahal atau biaya operasionalnya relatif mahal tetapi gaya hidup masyarakat modern tidak pernah mempersoalkan harga yang mahal yang penting ia dapat bergaya modern/gaul/gaya hidup kota metropolitan. Dengan biaya yang harus dikeluarkan mereka mendapat menikatai kesenangan apa saja yang ada pada telepon genggam itu dan semua kesenangan yang ada dalam masyarakat. Ada nilai yang sepadan antara gaya hidup orang kota dengan kemampuan ekonominya serta kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya di masyarakat. Karena itu pula maka hampir semua barang mewah selalu identik dengan kelas sosial tertentu, dengan uang, dengan wanita cantik. Sebuah padanan yang secara klasik selalu berhubungan satu dengan lainnya, yaitu kelas sosial dapat memobilisasi uang dan wanita cantik atau sebaliknya.

Dengan demikian model produksi teknologi media adalah untuk melayani kebutuhan kapitalis dan kebutuhan kapitalis selalui mengeksploitasi kepentingan masyarakat ke dalam kepentingan pribadi mereka untuk melipatgandakan kapitalnya sebanyak-banyaknya. Inilah akar persoalannya.

Jadi konvergensi media massa yang menggabungkan berbagai media massa menjadi media massa mixer dalam konsepsi komunikasi massa di satu sisi terkesan memanjakan masyarakat serta merupakan kebutuhan dan kemudahan artifak budaya masyarakat yang bernama teknologi itu, namun disisi lain pencitraan terhadap teknologi itu merupakan upaya kapitalisme untuk mencari untung di balik keuntungan teknologi tersebut. Sayangnya masyarakat seringkali tidak menyadari bahwa teknologi milik mereka, karya mereka, hak azasi mereka, karena itu tidak satupun kepentingan yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan yang lain, bahkan sebaliknya, justru masyarakat menjadi bagian terpenting dari sistem produksi kapitalis itu sendiri dengan memberi dukungan terhadap kaum kapitalis dengan cara mengkonsumsi teknologi (reproduksi kapitalis) tersebut. Semua ini karena masyarakat memang tidak berdaya dan kehilangan keberdayaannya ketika menghadapi kapitalisme. Memang paham ini yang memenangkan pertarungan hari ini dan esok tapi lusa dan kemudian hari siapa yang menang kita tanya saja pada rumput yang sedang bergoyang!!!???

4. Imperialisme Struktural

Salah satu kelompok teori yang paling keras mengecam dominasi negara maju atas negara berkembang dalam penyebaran arus informasi adalah kelompok Imperialisme, dengan salah satu tokoh terkemukanya adalah Johann Galtung. Beliau tidak masuk dalam jajaran ilmuwan komunikasi tetapi teori-teori yang dilontarkan sangat relevan untuk memahami gejala ketidakseimbangan arus informasi. Galtung memperkenalkan teori yang diberi nama Teori Struktural tentang Imperialisme. Menurut Galtung berlangsung sebuah pola hubungan antara negara maju dengan negara dunia ketiga yang tidak seimbang dimana negara maju endominasi negara lain dalam berbagai aspek kehidupan.

Galtung mendefinisikan imperialisme secara sederhana yaitu coraj hubungan dimana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya, ini bisa berlangsung secara parsial ( sebagian-sebagain) atau secara struktural ( keseluruhan ). Misalnya saja bila buah-buahan Thailand mendominasi pasar di Indonesia sudah bisa dikatakan adanya dominasi Thailand di Indonesia; namun itu hanya dalam tahap parsial, itu berkembang menjadi dominasi yang bersifat struktural, bila dominasi berlangsung di segenap aspek penting kehidupan lainnya.

Imperialisme struktural dalam pandangan Galtung adalah sebuah imperialisme dalam sektor ekonomi, politik, militer, sosial, sosial, kultural dan komunikasi. Dan dominasi akan menemukan wujud yang optimal seandainya itu berlangsung secara serentak di semua wilayah dan segenap aspek kehidupan dengan tekanan khusus pada sektor kultural. Bila sifatnya imperialisme parsial maka setiap saat dominasi itu bisa diganti, misalnya buah-buahan tadi atau bahkan barang-barang elektronik Jepang, bila ada negara lain yang menawarkan produk unggul dengan harga lebih murah dengan mudah negara yang semula mendominasi akan disingkirkan, akan tetapi bila dominasi itu dalam bidang kebudayaan, komunikasi, ekonomi, politik dan sebagainya tentu saja tidak mudah suatu negara memilih mitra yang satu dan menyingkirkan mitra yang lain hanya karena “lebih murah” misalnya. Hubungan antara negara Barat dan negara berkembangan dalama Galtung berada dalam bentuk imperialisme struktural tersebut.

Menurut Galtung hubungan imperialistik ini sebetulnya berlangsung sudah sejak lama akan tetapi bentuknya yang berbeda-beda semula negara Barat menjajah dan mengeksploitasi negara non-Barat dengan cara pemaksaan menggunakan kekuatan militer, kini penjajahan dilakukan secara halus. Sebagai analogi penjajahan berlangsung secara halus tampak pada pola pertukaran yang didasarkan pada comparative advantages, misalnya negara berkembang memasok bahan menth (seperti minyak, gas bumi, hasil pertanian) sementara negara maju memasok barang manfaktur. Dalam pola hubungan ini seolah-olah terjadi interaksi yang simetris padahal sebuah jurang sangat mungkin terbuka dan akan melebar sebagai akumulasi dari apa yang diperoleh kedua belah pihak dari pertukaran itu.

Persoalannya menurut Galtung terdapat perbedaan mendasar dalam efek yang termuat di dalam interkasi. Ini terutama sekali terlihat dalam hal tingkat pengolahan (level of processing). Dalam negara produsen bahan mentah, hampir-hampir tidak ada efek intra-aktor( dalam negeri) yang posistif. Sementara dalam negara yang memproduksi manufactured goods, efeknya sangat luas karena kompleksitas produk dan keterkaitannya dengan masyarakat.

Contoh sederhana: negara yang memproduksi barang elektronik membutuhkan riset. Ide-ide baru tidak datang dengan sendirinya, namun membutuhkan pemikiran dan pengkajian serius yang terus menerus. Namun untuk bisa mengembangkan riset juga dibutuhkan infrastruktur, salah satunya adalah basis kultural di universitas. Dan ketika pusat-pusat penelitian dikembangkan, ini pada gilirannya memiliki efek dalam wilayah sosial, politik dan militer. Semakin tinggi tingkat pemrosesan (seperti komputer dibandingkan tekstil), semakin jauh efek ikutannya.

Bandingkan dengan negara yang terutama memproduksi bahan mentah, seperti minyak. Karena proses pengelohan minyak tidak rumit, tidak ada kebutuhan serius bagi pengembangan lembaga-lembaga riset. Karena tidak ada infrastruktur riset, negara-negara ini terpaku pada produk yang itu-itu saja. Ketika itu terus berlangsung, negara-negara tersebut terus tertinggal. Tambahan lagi tingkat elastisitas tuntutan kedua jenis kebutuhan itu juga berbeda. Kebutuhan akan bahan mentah terbatas. Berbeda sekali dengan kebutuhan akan barang konsumen yang sangat elastis. Bandingkan antara kebutuhan beras dan kebutuhan barang elektronik.!!!

Menurut Galtung agar eksploitasi terselubung ini bisa langgeng bertahan harus ada kerjasama antara elit di negara maju dengan elit di negara berkembang. Dalam hal mekanisme penetrasi merupakan faktor yang menentukan. Gagasan dasar dari penetrasi adalah negara maju memnetrasi “dibawah kulit” negara berkembang dengan membangun sebuah “bridgehead” (jembatan penghubung) disana. Yang disebut jembatan penghubung adalah elit-elit negara berkembang yang akan berperan penting dalam struktur keseluruhan imperialisme. Di negara berkembang elit ini adalah kalangan yang berpendidikan tinggi, memiliki status sosial ekonomi tinggi, memiliki mobilitas tinggi dan menempati posisi menentukan dalam proses pengambilan kebijakan.

Terdapat dua elemen dasar dalam mekanisme bridgehead yaitu:

1. Harmoni antara elit di negara manju dengan elit di negara berkembang untuk menjadikannya berfungsi maka bridgehead harus tetap memperoeh tingkat kehidupan yang sangat menyenangkan. Kaum elit di negara maju harus senantiasa bersedia menganugrahkan kepada kuam bridgehead ini sebagian besar daripada yang mereka sendiri nikmati dan miliki. Hubungan harmonis antara keduanya akan menjadi penjamin bagi kelanggengan dominasi. Dengan kata lain kaum elit harus dimanjakan kehidupannya, mereka harus dibuat seolah-olah menjadi bagian sah dari sebuah masyarakat elit dunia. Apa yang dinikmati atau menjadi simbol budaya kaum elit di negara maju harus bisa dinikmati dan menjadi simbol budaya kaum elit negara berkembang. Dalam hal ketersediaan segenap budaya populer (musik, film, fastfood) negara maju di negara berkembang merupakan bagian dari pemanjaan kaum elit tersebut.

Ketika kaum elit negara berkembang merasa menjadi bagian dari sebuah masyarakat elit dunia maka diteorikan mereka dengan sendirinya akan selalu mengacu pada kepentingan kaum elit negara maju. Dengan kata lain mereka tidak akan bersedia mengubah tatanan hubungan yang ada karena perubahan itu akan mengancam segenap kenikmatan yang selama ini mereka rasakan.

2. Dan sebagai akibat elemen pertama diatas maka berlangsung apa yang Galtung sebut sebagai “Distribusi Ketidakmerataan Yang Tidak Egaliter” (inegalitarian distribution of inequality) maksud konsepnya bukan hanya akan terdapat ketidakmerataan antara negara maju dan negara berkembang namun juga antara jurang yang jauh lebih buruk antara kaum elit dengan kaum alit di negara berkembang. Jadi dalam pandangan Galtungmengingat kehidupan rata-rata di negara berkembang jauh lebih rendah maka agar elit di negara berkembang bisa menikmati segenap kemewahan yang telah di miliki elit negara maju maka jumlah elit di negara berkembang harus berjumlah sedikit. Dengan kata lain jarak elit dan massa di negara berkembang pastilah besar.

Ini terjadi karena daya dukung ekonomi negara berkembang sebenarnya terbatas dan tidak mampu membiayai gaya hidup kaum elit di negara berkembang akibatnya kaum elit di negara berkembang terpaksa menyerap proporsi yang besar dari kekayaan ekonomi nasional, pembagian kekayaan di negara berkemabang menjadi tidak proporsional. Misalnya saja barang-barang kebutuhan mewah yang harus diimprot dari negara maju itu mahal, tuntutan gaji kaum elit menjadi sangat tinggi dibanding dengan tuntutan gaji massa.

Demikianlah menurut Johann Galtung pembentukan kesubmisifan antara antara kaum elit dengan massa di negara berkembang tergantung pada internalisasi total dari ideologi negara maju yang hanya bisa dicapai melalui proses penetrasi, dalam proses inilah komunikasi massa menjadi penting adanya

5. Imperialisme Kultural

Bila Galtung melahirkan teori imperialisme struktural dengan komunikasi sebagai salah satu komponen terpenting maka Herbert Schiller memberikan perhatian lebih khusus pada dominasi komunikasi di tingkat arus informasi internasional.

Schiller berangkat dari asumsi bahwa dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi oleh negara-negara Barat – terutama Amerika Serikat adalah bagian niscaya dari logika pembentukan sistem kapitalisme dunia, dengan negara-negara tersebut berada dalam puncak hirarki-nya.

Menurut Schiller, konsep imperialisme kultural adalah keseluruhan proses dengan mana sebuah masyarakat digiring ke dalam sistem dunia modern dan strata yang mendominasi (maksudnya elit) diiming-imingi, ditekan, dipaksa, dan kadang-kadang disuap untuk menjadikan pranata-pranata sosial serasi dengan atau bahkan mendukung nilai dan struktur pusat sistem yang mendominasi.

Dengan kata lain Schiller melihat dominasi komunikasi oleh Barat lebih spesifiknya lagi Amerika Serikat tidak lain adalah sarana perluasan pasar yang dibutuhkan dalam proses akumulasi kapital para industrialis Barat.

Menurut Schiller, dalam sebuah sistem kapitalisme dunia, negara-negara berkembang akan dipandang sebagai bagian dari pasar tunggal, dengan produksi yang ditentukan di pusat-pusat perusahaan multinasional (disebut juga MNC, Multinational Corporation). Untuk itu negara-negara maju berkepentingan untuk mempromosikan dan kemudia memasarkan barang-barangnya ke negara-negara berkembang tersebut. Masalahnya proses tersebut seringkali terganggu dengan adanya aturan-aturan yang menghambat kelancaran pemasaran barang, misalnya karena adanya aturan untuk menomorsatukan produksi atau budaya dalam negeri atau aturan yang sama sekali menolak sejumlah produk dari luar negeri (misalnya barang mewah)

Sikap protektif semacam ini dianggap menghalangi peluang untuk menjadikan dunia ini sebagai pasar tunggal. Karena itu harus ada upaya untuk menciptakan kesamaan nilai dan asumsi terutama di kalangan manajemen tingkat atas di negara-negara tersebut. Dalam hal inilah menurut Schiller, informasi dan komunikasi menjadi komponen-komponen vital. Melalui informasi yang terus menerus ke jajaran elit sebuah negara, akan berlangsung apa yang disebutnya sebagai pengambilalihan kebudayaan (cultural takeover) sebagaimana Johann Galtung, Herbert Schiller menyebut bahwa itu semua berlangsung melalui proses penetratif, melalui pendidikan, bisnis kebudayaan, bahasa, turism, dan tentu saja media massa. Karena itu, negara-negara maju berkepentingan sekali dengan kebebasan arus informasi antar negara karena itu sarana ampuh penyebaran ideologi dan nilai.

Dalam pandangan Schiller dominasi negara-negara maju—terutama Amerika Serikat diorganisir oleh sebuah kelompok komandan komersial yang sangat terkonsentrasi, meluas ke seluruh penjuru dunia, wilayah tersebut tumbuh secara signifikan dari tahun ke tahun. Dalam hal ini sebuah sistem komunikasi yang sangat berkekuatan hadir untuk mengamankan perluasan tersebut dengan mengidentifikasikan kehadiran Amerika dengan kebebasan—kebebasan perdagangan, kebebasan berbicara, dan kebebasan berusaha. Dengan kata lain, menurut Schiller, ketika AS bicara tentang kebebasan pers sebagai pilar utama demokrasi sebenarnya mereka sedang bicara tentang kebebasan untuk mempromosikan dan memasrkan barang-barangnya.

Dalam strategi ini, para pengusaha bisnis AS ini tidak berjalan sendiri melainkan didukung (bila tidak boleh dikatakan dilindungi?!) oleh para pengambil kebijakan pemerintah AS. Perjuangan kebebasan arus informasi dala hal ini dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai forum internasional.

Bila kita menggunakan kerangka berpikir Galtung dan Schiller

terlihat bahwa arus informasi dari negara maju ke negara berkembang pada dasarnya bukanlah hal yang essensial bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat negara berkembang sendiri. Perubahan nilai-nilai tradisional yang oleh kaum modernis dipandang sebagai prasyarat pembangunan justru dalam pandangan Galtung dan Schiller adalah sekedar prasyarat yang dibutuhkan agar negara berkembang dapat terus menjadi sarana eksploitasi atau menjadi pasar potensial bagi produk negara maju.

Michael Kunczik misalnya menyatakan, akibat dari membanjirnya arus informasi negara maju ke negara berkembang lahirlah apa yang disebutnya sebagai konsumerisme parasitik. Jadi, alaih-alih meniru sistem nilai yang menghasilkan tradisi kewiraswastaan yang ditemukan di negara maju, kaum elit negara berkembang hanya mengadopsi gaya konsumsi masyarakat negara maju yang menjadi panutannya. Padahal gaya konsumsi massa tinggi itu – seperti diteorikan Rostow — hanya bisa dijalankan pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah matang dan mapan. Ketika gaya semacam itu diadopsi saat tingkat pertumbuhan ekonomi rendah, yang terjadi adalah pengurasan tabungan untuk hal-hal yang tidak produktif, apalagi barang-barang mewah itu harus diimport; maka pembangunan ekonomi pun terhambat.

Tidak hanya itu saja sebenarnya sumber ke khawatiran lain adalah dampak budaya dari arus globalisasi ini, mengapa demikian? Sebuah produk budaya sesungguhnya tidaklah berdiri sendiri. Produk budaya itu dipengaruhi oleh gagasan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat yang melahirkannya; dipengaruhi oleh kondisi-kondisi politik-sosial-ekonomi yang tengah berlangsung pada saat dilahirkannya; dipengaruhi oleh kepentingan dan kepedulian para artis yang menciptakannya dan sebagainya. Ketika produk itu telah lahir dan disebarluaskan—sebagai barang dagangan atau tidak, misalnya sebagai kaset musik, film, acara televisi, berita, buku ilmiah bahkan komik—memang nampak seperti “berdiri sendiri” namun pada dasarnya ia tidak dapat dilepaskan dari kompleksitas unsur-unsur tadi.

Contohnya adalah produk-produk media Barat yang semakin permisif secara seksual. Ini harus dikaitkan dengan revolusi seks yang berkembang sejak tahun 1950-an, perkembangan desakralisasi seks, perubahan cara pandang mengenai keluarga, berkaitan pula dengan perubahan cara pandang mengenai kesucian agama serta keberagaman masyarakat Barat. Ini tercermin dalam berbagai produk media Barat; dari lirik musik sampai Iklan.

Ketika disebarkan di AS sendiri, produk-produk tersebut mungkin memang tidak menimbulkan masalah serius karena masyarakat yang mengkonsumsinya hidup dalam konteks kebudayaan yang sama. Namun ketika disebarkan di negara-negara berkembang, hal ini potensial sekali untuk terjadinya konflik dalam masyarakat karena ketidaksesuaian dengan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Contoh lain, adalah film Amerika yang dihasilkan saat ini mencerminkan sebuah masyarakat kapitalistik yang mencapai kemajuan ekonomi yang sangat mengagumkan—yang antara lain dicirikan dengan konsumsi massa bahkan terhadap barang-barang mewah. Ketika masyarakat negara berkembang menyaksikan dan mengagumi gaya hidup semacam itu, itu akan menimbulkan masalah karena ekonomi negara-negara berkembang sebenarnya belum siap menganut gaya hidup semacam itu.

Budaya dalam hal ini juga berarti budaya politik. Informasi dipandang sebagai sesuatu yang ditentukan oleh sistem politik yang sangat mewarnai budaya politik yang berlaku di masing-masing negara. Misalnya dalam hal kebebasan pers. Di negara-negara berkembang, dinamika politik yang sangat diwarnai konflik tidak menjadi karakteristik budaya politik mereka. Di negara-negara tersebut, tidak ada anggapan bahwa harus ada oposisi atau bahwa pers harus berperan sebagai lembaga pengontrol pemerintah. Juga tingkat penghormatan kepada pimpinan politik di Barat jauh lebih rendah dibanding dengan di Timur. Akibatnya dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi melalui media massa negara maju yang diwarnai budaya mereka sendiri dianggap potensial menciptakan konflik.

6. Konsumerisme sebagai Produk Budaya Global

Masyarakat kapitalisme global dibangun di atas iklim persaingan yang tinggi. Persaingan yang ketat antar perusahaan mendorong strategi untuk menciptakan persaingan dalam gaya hidup; antar kelas, antar golongan, antar tetangga, antar umur,. Kehidupan sosial kemudian dikonstruksi atas dasar budaya perbedaan; penampilan, gaya, gaya hidup yang senantiasa berubah dengan tempo yang semakin tinggi. Diciptakan fobia terhadap sesuatu yang usang; dikondisikan gaya belanja yang berlebihan, diciptakan kegandrungan terhadap citra ketimbang fungsi atau subtansi.

Konsumsi dalam bentuknya yang sekarang di dalam masyarakat kapitalisme global tidak lagi sekedar berkaitan dengan pemenuhan nilai fungsional dalam pengertian yang sempit; ia kini adalah cara pemenuhan material sekaligus simbolik.

Memenuhi kegiatan konsumsi dengan makna-makna simbolik tertentu (prestise, status, kelas) dengan pola dan tempo pengaturan tertentu, itulah sebetulnya hakikat dari apa yang disebut budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme adalah sebuah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan diferensi secara terus menerus lewat penggunaan citra, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia adalah juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya di dorong oleh logika hasrat (desire), dan keinginan (want) ketimbang logika kebutuhan (need).

Oleh sebab itulah, mesin kapitalisme global disebut juga sebagai mesin hasrat artinya disamping memproduksi barang-barang, kapitalisme juga memproduksi hasrat sekaligus. Barang-barng yang diproduksi sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat pada diri manusia yang tanpa batas. Kapitalisme adalah sebuah sistem self-production hasrat yang tanpa henti. Salah satu fondasi dari produktifitas hasrat di dalam sistem kapitalisme global adalah sebuah kondisi yang diciptakannya sehingga seolah-olah hasrat itu selalu dilegitimasi oleh kebutuhan, artinya ada upaya-upaya secara sistematis untuk menjadi hasrat sebagai kebutuhan yaitu dengan cara menciptakan kebutuhan yang bukan essensial melainkan artifisial.

Dalam hal ini, kapitalisme selalu menciptakan perasaan kurang (lack) atau perasaan tidak sempurna (imperfection) pada diri setiap orang, yang mendorong mereka untuk terus mengkonsumsi, semata-mata agar proses produksi kapitalisme dapat terus berlanjut.

Di dalam kapitalisme global yang mengalir dari satu kawasan ke kawasan lain tidak hanya sekedar barang atau produk akan tetapi juga energi-energi hasrat yang beroperasi di balik barang atau produk itu. Yang mengalir dari satu negara ke negara lain tidak hanya sekedar body lotion, video clip, slimming master atau trendy suit akan tetapi juga meliputi kegairahan, kemabukan, kecabulan global, dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan ekspansi teritorial, kapital, dan pasar akan tetapi lebih dalam lagi ekspansi terhadap nilai-nilai kultural, adat, moral, dan keagamaan lewat perputaran energi libido bersamanya.

Sebuah mini suit tidak hanya mengajak setiap orang bergerak bebas tetapi juga mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran moral, ajaran adat bahkan agama yang telah diwarisi.

Logika budaya lain kapitalisme adalah logika kecepatan. Kecepatan dan percepatan di dalam wacana kapitalisme global adalah sebuah kebutuhan bagi percepatan dalam perputaran dan akumulasi modal sehingga diciptakan tempo konsumsi yang tinggi. Apa yang disebut dengan percepatan turn-over tidak lain dari upaya percepatan produksi, sirkulasi, dan konsumsi barang-barang konsumtif. Dalam kapitalisme waktu perputaran modal ini cenderung semakin diperpendek, dengan cara mempercepat tempo produksi dan dengan demikian mempercepat tempo kehidupan secara total.

Kapitalisme global adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan sebuah keyakinan laissez faire yang memberikan kepercayaan penuh pada mekanisme pasar dalam menentukan arah pertumbuhan (ini tercermin dari prinsip pasar bebas). Salah satu bentuk utama dari mekanisme pasar adalah bahwa agar pertumbuhan tetap berlangsung, maka di satu pihak industri harus tetap berproduksi, di lain pihak orang harus tetap mengkonsumsi. Dengan perkataan lain agar tetap hidup kapitalisme global harus memproduksi konsumsi itu sendiri.

Memproduksi konsumsi artinya menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial, luks atau semu, yang sebenarnya tidak essensial. Masyarakat dikonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah untuk memenuhi segala bentuk hasratnya (prestasi, status, simbol)

7. Penutup

Wajah globalisasi adalah wajah paradoks. Paradoks globalisasi tercipta sebagai akibat hadirnya secara bersamaan—dan dalam ruang waktu yang sama—dua sifat yang saling bertentangan satu sama lain secara kontradiktif, misalnya: globalitas vs lokalitas, homogenisasi vs heterogenisasi. Di satu sisi ada kecenderungan terciptanya unifikasi, aliansi dan kesalingbergantungan; terjadinya homogenisasi, standarisasi dan generalisasi; terciptanya dunia tanpa batas (borderless world), masyarakat terbuka (open society), dan pasar bebas (free market) sementara di sisi lain berkembang separatisme, otonomi, dan desentralisasi, pluralisme.

Di Indonesia sendiri berkembangkan pola-pola yang kontradiktif yang seperti itu mewarnai perubahan sosial dan kultural akhir-akhir ini: kontradiktif antara integrasi atau disintegrasi, globalisme atau lokalisme, sentralisasi atau desentralisasi. Di satu pihak kehidupan sosial masyarakat kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai bentuk konflik sosial dan kultural yang dilandasi oleh berbagai sentimen kesukuan, keagamaan, ras dan kedaerahan yang kemudian berkembang ke dalam berbagai bentuk konflik dan kekerasan, kerusuhan dan pembataian. Berbagai bentuk konflik dan kekerasan tersebut tidak dapat dipisahkan pula dengan berbagai gagasan otonomi, separatisme bahkan kemerdekaan yang disuarakan oleh kelompok suku, agama dan daerah tertentu, yang menciptakan sebuah ancaman disintegrasi baik pada tingkat geopolitik maupun pada tingkat geokultural.

Di lain pihak, pola-pola kehidupan sosial dan kultural sehari-hari masyarakat akhir-akhir ini memperlihatkan berbagai pengaruh yang amat kuat dari apa yang disebut sebagai pola-pola kehidupan masyarakat global (global society) dan budaya global (global culture). Lewat berbagai teknologi (teknologi informasi, telekomunikasi, televisi, internet), lewat berbagai agen (kapitalis, produsen, artis) dan berbagai produknya (barang, tontonan, hiburan) budaya global tak henti-hentinya melancarkan serangan terhadap masyarakat etnis, yang sampai satu titik mereka menerima berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup bahkan pandangan hidup yang dilain pihak telah mengancam eksistensi berbagai bentuk warisan adat, kebiasaan, nilai identitas nasional, dan simbol-simbol dari budaya lokal.

8. Sumber Buku Rujukan

MacBride, S, 1983, Aneka Suara, Satu Dunia, PN Balai

Pustaka-Unesco, Jakarta.

Mahayana, Dimitri, 1999, Menjemput Masa Depan, Remaja

Rosdakarya, Bandung.

McLuhan, Marshal, 1999, Understanding Media, The Extension

Of Man, The MIT Press, London.

Mulyana, Deddy, 1999, Nuansa Nuansa Komunikasi,

Rosdakarya, Bandung

Piliang, Yasraf Amir, 2004, Posrealitas Realitas Kebudayaan

dalam Era Posmetafisika, Jalasutra, Yogyakarta.

Tester, Keith, 2003, diterjemahkan Muhammad Syukri, Media,

Budaya, Moralitas, Kerjasama Juxtapose dan

Kreasi Wacana, Yogyakarta.


1 Comment so far
Leave a comment

assalamualaikum pak!!! saya helmi anak didik bapak didua kelas 2006! pak saya tertarik dengan teori imperialism Theory… apalagi dikaitkan dengan media sebagai konsentrasi saya!! saya pengen banget meneliti itu nanti saat skripsi saya….jadi beberapa bulan kedepan saya minta bantuannya ya pak untuk merealisasikan keingina judul skripsi saya…Thasks ya pak!! semangat Mengajar pak, Chayooo!!!

Comment by helmi setiawan




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: