Agus Setiaman


PERSPEKTIF EVOLUSI
November 25, 2008, 7:39 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PENDAHULUAN

Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan –salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara dua kota itu. Kota yang satu menderita gangguan setan dan yang satunya lagi mendapat rahmat tuhan. Kedua kota itu mempunyai keyakinan, harapan dan cinta yang berbeda..

Di dunia modern ide kemajuan menjadi tema dominant dan di abad ini saja kemajuan itu muncul dalam pikiran manusia. Teoritisi perkembangan percaya bahwa pada dasarnya evolusi manusia dan masyarakat itu berjalan lambat namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik.

Perkembangan masyarakat menurut August Comte

Comte (1798-1857) umumnya telah dikenal sebagai Bapak Sosiologi sebagian karena ia menciptakan nama sosiologi, kalau dilihat karyanya Comte sebenarnya bukan penemu tetapi lebih sebagai orang yang mensistematiskan karya sosiologi. Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Aspek statis sosiologi serupa dengan apa yang kita sebut sekarang ini dengan struktur social, system social dan aspek dinamisnya mengacu pada perubahan social, kebudayaan.

Studi sosiologi dinamis mengkaji tentang urutan perkembangan manusia dan masyarakat dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Tugas sosiologi adalah menemukan hokum-hukum yang menentukan urutan-urutan perkembangan itu. Penemuan hokum-hukum itu selanjutnya akan menyediakan basis rasional bagi memudahkan kemajuan umat manusia.

Dalam menemukan hokum-hukum rentetan sejarah perkembangan manusia dan masyarakat sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya yaitu: tingkat teologis atau khayalan, tingkat metafisik atau abstrak, tingkat ilmiah atau positif.

Ketiga tibgkat itu Comte menyebutnya sebagai hokum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan.

Tahap Teologis

Pada tingkat ini fikiran berfungsi mengira semua fenomena diciptakan oleh zat adikodrati.

Comte membagi lagi tahap ini menjadi tifa tingkat yaitu:

1. Kepercayaan terhadap kekuatan jimat ( fetishisme)

Kepercayaan terhadap jimat menandai awal teologis umat manusia. Di tingkat ini manusia membayangkan semua benda yang ada di alam ini dihidupkan oleh kekuatan yang sama yang menghidupkan dirinya. Pada tingkat ini kekuasaan mulai muncul ( kekuasaan ketua suku, dukun, dll). Prilaku lebih banyak didasarkan pada kepasrahan dan kepura-puraan disbanding dengan pertimbangan akal. Mulai ada usaha menaklukan alam. Kehidupan keluarga mulai muncul.

2. Kepercayaan terhadap banyak dewa (polyteisme)

Pada periode ini mumcul kehidupan kota, pemilikan tanah menjadi institusi social, muncul system kasta dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng

3. Kepercayaan terhadap keesaan Tuhan (monotheisme)

Tahap ini mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja gagal memberikan basis yang langgeng bagi kehidupan social. mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan Negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat local kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.

Tahap Metafisik atau Abstrak

Tingkat ini merupakan modifikasi dari tingkat pertama yang mengasumsikan fikiran bukan ciptaan adikodrati tetapi ciptaan kekuasaan abstrak, sesuatu yang benar-benar dianggap ada, yang melekat dalam diri seluruh manusia dan mampu menciptakan semua fenomena..

Seiring dengan perkembangan pemikiran dalam tahap ini maka kekuasaan gereja dan militer mulai merosot.

Tahap Positif atau Ilmiah

Di tingkat ini fikiran manusia tidak lagi mencari id-ide absolute, yang asli dan yang mentakdirkan alam semesta dan yang menjadi penyebab fenomena tetapi mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena artinya menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah-ubah dan kesamaannya. Nalar dan pengamatan menjadi alat utama dalam berpikir. Tata masyarakat yang akhirnya akan lahir dari berpikir ini akan menjadi suatu keadaan ideal dimana faktor-faktor materiil, pikiran dan moral akan digabungkan dengan tepat untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

Ditingkat positif agama dan kemunusiaan akan muncul, sosiolog akan menjadi pendeta agama baru dan akan membingbing manusia dalam kehidupan yang harmonis.

Kemajuan terjadi melalui penggunaan nalar dalam tingkat positif dari sejarah.

Menurut Comte tiga faktor yang menyebabkan manusia ingin maju yaitu:

1. Tingkat kebosanan

2. Lamanya umur manusia

3. Faktor demografi (pertambahan jumlah penduduk, tingkat kepadatan, mobilitas penduduk).

Perkembangan masyarakat menurut Herbert Spencer

Dalam pandangannya perkembangan masyarakat dianalogikan dengan perubahan masyarakat homogen ke masyarakat heterogen seperti masyarakat primitive dan masyarakat modern. Suku-suku primitive serupa dalam seluruh bagian-bagiannya tetapi masyarakat modern semua struktur dan fungsinya tidaklah sama. Selanjutnya seriring dengan peningkatan heterogenitas meningkat pula hubungannya.

Apa yang menggerakan mekanisme pertumbuhan ini? Dalam pandangan Spencer mekanismenya adalah perjuangan mempertahankan hidup antara berbagai masyarakat. Kesekuruhan proses penggabungan dan penggabungan ulang, perubahan dari homogenitas ke heterogenitas mustahil tanpa terjadinya konflik antara suku-suku dan antara bangsa-bangsa. Karena kelompok yang menyerang dan yang bertahan memerlukan kerjasama yang selanjutnya akan menuju ke peradaban. Dengan mengakui kengerian yang dihasilkan dari konflik itu Spencer berpendapat bahwa bila umat manusia terlepas dari konflik maka dunia ini tentu masih tetap dihuni oleh manusia lemah yang hidup di gua-gua dan hidup dengan mengumpulkan makanan dari hutan dan sungai.

Sebaliknya begitu manusia keluar dari pertumpahan darah antara masyarakat yang suka berperang itu, maka konflik antara manusia tdk diperlukan lagi. Ini membawa pikiran kita pada dua tipe masyarakat yang dapat diklasifikasikan dalam yaitu masyarakat militant dan masyarakat industri yang merupakan tipe umum evolusi manusia. Tetapi kedua tipe ini tidak saling meniadakan dalam teori dan kenyataannya., kedua tipe ini saling bercampur baur. Namun kecenderungan evolusi adalah dari tipe militant ke tipe masyarakat industri..

Karakteristik masyarakat militant:

1. Diorganisasikan berdasarkan kerjasama yang diwajibkan

2. Masyarakat militant mempunyai kekuasaan sentral, kekuasaan mutlak terhadap prilaku individu

3. Individu dikuasai oleh Negara

4. Pemeliharaan masyarakat menjadi perhatian utama sementara pemeliharaan individu bisa menjadi perhatian nomor sekian.

5. rakyat memiliki jiwa patriotisme yang berlebih-lebihan

6. Kepatuhan terhada kekuasaan mereka anggap penting dan tak terelakkan.

Sementara Karakteristik Masyarakat Industri:

1. Kebebasan yang semakian berkembang

2. Kesetiaan semakin berkurang

3. Keyakianan kecil kepada penguasa/pemerintah

4. Patriotisme mulai memudar

5. Penghormatan terhadap individualitas orang lain semakin besar.

Jadi Spencer memiliki pandangan terhadap suatu masyarakat dimana control pemerintah minimal dan setiap orang mengejar kebahagiaan mereka sendiri secara relative bebas sama dengan pandangan Adam Smith, Herbert Spencer yakin bahwa tujuan akhir masyarakat adalah masyarakat bebas (laissez fair society)

Teori Evolusi Dalam Konteks Modernisasi

Satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi perubahan social pada hakekatnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju atau modern dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur yang serupa.

Dibangun dari premis seperti ini, para teoritisi modern secara implicit membangun kerangka teori dgn ciri-ciri sebagai berikut:

§ Modernisasi merupakan proses yang bertahap

§ Modernisasi dapat dikatakan sebagai homogenisasi sehingga masyarakat terbentuk dengan tendesi dan struktur yang serupa.

§ Modernisasi terkadang mewujudkan dirinya dalam bentuk lahirnya sebagai proses Erofanisasi atau Amerikanisasi

§ Moderinisasi merupakan proses yang tidak dapat mundur karena tidak bisa dihentikan

§ Modernisasi merupakan perubahan progresif artinya memang diinginkan dan diperlukan

§ Modernisasi memerlukan waktu yang panjang.

Advertisements


PERSPEKTIF SOSIOLOGI
November 25, 2008, 7:24 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PENGERTIAN

Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya.

Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu.

Dalam konteks sosiologi juga memiliki perspektif yang memandang proses sosial didasarkan pada sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang melingkupi proses sosial yang terjadi.

Dalam mengamati perubahan ekonomi, politik dan sosial, para teoritisi menggunakan berbagai label dan kategori teoritis yang berbeda untuk menggambarkan ciri-ciri dan struktur masyarakat lama yang telah runtuh dan tatanan masyarakat baru yang sedang terbentuk. Misalnya F. Tonnnies menggunakan istilah Gemeinschaft dan Gesellschaft, Emil Durkheim mengamati dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Herbet Spencer melihatnya dengan kategori masyarakat militer dan industri serta August Comte mengujinya dengan tiga tahap perkembangan yaitu tahap teologis, metafisik dan positif atau ilmiah.

Pada perkembangan selanjutnya terdapat empat perspektif dalam sosiologi yang akan dipaparkan dalam tulisan ini yaitu :

¨ Perspektif Struktural Fungsional

¨ Perpektif Konflik

¨ Perpektif Evolusi

¨ Perpektif Interaksi Simbolis

1. Perspektif Struktural Fungsional

Tokoh-tokoh perpektif ini yang dikenal luas antara lain: Talcot Parsons, Neil Smelser.

Ciri pokok perspektif ini adalah gagasan tentang kebutuhan masyarakat (societal needs). Masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat melangsungkan keberadaannya atau setidaknya berfungsi dengan baik. Ciri dasar kehidupan sosial struktur sosial muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan merespon terhadap permintaan masyarakat sebagai suatu sistem sosial. Asumsinya adalah ciri-ciri sosial yang ada memberi kontribusi yang penting dalam mempertahankan hidup dan kesejahteraan seluruh masyarakat atau subsistem utama dari masyarakat tersebut.

Pemahaman seperti ini dalam pandangan Talcot Parsons menghantarkan kita untuk memahami masyarakat manusia dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia.

a. Struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain.

b. Oleh karena setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas, demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat. Setiap lembaga dalam masyarakat melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan pertumbuhan masyarakat tersebut. Functional imperative menggambarkan empat tugas utama yang harus dilakukan agar masyarakat tidak mati yaitu :

¨ Adaptation to the environnment

Contoh lembaga ekonomi

¨ Goal attainment

Contoh pemerintah bertugas untuk mencapai tujuan umum

¨ Integration

Contoh : lembaga hukum, dan lembaga agama

¨ Latentcy

Contoh : keluarga dan lembaga pendidikan bertugas untuk usaha pemiliharaan.

Analogi dengan tubuh manusia mengakibatkan Parsons merumuskan konsep keseimbangan dinamis-stasioner, jika satu bagian tubuh manusia berubah maka bagian lain akan mengikutinya. Demikian juga dengan masyarakat, masyarakat selalu mengalami perubahan tetapi teratur. Perubahan sosial terjadi pada satu lembaga akan berakibat perubahan di lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru.

Berikutnya Parsons merumuskan konsep faktor kebakuan dan pengukur (pattern variables) untuk menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Faktor kebakuan dan pengukur ini menjadi alat utama untuk memahami hubungan sosial yang berlangsung berulang dan terwujud dalam sistem kebudayaan. Faktor tersebut adalah :

¨ Affective vs Effective-Neutral

Masyarakat tradisional cenderung memiliki hubungan yang

pribadi dan emosional, sedangkan masyarakat modern memiliki

hubungan kenetralan yaitu hubungan kerja yang tidak langsung

dan menjaga jarak.

¨ Particularistic vs Universalistic

Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat dari kelompok lain sehingga ada rasa untuk memikul tanggungjawab bersama. Masyarakat modern berhubungan satu sama lain dengan batas norma-norma universal yang pribadi

¨ Collective vs Self Orientation

Masyarakat tradisional biasanya memiliki kewajiban-kewajiban

kekeluargaan, komunitas dan kesukuan. Masyarakat modern

lebih bersifat individualistik

¨ Ascription vs Achievement

Masyarakat tradisional memandang penting status bawaan dan warisan, masyarakat modern tumbuh dalam persaingan yang ketat dan dinilai melalui prestasi

¨ Functional Difused vs Functionally Specific

Masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi kelembagaan secara jelas. Masyarakat modern sudah jelas merumuskan tugas kelembagaannya.

Dari sejumlah asumsi dasar tersebut maka secara esensial pendekatan ini mengkaji kehidupan sosial manusia sebagai berikut :

Ê Masyarakat merupakan sistem yaang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan tergantung satu sama lain, serta setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya.

Ê Setiap bagian dari suatu masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi dalam memelihara eksistensi dan stablitas masyarakat secara keseluruhan.

Ê Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya yaitu mekanisme yang dapat merekatkanya menjadi satu. Mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaann dan nilai yang sama.

Ê Masyarakat cenderung mengarah pada suatu keseimbangan (equilibrium) dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian pada bagian lain agar tercipta harmoni atau stabilitas.

Ê Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

2. Perspektif Konflik

Manusia membuat sejarah; sejarah yang kita buat selalu terjadi dalam suasana interaksi dengan orang lain. Manusia adalah mahluk sosial yang keberadaannya diciptakan dalam acuan interaksi sosial. Karena itu beberapa pemikir melihat interaksi sosial sebagai mekanisme yang mengerakan perubahan, terutama menggerakan konflik. Beberapa tokoh seperti Ibnu Khaldun, Karl Marx, Vilfredo Pareto melihat jalannya sejarah didorong oleh konflik antar manusia.

Perhatian manusia terhadap konflik telah tercermin dalam literatur kuno. Max Weber menyatakan perang antar dewa di zaman kuno bukan hanya untuk melindungi kebenaran nilai-nilai kehidupan sehari-hari, tetapi juga keharusan memerangi dewa-dewa lain, sebagai komunitas mereka juga berperang dan dalam peperangan inipun mereka harus membuktikan kemahakuasaan mereka. Sebagai contoh dalam mitologi Yunani mengenal Ares dewa perang yang dibenci oleh dewa-dewa lain karena sifatnnya yang kejam, saudara perempuannya Eris adalah dewi percekcokan yang gemar bertengkar dan berperang. Rekannya dari Romawi adalah Mars dan Discardia.

Sejumlah pengamat politik dan sosial lain menekankan pentingnya konflik dalam kehidupan manusia; antara lain Polybius sejarawan Romawi, Khaldun, Machiavelli, Jean Bodin dan Thomas Hobbes

Konflik antar kepentingan diri sendiri dan kepentingan sosial meliputi karya Adam Smith, temuan Charles Darwin yang menyatakan bahwa “Yang kuatlah yang paling beruntung dalam perjuangan mempertahankan hidup.” Ide Darwin diterapkan pada tatanan sosial dalam ideologi sosial Darwinisme, yang mula-mula menerapkannya adalah Herbert Spencer dan WG Summer. Mereka menyatakan apa yang kemudian diakui sebagai landasan pembenaran ilmiah bagi taktik bisnis yang kejam dari kapten industri abad 19. Para kapten industri adalah anggota masyarakat yang terkuat dan orang yang kurang mampu yang tidak cakap harus menerima nasib mereka demi kesejahteraan masyarakat.

Jadi, evolusi sosial dibayangkan sejalan dengan evolusi biologis. Orang yang mampu bertahan hidup terbukti adalah orang yang terkuat. Di Amerika abad 19, kapten industri adalah mereka yanng terkuat, pemenang dari perjuangan keras untuk mempertahankan hidup dalam dunia bisnis.

Pandangan tersebut yang kemudian mendasari asumsi bahw evolusi sosial dan kultural sepenuhnya adalah hasil dari konflik antar kelompok.

Perang antar kelompok dapat disamakan dengan perjuangan untuk mempertahankan hidup dan yang terkuatlah yang menang dalam kehidupan sosial. Kebencian yang besar dan yang melekat antar kelompok, antar ras dan antar orang yang berbeda menyebabkan konflik tak terelakan.

Penaklukan dan pemuasan kebutuhan melalui pemerasan tenaga kerja dan ditaklukan merupakan tema besar sejarah manusia.

Vilfredo Pareto melukiskan sejarah sebagai perjuangan memperebutkan kekuasaan yang tak berkesudahan, kelompok dominan berusaha memelihara dan mempertahankan kedudukannya; kekuatan adalah faktor terpenting dalam mempertahankan stabilitas, kekerasan mungkin diperlukan untuk memulihkan keseimbangan sosial jika keseimbangan itu terganggu. Kekerasan tidak memerlukan pembenaran moral, karena kekerasan mempunyai kualitas pembaharuan membebaskan manusia untuk mengikuti ketentuan tak rasional dari sifat bawaannya sendiri.

Albion Small dan Lester Ward menegaskan bahwa setiap jenis struktur apakah inorganik, organik atau sosial diciptakan oleh interaksi kekuatan-kekuatan yang bersifat antagonis. Interaksi demikian merupakan hukum universal dan hukum itu berarti bahwa struktur terus menerus berubah, mulai dari tingkat primordial yang sangat sederhana hingga ke tingkat kedua yang lebih rumpil.

Berbeda dengan pandangan Pareto, Ward tidak menghubungkan konflik antar kelompok dengan kebencian bawaan tetapi lebih disebabkan pelanggaran tak terelakkan oleh satu kelompok atas hak dan wilayah kelompok lain. Dari konflik antar kelompok ini munculah negara dan konflik antar negara memperbesar efisiensi sosial dan meningkatkan peradaban.

Menurut Dahrendorf, konflik sosial mempunyai sumber struktural yakni hubungan kekuasaan yang berlaku dalam struktur organisasi sosial, dengan kata lain konflik antar kelompok dapat dilihat dari sudut konflik tentang keabsahan hubungan kekuasaan yang ada.

Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perspektif ini memiliki proporsi sebagai berikut :

Ê Setiap masyarakat dalam segala hal tunduk pada proses perubahan; perubahan sosial terjadi dimana saja.

Ê Setiap masyarakat dalam segala hal memperlihatkan ketidaksesuaian dan konflik; konflik sosial terdapat dimana saja.

Ê Setiap unsur dalam masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan perubahannya

Ê Setiap masyarakat berdasarkan atas penggunaan kekerasan oleh sebagian anggotanya terhadap anggota yang lain.



ANOMI: KRISIS BANGSA YANG TAK KUNJUNG SELESAI OLEH: AGUS SETIAMAN
November 25, 2008, 7:16 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

Pendahuluan

Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’ii Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai Mr. Clean menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cukup bagus, Mar’ii yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai mentri mari berhemat mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia miliki bisa menjamin.

Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (rush) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.

Permasalahan yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.

Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.

Lama sangat lama bangsa kita berada dalam keterpurukan, terhimpit dalam keadaan yang serba tidak jelas, berkubang dalam lobang ketidakpastian. Penantian yang panjang, sangat panjang kita mendambakan keadaan yang serba berkecukupan, cita-cita gemah ripah loh jinawi sepertinya tetap menggantung diatas langit tanpa sedikitpun kita bisa mendekapnya.

Konflik baik horizontal maupun vertikal dapat kita baca dari suguhan media massa setiap hari, dengan kasat mata kita menyaksikan parade amuk massa ditayangkan media massa, entah kasus pedagang kaki lima yang melawan aparat Trantib sampai dengan perang antar warga kampung karena alasan yang sepele. Negeri ini seperti negeri preman yang seolah-olah daerah itu di kavling-kavling sesuai dengan kekuasaannya, persis seperti ungkapan sesama preman jangan saling ganggu. Apakah negeri subur ini sedang mengalami anomi?

Konsep Anomi

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi industri yang terjadi di Perancis waktu itu. Seperti yang kita pahami bahwa salah satu dampak revolusi industri adalah pada kemampuan dalam mengendalikan peralatan teknologi yang relatif kompleks tidak seperti pada era pertanian teknologi yang dipergunakan masih sederhana, dengan kata lain pada era industri masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi sehingga keahlian tertentu menjadi modal dasar untuk bekerja di dunia industri.

Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis pada abad 19, tekanan berat yang dialami seorang individu karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut anomi suicide

Sementara Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.

Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya. Dengan kata lain, Anomi terjadi bila struktur budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku. Pada dasarnya struktur budaya yang hidup bersifat umum seperti nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan disisi lain warga masyarakat cerminan pola prilakunya ditentukan oleh struktur sosialnya sehingga andaikan ia seorang pejabat negara maka seyogyanya memberi tauladan bagi warganya, bila di seorang penegak hukum maka ia adalah penjaga gerbang keadilan, dan kalau ia guru atau dosen maka ia adalah pengawal nilai-nilai moralitas. Anomi terjadi ketika warga masyarakat mengakui bahwa hukum itu ada tapi hukum tidak memberikan rasa keadilan yang didambakan. Warga masyarakat memahami bahwa proses hukum tidak bisa menjanjikan kepastian, hukum hanya ada dalam kitab undang-undang mereka mencari dan menyelesaikan hukum sendiri-sendiri sesuai dengan kamus dan kepentingan sendiri-sendiri.

GEJALA ANOMI TERJADIKAH DALAM MASYARAKAT KITA?

Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.

Berbagai krisis yang menerpa bangsa ini antara lain :

1) Krisis ekonomi dan keuangan

2) Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan

3) Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku

4) Penyelesaian politik

5) Krisis kepemimpinan nasional dan lokal

6) Krisis moral

Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur serta kesan sebagian masyarakat pemimpin nasional yang seringkali ragu dalam mengambil keputusan. Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu mismanagemen negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu sebagai warisan generasi Bapak-Bapak kita terdahulu (Akankah warisan mismanagemen negara ini juga diberikan pada generasi kita? Maukah kita?)

Kalau di Perancis tumbuh anomi suicide yakni individu yang merasa tidak bisa mengikuti perubahan sosial yang sedang berlangsung cenderung menyendiri dan merasa tidak berharga yang akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri maka yang terjadi di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda (entah guilt culture atau shame culture?) seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung menyakiti atau membunuh orang lain atau anomie homicide. Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang. Hanya karena tersinggung karena anggota kelompoknya dipalak oleh anggota kelompok lain maka cukup alasan untuk menyerang kelompok lain. Karena jagoannya kalah dalam pemilihan kepala daerah sudah lengkap alasan untuk kemudian bertindak murka.

Kondisi anomi di Indonesia menampakan karakter khas dengan munculnya kelompok-kelompok sosial dimana dalam kelompok ini tumbuh solidaritas yang tinggi, kondisi ini seringkali memunculkan solidaritas kelompok sehingga ketika anggota kelompoknya disakiti mereka membentuk solidaritas untuk menyakiti kembali. Hemat penulis tumbuhnya kelompok-kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari proses politik yang terjadi pada orde reformasi ini, diakui atau tidak pergantian orde baru ke orde reformasi melalui proses politik dan secara teoritis semua proses politik pada dasarnya adalah pembentukan kelompok, semakin tinggi solidaritas kelompok maka semakin baik pula proses politik yang dilakukan.

Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.

SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE

Þ KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH

Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan baik krisis ekonomi, politik, sosial.

Þ KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN

Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.

Þ PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.

Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.

Þ ANOMIE INDIVIDU

Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.

MODAL SOSIAL

Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.

Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.

Terdapat sepuluh modal sosial yaitu :

1. Tanggungjawab

Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.

2. Kepercayaan

Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

3. Kerjasama

Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.

4. Kemandirian

Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.

5. Kebersamaan

Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

6. Keterbukaan

Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.

7. Keterusterangan

Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.

8. Empati

Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.

9. Solidaritas

Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.

10. Toleransi

Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.

BUKU RUJUKAN

Johnson Paul Doyle, (terjemahan Robert MZ Lawang), 2000, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Gramedia, Jakarta.

Kazhim Musa (editor), 1998, Menuju Indonesia Baru, Menggagas Reformasi Total, Pustaka Hidayah, Bandung.

Philipus, Nurul Aini, 2004, Sosiologi dan Politik, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Ritzer George, Goodman J Douglas, 2004, Modern Socioloical Theory. 6th edition, McGrow Hill, USA

Rush Michael, Althoff Phillip, 2006, Pengantar Sosiologi Politik, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Soekanto, Soerjono, 2004, Sosiologi suatu Pengantar, Rajawali Press, Jakarta.

…………………………, 1999, Sosiologi Kelompok, Rajawali Press, Jakarta

Soesanto Astrid S, 1990, Sosiologi dan Perubahan Sosial, Rajawali Press, Jakarta.



PERUBAHAN SOSIAL
November 25, 2008, 7:13 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

Kehidupan didunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan

Ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus

Kedalam masa depan yang suram, diledakan oleh konflik,

Menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari

Bentuk kehidupan yang lebih berarti.(T.S. ELIOT)

PENDAHULUAN

Seperti yang diungkapkan oleh TS Eliot, saat ini kita memerlukan pemahaman tentang perubahan sosial . Pandangan para pemikir masa lalu bermanfaat dan dapat dijadikan landasan, baik untuk memahami dunia sekarang maupun untuk menyusun perspektif baru masa yang akan datang. Namun demikian beberapa tulisan masa lalu cenderung mengkaburkan arti perubahan sosial itu sendiri, dan dilandasi asumsi-asumsi yang terbukti keliru. Teori-teori masa lalu dibangun berdasarkan asumsi-asumsi di atas mitos tentang perubahan. Mitos-mitos ini merintangi dan menghalangi kita dalam menyusun perspektif baru tentang perubahan sosial.

ARTI PERUBAHAN

Kebanyakan difinisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert Moore mendefiniskan perubahan sebagai perubahan penting dari struktur sosial. Struktur sosial disini diartikan pola-pola prilaku dan interaksi sosial. Moore memasukan kedalam definisi perubahan sosial berbagai ekspresi mengenai struktur norma, nilai, dan fenomena kultural, jelaslah definisi demikian serba mencakup.

Definisi lain tentang perubahan sosial menyatakan sebagai variasi atau modifikasi dalam setiap aspek proses sosial, pola sosial, dan bentuk-bentuk sosial, dan setiap modifikasi pola antar hubungan yang mapan dan standar prilaku.

Dari definisi yang dikemukakan para ahli dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang serba mencakup, yang menunjuk pada perubahan fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individual hingga tingkat dunia.

Perubahan sikap sama pentingnya dan sama logisnya dengan perubahan institusional, yang perlu diperhatikan adalah perubahan penting pada tingkat tertentu tapi tidak harus penting pada tingkat yang lain.

Perubahan sikap mungkin mencerminkan perubahan hubungan antar individu, antar organisasi atau antar instansi, tetapi mungkin pula tidak.

MITOS TENTANG PERUBAHAN

1.Mitos Penyimpangan

Sejumlah besar pemikiran sosiologis membayangkan perubahan sosial dalam arti sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Artinya keadaan normal peristiwa dalam masyarakat adalah terus menerus, institusi atau nilai-nilai atau pola-pola kebudayaan dibayangkan stabil sepanjang waktu. Sebagai contoh Auguste Comte miskipun mengakui peranan manusia dalam kemajuan sosial, ia menurunkan peranan tersebut kepada salah satu alat perombak intelektual. Utopia yang menurut Comte adalah salah satu bentuk masyarakat ilmiah, akan muncul jika orang berpikir ilmiah. Peranan sosiolog adalah menggiring masyarakat untuk berpikir ilmiah.

Perspektif yang dominan dalam dekade belakangan ini adalah perpektif Stuktural Fungsional yang memusatkan perhatian dan dukungannya pada tatanan sosial yang ditandai stabilitas dan integrasi, pemusatan perhatian pada stabilitas ini (akibatnya mengabaikan perubahan) dengan asumsi bahwa analisis statis dapat dilakukan tanpa mempersoalkan perubahan, dan untuk memahami perubahan sosial, terlebih dahulu diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat dalam keadaan statis. Perspektif ini memusatkan perhatian pada struktur ketimbang proses, sekalipun menganalisis proses sosial analisisnya dalam batas-batas struktural yang sempit.

Sifat terus menerus dan teratur telah dipandang sebagai keadaan normal dari peristiwa; dan perubahan telah dipandang sebagai sejenis penyimpangan sosial.

Dengan demikian, akan lebih realitis dan bermanfaat melihat perubahan sebagai melekat di dalam sifat sesuatu termasuk melekat didalam kehidupan sosial, Apakah kita berbicara dalam alam fisik, sejarah manusia, atau intelek manusia, akan kita temukan tak ada yang tetap seperti apa, dimana, dan keadaan semula, melainkan segala sesuatu bergerak, berubah, terjadi dan berubah keadaannya.

Realitas tidak statis seperti yang diamati filsuf Yunani Heraclitus semua mahluk senantiasa mengalir, terus-menerus berubah, terus-menerus tercipta dan lenyap.

Adanya perubahan dimana-mana, barangkali akan mudah diterima oleh masyarakat modern, maupun masyarakat tradisional atau masyarakat kuno. Mengenai masyarakat kuno dapat diambil masyarakat Cina sebagai contoh. Dalam pandangan Hegelian masyarakat Cina telah melampaui tingkat kemandegan struktur sosial, tak dapat lagi dipertahankan. Jelas bahwa sejarah Cina mengalami pergolakan, perubahan tiba-tiba dan perubahan bertahap. Misalnya di zaman yang disebut zaman revolusi, Cina sangat berubah bersama dengan masyarakat besar lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa perubahan adalah wajar atau normal dan perubahan terjadi dimana-mana. Karena itu permasalahan perubahan sosial lebih merupakan masalah tingkat perubahan itu sendiri dibanding masalah ada atau tidaknya perubahan. Yang perlu diteliti adalah pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa masyarakat tertentu dan pada waktu tertentu menunjukan perubahan yang luar biasa cepatnya atau luar biasa lambatnya; faktor apa yang mempengaruhinya dan bagaimana pengaruhnya. Apakah ada tingkat perubahan optimal umat manusia.

2. Mitos tentang trauma

Pemikiran yang menyatakan perubahan adalah abnormal sering dihubungkan dengan pemikiran yang menyatakan bahwa perubahan adalah traumatis. Perubahan dipandang sebagai siksaan, krisis, dan agen asing yang tak terkendali.

Spicer memberikan pandangan mengapa orang trauma dalam menghadapi perubahan penyebabnya adalah :

a. Perubahan itu dibayangkan dapat mengancam keamanan dasar.

b. Perubahan itu tidak dipahami masyarakat.

c. Perubahan itu terlalu dipaksakan.

Perubahan bukanlah rintangan yang tak terelakan, kadang-kadang diwaktu lain orang membuat perubahan, perubahan berkaitan dengan ketegangan yang dialami oleh individu atau masyarakat. Perubahan yang cepat dapat menimbulkan ketegangan yang luar biasa, Kenneth Kenison seorang ahli psikologi berpendapat inovasi yang tidak henti-hentinya menandai kehidupan orang Amerika merupakan bagian dari sumber ketegangan terdalam didalam kehidupan bangsa Amerika. Alvin Toffler telah menciptakan ungkapan goncangan masa depan (future shock) Riset yang dilakukan Vinohur dan Selzer menemukan bahwa terdapat korelasi antara tingkat perubahan yang dibayangkan dengan tingkat kegelisahan yang dialami, semakin besar tingkat perubahan yang dibayangkan semakin tinggi tingkat kegelisahan yang dialami oleh individu atau masyarakat itu sendiri.

Studi lain disimpulkan oleh Strabuch, bahwa anggota organisasi akan menjadi tidak bahagia jika berada dalam lingkungan yang terlalu stabil maupun dalam lingkungan yang terlalu berubah-ubah.

3.Mitos perubahan satu arah dan Pandangan Utopia

Auguste Comte dalam teori evolusi sosialnya menyatakan bahwa semua masyarakat menuju pada tujuan yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula untuk mencapai tujuan tersebut. Teori ini melukiskan urutan perkembangan masyarakat pada urutan yang tak terelakan, yang menjurus ke arah tujuan yang telah ditakdirkan sebelumnya.

Teori ini beranggapan masyarakat yang menerima teknologi Barat, tak terelakan akan meniru pula masyarakat Barat yang mengirim teknologi itu.

Dalam pandangan Utopia berasumsi bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertingginya dalam prestasi manusia. Karena itu, penyelesaian masalah dunia adalah terletak pada usaha membantu negara-negara berkembang memodernisasikan dirinya secepat dan sebaik mungkin sehingga serupa dengan Barat, dengan demikian negara-negara berkembang akan segera menikmati perdamaian dan kesejahteraan.

Pandangan ini banyak ditentang oleh sejumlah bukti penting, diantaranya :Antitesis antara tradisional dengan modern adalah keliru.

Dalam studinya di Cantel , Guetemala, Nash menemukan sejumlah besar kehidupan tradisional berlanjut bahkan tumbuh subur pada tingkat lebih tinggi di dalam proses industrialisasi.

Peranan struktur kekeluargaan terhadap urbanisasi dan modernisasi memberikan contoh yang baik tentang bagaimana tradisi Jepang telah membantu perubahan. Urbanisasi di Jepang berlangsung menurut cara yang lebih teratur dibanding dengan yang terjadi di Eropa maupun Amerika, dan sedikit banyak ditentukan atau dikendalikan oleh organisasi keluarga. Secara khas seorang anak laki-laki akan tetap tinggal di desa dan mewarisi kekayaan keluarganya, sementara anak yang lain pergi ke kota dan mencari kerja.

Karena itu, tak ada konflik yang melekat antara aspek tradional dan aspek modern, jadi tak ada alasan untuk menyatakan bahwa semakin modern suatu bangsa semakin perlu melepaskan tradisinya.

Beberapa faktor yang sering dihubungkan dengan pengalaman di Barat, mungkin berkorelasi negatif dengan apa yang terjadi di negara-negara berkembang. Pada tingkat perkembangan tertentu faktor-faktor seperti kemampuan baca tulis, pertumbuhan media massa, pendidikan formal, dan urbanisasi mungkin berkorelasi negatif dengan pertumbuhan terus-menerus. Pemerintah negara berkembang mengalami situasi yang rumit berhadapan dengan keinginan melaksanakan pembangunan pendidikan berskala luas, yang secara politis penting tetapi disisi lain secara ekonomi tak mungkin dilaksanakan karena akan mengganggu akumulasi kapital yang diperlukan guna membangun ekonomi.

PENUTUP

Sosiologi sebagai ilmu tentang tatanan sosial dan perubahan sosial lahir di tengah pergolakan abad 19. Auguste Comte sebagai Bapak Sosiologi , menjadi bapak yang tidak hanya menjelaskan basis aktif struktur masyarakat tetapi juga rangkaian perkembangan manusia.

Perspektif baru tentang perubahan sosial berasumsi bahwa perubahan adalah normal, wajar; bahwa pada dasarnya perubahan tidak mengandung trauma, bahwa perubahan yang beraneka ragam terbuka bagi setiap masyarakat.



ANOMI DI INDONESIA
November 25, 2008, 7:07 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Monotype Sorts”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:Symbol; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:-2; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:0; mso-level-text:*; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:0cm; text-indent:0cm; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1 {mso-list-id:425460756; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:853938808 -1882680418 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:1133791754; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1701837446;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:”Monotype Sorts”;} @list l3 {mso-list-id:1509127564; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1597085692;} @list l3:level1 {mso-level-start-at:10; mso-level-text:”%1\. “; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-ansi-font-weight:normal; mso-ansi-font-style:normal; text-decoration:none; text-underline:none;} @list l0:level1 lfo2 {mso-level-start-at:1; mso-level-number-format:bullet; mso-level-numbering:continue; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

  1. Pendahuluan

Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’I Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai Mr. Clean menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cukuo bagus, Mar’i yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai mentri mari berhemat mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia miliki bisa menjamin.

Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (rush) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.

Permasalah yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.

Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi industri yang terjadi di Perancis waktu itu.

Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis pada abad 19, tekanan berat yang dialami seorang individu karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut anomi suicide

Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.

Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya.

Dengan kata lain, Anomi terjadi bila struktur budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku.

GEJALA ANOMI YANG TERJADI DI INDONESIA

Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.

Permasalahan yang dihadapi bangsa ini antara lain :

ò Krisis ekonomi

ò Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan

ò Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku

ò Penyelesaian politik

ò Krisis kepemimpinan nasional

ò Krisis moral

Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur . Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu mismanagemen negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu.

Kalau di Perancis tumbuh anomi suicide di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda (entah guilt culture atau shame culture ?) seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung menyakiti atau membunuh orang lain atau anomie homicide. Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang.

Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.

SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE

Þ KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH

Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan baik krisis ekonomi, politik, sosial.

Þ KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN

Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.

Þ PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.

Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.

Þ ANOMIE INDIVIDU

Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.

MODAL SOSIAL

Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.

Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.

Terdapat sepuluh modal sosial yaitu :

1. Tanggungjawab

Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.

2. Kepercayaan

Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

3. Kerjasama

Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.

4. Kemandirian

Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.

5. Kebersamaan

Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

6. Keterbukaan

Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.

7. Keterusterangan

Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.

8. Empati

Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.

9. Solidaritas

Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.

10. Toleransi

Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.