Agus Setiaman


KONTRIBUSI KONSEPSI PSIKOLOGI BEHAVIOURISME TERHADAP PERKEMBANGAN TEORI DALAM ILMU KOMUNIKASI Slamet Mulyana dan Agus Setiaman
November 19, 2008, 5:00 am
Filed under: PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Abstrak

Behaviorisme banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen dan ini diakui secara luas sebagai jasa besar para behavioris dalam penelitian tentang prilaku manusia termasuk juga ilmu komunikasi yang mengkaji manusia dan prilakunya banyak dipengaruhi oleh konsepsi behavioris

Lahirnya paham ini merupakan reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak) yang sangat sulit diamati, diukur dan diramalkan. Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.

Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin(Homo Mechanicus).

Latar Belakang

“Ilmu komunikasi ibarat oasis, yang menjadi persimpangan jalan dan tempat perjumpaan berbagai ilmu (musafir) dalam perjalanan ke tujuan keilmuannya masing-masing. Walaupun sebagian musafir itu sekedar mampir sebentar, ilmu yang dikembangkannya pada saat mampir itu membantu pertumbuhan ilmu si musafir dan memperkaya oasis tersebut“ demikian kata Wilbur Schramm, salah seorang Bapak Ilmu Komunikasi (Dahlan, 1996). Komunikasi adalah suatu ilmu yang cakupannya luas dan perlintasan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik, ilmu politik, dan sebagainya. Sebagian dari para peletak dasar ilmu komunikasi memang berlatar belakang ilmu lain, yang kemudian tertarik pada ilmu komunikasi, seperti Harold Lasswell yang ahli ilmu politik, Claude Shannon dan Warren Weaver yang ahli fisika, atau Paul Lazarsfeld yang seorang sosiolog. Sementara Wilbur Schramm sendiri adalah seorang ahli bahasa Inggris.

Kenyataan tersebut menyebabkan banyak teori-teori komunikasi yang sebenarnya ‘dipinjam’ dari berbagai disiplin ilmu lain. Fakta bahwa sejauh ini ilmu komunikasi belum menghasilkan teori-teori besar (grand theories), seperti sosiologi atau psikologi, dianggap sebagai kelemahan ilmu komunikasi oleh sebagian pengamat. Namun, sebagian pengamat lain menegaskan justru di situ pulalah kekuatannya (Mulyana, 1999). Kenyataan bahwa ilmu komunikasi bersifat multidisipliner dan merupakan ilmu yang relatif baru tidak membuat membuat ‘rendah diri’ para pakar ilmu komunikasi, karena hal itu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan ilmu komunikasi sejajar dengan ilmu-ilmu sosial yang lain.

Menurut Rakhmat (2001), banyak teori dalam ilmu komunikasi dilatarbelakangi konsepsi‑konsepsi psikologi tentang manusia. Paling tidak, ada empat teori psikologi yang paling dominan yang dianggap sebagai akar dari teori komunikasi, yaitu Psikoanalisis, Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis.

Setiap pendekatan (konsepsi) tersebut memandang manusia dengan cara yang berlainan, yang akan mempengaruhi pandangannya tentang karakteristik manusia sebagai pelaku utama komunikasi. Dalam tulisan ini akan dibahas konsepsi behaviorisme, yang pada dasarnya melihat manusia sebagai Homo Mechanicus (Makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan)

Secara umum, pembahasan materi dalam tulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang kontribusi pandangan (konsepsi) Psikologi Behaviorisme terhadap perkembangan teori dalam Ilmu Komunikasi, dalam tulisan ini dibahas pemahaman singkat tentang perkembangan konsepsi psikologi behaviorisme, yang mencakup perkembangan pemikirannya sekaligus tokoh-tokohnya. Selanjutnya dibicarakan kontribusi behaviorisme dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa.

Sejarah Singkat Mahzab Behaviorisme

Dalam perkembangan Psikologi, bidang ilmu yang mengkaji tentang tingkah laku manusia, yang mendapat sebutan mazhab ‘kedua’ adalah karya para ahli yang berhu­bungan dengan teori Behaviorisme. Teori yang bersifat umum ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Saat itu Watson adalah seorang guru besar psikologi di Universitas Johns Hopkins. la berupaya menjadikan studi tentang manusia seobjektif dan seilmiah mungkin, karenanya seperti Sigmund Freud, ia berusaha mereduksikan tingkah laku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata.

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin(Homo Mechanicus).

Kini kata ‘behaviorisme’ biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bi­dang psikologi, sosiologi dan ilmu‑ilmu tingkah laku meliputi bukan hanya karya John Watson, melainkan juga karya to­koh‑tokoh seperti Edward Thorndike, Clark Hull, John Dol­lard, Neal Miller, B.F. Skinner, dan masih banyak lagi. Para pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan metode ilmiah di bidang ilmu‑ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari bina­tang‑binatang yang lebih rendah.

Behaviorisme amat banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen. Walaupun Watson sering dianggap tokoh utama aliran ini, tetapi sebenarnya perkembangannya dapat dilacak sampai kepada empirisisme dan hedonisme pada abad XVIII – XVIII.

Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632 ‑ 1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman satu‑satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan perilaku masa lalu.

Salah satu kesulitan emprisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, salah satu paham filsafat etika, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam utilitarianisme, seluruh perilaku manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Menurut Jeremy Bentham (1879), “Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters, pain and pleasure.” Bila empirisme digabung dengan utilitarianisme dan hedonisme, menurut Goldstein (1980:17), maka akan diketemukan apa yang disebut behaviorisme (dalam Rakhmat, 2001).

Teori Freud dikembangkan terutama dengan mendengarkan para pasiennya dan dari hasil interpretasi subjektif­nya atas aneka neurosis para pasiennya itu. Sebaliknya, kaum Behavioris memusatkan diri pada pendekatan ‘ilmiah’ yang sungguh‑sungguh objektif. Lagi pula, Freud menempatkan rangsangan‑rangsangan dan dorongan‑dorongan dalam seba­gai sumber motivasi, sementara kaum Behavioris menekankan kekuatan‑kekuatan luar yang berasal dari lingkungan. Dalam teori mereka segala yang berbau subjektif sama sekali diabaikan. Menurut Watson, “Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.

John Watson secara istimewa dipengaruhi oleh karya psikolog Rusia, Ivan Pavlov, yang berhasil membuktikan bahwa anjing‑anjing akan mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi garpu tala, sekalipun mereka itu tidak mendapatkan daging. Peristiwa ini disebut refleks bersyarat.

Mekanisme Belajar

Secara umum terdapat tiga mekanisme yang biasa terjadi dalam belajar.

Ketiga mekanisme itu adalah :

· Mekanisme belajar yang pertama adalah Asosiasi.

Anjing Pavlov be­lajar mengeluarkan air liur pada saat mendengar garpu tala berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bunyi. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila mendengar bunyi garpu tala meskipun tidak disajikan daging, karena anjing itu mengasosiasikan bel dengan daging. Kita belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan dengan kejahatan mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.

· Mekanisme belajar kedua adalah reinforcement.

Orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak‑haknya. Atau seorang mahasiswa mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor dikelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah, dan membentaknya kembali.

  • Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak dan remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan. Imitasi bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal, hanya melalui observasi biasa terhadap model.

Kaum Behavioris sangat mengagungkan proses belajar asosiatif atau proses belajar asosiatif stimuslus respon ini sebagai pen­jelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Perbedaan antara teori Freud, yang memberi tekanan pada dorongan dari dalam pada manusia, dengan keyakinan kaum Behavioris pada kekuatan‑kekuatan “luar” atau kekuatan‑kekuatan dari lingkungan dalam diri manusia dapat dilihat dengan jelas

Kepribadian merupakan himpunan aneka tindakan yang dapat diungkap lewat pengamatan yang sungguh‑sung­guh terhadap tingkah laku dalam waktu yang cukup lama agar diperoleh informasi yang “dapat diandalkan”, kata Wat­son. “Dengan kata lain, kepribadian hanyalah merupakan hasil akhir dari berbagai sistem kebiasaan kita.”

Salah satu asumsi dasarnya mengatakan bahwa kesusilaan sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Maka kaum Behavioris menganut paham relativisme budaya dan moral. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya. Seorang Behavioris tidak menaruh minat pada soal‑soal budaya dan moral kecuali bahwa ia adalah seorang ilmuwan. Tak peduli, manusia macam apapun. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya.”

Tahun‑tahun awal kehidupan seseorang merupakan tahun‑tahun yang penting mengenai soal yang satu ini sebenar­nya semua aliran psikologi sependapat. Dari sini muncul imbauan agar para orang tua bersikap serba membolehkan, serba memuaskan dan tidak menuntut terhadap anak‑anak selama tahun‑tahun awal kehidupan mereka, khususnya da­lam soal‑soal menyuapi, melatih kebersihan, memberi pendi­dikan awal di bidang seksualitas, dan menanamkan cara me­ngendalikan amarah serta agresi. Setiap bentuk frustrasi pada masa ini dipandang dapat melahirkan kecenderungan ke arah neurosis di masa dewasa.

Pandangan di atas dipaparkan secara ringkas oleh dua pengarang mutakhir, Gardner Lindzey dan Calvin Hall, yang telah menganalisis dan membandingkan berbagai teori ke­pribadian. Mereka melukiskan karya dua tokoh Behavioris seangkatan mereka sebagai berikut: “Dollard dan Miller ber­pendapat bahwa konflik yang tak disadari, yang sebagian be­sar diperoleh selama masa bapak dan masa kanak‑kanak, me­rupakan pangkal bagi kebanyakan gangguan emosional berat dalam kehidupan di kemudian hari. Mereka sependapat de­ngan para teoretikus psikoanalitik yang menyatakan bahwa aneka pengalaman pada enam tahun pertama kehidupan sese­orang merupakan penentu sangat penting tingkah lakunya dimasa dewasa. Penting untuk disadari bukan hanya bahwa konflik neurotik dipelajari oleh anak, melainkan bahwa konflik semacam itu dipelajari oleh anak terutama akibat berbagai kondisi yang diciptakan oleh orang tua.

Pada awal tahun 1930‑an, Institut Hubungan Manusia di Universitas Yale mencoba mempersatukan disiplin‑disiplin il­mu psikologi, psikiatri, sosiologi dan antropologi. Di bawah pimpinan Clark L. Hull, seorang pendukung. Behaviorisme yang bersemangat, lembaga ini merupakan markas sekelom­pok ilmuwan behavioral terkemuka. Di bawah kuasa Hull, institut ini memiliki pengaruh yang kuat dan lama pada satu generasi ilmuwan sosial muda.

Sejak dari Thorndike dan Watson sampai sekarang, kaum behavioris berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat‑sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan betapa elastisnya manusia. la mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Dalam bukunya yang memikat tentang sejarah pemikir­an‑pemikiran di dunia, The Broken Image, Floyd W. Matson mengutip kata-kata Watson sebagai berikut:

“Pendek kata, semboyan kaum Behavioris adalah Berilah saya seorang bayi dan kekuasaan serta keluasaan untuk membesarkannya, maka saya buat ia mampu merangkak dan berjalan; akan saya buat ia mampu memanjat dan menggunakan kedua belah tangannya untuk mendirikan. bangunan‑bangunan dari batu atau kayu akan saya jadikan pencuri, penembak atau, pecandu narkotika atau kemungkinan untuk membentuk, seseorang ke segala arah tiada hampir tidak ada batasnya.”

Ucapan Watson ini dibuktikan dengan suatu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins, tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Eksperimen Albert dengan tikus putih kesayangannya bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Diambil dari Sechenov (1829 ‑ 1905) dan Pavlov (1849‑ 1936), pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tak terkondisikan ‑ unconditioned stimulus) yang melahirkan perilaku tertentu (unconditioned response). Setelah pemasangan ini terjadi berulang‑ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus, dilakukan pemukulan batangan baja (unconditioned stimulus).

Seperti Freud dan pendahulunya, Darwin, kaum Beha­vioris memandang manusia hanya sebagai salah satu jenis binatang tanpa ada perbedaan yang esensial dengan jenis‑jenis binatang lainnya dan memiliki kecenderungan – kecenderungan merusak dan antisosial yang sama. Dalam bukunya yang ber­judul Behaviorism, Watson mengatakan, “Sejak semula hingga kini kami tetap yakin bahwa manusia ada­lah binatang. Berbeda dengan binatang‑binatang lainnya ha­nya dalam hal bentuk‑bentuk tingkah laku yang ditampilkan­nya.

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

John Watson, Tokoh Utama Behaviorisme

John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar PhD pada tahun 1903 dengan disertasi ber udul “Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.

Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalarn psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920‑1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalarn beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan‑penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saj a. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode­metode obyektif dalam psikologi.

Peran Watson dalam bidangpendidikanjugacukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat‑sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya.”

<!–[if supportFields]><![endif]–>

F. Skinner, seorang psikolog dari Harvard dan penganjur serta pemimpin tradisi Behavioris masa kini, berkata, “Satu‑satunya perbedaan antara tingkah laku tikus dan ting­kah laku manusia yang mungkin saya saksikan (terlepas dari beda yang amat besar dalam hal kompleksitasnya) terletak dalam soal tingkah laku verbal. Karena percaya akan ke­samaan hakiki antara manusia dan binatang, untuk mudah­nya, dan demi alasan‑alasan objektivitas, para psikolog Be­havioris mendasarkan sebagian besar karya mereka pada percobaan‑percobaan dengan menggunakan binatang.

Etika, moral, dan nilai‑nilai hanyalah hasil proses belajar asosiatif. “Suatu analisis ilmiah akan memaksa kita menolak segala pesona jangka pendek berupa kebebasan, keadilan, pengetahuan ataupun kebahagiaan da­lam menatap akibat‑akibat jangka panjang kelangsungan hidup”, kata Skinner.

Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya sebagai operant conditioning. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak (yang dapat diamati). Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil pada dinding kotak. Makanan ke luar dan merpati bahagia. Mula‑mula merpati tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian merpati tidak sengaja menyentuh tombol, dan makanan turun lagi. Sekarang bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Bila setiap anak menyebut kata dengan sopan, segera kita memujinya, anak itu. kelak akan mencintai kata‑kata sopan dalam komunikasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali‑kali, disebut peneguhan (reinforcement). Pujian dalam hal ini disebut dengan peneguh (reinforcer).

Pada tahun 1957, Calvin Hall dan Gardner Lindzey menyatakan sebagai berikut: “Pene­rapan konsep‑konsep stimulus‑respon pada berbagai gejala behavioral di luar laboratorium sebagian besar terjadi selama 25 atau 30 tahun terakhir. Dalam jangka waktu ini telah ber­hasil dikumpulkan sejumlah besar hasil penelitian empiris yang relevan. Selain itu, sejumlah psikolog muda yang mum­puni telah pula tampil dalam tahun‑tahun terakhir, khusus­nya di Universitas Yale dan di Universitas Iowa, tokoh‑tokoh muda yang memiliki keterampilan teknis serta keyakinan teo­retis yang diperlukan untuk melipatgandakan jumlah bukti empiris yang sudah berhasil dikumpulkan. Dalam masa‑masa terakhir ini memang telah terjadi bukan hanya ledakan hasil penelitian empiris di bidang ini melainkan juga munculnya se­jumlah besar tokoh yang secara aktif melibatkan diri dalam usaha memperluas serta menyempurnakan konsep‑konsep yang baru saja kita bicarakan.

Pengaruh dahsyat pandangan ini yang terus bertahan di­benarkan dalam sebuah pernyataan lebih mutakhir yang di­kemukakan oleh Floyd W. Matson pada tahun 1966, sebagai berikut: “Adalah suatu kebenaran yang dapat dibuktikan bahwa prinsip‑prinsip dasar Behaviorisme tidak hanya hidup subur di laboratorium‑laboratorium para eksperimentalis, melainkan juga menempati posisi yang mantap dan menonjol dalam skema konseptual mereka.” Selain itu hampir tidak pernah terasa berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam deretan pemimpin paling militan dari gerakan ilmu Behavioral ini terdapat pula para pendukung aliran lain di bidang psikologi yang memiliki nama setaraf. Lebih mutakhir lagi (1968), sekelompok cendekiawan terkemuka yang mewakili arus pemikiran ilmu behavioral di Inggris, Eropa Daratan, India, Afrika dan Australia berkesimpulan bahwa di negara‑negara tersebut kecenderungan telah bergeser dari Freudianisme ke arah Behaviorisme.

Beberapa Teori Dalam Psikologi Behaviorisme

Selama beberapa tahun, pendekatan yang do­minan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan belajar. Pokok pikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebia­saan, dan bila menghadapi situasi itu kembali, orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu. Bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menja­batnya, karena itulah yang telah kita pela­jari untuk menanggapi uluran tangan itu. Bila seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada kita, mungkin kita akan membalasnya atau mungkin kita akan mela­kukan hal yang sam pada orang lain, tergan­tung pada apa yang telah kita pelajari di ma­sa lampau. Pendekatan dengan belajar menjadi populer di tahun 1920‑an dan merupakan da­sar Behaviorisme. Mula‑mula Pavlov dan John B. Watson yang menjadi pendukungnya yang pa­ling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F. Skinner, Neal Miller, dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial, dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan yang disebut Social Learning Theory.

a. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

Dapat dikatakan bahwa pelopor dari teori Conditioning ini adalah Pavlov, seorang ahli psikologi‑refleksologi dari Rusia. Ia mengadakan percobaan‑percobaan dengan anjing. Secara ringkas percobaan‑percobaan Pavlov dapat kita uraikan sebagai berikut:

Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya, di­masukkan ke kamar yang gelap. Di kamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya, tempat menyodorkan. makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan‑percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung di luar kamar. Dengan dernikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan per­cobaan‑percobaan. Alat‑alat yang dipergunakan dalam percobaan‑percobaan itu ialah makanan, lampu senter untuk menyorotkan bermacam‑macam warna, dan se­buah bunyi‑bunyian. Dari hasil percobaan‑ percobaannya, Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan­-gerakan refleks itu dapat dipelajari; dapat berubah karena mendapat latihan. Dengan demikian dapat dibeda­kan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (unconditioned reflex) dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajari (con­ditioned‑reflex).

Sesudah Pavlov, banyak ahli‑ahli psikologi lain yang mengadakan percobaan‑percobaan dengan binatang, antara lain Guthrie, Skinner, Watson dan lain‑lain.

Watson mengadakan eksperimen‑eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson yang mula‑mula tidak takut kepada kelinci dibuat menjadi takut kepada kelinci. Ke­mudian anak tersebut dilatihnya pula sehingga tidak men­jadi takut lagi kepada kelinci.

Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena ada­nya syarat‑syarat (conditions) yang kemudian menimbul­kan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditi­oning. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan-­kebiasaan mereaksi terhadap syarat‑syarat/perangsang­-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya.

Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata‑mata ter­gantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentu­kan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubung­kan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal‑hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak‑anak kecil.

b. Teori Conditioning dari Guthrie

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

Sebagai penjelasan kami berikan dari percobaan Pavlov sebagai berikut: Pada mulanya anjing percobaan keluar air liur ketika disodorkan makanan. Setelah berkali‑kali sambil menyodorkan makanan dilakukan juga menyorotkan sinar merah kepada anjing itu; pada suatu ketika hanya dengan menyorotkan sinar merah, anjing itu keluar juga air liurnya. Jadi, dalam hal ini terjadi asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluar­nya air liur (respons). Yang penting pula diperhatikan dalam percobaan itu ialah; dapat diubahnya suatu stimulus (unit) tertentu dengan stimulus yang lain. Karena itu, menurut Guthrie untuk mengubah kebiasaan‑kebiasaan yang tidak baik, harus dilihat dalam rentetan deretan unit‑unit tingkah lakunya, kemudian kita usahakan untuk menghilangkan unit yang tidak baik itu atau menggantinya dengan yang lain yang seharusnya.

Berikut ini sebuah contoh sebagai penjelasan. Seorang ibu datang menanyakan kepada Guthrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melempar­kan tas dan pakaiannya ke sudut kamarnya, kemudian ganti pakaian dan terus makan tanpa meletakkan tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah tersedia untuk itu. Teguran‑teguran ibu untuk menggantungkan tas dan pakaian pada tempatnya, hanya berlaku satu atau dua, hari saja, sesudah itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Bagaimana cara memperbaiki kebiasaan buruk pada anak tersebut?

Guthrie menyarankan (sesuai dengan teori condition­ing) perbaikan seperti berikut:

Teguran ibu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah anak itu makan, akan tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan menyandang tasnya dan kemudian anak itu masuk ke rumah lagi terus menggantungkan tasnya dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi, proses ber­langsungnya unit‑unit tingkah

laku itu harus diulang dari semula. Perhatikan gambar berikut:

Sumber: Purwanto, 1999.

Metode‑metode Guthrie

Beberapa metode dipergunakan Guthrie dalam meng­ubah tingkah laku atau kebiasaan‑kebiasaan pada hewan maupun pada manusia ialah:

1) Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method) Manusia itu adalah suatu organisme yang se­lalu mereaksi kepada perangsang‑perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang‑perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubah­nya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkannya.

2) Metode Membosankan (Exchaustion Method). Hu­bungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S‑R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga men­jadi bosan.

3) Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environ­ment Method). Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangkan kebiasaan‑kebiasaan buruk yang di­sebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya itu sendiri.

c. Teori Operant Conditioning (Skinner) ,

Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons. Hanya perbedaannya, Skinner membuat perinci­an lebih jauh, Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:

1) Respondent response (reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang‑perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter­tentu. Pada umumnya, perangsang‑perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.

2) Operant response (instrumental response): yaitu res­pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe­rangsang‑perangsang tertentu. Perangsang yang demiki­an itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, kare­na perangsang itu memperkuat respon yang telah di­lakukan oleh organisme.

Di dalam kenyataan, respon jenis pertama (respondent/reflexive response/behavior) sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response atau behavior merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin­an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini. Jadi yang menjadi soal adalah: bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku (dalam belajar atau dalam pen­didikan).

Prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning secara sederhana adalah seperti berikut:

(a) Mengindentifikasi hal‑hal apa yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah laku yang akan dibentuk.

(b) Menganalisis, dan selanjutnya mengidentifikasi kom­ponen‑ komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Komponen‑komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada ter­bentuknya tingkah laku yang dimaksud.

(c) Berdasarkan urutan komponen‑komponen itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing‑masing komponen itu.

(d) Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan meng­gunakan urutan komponen‑komponen yang telah di­susun. Kalau komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibat­kan komponen tersebut cenderung untuk sering di­lakukan. Kalau ini sudah terbentuk dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (kom­ponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah); demikian berulang‑ulang sampai komponen kedua itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya, sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk. (Bandingkan teori Skinner ini dengan teori Guthrie). Dewasa ini bteori Skinner sangat besar pengaruhnya, ter­utama di Amerika Serikat dan negara‑negara lainnya. Di dalam dunia pendidikan khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program‑program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasar atas teori Skinner tersebut.

d. Teori Systematic Behavior (Hull)

Seperti halnya dengan Skinner, maka Clark C Hull meng­ikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip‑prinsip yang digunakanya mirip de­ngan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus‑respon dan adanya reinforcement.

Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat di­perkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon‑respon yang dibuat individu itu. Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.

Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil‑hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya: uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial ting­kat tinggi). Jadi, prinsip yang utama adalah suatu ke­butuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation (motivasi insentif) dan drive stimulzis reduction (pengurangan stimulus pendorong). Kecepatan berespon berubah bila besarnya hadiah (reward) berubah.

Penggunaan praktis teori belajar dari Hull ini untuk kegiatan dalam kelas, adalah sebagai berikut:

¨ Teori belajar didasarkan pada drive‑reduction atau drive stimulus reduction.

¨ Intruksional objektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.

¨ Ruangan kelas harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terjadinya proses belajar. Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana atau mudah menuju kepada yang lebih kompleks atau sulit.

¨ Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar.

¨ Latihan harus didistribusikan dengan hati‑hati supaya tidak terjadi inhibisi. Dengan perkataan lain, kelelahan tidak boleh mengganggu belajar.

¨ Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga mata pelajaran yang terdahulu tidak menghambat tetapi justru harus menjadi perangsang yang men­dorong belajar pada mata pelajaran berikutnya.

e. Teori Conectionism (Thorndike)

Menurut teori trial and error (mencoba‑coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan‑tindakan yang sifatnya coba‑coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba‑coba itu secara ke­betulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.

Sebagai contoh kami kemukakan di sini percobaan Thorn­dike dengan seekor kucing yang dibuat lapar dimasukkan ke dalam kandang. Pada kandang itu dibuat lubang” pintu yang tertutup yang dapat terbuka jika suatu pasak di pintu itu tersentuh. Di luar kandang diletakkan sepiring makanan (daging). Bagaimana reaksi kucing itu? Mula‑mula kucing itu bergerak kesana-kemari mencoba‑coba hendak ke luar melalui ber­bagai jeruji kandang itu. Lama kelamaan pada suatu ketika secara kebetulan tersentuhlah pasak lubang pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka, dan kucing itupun keluarlah menuju makanan.

Percobaan diulang lagi. Tingkah laku kucing itupun pada mulanya sama seperti pada percobaan pertama. Hanya waktu yang diperlukan untuk bergerak kesana‑kemari sampai dapat terbuka lubang pintu, menjadi makin singkat. Setelah di­adakan percobaan berkali‑kali, akhirnya kucing itu tidak perlu lagi kian kemari mencoba‑coba, tetapi langsung menyentuh pasak pintu dan terus keluar mendapatkan makanan.

Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:

1 ) trial and error (mencoba‑coba dan mengalami kegagalan), dan

2) law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik‑baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menye­nangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat‑syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.

Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada pe­rangsang yang mempengaruhi dirinya. Terjadinya otomatis­me dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu. Dalam kehidupan sehari‑hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan. Akan tetapi me­nurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pen­didikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan.

Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya (effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

Kelemahan dari teori ini ialah:

¨ Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.

¨ Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respons. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan‑latihan, atau ulangan‑ulangan yang terus‑menerus.

¨ Karena proses, belajar berlangsung secara mekanistis, maka “‘pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yang po­kok dalam belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yang pokok dalam belajar.

f. Teori Belajar Sosial (Bandura)

Albert Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). la mempermasalahkan peranan, ganjaran, dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman dan peneguhan. Bandura menyatakan bahwa belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor penting dalam belajar, tetapi faktor yang penting dalam melakukan satu tindakan (performance).

Jadi menurut Bandura, bila anak selalu diganjar (dihargai) karena mengungkapkan perasaannya, ia akan sering melakukannya. Tetapi jika ia dihukum atau dicela ia akan menahan diri untuk bicara walau pun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan satu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan.

Selanjutnya Bandura menjelaskan bahwa dalam proses belajar sosial ada empat tahapan proses, yaitu:

(1) Proses perhatian

(2) Proses pengingatan (retention)

(3) Proses reproduksi motoris

(4) Proses motivasional

Kontribusi Psikologi Behaviorisme Terhadap Perkembangan Teori Komunikasi

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, behaviorisme sebagai salah satu mazhab dalam psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang tingkah laku manusia. Dalam hal ini, pandangan behaviorisme tentang manusia berbeda secara signifikan dengan tiga pendekatan psikologi lain yang dominan, yaitu psikoanalisis, psikologi kognitif, dan psikologi humanisme.

Di lain pihak, komunikasi adalah suatu proses yang ditandai beberapa karakteristik di antaranya adalah komunikasi itu bersifat simbolik, irreversible, kompleks, berdimensi sebab akibat, dan mengandung potensi problem. Karakteristik di atas memperlihatkan betapa rumitnya suatu proses komunikasi. Oleh karenanya suatu tindakan komunikasi sepatutnya dikelola secara tepat. Dengan mengelola perilaku komunikasi dalam berbagai konteksnya maka berbagai kecenderungan yang mengarah pada terjadinya communication breakdown dapat dihindari. Dalam hal ini, pandangan psikologi behaviorisme dapat membantu memahami berbagai kecenderungan tingkah laku komunikan kita sebagai sasaran utama dalam kegiatan komunikasi yang kita lakukan.

Secara lebih khusus, penulisan pada bagian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ringkas tentang kontribusi psikologi behaviorisme terhadap perkembangan teori komunikasi. Adapun pembahasannya difokuskan kepada teori-teori komunikasi dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa yang masing-masing hanya dikemukakan satu contoh. Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa pada masing-masing konteks komunikasi, pandangan behaviorisme telah memberikan kontribusinya secara signifikan.

Konteks Komunikasi Interpersonal

Teori dari perspektif behaviorisme yang akan dibahas dalam konteks komunikasi interpersonal adalah Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dari Thibault dan Kelley. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang tokoh utama teori ini, menyimpulkan teori pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi utama yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.” Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan konsep-konsep pokok dalam teori ini.

Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan interpersonal. Ganjaran bisa berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial (social approval) lebih berharga daripada uang. Bagi si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasinya kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.

Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan interpersonal. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri, serta kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.

Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba.

Sementara tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun.

Konteks Komunikasi Massa

Sumbangan yang terbesar untuk memahami cara ber­komunikasi massa mengambil bahagian dalam proses sosialisasi adalah melalui modelling theory yang diperkenalkan o1eh psikolog Albert Bandura serta para pembantunya di tahun 1960‑an. Sebagian besar isi teori ini sebenarnya bermuara pada teori psikologi : social learning theory yang telah dijelaskan. Kita akan mengenal berapa aplikasinya pada studi yang berkaitan dengan komunikasi massa.

1. Teori belajar sosial (belajar mengobservasi)

Teori ini memang tidak secara khusus belajar mengenai pengaruh terpaan media massa tetapi secara umum dapat men­jelaskan bagaimana orang memperoleh bentuk‑bentuk yang baru dari perilakunya yang diperolehnya dari masyarakat sekelilingnya. Disebut belajar sosial karena penekanannya pada bagaimana individu mengamati aktivitas orang lain kemudian mengadopsi perilakunva sebagai bentuk aktivitas untuk menghadapi masalah dalam beragam situasi dan kondisi atau kejadian‑kejadian lain, yang dialaminya.

Alekis Tan (1981) dalam Hardy (1985) mengemukakan bahwa pada prinsipnya teori belajar sosial menunjukkan sebenarnya setiap manusia tidak dilahirkan dengan memiliki suatu sikap atau nilai dan pandangan tertentu terhadap dunianya. Dunialah yang sebalikya mempengaruhi dan membangun persepsi kita. Kita belajar dari dunia karena kita membuat reaksi terhadap setiap rangsangan yang masuk dari luar. Ada banyak teori mengenai perilaku sudah pernah diulas dan sebagian besar mene­kankan tentang hal ini yaitu bagaimana manusia dan juga hewan belajar dari lingkungannya hanya karena berinteraksi untuk meme­nuhi kebutuhan hidupnya.

Namun demikian menurut Albert Bandura dalam Hardy (1985) mengajukan teori bercakupan luas tentang perilaku manusia yang disebutnya dengan teori belajar sosial itu. Teori ini menjelas­kan bagaimana manusia belajar sccara langsung dari pengalaman­nya sebaik‑baiknya dan menjadikan sesuatu yang pernah diamati­nya itu sebagai modelnya. Bandura juga menambahkan bahwa teori belajar sosial menerangkan perilaku manusia sebagai konstruk dari lingkungan sosial serta faktor‑faktor kognitif dari setiap manusia. Yang penting dari teori Bandura yang perlu diingat adalah bahwa proses belajar mengikuti sesuatu dimulai dari tahap:

(1) Proses memperhatikan;

(2) Proses mengingatkan kembali;

(3) Proses gerakan untuk menciptakan kembali;

(4) Proses mengarahkan gerakan sesuai dengan dorongan.

Albert Bandura ingin menerangkan misalnya kita melihat suatu kejadian maka kita memperhatikan kejadian itu dengan saksama. Kemudian kita mengingat‑ingat kembali apakah kita mempunyai pengalaman yang sama dengan apa yang dilihat itu. Menyusul setiap orang karena pengingatannya kembali mencipta­kan reaksi‑reaksi terhadap apa yang dilihatnva, reaksi‑reaksi ter­sebut terhadap apa yang dilihatnya, reaksi‑reaksi tersebut merupa­kan perulangan pengalaman yang pernah dilakukannya. Arah dari perlakuan gerakan itu disesuaikan dengan motivasi yang dimiliki orang itu.

Peranan media massa dalam hubungannya dengan teori belajar sosial tersebut dapat, mengisi keempat proses yang diajukan Bandura. Media massa melalui pesan‑pesannya dapat mengakibat­kan seseorang lebih memperhatikan suatu pesan tertentu, atau dapat mengakibatkan seseorang mengingat. kembali pengalamannya. Media juga dapat mendorong, atau mempercepat proses gerakan, reaksi untuk menciptakan kembali cara‑cara. yang sama yang pernah dilakukannya, dan media juga membantu meneguhkan motivasi yang dimiliki seseorang.

Aplikasi dari teori belajar sosial dapat dirinci dengan kehadiran empat teori berikut yang dikemukakan melalui tulisan Bittner(1986) dan Bradac (1989), yaitu:

a) Teori Chatarsis

Prinsip dasar teori ini bahwa kita dapat menghilangkan sikap frustasi yang dimiliki dengan menonton film‑film kekerasan di televisi. Anggapan teori ini bahwa ada satu keuntungan yang diper­oleh akibat menonton film kekerasan di televisi karena kekerasan itu dapat memecahkan masalah frustasi.

b) Teori Aggresive Cues

Menurut teori aggressive cues bahwa terpaan berita atau film kekerasan pada siaran televisi dapat menumbuhkan atau merangsang penonton membuat semacam katalisator yang kuat dalam mempertahankan diri kalau terjadi hal yang sama melanda dirinya.

c) Teori reinforcemeni

Teori ini menyatakan bahwa kekerasan yang disiarkan di televisi dapat meneguhkan perilaku yang sudah ada yang selama ini dilakukan oleh para penontonnya.

d) Teori belajar mengobservasi

Berdasarkan teori ini bahwa kita menyelidiki dengan saksama dan mempelajari serta menganalisis pelbagai perilaku kekerasan yang muncul di televisi.

Banyak penelitianpun dilakukan untuk menguji kembali kebenaran teori‑teori tersebut dan menemukan memang benar bahwa jika dibandingkan dengan media cetak maka ternyata pelukisan kekerasan melalui media massa elektronik terutama media televisi lebih kuat. Karena orang melihat secara langsung penggambaran perilaku terutama proses suatu peristiwa secara dinamik daripada di surat kabar yang membutuhkan suatu pemikiran untuk memahami dan menjelaskan konsep proses. Media massa khususnya elektronik (dapat lebih baik sebagai agen sosialisasi) dalam waktu panjang dan lebih cepat jika dibandingkan dengan media non elektronik.

2. Proses pemodelan.

Proses pemodelan atau modelling theory digunakan untuk menggambarkan aplikasi dari teori sosial learning secara umum yang membentuk perilaku yang baru melalui penggambaran media. Media memberikan peluang yang membuat daya tarik besar dari pola‑pola perilaku yang dinyatakan dalam media oleh komunikator. Pelbagai kepustakaan melukiskan bahwa anak‑anak maupun orang‑orang menyusun sikapnya apakah itu kesan, emosi, gaya hidup baru akibat terpaan media dari film dan televisi.

Pembentukan perilaku yang baru akibat terpaan komunikasi massa dalam proses pemodalan dapat dirumuskan ke dalam beberapa proposisi :

(a) Seorang individu yang menjadi anggota khalayak media massa dapat mengamati atau membaca perilaku model yang ditunjukkan seseorang melalui sebagian isi media.

(b) Para pengamatan yang mengidentifikasi model‑model itu percaya dan lambat laun menyukai model, ingin menjadi seperti model itu, atau melihat model sebagai, daya tarik yang cepat dan patut ditiru.

(c) Pengamat dapat dengan sadar menghubungkan gambaran perilaku yang diamati dengan fungsi perilakunya. Karena seseorang menjadi lebih percaya dan yakin bahwa gambaran perilaku melalui media dapat membawa daya tarik yang lebih besar berhasil diimitasi orang lain dalam sebagian situasi

(d) Pada waktu individu mengingat kembali aksi‑aksi dari suatu individu dari suatu model yang dilihatnya pada situasi yang relevan maka ia akan mengulangi atau memperbanyak perilaku yang sesuai dengan itu berdasarkan situasi dan kondisinya.

(e) Penampilan atau pengulangan setiap sikap perilaku dalam suatu situasi perangsang yang cocok akan membawa seseorang semakin mendekat pada model karena dorongan, sokongan, ganjaran, atau faktor pemuas yang diberikan media. Media meneguhkan perilaku seseorang melalui model yang patut ditiru.

(f) Penguatan yang positif akan meningkatkan peluang bagi seseorang dalam menggunakan model itu untuk memper­banyak perilaku yang sama pada situasi yang sama.

Proposisi ini dapat terlihat hasilnya dalam suatu penelitian oleh Prof. George Comstock yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan perilaku agresif, hasilnya adalah:

(a) Film siaran kartun tentang kekerasan seakan‑akan hidup sesuai dengan kejadian aslinya dan dapat mempengaruhi sikap agresif bagi sebagian penontonnya.

(b) Pengulangan suatu terpaan film kartun tentang kekerasan tidak dapat menghapuskan kemungkinan terpaan berita yang baru yang juga dapat mempengaruhi penampilan yang agresif dari seseorang.

(c) Penampilan perilaku yang agresif sama sekali tidak bebas terhadap bentuk‑bentuk frustasi lainnya meskipun peluang untuk menjadi agresif diabaikan.

(d) Meskipun efek yang diteliti pada setiap eksperimen itu menunjukkan seseorang “lebih agresif” namun tidak diper­oleh kesan bahwa seseorang menjadi anti Sosial.

Kesimpulannya bahwa sebenarnya tidak semua sikap anti sosial berasal dari siaran kekerasan di televisi.

(e) Secara sederhana sebenarnya faktor‑faktor yang memungkinkan semakin meningkatnya sikap agresif seseorang juga adalah sugesti. Dengan sugesti dimaksudkan bahwa seseorang semakin agresif karena ia menerima sesuatu contoh cara dari orang‑orang yang lain tanpa bersikap kritis terlebih dahulu. Perilaku agresif seolah‑olah membenarkan suatu kenyataan sosial, suatu kondisi yang semrawut, atau dimotivasi oleh rasa benci, balas dendam yang dilakukan seseorang. Perilaku‑perilaku ini pada kelompok anak muda lebih mirip dengan apa yang ditontonnya sehingga lingkungan meng­anggapnya hanya diakibatkan. oleh pesan media massa.

Namun demikian tidak ada alasan yang mendasar bagi kita bahwa pengulangan terpaan pesan kekerasan yang pernah dilihat sekelompok remaja bisa membuat mereka menjadi lebih kebal, yang bisa dicurigai malah akibat terpaan dari televisi justru merangsang anak‑anak itu kembali cepat merasakan kekerasan dalam lingkungannya.

Dapat disimpulkan babwa kekerasan di televisi membuat kita harus ingat bahwa sebagian besar issu yang menjadi tema kekerasan itu dapat mempengaruhi keputusan setiap orang bagi masa depannya melalui pesan‑pesan yang disosialisasikannya.

Kesimpulan

Berdasar pada pembahasan sebelumnya maka pada akhir tulisan ini dapat kami simpulkan bebarapa hal yang dianggap penting, antara lain:

(1) Pendekatan Behaviorisme memusatkan pada pendekatan ilmiah yang objektif sehingga dalam pendekatan ini hal-hal yang berbau subjektifitas sama sekali diabaikan. Dalam pendekatan yang dilakukan kaum behaviorisme menekankan pada kekuatan-kekuatan luar yang berasal dari lingkungannya.

(2) Penganut paham behavior sangat percaya bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada proses pembelajaran. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan­-kebiasaan bereaksi terhadap syarat‑syarat atau perangsang­an-perangsangan tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya. Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

3) Demikian pula dalam konteks komunikasi baik komunikasi interpersonal, kelompok maupun komunikasi massa teori-teori yang dikembangkan tidak lepas dari asumsi dasar bahwa manusia belajar dari lingkungannya (S-R) dengan demikian teori komunikasi menitik beratkan pada kondisi dan situasi lingkungan yang mempengaruhi komunikan kita.

Daftar Pustaka

Depari Edward, Collin Mac Andrews, 1991, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Fisher, B.Aubrey, 1990, Teori-Teori Komunikasi Massa, Remadja Karya, Bandung.

Griffin EM, 2002, A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, Mc. Graw Hill, Boston.

Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry Jusuf), 1985, Komunikasi Kelompok Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya, edisi pertama, UI Press, Jakarta.

Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta.

Liliweri Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat, Citra Aditya Bakti, Bandung

Matson, Floyd, 1966, The Broken Image, Doubleday, New York.

Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1986. Berkenalan dengan Alirah­ Aliran dan Tokoh‑Tokoh Psikologi, Bulan Bintang: Jakarta.

Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, Psikologi Sosial, edisi lima, Erlangga, Jakarta.


2 Comments so far
Leave a comment

1. kenapa manusia ada homoseksual dan sebaliknya
2. apa sih penyebabnya terjadinya seorang gay
3.

Comment by junimber

tULISAN INI SANGAT MEMBANTU SAYA UNTUK MENYELESAIKAN DISERTASI.SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH

Comment by SOLFEMA




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: