Agus Setiaman


PERSPEKTIF EVOLUSI
November 25, 2008, 7:39 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PENDAHULUAN

Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan –salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara dua kota itu. Kota yang satu menderita gangguan setan dan yang satunya lagi mendapat rahmat tuhan. Kedua kota itu mempunyai keyakinan, harapan dan cinta yang berbeda..

Di dunia modern ide kemajuan menjadi tema dominant dan di abad ini saja kemajuan itu muncul dalam pikiran manusia. Teoritisi perkembangan percaya bahwa pada dasarnya evolusi manusia dan masyarakat itu berjalan lambat namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik.

Perkembangan masyarakat menurut August Comte

Comte (1798-1857) umumnya telah dikenal sebagai Bapak Sosiologi sebagian karena ia menciptakan nama sosiologi, kalau dilihat karyanya Comte sebenarnya bukan penemu tetapi lebih sebagai orang yang mensistematiskan karya sosiologi. Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Aspek statis sosiologi serupa dengan apa yang kita sebut sekarang ini dengan struktur social, system social dan aspek dinamisnya mengacu pada perubahan social, kebudayaan.

Studi sosiologi dinamis mengkaji tentang urutan perkembangan manusia dan masyarakat dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Tugas sosiologi adalah menemukan hokum-hukum yang menentukan urutan-urutan perkembangan itu. Penemuan hokum-hukum itu selanjutnya akan menyediakan basis rasional bagi memudahkan kemajuan umat manusia.

Dalam menemukan hokum-hukum rentetan sejarah perkembangan manusia dan masyarakat sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya yaitu: tingkat teologis atau khayalan, tingkat metafisik atau abstrak, tingkat ilmiah atau positif.

Ketiga tibgkat itu Comte menyebutnya sebagai hokum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan.

Tahap Teologis

Pada tingkat ini fikiran berfungsi mengira semua fenomena diciptakan oleh zat adikodrati.

Comte membagi lagi tahap ini menjadi tifa tingkat yaitu:

1. Kepercayaan terhadap kekuatan jimat ( fetishisme)

Kepercayaan terhadap jimat menandai awal teologis umat manusia. Di tingkat ini manusia membayangkan semua benda yang ada di alam ini dihidupkan oleh kekuatan yang sama yang menghidupkan dirinya. Pada tingkat ini kekuasaan mulai muncul ( kekuasaan ketua suku, dukun, dll). Prilaku lebih banyak didasarkan pada kepasrahan dan kepura-puraan disbanding dengan pertimbangan akal. Mulai ada usaha menaklukan alam. Kehidupan keluarga mulai muncul.

2. Kepercayaan terhadap banyak dewa (polyteisme)

Pada periode ini mumcul kehidupan kota, pemilikan tanah menjadi institusi social, muncul system kasta dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng

3. Kepercayaan terhadap keesaan Tuhan (monotheisme)

Tahap ini mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja gagal memberikan basis yang langgeng bagi kehidupan social. mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan Negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat local kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.

Tahap Metafisik atau Abstrak

Tingkat ini merupakan modifikasi dari tingkat pertama yang mengasumsikan fikiran bukan ciptaan adikodrati tetapi ciptaan kekuasaan abstrak, sesuatu yang benar-benar dianggap ada, yang melekat dalam diri seluruh manusia dan mampu menciptakan semua fenomena..

Seiring dengan perkembangan pemikiran dalam tahap ini maka kekuasaan gereja dan militer mulai merosot.

Tahap Positif atau Ilmiah

Di tingkat ini fikiran manusia tidak lagi mencari id-ide absolute, yang asli dan yang mentakdirkan alam semesta dan yang menjadi penyebab fenomena tetapi mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena artinya menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah-ubah dan kesamaannya. Nalar dan pengamatan menjadi alat utama dalam berpikir. Tata masyarakat yang akhirnya akan lahir dari berpikir ini akan menjadi suatu keadaan ideal dimana faktor-faktor materiil, pikiran dan moral akan digabungkan dengan tepat untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

Ditingkat positif agama dan kemunusiaan akan muncul, sosiolog akan menjadi pendeta agama baru dan akan membingbing manusia dalam kehidupan yang harmonis.

Kemajuan terjadi melalui penggunaan nalar dalam tingkat positif dari sejarah.

Menurut Comte tiga faktor yang menyebabkan manusia ingin maju yaitu:

1. Tingkat kebosanan

2. Lamanya umur manusia

3. Faktor demografi (pertambahan jumlah penduduk, tingkat kepadatan, mobilitas penduduk).

Perkembangan masyarakat menurut Herbert Spencer

Dalam pandangannya perkembangan masyarakat dianalogikan dengan perubahan masyarakat homogen ke masyarakat heterogen seperti masyarakat primitive dan masyarakat modern. Suku-suku primitive serupa dalam seluruh bagian-bagiannya tetapi masyarakat modern semua struktur dan fungsinya tidaklah sama. Selanjutnya seriring dengan peningkatan heterogenitas meningkat pula hubungannya.

Apa yang menggerakan mekanisme pertumbuhan ini? Dalam pandangan Spencer mekanismenya adalah perjuangan mempertahankan hidup antara berbagai masyarakat. Kesekuruhan proses penggabungan dan penggabungan ulang, perubahan dari homogenitas ke heterogenitas mustahil tanpa terjadinya konflik antara suku-suku dan antara bangsa-bangsa. Karena kelompok yang menyerang dan yang bertahan memerlukan kerjasama yang selanjutnya akan menuju ke peradaban. Dengan mengakui kengerian yang dihasilkan dari konflik itu Spencer berpendapat bahwa bila umat manusia terlepas dari konflik maka dunia ini tentu masih tetap dihuni oleh manusia lemah yang hidup di gua-gua dan hidup dengan mengumpulkan makanan dari hutan dan sungai.

Sebaliknya begitu manusia keluar dari pertumpahan darah antara masyarakat yang suka berperang itu, maka konflik antara manusia tdk diperlukan lagi. Ini membawa pikiran kita pada dua tipe masyarakat yang dapat diklasifikasikan dalam yaitu masyarakat militant dan masyarakat industri yang merupakan tipe umum evolusi manusia. Tetapi kedua tipe ini tidak saling meniadakan dalam teori dan kenyataannya., kedua tipe ini saling bercampur baur. Namun kecenderungan evolusi adalah dari tipe militant ke tipe masyarakat industri..

Karakteristik masyarakat militant:

1. Diorganisasikan berdasarkan kerjasama yang diwajibkan

2. Masyarakat militant mempunyai kekuasaan sentral, kekuasaan mutlak terhadap prilaku individu

3. Individu dikuasai oleh Negara

4. Pemeliharaan masyarakat menjadi perhatian utama sementara pemeliharaan individu bisa menjadi perhatian nomor sekian.

5. rakyat memiliki jiwa patriotisme yang berlebih-lebihan

6. Kepatuhan terhada kekuasaan mereka anggap penting dan tak terelakkan.

Sementara Karakteristik Masyarakat Industri:

1. Kebebasan yang semakian berkembang

2. Kesetiaan semakin berkurang

3. Keyakianan kecil kepada penguasa/pemerintah

4. Patriotisme mulai memudar

5. Penghormatan terhadap individualitas orang lain semakin besar.

Jadi Spencer memiliki pandangan terhadap suatu masyarakat dimana control pemerintah minimal dan setiap orang mengejar kebahagiaan mereka sendiri secara relative bebas sama dengan pandangan Adam Smith, Herbert Spencer yakin bahwa tujuan akhir masyarakat adalah masyarakat bebas (laissez fair society)

Teori Evolusi Dalam Konteks Modernisasi

Satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi perubahan social pada hakekatnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju atau modern dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur yang serupa.

Dibangun dari premis seperti ini, para teoritisi modern secara implicit membangun kerangka teori dgn ciri-ciri sebagai berikut:

§ Modernisasi merupakan proses yang bertahap

§ Modernisasi dapat dikatakan sebagai homogenisasi sehingga masyarakat terbentuk dengan tendesi dan struktur yang serupa.

§ Modernisasi terkadang mewujudkan dirinya dalam bentuk lahirnya sebagai proses Erofanisasi atau Amerikanisasi

§ Moderinisasi merupakan proses yang tidak dapat mundur karena tidak bisa dihentikan

§ Modernisasi merupakan perubahan progresif artinya memang diinginkan dan diperlukan

§ Modernisasi memerlukan waktu yang panjang.



PERSPEKTIF SOSIOLOGI
November 25, 2008, 7:24 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PENGERTIAN

Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya.

Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu.

Dalam konteks sosiologi juga memiliki perspektif yang memandang proses sosial didasarkan pada sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang melingkupi proses sosial yang terjadi.

Dalam mengamati perubahan ekonomi, politik dan sosial, para teoritisi menggunakan berbagai label dan kategori teoritis yang berbeda untuk menggambarkan ciri-ciri dan struktur masyarakat lama yang telah runtuh dan tatanan masyarakat baru yang sedang terbentuk. Misalnya F. Tonnnies menggunakan istilah Gemeinschaft dan Gesellschaft, Emil Durkheim mengamati dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Herbet Spencer melihatnya dengan kategori masyarakat militer dan industri serta August Comte mengujinya dengan tiga tahap perkembangan yaitu tahap teologis, metafisik dan positif atau ilmiah.

Pada perkembangan selanjutnya terdapat empat perspektif dalam sosiologi yang akan dipaparkan dalam tulisan ini yaitu :

¨ Perspektif Struktural Fungsional

¨ Perpektif Konflik

¨ Perpektif Evolusi

¨ Perpektif Interaksi Simbolis

1. Perspektif Struktural Fungsional

Tokoh-tokoh perpektif ini yang dikenal luas antara lain: Talcot Parsons, Neil Smelser.

Ciri pokok perspektif ini adalah gagasan tentang kebutuhan masyarakat (societal needs). Masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat melangsungkan keberadaannya atau setidaknya berfungsi dengan baik. Ciri dasar kehidupan sosial struktur sosial muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan merespon terhadap permintaan masyarakat sebagai suatu sistem sosial. Asumsinya adalah ciri-ciri sosial yang ada memberi kontribusi yang penting dalam mempertahankan hidup dan kesejahteraan seluruh masyarakat atau subsistem utama dari masyarakat tersebut.

Pemahaman seperti ini dalam pandangan Talcot Parsons menghantarkan kita untuk memahami masyarakat manusia dipelajari seperti mempelajari tubuh manusia.

a. Struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain.

b. Oleh karena setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas, demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat. Setiap lembaga dalam masyarakat melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan pertumbuhan masyarakat tersebut. Functional imperative menggambarkan empat tugas utama yang harus dilakukan agar masyarakat tidak mati yaitu :

¨ Adaptation to the environnment

Contoh lembaga ekonomi

¨ Goal attainment

Contoh pemerintah bertugas untuk mencapai tujuan umum

¨ Integration

Contoh : lembaga hukum, dan lembaga agama

¨ Latentcy

Contoh : keluarga dan lembaga pendidikan bertugas untuk usaha pemiliharaan.

Analogi dengan tubuh manusia mengakibatkan Parsons merumuskan konsep keseimbangan dinamis-stasioner, jika satu bagian tubuh manusia berubah maka bagian lain akan mengikutinya. Demikian juga dengan masyarakat, masyarakat selalu mengalami perubahan tetapi teratur. Perubahan sosial terjadi pada satu lembaga akan berakibat perubahan di lembaga lain untuk mencapai keseimbangan baru.

Berikutnya Parsons merumuskan konsep faktor kebakuan dan pengukur (pattern variables) untuk menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Faktor kebakuan dan pengukur ini menjadi alat utama untuk memahami hubungan sosial yang berlangsung berulang dan terwujud dalam sistem kebudayaan. Faktor tersebut adalah :

¨ Affective vs Effective-Neutral

Masyarakat tradisional cenderung memiliki hubungan yang

pribadi dan emosional, sedangkan masyarakat modern memiliki

hubungan kenetralan yaitu hubungan kerja yang tidak langsung

dan menjaga jarak.

¨ Particularistic vs Universalistic

Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat dari kelompok lain sehingga ada rasa untuk memikul tanggungjawab bersama. Masyarakat modern berhubungan satu sama lain dengan batas norma-norma universal yang pribadi

¨ Collective vs Self Orientation

Masyarakat tradisional biasanya memiliki kewajiban-kewajiban

kekeluargaan, komunitas dan kesukuan. Masyarakat modern

lebih bersifat individualistik

¨ Ascription vs Achievement

Masyarakat tradisional memandang penting status bawaan dan warisan, masyarakat modern tumbuh dalam persaingan yang ketat dan dinilai melalui prestasi

¨ Functional Difused vs Functionally Specific

Masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi kelembagaan secara jelas. Masyarakat modern sudah jelas merumuskan tugas kelembagaannya.

Dari sejumlah asumsi dasar tersebut maka secara esensial pendekatan ini mengkaji kehidupan sosial manusia sebagai berikut :

Ê Masyarakat merupakan sistem yaang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan tergantung satu sama lain, serta setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya.

Ê Setiap bagian dari suatu masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi dalam memelihara eksistensi dan stablitas masyarakat secara keseluruhan.

Ê Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya yaitu mekanisme yang dapat merekatkanya menjadi satu. Mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaann dan nilai yang sama.

Ê Masyarakat cenderung mengarah pada suatu keseimbangan (equilibrium) dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian pada bagian lain agar tercipta harmoni atau stabilitas.

Ê Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

2. Perspektif Konflik

Manusia membuat sejarah; sejarah yang kita buat selalu terjadi dalam suasana interaksi dengan orang lain. Manusia adalah mahluk sosial yang keberadaannya diciptakan dalam acuan interaksi sosial. Karena itu beberapa pemikir melihat interaksi sosial sebagai mekanisme yang mengerakan perubahan, terutama menggerakan konflik. Beberapa tokoh seperti Ibnu Khaldun, Karl Marx, Vilfredo Pareto melihat jalannya sejarah didorong oleh konflik antar manusia.

Perhatian manusia terhadap konflik telah tercermin dalam literatur kuno. Max Weber menyatakan perang antar dewa di zaman kuno bukan hanya untuk melindungi kebenaran nilai-nilai kehidupan sehari-hari, tetapi juga keharusan memerangi dewa-dewa lain, sebagai komunitas mereka juga berperang dan dalam peperangan inipun mereka harus membuktikan kemahakuasaan mereka. Sebagai contoh dalam mitologi Yunani mengenal Ares dewa perang yang dibenci oleh dewa-dewa lain karena sifatnnya yang kejam, saudara perempuannya Eris adalah dewi percekcokan yang gemar bertengkar dan berperang. Rekannya dari Romawi adalah Mars dan Discardia.

Sejumlah pengamat politik dan sosial lain menekankan pentingnya konflik dalam kehidupan manusia; antara lain Polybius sejarawan Romawi, Khaldun, Machiavelli, Jean Bodin dan Thomas Hobbes

Konflik antar kepentingan diri sendiri dan kepentingan sosial meliputi karya Adam Smith, temuan Charles Darwin yang menyatakan bahwa “Yang kuatlah yang paling beruntung dalam perjuangan mempertahankan hidup.” Ide Darwin diterapkan pada tatanan sosial dalam ideologi sosial Darwinisme, yang mula-mula menerapkannya adalah Herbert Spencer dan WG Summer. Mereka menyatakan apa yang kemudian diakui sebagai landasan pembenaran ilmiah bagi taktik bisnis yang kejam dari kapten industri abad 19. Para kapten industri adalah anggota masyarakat yang terkuat dan orang yang kurang mampu yang tidak cakap harus menerima nasib mereka demi kesejahteraan masyarakat.

Jadi, evolusi sosial dibayangkan sejalan dengan evolusi biologis. Orang yang mampu bertahan hidup terbukti adalah orang yang terkuat. Di Amerika abad 19, kapten industri adalah mereka yanng terkuat, pemenang dari perjuangan keras untuk mempertahankan hidup dalam dunia bisnis.

Pandangan tersebut yang kemudian mendasari asumsi bahw evolusi sosial dan kultural sepenuhnya adalah hasil dari konflik antar kelompok.

Perang antar kelompok dapat disamakan dengan perjuangan untuk mempertahankan hidup dan yang terkuatlah yang menang dalam kehidupan sosial. Kebencian yang besar dan yang melekat antar kelompok, antar ras dan antar orang yang berbeda menyebabkan konflik tak terelakan.

Penaklukan dan pemuasan kebutuhan melalui pemerasan tenaga kerja dan ditaklukan merupakan tema besar sejarah manusia.

Vilfredo Pareto melukiskan sejarah sebagai perjuangan memperebutkan kekuasaan yang tak berkesudahan, kelompok dominan berusaha memelihara dan mempertahankan kedudukannya; kekuatan adalah faktor terpenting dalam mempertahankan stabilitas, kekerasan mungkin diperlukan untuk memulihkan keseimbangan sosial jika keseimbangan itu terganggu. Kekerasan tidak memerlukan pembenaran moral, karena kekerasan mempunyai kualitas pembaharuan membebaskan manusia untuk mengikuti ketentuan tak rasional dari sifat bawaannya sendiri.

Albion Small dan Lester Ward menegaskan bahwa setiap jenis struktur apakah inorganik, organik atau sosial diciptakan oleh interaksi kekuatan-kekuatan yang bersifat antagonis. Interaksi demikian merupakan hukum universal dan hukum itu berarti bahwa struktur terus menerus berubah, mulai dari tingkat primordial yang sangat sederhana hingga ke tingkat kedua yang lebih rumpil.

Berbeda dengan pandangan Pareto, Ward tidak menghubungkan konflik antar kelompok dengan kebencian bawaan tetapi lebih disebabkan pelanggaran tak terelakkan oleh satu kelompok atas hak dan wilayah kelompok lain. Dari konflik antar kelompok ini munculah negara dan konflik antar negara memperbesar efisiensi sosial dan meningkatkan peradaban.

Menurut Dahrendorf, konflik sosial mempunyai sumber struktural yakni hubungan kekuasaan yang berlaku dalam struktur organisasi sosial, dengan kata lain konflik antar kelompok dapat dilihat dari sudut konflik tentang keabsahan hubungan kekuasaan yang ada.

Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perspektif ini memiliki proporsi sebagai berikut :

Ê Setiap masyarakat dalam segala hal tunduk pada proses perubahan; perubahan sosial terjadi dimana saja.

Ê Setiap masyarakat dalam segala hal memperlihatkan ketidaksesuaian dan konflik; konflik sosial terdapat dimana saja.

Ê Setiap unsur dalam masyarakat memberikan kontribusi terhadap perpecahan dan perubahannya

Ê Setiap masyarakat berdasarkan atas penggunaan kekerasan oleh sebagian anggotanya terhadap anggota yang lain.



ANOMI: KRISIS BANGSA YANG TAK KUNJUNG SELESAI OLEH: AGUS SETIAMAN
November 25, 2008, 7:16 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

Pendahuluan

Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’ii Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai Mr. Clean menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cukup bagus, Mar’ii yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai mentri mari berhemat mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia miliki bisa menjamin.

Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (rush) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.

Permasalahan yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.

Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.

Lama sangat lama bangsa kita berada dalam keterpurukan, terhimpit dalam keadaan yang serba tidak jelas, berkubang dalam lobang ketidakpastian. Penantian yang panjang, sangat panjang kita mendambakan keadaan yang serba berkecukupan, cita-cita gemah ripah loh jinawi sepertinya tetap menggantung diatas langit tanpa sedikitpun kita bisa mendekapnya.

Konflik baik horizontal maupun vertikal dapat kita baca dari suguhan media massa setiap hari, dengan kasat mata kita menyaksikan parade amuk massa ditayangkan media massa, entah kasus pedagang kaki lima yang melawan aparat Trantib sampai dengan perang antar warga kampung karena alasan yang sepele. Negeri ini seperti negeri preman yang seolah-olah daerah itu di kavling-kavling sesuai dengan kekuasaannya, persis seperti ungkapan sesama preman jangan saling ganggu. Apakah negeri subur ini sedang mengalami anomi?

Konsep Anomi

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi industri yang terjadi di Perancis waktu itu. Seperti yang kita pahami bahwa salah satu dampak revolusi industri adalah pada kemampuan dalam mengendalikan peralatan teknologi yang relatif kompleks tidak seperti pada era pertanian teknologi yang dipergunakan masih sederhana, dengan kata lain pada era industri masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi sehingga keahlian tertentu menjadi modal dasar untuk bekerja di dunia industri.

Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis pada abad 19, tekanan berat yang dialami seorang individu karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut anomi suicide

Sementara Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.

Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya. Dengan kata lain, Anomi terjadi bila struktur budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku. Pada dasarnya struktur budaya yang hidup bersifat umum seperti nilai-nilai keadilan, kejujuran, dan disisi lain warga masyarakat cerminan pola prilakunya ditentukan oleh struktur sosialnya sehingga andaikan ia seorang pejabat negara maka seyogyanya memberi tauladan bagi warganya, bila di seorang penegak hukum maka ia adalah penjaga gerbang keadilan, dan kalau ia guru atau dosen maka ia adalah pengawal nilai-nilai moralitas. Anomi terjadi ketika warga masyarakat mengakui bahwa hukum itu ada tapi hukum tidak memberikan rasa keadilan yang didambakan. Warga masyarakat memahami bahwa proses hukum tidak bisa menjanjikan kepastian, hukum hanya ada dalam kitab undang-undang mereka mencari dan menyelesaikan hukum sendiri-sendiri sesuai dengan kamus dan kepentingan sendiri-sendiri.

GEJALA ANOMI TERJADIKAH DALAM MASYARAKAT KITA?

Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.

Berbagai krisis yang menerpa bangsa ini antara lain :

1) Krisis ekonomi dan keuangan

2) Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan

3) Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku

4) Penyelesaian politik

5) Krisis kepemimpinan nasional dan lokal

6) Krisis moral

Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur serta kesan sebagian masyarakat pemimpin nasional yang seringkali ragu dalam mengambil keputusan. Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu mismanagemen negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu sebagai warisan generasi Bapak-Bapak kita terdahulu (Akankah warisan mismanagemen negara ini juga diberikan pada generasi kita? Maukah kita?)

Kalau di Perancis tumbuh anomi suicide yakni individu yang merasa tidak bisa mengikuti perubahan sosial yang sedang berlangsung cenderung menyendiri dan merasa tidak berharga yang akhirnya mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri maka yang terjadi di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda (entah guilt culture atau shame culture?) seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung menyakiti atau membunuh orang lain atau anomie homicide. Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang. Hanya karena tersinggung karena anggota kelompoknya dipalak oleh anggota kelompok lain maka cukup alasan untuk menyerang kelompok lain. Karena jagoannya kalah dalam pemilihan kepala daerah sudah lengkap alasan untuk kemudian bertindak murka.

Kondisi anomi di Indonesia menampakan karakter khas dengan munculnya kelompok-kelompok sosial dimana dalam kelompok ini tumbuh solidaritas yang tinggi, kondisi ini seringkali memunculkan solidaritas kelompok sehingga ketika anggota kelompoknya disakiti mereka membentuk solidaritas untuk menyakiti kembali. Hemat penulis tumbuhnya kelompok-kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari proses politik yang terjadi pada orde reformasi ini, diakui atau tidak pergantian orde baru ke orde reformasi melalui proses politik dan secara teoritis semua proses politik pada dasarnya adalah pembentukan kelompok, semakin tinggi solidaritas kelompok maka semakin baik pula proses politik yang dilakukan.

Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.

SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE

Þ KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH

Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan baik krisis ekonomi, politik, sosial.

Þ KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN

Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.

Þ PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.

Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.

Þ ANOMIE INDIVIDU

Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.

MODAL SOSIAL

Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.

Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.

Terdapat sepuluh modal sosial yaitu :

1. Tanggungjawab

Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.

2. Kepercayaan

Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

3. Kerjasama

Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.

4. Kemandirian

Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.

5. Kebersamaan

Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

6. Keterbukaan

Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.

7. Keterusterangan

Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.

8. Empati

Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.

9. Solidaritas

Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.

10. Toleransi

Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.

BUKU RUJUKAN

Johnson Paul Doyle, (terjemahan Robert MZ Lawang), 2000, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Gramedia, Jakarta.

Kazhim Musa (editor), 1998, Menuju Indonesia Baru, Menggagas Reformasi Total, Pustaka Hidayah, Bandung.

Philipus, Nurul Aini, 2004, Sosiologi dan Politik, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Ritzer George, Goodman J Douglas, 2004, Modern Socioloical Theory. 6th edition, McGrow Hill, USA

Rush Michael, Althoff Phillip, 2006, Pengantar Sosiologi Politik, RajaGrafindo Persada, Jakarta

Soekanto, Soerjono, 2004, Sosiologi suatu Pengantar, Rajawali Press, Jakarta.

…………………………, 1999, Sosiologi Kelompok, Rajawali Press, Jakarta

Soesanto Astrid S, 1990, Sosiologi dan Perubahan Sosial, Rajawali Press, Jakarta.



PERUBAHAN SOSIAL
November 25, 2008, 7:13 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

Kehidupan didunia ini mungkin akan berakhir dengan rengekan

Ketimbang jeritan. Dunia ini mungkin akan terjerumus

Kedalam masa depan yang suram, diledakan oleh konflik,

Menderita ketidakadilan, yang dengan nekad mencoba mencari

Bentuk kehidupan yang lebih berarti.(T.S. ELIOT)

PENDAHULUAN

Seperti yang diungkapkan oleh TS Eliot, saat ini kita memerlukan pemahaman tentang perubahan sosial . Pandangan para pemikir masa lalu bermanfaat dan dapat dijadikan landasan, baik untuk memahami dunia sekarang maupun untuk menyusun perspektif baru masa yang akan datang. Namun demikian beberapa tulisan masa lalu cenderung mengkaburkan arti perubahan sosial itu sendiri, dan dilandasi asumsi-asumsi yang terbukti keliru. Teori-teori masa lalu dibangun berdasarkan asumsi-asumsi di atas mitos tentang perubahan. Mitos-mitos ini merintangi dan menghalangi kita dalam menyusun perspektif baru tentang perubahan sosial.

ARTI PERUBAHAN

Kebanyakan difinisi membicarakan perubahan dalam arti yang sangat luas. Wilbert Moore mendefiniskan perubahan sebagai perubahan penting dari struktur sosial. Struktur sosial disini diartikan pola-pola prilaku dan interaksi sosial. Moore memasukan kedalam definisi perubahan sosial berbagai ekspresi mengenai struktur norma, nilai, dan fenomena kultural, jelaslah definisi demikian serba mencakup.

Definisi lain tentang perubahan sosial menyatakan sebagai variasi atau modifikasi dalam setiap aspek proses sosial, pola sosial, dan bentuk-bentuk sosial, dan setiap modifikasi pola antar hubungan yang mapan dan standar prilaku.

Dari definisi yang dikemukakan para ahli dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang serba mencakup, yang menunjuk pada perubahan fenomena sosial di berbagai tingkat kehidupan manusia, mulai dari tingkat individual hingga tingkat dunia.

Perubahan sikap sama pentingnya dan sama logisnya dengan perubahan institusional, yang perlu diperhatikan adalah perubahan penting pada tingkat tertentu tapi tidak harus penting pada tingkat yang lain.

Perubahan sikap mungkin mencerminkan perubahan hubungan antar individu, antar organisasi atau antar instansi, tetapi mungkin pula tidak.

MITOS TENTANG PERUBAHAN

1.Mitos Penyimpangan

Sejumlah besar pemikiran sosiologis membayangkan perubahan sosial dalam arti sebagai perkosaan terhadap keadaan normal. Artinya keadaan normal peristiwa dalam masyarakat adalah terus menerus, institusi atau nilai-nilai atau pola-pola kebudayaan dibayangkan stabil sepanjang waktu. Sebagai contoh Auguste Comte miskipun mengakui peranan manusia dalam kemajuan sosial, ia menurunkan peranan tersebut kepada salah satu alat perombak intelektual. Utopia yang menurut Comte adalah salah satu bentuk masyarakat ilmiah, akan muncul jika orang berpikir ilmiah. Peranan sosiolog adalah menggiring masyarakat untuk berpikir ilmiah.

Perspektif yang dominan dalam dekade belakangan ini adalah perpektif Stuktural Fungsional yang memusatkan perhatian dan dukungannya pada tatanan sosial yang ditandai stabilitas dan integrasi, pemusatan perhatian pada stabilitas ini (akibatnya mengabaikan perubahan) dengan asumsi bahwa analisis statis dapat dilakukan tanpa mempersoalkan perubahan, dan untuk memahami perubahan sosial, terlebih dahulu diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat dalam keadaan statis. Perspektif ini memusatkan perhatian pada struktur ketimbang proses, sekalipun menganalisis proses sosial analisisnya dalam batas-batas struktural yang sempit.

Sifat terus menerus dan teratur telah dipandang sebagai keadaan normal dari peristiwa; dan perubahan telah dipandang sebagai sejenis penyimpangan sosial.

Dengan demikian, akan lebih realitis dan bermanfaat melihat perubahan sebagai melekat di dalam sifat sesuatu termasuk melekat didalam kehidupan sosial, Apakah kita berbicara dalam alam fisik, sejarah manusia, atau intelek manusia, akan kita temukan tak ada yang tetap seperti apa, dimana, dan keadaan semula, melainkan segala sesuatu bergerak, berubah, terjadi dan berubah keadaannya.

Realitas tidak statis seperti yang diamati filsuf Yunani Heraclitus semua mahluk senantiasa mengalir, terus-menerus berubah, terus-menerus tercipta dan lenyap.

Adanya perubahan dimana-mana, barangkali akan mudah diterima oleh masyarakat modern, maupun masyarakat tradisional atau masyarakat kuno. Mengenai masyarakat kuno dapat diambil masyarakat Cina sebagai contoh. Dalam pandangan Hegelian masyarakat Cina telah melampaui tingkat kemandegan struktur sosial, tak dapat lagi dipertahankan. Jelas bahwa sejarah Cina mengalami pergolakan, perubahan tiba-tiba dan perubahan bertahap. Misalnya di zaman yang disebut zaman revolusi, Cina sangat berubah bersama dengan masyarakat besar lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa perubahan adalah wajar atau normal dan perubahan terjadi dimana-mana. Karena itu permasalahan perubahan sosial lebih merupakan masalah tingkat perubahan itu sendiri dibanding masalah ada atau tidaknya perubahan. Yang perlu diteliti adalah pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa masyarakat tertentu dan pada waktu tertentu menunjukan perubahan yang luar biasa cepatnya atau luar biasa lambatnya; faktor apa yang mempengaruhinya dan bagaimana pengaruhnya. Apakah ada tingkat perubahan optimal umat manusia.

2. Mitos tentang trauma

Pemikiran yang menyatakan perubahan adalah abnormal sering dihubungkan dengan pemikiran yang menyatakan bahwa perubahan adalah traumatis. Perubahan dipandang sebagai siksaan, krisis, dan agen asing yang tak terkendali.

Spicer memberikan pandangan mengapa orang trauma dalam menghadapi perubahan penyebabnya adalah :

a. Perubahan itu dibayangkan dapat mengancam keamanan dasar.

b. Perubahan itu tidak dipahami masyarakat.

c. Perubahan itu terlalu dipaksakan.

Perubahan bukanlah rintangan yang tak terelakan, kadang-kadang diwaktu lain orang membuat perubahan, perubahan berkaitan dengan ketegangan yang dialami oleh individu atau masyarakat. Perubahan yang cepat dapat menimbulkan ketegangan yang luar biasa, Kenneth Kenison seorang ahli psikologi berpendapat inovasi yang tidak henti-hentinya menandai kehidupan orang Amerika merupakan bagian dari sumber ketegangan terdalam didalam kehidupan bangsa Amerika. Alvin Toffler telah menciptakan ungkapan goncangan masa depan (future shock) Riset yang dilakukan Vinohur dan Selzer menemukan bahwa terdapat korelasi antara tingkat perubahan yang dibayangkan dengan tingkat kegelisahan yang dialami, semakin besar tingkat perubahan yang dibayangkan semakin tinggi tingkat kegelisahan yang dialami oleh individu atau masyarakat itu sendiri.

Studi lain disimpulkan oleh Strabuch, bahwa anggota organisasi akan menjadi tidak bahagia jika berada dalam lingkungan yang terlalu stabil maupun dalam lingkungan yang terlalu berubah-ubah.

3.Mitos perubahan satu arah dan Pandangan Utopia

Auguste Comte dalam teori evolusi sosialnya menyatakan bahwa semua masyarakat menuju pada tujuan yang seragam dan menempuh jalan yang seragam pula untuk mencapai tujuan tersebut. Teori ini melukiskan urutan perkembangan masyarakat pada urutan yang tak terelakan, yang menjurus ke arah tujuan yang telah ditakdirkan sebelumnya.

Teori ini beranggapan masyarakat yang menerima teknologi Barat, tak terelakan akan meniru pula masyarakat Barat yang mengirim teknologi itu.

Dalam pandangan Utopia berasumsi bahwa masyarakat industri modern mencerminkan wujud tertingginya dalam prestasi manusia. Karena itu, penyelesaian masalah dunia adalah terletak pada usaha membantu negara-negara berkembang memodernisasikan dirinya secepat dan sebaik mungkin sehingga serupa dengan Barat, dengan demikian negara-negara berkembang akan segera menikmati perdamaian dan kesejahteraan.

Pandangan ini banyak ditentang oleh sejumlah bukti penting, diantaranya :Antitesis antara tradisional dengan modern adalah keliru.

Dalam studinya di Cantel , Guetemala, Nash menemukan sejumlah besar kehidupan tradisional berlanjut bahkan tumbuh subur pada tingkat lebih tinggi di dalam proses industrialisasi.

Peranan struktur kekeluargaan terhadap urbanisasi dan modernisasi memberikan contoh yang baik tentang bagaimana tradisi Jepang telah membantu perubahan. Urbanisasi di Jepang berlangsung menurut cara yang lebih teratur dibanding dengan yang terjadi di Eropa maupun Amerika, dan sedikit banyak ditentukan atau dikendalikan oleh organisasi keluarga. Secara khas seorang anak laki-laki akan tetap tinggal di desa dan mewarisi kekayaan keluarganya, sementara anak yang lain pergi ke kota dan mencari kerja.

Karena itu, tak ada konflik yang melekat antara aspek tradional dan aspek modern, jadi tak ada alasan untuk menyatakan bahwa semakin modern suatu bangsa semakin perlu melepaskan tradisinya.

Beberapa faktor yang sering dihubungkan dengan pengalaman di Barat, mungkin berkorelasi negatif dengan apa yang terjadi di negara-negara berkembang. Pada tingkat perkembangan tertentu faktor-faktor seperti kemampuan baca tulis, pertumbuhan media massa, pendidikan formal, dan urbanisasi mungkin berkorelasi negatif dengan pertumbuhan terus-menerus. Pemerintah negara berkembang mengalami situasi yang rumit berhadapan dengan keinginan melaksanakan pembangunan pendidikan berskala luas, yang secara politis penting tetapi disisi lain secara ekonomi tak mungkin dilaksanakan karena akan mengganggu akumulasi kapital yang diperlukan guna membangun ekonomi.

PENUTUP

Sosiologi sebagai ilmu tentang tatanan sosial dan perubahan sosial lahir di tengah pergolakan abad 19. Auguste Comte sebagai Bapak Sosiologi , menjadi bapak yang tidak hanya menjelaskan basis aktif struktur masyarakat tetapi juga rangkaian perkembangan manusia.

Perspektif baru tentang perubahan sosial berasumsi bahwa perubahan adalah normal, wajar; bahwa pada dasarnya perubahan tidak mengandung trauma, bahwa perubahan yang beraneka ragam terbuka bagi setiap masyarakat.



ANOMI DI INDONESIA
November 25, 2008, 7:07 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Monotype Sorts”; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:Symbol; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:”Bookman Old Style”; panose-1:2 5 6 4 5 5 5 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:-2; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:0; mso-level-text:*; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:0cm; text-indent:0cm; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1 {mso-list-id:425460756; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:853938808 -1882680418 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l2 {mso-list-id:1133791754; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1701837446;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:”Monotype Sorts”;} @list l3 {mso-list-id:1509127564; mso-list-type:simple; mso-list-template-ids:-1597085692;} @list l3:level1 {mso-level-start-at:10; mso-level-text:”%1\. “; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-ansi-font-weight:normal; mso-ansi-font-style:normal; text-decoration:none; text-underline:none;} @list l0:level1 lfo2 {mso-level-start-at:1; mso-level-number-format:bullet; mso-level-numbering:continue; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; mso-level-legacy:yes; mso-level-legacy-indent:18.0pt; mso-level-legacy-space:0cm; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

  1. Pendahuluan

Di penghujung tahun 1997 krisis moneter menghantam negeri ini, jauh hari sebelum krisis menerjang negeri ini sebenarnya Bank Dunia pernah memberikan penghargaan pada Indonesia karena dinilai sebagai negri yang tingkat pertumbuhan ekonominya terbilang tinggi dan memiliki fundamen ekonomi yang kuat bahkan saat ekonomi kita oleng mentri keuangan waktu itu Mar’I Muhammad berkali-kali menegaskan bahwa fundamen ekonomi kita kuat, devisa yang kita miliki cukup memadai. Mar’i yang dikenal sebagai Mr. Clean menjelaskan pada wartawan bahwa basis ekonomi yang kita miliki sebenarnya cukuo bagus, Mar’i yang karena kebijakan uang ketatnya pernah mendapat olok-olokan sebagai mentri mari berhemat mencoba meyakinkan masyarakat luas bahwa cadangan devisi yang Indonesia miliki bisa menjamin.

Tapi sepertinya semua langkah yang coba dilakukan pejabat Negara untuk menghentikan penarikan besar-besaran uang dari bank baik bank pemerintah maupun bank swasta (rush) seolah-olah tak berarti apa-apa, inilah awal dari krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita. Krisis ekonomi merupakan awal dari krisis lain yang menerpa negeri ini, seolah menegaskan pada kita krisis ekonomi hanya fenomena gunung salju terbukti krisis lain mengiringi seperti krisis politik, krisis kepemimpinan, krisis moral, krisis kepercayaan, sehingga lengkaplah krisis yang terjadi di Indonesia yang kemudian dikenal sebagai krisis multi demensi.

Permasalah yang menjadi pertanyaan besar kita semua, mengapa krisis yang terjadi di negeri ini seolah-olah tidak mau beranjak, seberapa besar masalah yang melanda negeri ini sehingga krisis tidak juga kunjung selesai, apa yang menjadi kendala yang menjadikan krisis ini sepertinya tidak mampu diselesaikan.

Kepemimpinan nasional telah berganti mulai dari kepemimpinan yang ditunjuk oleh Mantan Penguasa Orde Baru, pemimpin yang dipilih oleh Para Petinggi Politik di Dewan Terhormat sampai dengan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat, pemimpin nasional yang memiliki kualifikasi sebagai teknokrat, ulama, ibu rumah tangga sampai dengan sarjana tetapi semuanya seolah belum (kalau tidak boleh dikatakan tidak berhasil) menunjukkan hasil seperti yang kita harapkan.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Emile Durkheim seorang sosiolog kebangsaan Perancis. Definisi anomi menurut Emile Durkheim adalah keterasingan yang dialami individu dari lingkungan masyarakatnya. Hal ini terjadi karena penjungkirbalikan status dan peran sosial sebagai akibat perubahan dan pembagian pekerjaan dalam masyarakat sebagai salah satu dampak dari revolusi industri yang terjadi di Perancis waktu itu.

Emile Durkheim menemukan gejala anomi pada masyarakat Perancis pada abad 19, tekanan berat yang dialami seorang individu karena runtuhnya norma-norma sosial yang selama ini dijadikan panutan atau pegangan hidupnya akibat perubahan sosial yang sangat mendasar telah menempatkan pada suatu keadaan anomi atau situasi yang sama sekali tidak dipahaminya. Keadaan semacam ini yang menurut Durkheim sebagai salah satu sebab seseorang melakukan bunuh diri atau yang disebut anomi suicide

Konsep anomi yang lain dikemukakan oleh Robert K Merton, berbeda dengan Emile Durkheim yang lebih menelaah gejala anomi dalam hubungan antar individu dengan struktur sosial. Robert K Merton lebih melihat kaitan antara anomi dengan struktur sosial dan struktur budaya.

Anomi tumbuh karena rusaknya sistem nilai budaya, ini terutama terjadi ketika seorang individu dengan kapasitasnya yang ditentukan oleh struktur sosial tiba-tiba kehilangan kemampuan mengendalikan tindakannya dengan norma-norma dan tujuan budaya.

Dengan kata lain, Anomi terjadi bila struktur budaya tidak berjalan seiring dan didukung struktur sosial yang berlaku.

GEJALA ANOMI YANG TERJADI DI INDONESIA

Ketika terjadi peralihan kekuasaan pemerintah dari orde baru dan orde transisi ke orde reformasi yang lebih demokratis sekarang ini banyak orang berpengharapan bahwa krisis multi demensional ini akan segera teratasi. Berbagai upaya untuk memulihkan kondisi ini memang telah dilakukan akan tetapi parahnya kondisi kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara ini hingga saat ini menyebabkan upaya yang ditempuh pemerintah dan segenap lembaga yang berwenang belum menunjukan tanda-tanda yang jelas menuju perbaikan.

Permasalahan yang dihadapi bangsa ini antara lain :

ò Krisis ekonomi

ò Penyelesaian hak azasi manusia yang belum terselesaikan

ò Penegakan hukum dan norma-norma yang berlaku

ò Penyelesaian politik

ò Krisis kepemimpinan nasional

ò Krisis moral

Krisis yang demikian kompleks ini menyebabkan semakin meluasnya rasa tidak tentram dan tidak pasti dalam masyarakat. Rasa tidak pasti ini diperbesar dengan adanya berbagai kebijakan yang berubah-ubah, pernyataan-pernyataan dan ucapan-ucapan para pejabat dan blok-blok masyarakat yang tidak konsisten dan simpang siur . Akibatnya masyarakat menjadi kehilangan pegangan nilai, keyakinan, dan kemampuan untuk bisa menempatkan diri secara wajar dalam konstelasi kehidupan politik, ekonomi, sosial yang sedang mengalami masa-masa paling suram sebagai dampak dari reaksi terhadap apa yang menjadi keyakinan masyarakat luas yaitu mismanagemen negara yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dasawarsa pada waktu pemerintahan yang lalu.

Kalau di Perancis tumbuh anomi suicide di Indonesia karena memiliki watak yang berbeda (entah guilt culture atau shame culture ?) seseorang yang mengalami anomi, yang tak puas dengan situasi dan kondisi yang tidak menentu, malahan cenderung menyakiti atau membunuh orang lain atau anomie homicide. Melalui pemberitaan di media massa kita mengetahui hal yang sepele saja dapat menjadi alasan orang untuk membunuh, hanya karena uang seratus rupiah saja bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa orang.

Dalam skala lebih luas anomi kolektif disertai dengan tidak adanya kesadaran hukum juga sering memicu terjadinya anomic homicide yang dilakukan oleh sekelompok anggota masyarakat yang hanya didasarkan pada kesadaran kolektif.

SKALA ATAU INDIKATOR-INDIKATOR ANOMIE

Þ KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMERINTAH

Yaitu berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pada pemerintah akan kemampuan untuk mengatasi krisis yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan baik krisis ekonomi, politik, sosial.

Þ KETIDAKPUASAN TERHADAP KONDISI KEHIDUPAN

Yaitu adanya perasaan mengalami deprisiasi relatif atau absolut sebagai akibat terenggutnya hak-hak azasi di berbagai bidang.

Þ PESIMISME MENGHADAPI MASA DEPAN.

Yaitu ketidakyakinan untuk bisa menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik pada waktu yang akan datang yang tidak terlalu lama.

Þ ANOMIE INDIVIDU

Yaitu adanya perasaan teralienasi atau disorientasi karena norma, nilai dan keyakinan yang dihayati tidak mampu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap banyak gejala dalam proses perubahan yang sedang berlangsung di berbagai kehidupan.

MODAL SOSIAL

Hal yang penting berkaitan dengan anomi ini adalah modal sosial yang didefinisikan seperangkat karakter sosial yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan yang dimiliki komunitas atau kelompok sosial yang kualitasnya menentukan cara para anggota komunitas atau kelompok sosial bersangkutan berprilaku dalam interaksi diantara sesamanya dan cara mereka menyingkapai atau merespon segala sesuatu yang datang dari luar kelompoknya.

Asumsinya adalah interaksi sosial dapat berlangsung baik dan berkelanjutan apabila pihak-pihak yang terlibat memiliki semua karakter tersebut secara memadai.

Terdapat sepuluh modal sosial yaitu :

1. Tanggungjawab

Kesadaran untuk memenuhi kewajiban sebagai cerminan rasa perduli terhadap masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama.

2. Kepercayaan

Kesediaan untuk memercayaai orang lain berdasarkan keyakinannya bahwa yang bersangkutan akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

3. Kerjasama

Suatu keadaan yang menverminkan kesediaan dari semuua pihak yang terlibat memberikan kontribusi yang seimbang dalam melakukan segala hal yang menyangkut kepentingan bersama.

4. Kemandirian

Sikap dan prilaku yang mengutamakan kemampuan sendiri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tanpa tergantung atau mengharapkan bantuan orang lain.

5. Kebersamaan

Sikap dan prilaku yang mencerminkan adanya kesediaan untuk turut terlibat dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

6. Keterbukaan

Kesediaan untuk menyampaikan apa adanya segala hal yang orang lain yang berkepentingan menganggapnya mereka perlu mengetahuinya.

7. Keterusterangan

Kesediaan untuk menyampaikan apa sesunggguhnya terjadi tanpa merasa dihalangi perasaan sungkan, ewuh pakewuh.

8. Empati

Kemampuan memahami apa yang dialami orang lain atau kemampuan untuk menempatkan diri dalam situasi tertentu.

9. Solidaritas

Kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud kebersamaan dalam mengatasi masalah.

10. Toleransi

Kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaraan, baik dalam bentuk materi maupun non materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.



KONTRIBUSI KONSEPSI PSIKOLOGI BEHAVIOURISME TERHADAP PERKEMBANGAN TEORI DALAM ILMU KOMUNIKASI Slamet Mulyana dan Agus Setiaman
November 19, 2008, 5:00 am
Filed under: PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Abstrak

Behaviorisme banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen dan ini diakui secara luas sebagai jasa besar para behavioris dalam penelitian tentang prilaku manusia termasuk juga ilmu komunikasi yang mengkaji manusia dan prilakunya banyak dipengaruhi oleh konsepsi behavioris

Lahirnya paham ini merupakan reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak) yang sangat sulit diamati, diukur dan diramalkan. Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.

Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin(Homo Mechanicus).

Latar Belakang

“Ilmu komunikasi ibarat oasis, yang menjadi persimpangan jalan dan tempat perjumpaan berbagai ilmu (musafir) dalam perjalanan ke tujuan keilmuannya masing-masing. Walaupun sebagian musafir itu sekedar mampir sebentar, ilmu yang dikembangkannya pada saat mampir itu membantu pertumbuhan ilmu si musafir dan memperkaya oasis tersebut“ demikian kata Wilbur Schramm, salah seorang Bapak Ilmu Komunikasi (Dahlan, 1996). Komunikasi adalah suatu ilmu yang cakupannya luas dan perlintasan ilmu-ilmu lain, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik, ilmu politik, dan sebagainya. Sebagian dari para peletak dasar ilmu komunikasi memang berlatar belakang ilmu lain, yang kemudian tertarik pada ilmu komunikasi, seperti Harold Lasswell yang ahli ilmu politik, Claude Shannon dan Warren Weaver yang ahli fisika, atau Paul Lazarsfeld yang seorang sosiolog. Sementara Wilbur Schramm sendiri adalah seorang ahli bahasa Inggris.

Kenyataan tersebut menyebabkan banyak teori-teori komunikasi yang sebenarnya ‘dipinjam’ dari berbagai disiplin ilmu lain. Fakta bahwa sejauh ini ilmu komunikasi belum menghasilkan teori-teori besar (grand theories), seperti sosiologi atau psikologi, dianggap sebagai kelemahan ilmu komunikasi oleh sebagian pengamat. Namun, sebagian pengamat lain menegaskan justru di situ pulalah kekuatannya (Mulyana, 1999). Kenyataan bahwa ilmu komunikasi bersifat multidisipliner dan merupakan ilmu yang relatif baru tidak membuat membuat ‘rendah diri’ para pakar ilmu komunikasi, karena hal itu menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan ilmu komunikasi sejajar dengan ilmu-ilmu sosial yang lain.

Menurut Rakhmat (2001), banyak teori dalam ilmu komunikasi dilatarbelakangi konsepsi‑konsepsi psikologi tentang manusia. Paling tidak, ada empat teori psikologi yang paling dominan yang dianggap sebagai akar dari teori komunikasi, yaitu Psikoanalisis, Behaviorisme, Psikologi Kognitif, dan Psikologi Humanistis.

Setiap pendekatan (konsepsi) tersebut memandang manusia dengan cara yang berlainan, yang akan mempengaruhi pandangannya tentang karakteristik manusia sebagai pelaku utama komunikasi. Dalam tulisan ini akan dibahas konsepsi behaviorisme, yang pada dasarnya melihat manusia sebagai Homo Mechanicus (Makhluk yang digerakkan semaunya oleh lingkungan)

Secara umum, pembahasan materi dalam tulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran singkat tentang kontribusi pandangan (konsepsi) Psikologi Behaviorisme terhadap perkembangan teori dalam Ilmu Komunikasi, dalam tulisan ini dibahas pemahaman singkat tentang perkembangan konsepsi psikologi behaviorisme, yang mencakup perkembangan pemikirannya sekaligus tokoh-tokohnya. Selanjutnya dibicarakan kontribusi behaviorisme dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa.

Sejarah Singkat Mahzab Behaviorisme

Dalam perkembangan Psikologi, bidang ilmu yang mengkaji tentang tingkah laku manusia, yang mendapat sebutan mazhab ‘kedua’ adalah karya para ahli yang berhu­bungan dengan teori Behaviorisme. Teori yang bersifat umum ini dirumuskan oleh John B. Watson (1878-1958) tepat pada peralihan abad ini. Saat itu Watson adalah seorang guru besar psikologi di Universitas Johns Hopkins. la berupaya menjadikan studi tentang manusia seobjektif dan seilmiah mungkin, karenanya seperti Sigmund Freud, ia berusaha mereduksikan tingkah laku manusia menjadi perkara kimiawi dan fisik semata.

Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan‑laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor‑faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin(Homo Mechanicus).

Kini kata ‘behaviorisme’ biasanya digunakan untuk melukiskan isi sejumlah teori yang saling berhubungan di bi­dang psikologi, sosiologi dan ilmu‑ilmu tingkah laku meliputi bukan hanya karya John Watson, melainkan juga karya to­koh‑tokoh seperti Edward Thorndike, Clark Hull, John Dol­lard, Neal Miller, B.F. Skinner, dan masih banyak lagi. Para pendahulu aliran pemikiran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil mengembangkan metode ilmiah di bidang ilmu‑ilmu fisik, dan Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari bina­tang‑binatang yang lebih rendah.

Behaviorisme amat banyak menentukan perkembangan psikologi terutama dalam ekperimen‑eksperimen. Walaupun Watson sering dianggap tokoh utama aliran ini, tetapi sebenarnya perkembangannya dapat dilacak sampai kepada empirisisme dan hedonisme pada abad XVIII – XVIII.

Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, ibarat sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632 ‑ 1704), tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman satu‑satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Bukanlah ide yang menghasilkan pengetahuan, tetapi keduanya adalah produk pengalaman. Secara psikologis, ini berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan, bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan perilaku masa lalu.

Salah satu kesulitan emprisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, salah satu paham filsafat etika, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam utilitarianisme, seluruh perilaku manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Menurut Jeremy Bentham (1879), “Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters, pain and pleasure.” Bila empirisme digabung dengan utilitarianisme dan hedonisme, menurut Goldstein (1980:17), maka akan diketemukan apa yang disebut behaviorisme (dalam Rakhmat, 2001).

Teori Freud dikembangkan terutama dengan mendengarkan para pasiennya dan dari hasil interpretasi subjektif­nya atas aneka neurosis para pasiennya itu. Sebaliknya, kaum Behavioris memusatkan diri pada pendekatan ‘ilmiah’ yang sungguh‑sungguh objektif. Lagi pula, Freud menempatkan rangsangan‑rangsangan dan dorongan‑dorongan dalam seba­gai sumber motivasi, sementara kaum Behavioris menekankan kekuatan‑kekuatan luar yang berasal dari lingkungan. Dalam teori mereka segala yang berbau subjektif sama sekali diabaikan. Menurut Watson, “Kaum Behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian terse­but dirumuskan secara subjektif”.

John Watson secara istimewa dipengaruhi oleh karya psikolog Rusia, Ivan Pavlov, yang berhasil membuktikan bahwa anjing‑anjing akan mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi garpu tala, sekalipun mereka itu tidak mendapatkan daging. Peristiwa ini disebut refleks bersyarat.

Mekanisme Belajar

Secara umum terdapat tiga mekanisme yang biasa terjadi dalam belajar.

Ketiga mekanisme itu adalah :

· Mekanisme belajar yang pertama adalah Asosiasi.

Anjing Pavlov be­lajar mengeluarkan air liur pada saat mendengar garpu tala berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bunyi. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila mendengar bunyi garpu tala meskipun tidak disajikan daging, karena anjing itu mengasosiasikan bel dengan daging. Kita belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan dengan kejahatan mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.

· Mekanisme belajar kedua adalah reinforcement.

Orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak‑haknya. Atau seorang mahasiswa mungkin belajar untuk tidak menentang sang profesor dikelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang profesor selalu mengerutkan dahi, nampak marah, dan membentaknya kembali.

  • Mekanisme belajar utama yang ketiga adalah imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak dan remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan. Imitasi bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal, hanya melalui observasi biasa terhadap model.

Kaum Behavioris sangat mengagungkan proses belajar asosiatif atau proses belajar asosiatif stimuslus respon ini sebagai pen­jelasan terpenting tentang tingkah laku manusia. Perbedaan antara teori Freud, yang memberi tekanan pada dorongan dari dalam pada manusia, dengan keyakinan kaum Behavioris pada kekuatan‑kekuatan “luar” atau kekuatan‑kekuatan dari lingkungan dalam diri manusia dapat dilihat dengan jelas

Kepribadian merupakan himpunan aneka tindakan yang dapat diungkap lewat pengamatan yang sungguh‑sung­guh terhadap tingkah laku dalam waktu yang cukup lama agar diperoleh informasi yang “dapat diandalkan”, kata Wat­son. “Dengan kata lain, kepribadian hanyalah merupakan hasil akhir dari berbagai sistem kebiasaan kita.”

Salah satu asumsi dasarnya mengatakan bahwa kesusilaan sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah. Maka kaum Behavioris menganut paham relativisme budaya dan moral. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya. Seorang Behavioris tidak menaruh minat pada soal‑soal budaya dan moral kecuali bahwa ia adalah seorang ilmuwan. Tak peduli, manusia macam apapun. Manusia adalah korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungannya, yang menentukan tingkah lakunya.”

Tahun‑tahun awal kehidupan seseorang merupakan tahun‑tahun yang penting mengenai soal yang satu ini sebenar­nya semua aliran psikologi sependapat. Dari sini muncul imbauan agar para orang tua bersikap serba membolehkan, serba memuaskan dan tidak menuntut terhadap anak‑anak selama tahun‑tahun awal kehidupan mereka, khususnya da­lam soal‑soal menyuapi, melatih kebersihan, memberi pendi­dikan awal di bidang seksualitas, dan menanamkan cara me­ngendalikan amarah serta agresi. Setiap bentuk frustrasi pada masa ini dipandang dapat melahirkan kecenderungan ke arah neurosis di masa dewasa.

Pandangan di atas dipaparkan secara ringkas oleh dua pengarang mutakhir, Gardner Lindzey dan Calvin Hall, yang telah menganalisis dan membandingkan berbagai teori ke­pribadian. Mereka melukiskan karya dua tokoh Behavioris seangkatan mereka sebagai berikut: “Dollard dan Miller ber­pendapat bahwa konflik yang tak disadari, yang sebagian be­sar diperoleh selama masa bapak dan masa kanak‑kanak, me­rupakan pangkal bagi kebanyakan gangguan emosional berat dalam kehidupan di kemudian hari. Mereka sependapat de­ngan para teoretikus psikoanalitik yang menyatakan bahwa aneka pengalaman pada enam tahun pertama kehidupan sese­orang merupakan penentu sangat penting tingkah lakunya dimasa dewasa. Penting untuk disadari bukan hanya bahwa konflik neurotik dipelajari oleh anak, melainkan bahwa konflik semacam itu dipelajari oleh anak terutama akibat berbagai kondisi yang diciptakan oleh orang tua.

Pada awal tahun 1930‑an, Institut Hubungan Manusia di Universitas Yale mencoba mempersatukan disiplin‑disiplin il­mu psikologi, psikiatri, sosiologi dan antropologi. Di bawah pimpinan Clark L. Hull, seorang pendukung. Behaviorisme yang bersemangat, lembaga ini merupakan markas sekelom­pok ilmuwan behavioral terkemuka. Di bawah kuasa Hull, institut ini memiliki pengaruh yang kuat dan lama pada satu generasi ilmuwan sosial muda.

Sejak dari Thorndike dan Watson sampai sekarang, kaum behavioris berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat‑sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku, menyiratkan betapa elastisnya manusia. la mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Dalam bukunya yang memikat tentang sejarah pemikir­an‑pemikiran di dunia, The Broken Image, Floyd W. Matson mengutip kata-kata Watson sebagai berikut:

“Pendek kata, semboyan kaum Behavioris adalah Berilah saya seorang bayi dan kekuasaan serta keluasaan untuk membesarkannya, maka saya buat ia mampu merangkak dan berjalan; akan saya buat ia mampu memanjat dan menggunakan kedua belah tangannya untuk mendirikan. bangunan‑bangunan dari batu atau kayu akan saya jadikan pencuri, penembak atau, pecandu narkotika atau kemungkinan untuk membentuk, seseorang ke segala arah tiada hampir tidak ada batasnya.”

Ucapan Watson ini dibuktikan dengan suatu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John Hopkins, tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Eksperimen Albert dengan tikus putih kesayangannya bukan saja membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga melahirkan metode pelaziman klasik (classical conditioning). Diambil dari Sechenov (1829 ‑ 1905) dan Pavlov (1849‑ 1936), pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi (tikus putih) dengan stimuli tertentu (yang tak terkondisikan ‑ unconditioned stimulus) yang melahirkan perilaku tertentu (unconditioned response). Setelah pemasangan ini terjadi berulang‑ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang netral berubah mendatangkan rasa takut setelah setiap kehadiran tikus, dilakukan pemukulan batangan baja (unconditioned stimulus).

Seperti Freud dan pendahulunya, Darwin, kaum Beha­vioris memandang manusia hanya sebagai salah satu jenis binatang tanpa ada perbedaan yang esensial dengan jenis‑jenis binatang lainnya dan memiliki kecenderungan – kecenderungan merusak dan antisosial yang sama. Dalam bukunya yang ber­judul Behaviorism, Watson mengatakan, “Sejak semula hingga kini kami tetap yakin bahwa manusia ada­lah binatang. Berbeda dengan binatang‑binatang lainnya ha­nya dalam hal bentuk‑bentuk tingkah laku yang ditampilkan­nya.

<!–[if supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

John Watson, Tokoh Utama Behaviorisme

John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar PhD pada tahun 1903 dengan disertasi ber udul “Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.

Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalarn psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920‑1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalarn beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan‑penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saj a. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode­metode obyektif dalam psikologi.

Peran Watson dalam bidangpendidikanjugacukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat‑sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya.”

<!–[if supportFields]><![endif]–>

F. Skinner, seorang psikolog dari Harvard dan penganjur serta pemimpin tradisi Behavioris masa kini, berkata, “Satu‑satunya perbedaan antara tingkah laku tikus dan ting­kah laku manusia yang mungkin saya saksikan (terlepas dari beda yang amat besar dalam hal kompleksitasnya) terletak dalam soal tingkah laku verbal. Karena percaya akan ke­samaan hakiki antara manusia dan binatang, untuk mudah­nya, dan demi alasan‑alasan objektivitas, para psikolog Be­havioris mendasarkan sebagian besar karya mereka pada percobaan‑percobaan dengan menggunakan binatang.

Etika, moral, dan nilai‑nilai hanyalah hasil proses belajar asosiatif. “Suatu analisis ilmiah akan memaksa kita menolak segala pesona jangka pendek berupa kebebasan, keadilan, pengetahuan ataupun kebahagiaan da­lam menatap akibat‑akibat jangka panjang kelangsungan hidup”, kata Skinner.

Skinner menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya sebagai operant conditioning. Kali ini subjeknya burung merpati. Skinner menyimpannya pada sebuah kotak (yang dapat diamati). Merpati disuruhnya bergerak sekehendaknya. Satu saat kakinya menyentuh tombol kecil pada dinding kotak. Makanan ke luar dan merpati bahagia. Mula‑mula merpati tidak tahu hubungan antara tombol kecil pada dinding dengan datangnya makanan. Sejenak kemudian merpati tidak sengaja menyentuh tombol, dan makanan turun lagi. Sekarang bila merpati ingin makan, ia mendekati dinding dan menyentuh tombol. Sikap manusia seperti itu pula. Bila setiap anak menyebut kata dengan sopan, segera kita memujinya, anak itu. kelak akan mencintai kata‑kata sopan dalam komunikasinya. Proses memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali‑kali, disebut peneguhan (reinforcement). Pujian dalam hal ini disebut dengan peneguh (reinforcer).

Pada tahun 1957, Calvin Hall dan Gardner Lindzey menyatakan sebagai berikut: “Pene­rapan konsep‑konsep stimulus‑respon pada berbagai gejala behavioral di luar laboratorium sebagian besar terjadi selama 25 atau 30 tahun terakhir. Dalam jangka waktu ini telah ber­hasil dikumpulkan sejumlah besar hasil penelitian empiris yang relevan. Selain itu, sejumlah psikolog muda yang mum­puni telah pula tampil dalam tahun‑tahun terakhir, khusus­nya di Universitas Yale dan di Universitas Iowa, tokoh‑tokoh muda yang memiliki keterampilan teknis serta keyakinan teo­retis yang diperlukan untuk melipatgandakan jumlah bukti empiris yang sudah berhasil dikumpulkan. Dalam masa‑masa terakhir ini memang telah terjadi bukan hanya ledakan hasil penelitian empiris di bidang ini melainkan juga munculnya se­jumlah besar tokoh yang secara aktif melibatkan diri dalam usaha memperluas serta menyempurnakan konsep‑konsep yang baru saja kita bicarakan.

Pengaruh dahsyat pandangan ini yang terus bertahan di­benarkan dalam sebuah pernyataan lebih mutakhir yang di­kemukakan oleh Floyd W. Matson pada tahun 1966, sebagai berikut: “Adalah suatu kebenaran yang dapat dibuktikan bahwa prinsip‑prinsip dasar Behaviorisme tidak hanya hidup subur di laboratorium‑laboratorium para eksperimentalis, melainkan juga menempati posisi yang mantap dan menonjol dalam skema konseptual mereka.” Selain itu hampir tidak pernah terasa berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam deretan pemimpin paling militan dari gerakan ilmu Behavioral ini terdapat pula para pendukung aliran lain di bidang psikologi yang memiliki nama setaraf. Lebih mutakhir lagi (1968), sekelompok cendekiawan terkemuka yang mewakili arus pemikiran ilmu behavioral di Inggris, Eropa Daratan, India, Afrika dan Australia berkesimpulan bahwa di negara‑negara tersebut kecenderungan telah bergeser dari Freudianisme ke arah Behaviorisme.

Beberapa Teori Dalam Psikologi Behaviorisme

Selama beberapa tahun, pendekatan yang do­minan dalam psikologi sosial di Amerika Serikat dan Kanada menekankan peranan belajar. Pokok pikirannya adalah bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam situasi tertentu, seseorang mempelajari perilaku tertentu sebagai kebia­saan, dan bila menghadapi situasi itu kembali, orang tersebut akan cenderung berperilaku sesuai dengan kebiasaan itu. Bila seseorang mengulurkan tangan maka kita akan menja­batnya, karena itulah yang telah kita pela­jari untuk menanggapi uluran tangan itu. Bila seseorang mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada kita, mungkin kita akan membalasnya atau mungkin kita akan mela­kukan hal yang sam pada orang lain, tergan­tung pada apa yang telah kita pelajari di ma­sa lampau. Pendekatan dengan belajar menjadi populer di tahun 1920‑an dan merupakan da­sar Behaviorisme. Mula‑mula Pavlov dan John B. Watson yang menjadi pendukungnya yang pa­ling terkenal, yang kemudian diteruskan oleh Clark Hull dan B.F. Skinner, Neal Miller, dan John Dollard menerapkan prinsip-prinsip belajar pada perilaku sosial, dan kemudian Albert Bandura memperluas penerapan ini ke dalam suatu pendekatan yang disebut Social Learning Theory.

a. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

Dapat dikatakan bahwa pelopor dari teori Conditioning ini adalah Pavlov, seorang ahli psikologi‑refleksologi dari Rusia. Ia mengadakan percobaan‑percobaan dengan anjing. Secara ringkas percobaan‑percobaan Pavlov dapat kita uraikan sebagai berikut:

Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya, di­masukkan ke kamar yang gelap. Di kamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya, tempat menyodorkan. makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan‑percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung di luar kamar. Dengan dernikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan per­cobaan‑percobaan. Alat‑alat yang dipergunakan dalam percobaan‑percobaan itu ialah makanan, lampu senter untuk menyorotkan bermacam‑macam warna, dan se­buah bunyi‑bunyian. Dari hasil percobaan‑ percobaannya, Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan­-gerakan refleks itu dapat dipelajari; dapat berubah karena mendapat latihan. Dengan demikian dapat dibeda­kan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (unconditioned reflex) dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajari (con­ditioned‑reflex).

Sesudah Pavlov, banyak ahli‑ahli psikologi lain yang mengadakan percobaan‑percobaan dengan binatang, antara lain Guthrie, Skinner, Watson dan lain‑lain.

Watson mengadakan eksperimen‑eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson yang mula‑mula tidak takut kepada kelinci dibuat menjadi takut kepada kelinci. Ke­mudian anak tersebut dilatihnya pula sehingga tidak men­jadi takut lagi kepada kelinci.

Demikianlah maka menurut teori conditioning belajar itu adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena ada­nya syarat‑syarat (conditions) yang kemudian menimbul­kan reaksi (response). Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada conditi­oning. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan-­kebiasaan mereaksi terhadap syarat‑syarat/perangsang­-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya.

Kelemahan dari teori conditioning ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata‑mata ter­gantung kepada pengaruh dari luar. Aku atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentu­kan perbuatan dan reaksi apa yang akan dilakukannya. Teori conditioning ini memang tepat kalau kita hubung­kan dengan kehidupan binatang. Pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal‑hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar yang mengenai skills (kecakapan-kecakapan) tertentu dan mengenai pembiasaan pada anak‑anak kecil.

b. Teori Conditioning dari Guthrie

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan-­deretan tingkah laku yang terdiri dari unit‑unit. Unit‑unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demi­kianlah seterusnya sehingga merupakan deretan‑deretan unit tingkah laku yang terus-menerus. Jadi pada proses conditioning ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara unit‑unit tingkah laku satu sama lain yang ber­urutan. Ulangan‑ulangan atau latihan yang berkali‑kali mem­perkuat asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku yang berikutnya.

Sebagai penjelasan kami berikan dari percobaan Pavlov sebagai berikut: Pada mulanya anjing percobaan keluar air liur ketika disodorkan makanan. Setelah berkali‑kali sambil menyodorkan makanan dilakukan juga menyorotkan sinar merah kepada anjing itu; pada suatu ketika hanya dengan menyorotkan sinar merah, anjing itu keluar juga air liurnya. Jadi, dalam hal ini terjadi asosiasi yang makin kuat antara sinar merah (stimulus) dengan keluar­nya air liur (respons). Yang penting pula diperhatikan dalam percobaan itu ialah; dapat diubahnya suatu stimulus (unit) tertentu dengan stimulus yang lain. Karena itu, menurut Guthrie untuk mengubah kebiasaan‑kebiasaan yang tidak baik, harus dilihat dalam rentetan deretan unit‑unit tingkah lakunya, kemudian kita usahakan untuk menghilangkan unit yang tidak baik itu atau menggantinya dengan yang lain yang seharusnya.

Berikut ini sebuah contoh sebagai penjelasan. Seorang ibu datang menanyakan kepada Guthrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melempar­kan tas dan pakaiannya ke sudut kamarnya, kemudian ganti pakaian dan terus makan tanpa meletakkan tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah tersedia untuk itu. Teguran‑teguran ibu untuk menggantungkan tas dan pakaian pada tempatnya, hanya berlaku satu atau dua, hari saja, sesudah itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Bagaimana cara memperbaiki kebiasaan buruk pada anak tersebut?

Guthrie menyarankan (sesuai dengan teori condition­ing) perbaikan seperti berikut:

Teguran ibu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah anak itu makan, akan tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan menyandang tasnya dan kemudian anak itu masuk ke rumah lagi terus menggantungkan tasnya dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi, proses ber­langsungnya unit‑unit tingkah

laku itu harus diulang dari semula. Perhatikan gambar berikut:

Sumber: Purwanto, 1999.

Metode‑metode Guthrie

Beberapa metode dipergunakan Guthrie dalam meng­ubah tingkah laku atau kebiasaan‑kebiasaan pada hewan maupun pada manusia ialah:

1) Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method) Manusia itu adalah suatu organisme yang se­lalu mereaksi kepada perangsang‑perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang‑perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubah­nya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkannya.

2) Metode Membosankan (Exchaustion Method). Hu­bungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S‑R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga men­jadi bosan.

3) Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environ­ment Method). Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangkan kebiasaan‑kebiasaan buruk yang di­sebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya itu sendiri.

c. Teori Operant Conditioning (Skinner) ,

Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respons. Hanya perbedaannya, Skinner membuat perinci­an lebih jauh, Skinner membedakan adanya dua macam respons, yaitu:

1) Respondent response (reflexive response): respon yang ditimbulkan oleh perangsang‑perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur setelah melihat makanan ter­tentu. Pada umumnya, perangsang‑perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.

2) Operant response (instrumental response): yaitu res­pon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh pe­rangsang‑perangsang tertentu. Perangsang yang demiki­an itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, kare­na perangsang itu memperkuat respon yang telah di­lakukan oleh organisme.

Di dalam kenyataan, respon jenis pertama (respondent/reflexive response/behavior) sangat terbatas adanya pada manusia. Sebaliknya operant response atau behavior merupakan bagian terbesar dari tingkah laku, manusia dan kemungkin­an untuk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih memfokuskan pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini. Jadi yang menjadi soal adalah: bagaimana menimbulkan, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku (dalam belajar atau dalam pen­didikan).

Prosedur pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning secara sederhana adalah seperti berikut:

(a) Mengindentifikasi hal‑hal apa yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah laku yang akan dibentuk.

(b) Menganalisis, dan selanjutnya mengidentifikasi kom­ponen‑ komponen kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Komponen‑komponen itu lalu disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada ter­bentuknya tingkah laku yang dimaksud.

(c) Berdasarkan urutan komponen‑komponen itu sebagai tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing‑masing komponen itu.

(d) Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan meng­gunakan urutan komponen‑komponen yang telah di­susun. Kalau komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibat­kan komponen tersebut cenderung untuk sering di­lakukan. Kalau ini sudah terbentuk dilakukan komponen kedua yang kemudian diberi hadiah pula (kom­ponen pertama tidak lagi memerlukan hadiah); demikian berulang‑ulang sampai komponen kedua itu terbentuk. Setelah itu dilanjutkan dengan komponen ketiga, dan seterusnya, sampai seluruh tingkah laku yang diharapkan terbentuk. (Bandingkan teori Skinner ini dengan teori Guthrie). Dewasa ini bteori Skinner sangat besar pengaruhnya, ter­utama di Amerika Serikat dan negara‑negara lainnya. Di dalam dunia pendidikan khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program‑program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasar atas teori Skinner tersebut.

d. Teori Systematic Behavior (Hull)

Seperti halnya dengan Skinner, maka Clark C Hull meng­ikuti jejak Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar. Prinsip‑prinsip yang digunakanya mirip de­ngan apa yang dikemukakan oleh para behavioris yaitu dasar stimulus‑respon dan adanya reinforcement.

Clark C. Hull mengemukakan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat di­perkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon‑respon yang dibuat individu itu. Setiap obyek, kejadian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu keadaan deprivasi (kekurangan) pada diri individu itu; yaitu jika obyek, kejadian atau situasi tadi dapat menjawab suatu kebutuhan pada saat individu itu melakukan respon.

Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil‑hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya: uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial ting­kat tinggi). Jadi, prinsip yang utama adalah suatu ke­butuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation (motivasi insentif) dan drive stimulzis reduction (pengurangan stimulus pendorong). Kecepatan berespon berubah bila besarnya hadiah (reward) berubah.

Penggunaan praktis teori belajar dari Hull ini untuk kegiatan dalam kelas, adalah sebagai berikut:

¨ Teori belajar didasarkan pada drive‑reduction atau drive stimulus reduction.

¨ Intruksional objektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.

¨ Ruangan kelas harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terjadinya proses belajar. Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana atau mudah menuju kepada yang lebih kompleks atau sulit.

¨ Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar.

¨ Latihan harus didistribusikan dengan hati‑hati supaya tidak terjadi inhibisi. Dengan perkataan lain, kelelahan tidak boleh mengganggu belajar.

¨ Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa sehingga mata pelajaran yang terdahulu tidak menghambat tetapi justru harus menjadi perangsang yang men­dorong belajar pada mata pelajaran berikutnya.

e. Teori Conectionism (Thorndike)

Menurut teori trial and error (mencoba‑coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan‑tindakan yang sifatnya coba‑coba secara membabi buta jika dalam usaha mencoba‑coba itu secara ke­betulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan antuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.

Sebagai contoh kami kemukakan di sini percobaan Thorn­dike dengan seekor kucing yang dibuat lapar dimasukkan ke dalam kandang. Pada kandang itu dibuat lubang” pintu yang tertutup yang dapat terbuka jika suatu pasak di pintu itu tersentuh. Di luar kandang diletakkan sepiring makanan (daging). Bagaimana reaksi kucing itu? Mula‑mula kucing itu bergerak kesana-kemari mencoba‑coba hendak ke luar melalui ber­bagai jeruji kandang itu. Lama kelamaan pada suatu ketika secara kebetulan tersentuhlah pasak lubang pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka, dan kucing itupun keluarlah menuju makanan.

Percobaan diulang lagi. Tingkah laku kucing itupun pada mulanya sama seperti pada percobaan pertama. Hanya waktu yang diperlukan untuk bergerak kesana‑kemari sampai dapat terbuka lubang pintu, menjadi makin singkat. Setelah di­adakan percobaan berkali‑kali, akhirnya kucing itu tidak perlu lagi kian kemari mencoba‑coba, tetapi langsung menyentuh pasak pintu dan terus keluar mendapatkan makanan.

Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:

1 ) trial and error (mencoba‑coba dan mengalami kegagalan), dan

2) law of effect; Yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik‑baiknya. Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menye­nangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis. Otomatisme dalam belajar itu dapat dilatih dengan syarat‑syarat tertentu, pada binatang juga pada manusia.

Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada pe­rangsang yang mempengaruhi dirinya. Terjadinya otomatis­me dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu. Dalam kehidupan sehari‑hari law of effect itu dapat terlihat dalam hal memberi penghargaan atau ganjaran dan juga dalam hal memberi hukuman dalam pendidikan. Akan tetapi me­nurut Thorndike yang lebih memegang peranan dalam pen­didikan ialah hal memberi penghargaan atau ganjaran dan itulah yang lebih dianjurkan.

Karena adanya law of effect terjadilah hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang dapat mendatangkan sesuatu dengan hasil biaya (effect). Karena adanya koneksi antara reaksi dengan hasilnya itu maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

Kelemahan dari teori ini ialah:

¨ Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.

¨ Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respons. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan‑latihan, atau ulangan‑ulangan yang terus‑menerus.

¨ Karena proses, belajar berlangsung secara mekanistis, maka “‘pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yang po­kok dalam belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yang pokok dalam belajar.

f. Teori Belajar Sosial (Bandura)

Albert Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). la mempermasalahkan peranan, ganjaran, dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku yang tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme pelaziman dan peneguhan. Bandura menyatakan bahwa belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah faktor penting dalam belajar, tetapi faktor yang penting dalam melakukan satu tindakan (performance).

Jadi menurut Bandura, bila anak selalu diganjar (dihargai) karena mengungkapkan perasaannya, ia akan sering melakukannya. Tetapi jika ia dihukum atau dicela ia akan menahan diri untuk bicara walau pun ia memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan satu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan.

Selanjutnya Bandura menjelaskan bahwa dalam proses belajar sosial ada empat tahapan proses, yaitu:

(1) Proses perhatian

(2) Proses pengingatan (retention)

(3) Proses reproduksi motoris

(4) Proses motivasional

Kontribusi Psikologi Behaviorisme Terhadap Perkembangan Teori Komunikasi

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, behaviorisme sebagai salah satu mazhab dalam psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang tingkah laku manusia. Dalam hal ini, pandangan behaviorisme tentang manusia berbeda secara signifikan dengan tiga pendekatan psikologi lain yang dominan, yaitu psikoanalisis, psikologi kognitif, dan psikologi humanisme.

Di lain pihak, komunikasi adalah suatu proses yang ditandai beberapa karakteristik di antaranya adalah komunikasi itu bersifat simbolik, irreversible, kompleks, berdimensi sebab akibat, dan mengandung potensi problem. Karakteristik di atas memperlihatkan betapa rumitnya suatu proses komunikasi. Oleh karenanya suatu tindakan komunikasi sepatutnya dikelola secara tepat. Dengan mengelola perilaku komunikasi dalam berbagai konteksnya maka berbagai kecenderungan yang mengarah pada terjadinya communication breakdown dapat dihindari. Dalam hal ini, pandangan psikologi behaviorisme dapat membantu memahami berbagai kecenderungan tingkah laku komunikan kita sebagai sasaran utama dalam kegiatan komunikasi yang kita lakukan.

Secara lebih khusus, penulisan pada bagian ini bertujuan untuk memberikan gambaran ringkas tentang kontribusi psikologi behaviorisme terhadap perkembangan teori komunikasi. Adapun pembahasannya difokuskan kepada teori-teori komunikasi dalam konteks komunikasi interpersonal, dan komunikasi massa yang masing-masing hanya dikemukakan satu contoh. Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa pada masing-masing konteks komunikasi, pandangan behaviorisme telah memberikan kontribusinya secara signifikan.

Konteks Komunikasi Interpersonal

Teori dari perspektif behaviorisme yang akan dibahas dalam konteks komunikasi interpersonal adalah Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory) dari Thibault dan Kelley. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang tokoh utama teori ini, menyimpulkan teori pertukaran sosial sebagai berikut: “Asumsi utama yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.” Ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan merupakan konsep-konsep pokok dalam teori ini.

Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan interpersonal. Ganjaran bisa berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial (social approval) lebih berharga daripada uang. Bagi si miskin, hubungan interpersonal yang dapat mengatasinya kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran daripada hubungan yang menambah pengetahuan.

Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan interpersonal. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri, serta kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.

Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba.

Sementara tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun.

Konteks Komunikasi Massa

Sumbangan yang terbesar untuk memahami cara ber­komunikasi massa mengambil bahagian dalam proses sosialisasi adalah melalui modelling theory yang diperkenalkan o1eh psikolog Albert Bandura serta para pembantunya di tahun 1960‑an. Sebagian besar isi teori ini sebenarnya bermuara pada teori psikologi : social learning theory yang telah dijelaskan. Kita akan mengenal berapa aplikasinya pada studi yang berkaitan dengan komunikasi massa.

1. Teori belajar sosial (belajar mengobservasi)

Teori ini memang tidak secara khusus belajar mengenai pengaruh terpaan media massa tetapi secara umum dapat men­jelaskan bagaimana orang memperoleh bentuk‑bentuk yang baru dari perilakunya yang diperolehnya dari masyarakat sekelilingnya. Disebut belajar sosial karena penekanannya pada bagaimana individu mengamati aktivitas orang lain kemudian mengadopsi perilakunva sebagai bentuk aktivitas untuk menghadapi masalah dalam beragam situasi dan kondisi atau kejadian‑kejadian lain, yang dialaminya.

Alekis Tan (1981) dalam Hardy (1985) mengemukakan bahwa pada prinsipnya teori belajar sosial menunjukkan sebenarnya setiap manusia tidak dilahirkan dengan memiliki suatu sikap atau nilai dan pandangan tertentu terhadap dunianya. Dunialah yang sebalikya mempengaruhi dan membangun persepsi kita. Kita belajar dari dunia karena kita membuat reaksi terhadap setiap rangsangan yang masuk dari luar. Ada banyak teori mengenai perilaku sudah pernah diulas dan sebagian besar mene­kankan tentang hal ini yaitu bagaimana manusia dan juga hewan belajar dari lingkungannya hanya karena berinteraksi untuk meme­nuhi kebutuhan hidupnya.

Namun demikian menurut Albert Bandura dalam Hardy (1985) mengajukan teori bercakupan luas tentang perilaku manusia yang disebutnya dengan teori belajar sosial itu. Teori ini menjelas­kan bagaimana manusia belajar sccara langsung dari pengalaman­nya sebaik‑baiknya dan menjadikan sesuatu yang pernah diamati­nya itu sebagai modelnya. Bandura juga menambahkan bahwa teori belajar sosial menerangkan perilaku manusia sebagai konstruk dari lingkungan sosial serta faktor‑faktor kognitif dari setiap manusia. Yang penting dari teori Bandura yang perlu diingat adalah bahwa proses belajar mengikuti sesuatu dimulai dari tahap:

(1) Proses memperhatikan;

(2) Proses mengingatkan kembali;

(3) Proses gerakan untuk menciptakan kembali;

(4) Proses mengarahkan gerakan sesuai dengan dorongan.

Albert Bandura ingin menerangkan misalnya kita melihat suatu kejadian maka kita memperhatikan kejadian itu dengan saksama. Kemudian kita mengingat‑ingat kembali apakah kita mempunyai pengalaman yang sama dengan apa yang dilihat itu. Menyusul setiap orang karena pengingatannya kembali mencipta­kan reaksi‑reaksi terhadap apa yang dilihatnva, reaksi‑reaksi ter­sebut terhadap apa yang dilihatnya, reaksi‑reaksi tersebut merupa­kan perulangan pengalaman yang pernah dilakukannya. Arah dari perlakuan gerakan itu disesuaikan dengan motivasi yang dimiliki orang itu.

Peranan media massa dalam hubungannya dengan teori belajar sosial tersebut dapat, mengisi keempat proses yang diajukan Bandura. Media massa melalui pesan‑pesannya dapat mengakibat­kan seseorang lebih memperhatikan suatu pesan tertentu, atau dapat mengakibatkan seseorang mengingat. kembali pengalamannya. Media juga dapat mendorong, atau mempercepat proses gerakan, reaksi untuk menciptakan kembali cara‑cara. yang sama yang pernah dilakukannya, dan media juga membantu meneguhkan motivasi yang dimiliki seseorang.

Aplikasi dari teori belajar sosial dapat dirinci dengan kehadiran empat teori berikut yang dikemukakan melalui tulisan Bittner(1986) dan Bradac (1989), yaitu:

a) Teori Chatarsis

Prinsip dasar teori ini bahwa kita dapat menghilangkan sikap frustasi yang dimiliki dengan menonton film‑film kekerasan di televisi. Anggapan teori ini bahwa ada satu keuntungan yang diper­oleh akibat menonton film kekerasan di televisi karena kekerasan itu dapat memecahkan masalah frustasi.

b) Teori Aggresive Cues

Menurut teori aggressive cues bahwa terpaan berita atau film kekerasan pada siaran televisi dapat menumbuhkan atau merangsang penonton membuat semacam katalisator yang kuat dalam mempertahankan diri kalau terjadi hal yang sama melanda dirinya.

c) Teori reinforcemeni

Teori ini menyatakan bahwa kekerasan yang disiarkan di televisi dapat meneguhkan perilaku yang sudah ada yang selama ini dilakukan oleh para penontonnya.

d) Teori belajar mengobservasi

Berdasarkan teori ini bahwa kita menyelidiki dengan saksama dan mempelajari serta menganalisis pelbagai perilaku kekerasan yang muncul di televisi.

Banyak penelitianpun dilakukan untuk menguji kembali kebenaran teori‑teori tersebut dan menemukan memang benar bahwa jika dibandingkan dengan media cetak maka ternyata pelukisan kekerasan melalui media massa elektronik terutama media televisi lebih kuat. Karena orang melihat secara langsung penggambaran perilaku terutama proses suatu peristiwa secara dinamik daripada di surat kabar yang membutuhkan suatu pemikiran untuk memahami dan menjelaskan konsep proses. Media massa khususnya elektronik (dapat lebih baik sebagai agen sosialisasi) dalam waktu panjang dan lebih cepat jika dibandingkan dengan media non elektronik.

2. Proses pemodelan.

Proses pemodelan atau modelling theory digunakan untuk menggambarkan aplikasi dari teori sosial learning secara umum yang membentuk perilaku yang baru melalui penggambaran media. Media memberikan peluang yang membuat daya tarik besar dari pola‑pola perilaku yang dinyatakan dalam media oleh komunikator. Pelbagai kepustakaan melukiskan bahwa anak‑anak maupun orang‑orang menyusun sikapnya apakah itu kesan, emosi, gaya hidup baru akibat terpaan media dari film dan televisi.

Pembentukan perilaku yang baru akibat terpaan komunikasi massa dalam proses pemodalan dapat dirumuskan ke dalam beberapa proposisi :

(a) Seorang individu yang menjadi anggota khalayak media massa dapat mengamati atau membaca perilaku model yang ditunjukkan seseorang melalui sebagian isi media.

(b) Para pengamatan yang mengidentifikasi model‑model itu percaya dan lambat laun menyukai model, ingin menjadi seperti model itu, atau melihat model sebagai, daya tarik yang cepat dan patut ditiru.

(c) Pengamat dapat dengan sadar menghubungkan gambaran perilaku yang diamati dengan fungsi perilakunya. Karena seseorang menjadi lebih percaya dan yakin bahwa gambaran perilaku melalui media dapat membawa daya tarik yang lebih besar berhasil diimitasi orang lain dalam sebagian situasi

(d) Pada waktu individu mengingat kembali aksi‑aksi dari suatu individu dari suatu model yang dilihatnya pada situasi yang relevan maka ia akan mengulangi atau memperbanyak perilaku yang sesuai dengan itu berdasarkan situasi dan kondisinya.

(e) Penampilan atau pengulangan setiap sikap perilaku dalam suatu situasi perangsang yang cocok akan membawa seseorang semakin mendekat pada model karena dorongan, sokongan, ganjaran, atau faktor pemuas yang diberikan media. Media meneguhkan perilaku seseorang melalui model yang patut ditiru.

(f) Penguatan yang positif akan meningkatkan peluang bagi seseorang dalam menggunakan model itu untuk memper­banyak perilaku yang sama pada situasi yang sama.

Proposisi ini dapat terlihat hasilnya dalam suatu penelitian oleh Prof. George Comstock yang menunjukkan hubungan antara kekerasan dengan perilaku agresif, hasilnya adalah:

(a) Film siaran kartun tentang kekerasan seakan‑akan hidup sesuai dengan kejadian aslinya dan dapat mempengaruhi sikap agresif bagi sebagian penontonnya.

(b) Pengulangan suatu terpaan film kartun tentang kekerasan tidak dapat menghapuskan kemungkinan terpaan berita yang baru yang juga dapat mempengaruhi penampilan yang agresif dari seseorang.

(c) Penampilan perilaku yang agresif sama sekali tidak bebas terhadap bentuk‑bentuk frustasi lainnya meskipun peluang untuk menjadi agresif diabaikan.

(d) Meskipun efek yang diteliti pada setiap eksperimen itu menunjukkan seseorang “lebih agresif” namun tidak diper­oleh kesan bahwa seseorang menjadi anti Sosial.

Kesimpulannya bahwa sebenarnya tidak semua sikap anti sosial berasal dari siaran kekerasan di televisi.

(e) Secara sederhana sebenarnya faktor‑faktor yang memungkinkan semakin meningkatnya sikap agresif seseorang juga adalah sugesti. Dengan sugesti dimaksudkan bahwa seseorang semakin agresif karena ia menerima sesuatu contoh cara dari orang‑orang yang lain tanpa bersikap kritis terlebih dahulu. Perilaku agresif seolah‑olah membenarkan suatu kenyataan sosial, suatu kondisi yang semrawut, atau dimotivasi oleh rasa benci, balas dendam yang dilakukan seseorang. Perilaku‑perilaku ini pada kelompok anak muda lebih mirip dengan apa yang ditontonnya sehingga lingkungan meng­anggapnya hanya diakibatkan. oleh pesan media massa.

Namun demikian tidak ada alasan yang mendasar bagi kita bahwa pengulangan terpaan pesan kekerasan yang pernah dilihat sekelompok remaja bisa membuat mereka menjadi lebih kebal, yang bisa dicurigai malah akibat terpaan dari televisi justru merangsang anak‑anak itu kembali cepat merasakan kekerasan dalam lingkungannya.

Dapat disimpulkan babwa kekerasan di televisi membuat kita harus ingat bahwa sebagian besar issu yang menjadi tema kekerasan itu dapat mempengaruhi keputusan setiap orang bagi masa depannya melalui pesan‑pesan yang disosialisasikannya.

Kesimpulan

Berdasar pada pembahasan sebelumnya maka pada akhir tulisan ini dapat kami simpulkan bebarapa hal yang dianggap penting, antara lain:

(1) Pendekatan Behaviorisme memusatkan pada pendekatan ilmiah yang objektif sehingga dalam pendekatan ini hal-hal yang berbau subjektifitas sama sekali diabaikan. Dalam pendekatan yang dilakukan kaum behaviorisme menekankan pada kekuatan-kekuatan luar yang berasal dari lingkungannya.

(2) Penganut paham behavior sangat percaya bahwa segala tingkah laku manusia. juga tidak lain adalah hasil daripada proses pembelajaran. Yakni hasil daripada latihan‑latihan atau kebiasaan­-kebiasaan bereaksi terhadap syarat‑syarat atau perangsang­an-perangsangan tertentu yang dialaminya di dalam kehidup­annya. Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat‑syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan‑latihan yang kontinu. Yang diutama­kan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.

3) Demikian pula dalam konteks komunikasi baik komunikasi interpersonal, kelompok maupun komunikasi massa teori-teori yang dikembangkan tidak lepas dari asumsi dasar bahwa manusia belajar dari lingkungannya (S-R) dengan demikian teori komunikasi menitik beratkan pada kondisi dan situasi lingkungan yang mempengaruhi komunikan kita.

Daftar Pustaka

Depari Edward, Collin Mac Andrews, 1991, Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Fisher, B.Aubrey, 1990, Teori-Teori Komunikasi Massa, Remadja Karya, Bandung.

Griffin EM, 2002, A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, Mc. Graw Hill, Boston.

Goldberg A Alvin, Carl E Larson, (diterjemahkan Koesdarini Soemiati dan Garry Jusuf), 1985, Komunikasi Kelompok Proses-Proses Diskusi dan Penerapannya, edisi pertama, UI Press, Jakarta.

Hardy, Malcom, (diterjemahkan Soenardji), 1988, Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta.

Liliweri Alo, 1991, Memahami Peran Komunikasi Dalam Masyarakat, Citra Aditya Bakti, Bandung

Matson, Floyd, 1966, The Broken Image, Doubleday, New York.

Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Psikologi Komunikasi, Remadja Karya, Bandung,

Sarwono, Sarlito Wirawan. 1986. Berkenalan dengan Alirah­ Aliran dan Tokoh‑Tokoh Psikologi, Bulan Bintang: Jakarta.

Sears, O.David, Jonathan L Freedman dan L. Anne Peplau, 1992, Psikologi Sosial, edisi lima, Erlangga, Jakarta.



MEDIA MASSA DAN IMPERIALISME KULTURAL
November 14, 2008, 4:28 am
Filed under: KAJIAN MEDIA MASSA

1. Latar belakang

Everett M. Rogers dalam bukunya Communication Technology; The New Media in Society, mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel dan sebagainya.

Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media – The Extensions of Man, mengemukakan ide bahwa “ medium is massage” (pesan media ya media itu sendiri). McLuhan menganggap media sebagai perluasan manusia dan bahwa media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Pengaruh media telah berkembang dari individu kepada masyarakat. Dengan media setiap bagian dunia dapat dihubungkan menjadi desa global.

Pengaruh media yang demikian besar kepada masyarakat menghantarkan pemikiran McLuhan untuk menyampaikan Teori Determinime Teknologi yang mulanya menuai banyak kritik dan menebar berbagai tuduhan. Ada yang menuduh bahwa McLuhan telah melebih-lebihkan pengaruh media. Tetapi dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, media memang telah sangat maju. Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak di antara bangsa-bangsa. Ungkapan Mcluhan tidak dapat lagi dipandang sebagai sebuah ramalan belaka. Sebagai sebuah perbandingan perkembangan teknologi media dewasa ini; dibutuhkan hampir 100 tahun untuk berevolusi dari telegraf ke teleks, tetapi hanya dibutuhkan 10 tahun sebelum faks menjadi populer. Enam atau tujuh tahun yang lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi sekarang mereka-mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan di anggap ketinggalan!

Di masyarakat dapat disaksikan bahwa teknologi komunikasi terutama televisi, komputer dan internet telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat), setiap saat kita semua menyaksikan realitas baru di masyarakat, dimana realitas itu tidak sekedar sebuah ruang yang merefleksikan kehidupan masyarakat nyata dan peta analog atau simulasi-simulasi dari suatu masyarakat tertentu yang hidup dalam media dan alam pikiran manusia, akan tetapi sebuah ruang dimana manusia bisa hidup di dalamnya. Media massa merupakan salah satu kekuatan yang sangat mempengaruhi umat manusia di abad 21. Media ada di sekeliling kita, media mendominasi kehidupan kita dan bahkan mempengaruhi emosi serta pertimbangan kita.

2. Media Baru adalah Dunia Baru

Sebagaimana yang dilihat perkembangan media di masyarakat, bahwa media baru yang dirasakan amat bermanfaat dan memiliki masa depan menjanjikan adalah media interaktif dan media jaringan. Kedua media ini telah merubah peradaban umat manusia terutama paradigma interaksi manusia satu dengan yang lainnya.

Paling tidak ada dua hal yang menandai perubahan paradigma diatas,

Pertama, adalah media sebagaimana disebutkan Mcluhan adalah pesan itu sendiri, telah berubah menjadi subjek komunikasi yang sangat interaktif, dimana media telah menjadi sehabat baru manusia.

Kedua, interaksi manusia melalui media jaringan telah menciptakan ruang baru bagi kehidupan manusia yang disebut dengan cybercommunity yaitu sebuah “kehidupan” masyarakat manusia yang tidak dapat secara langsung diindera melalui (seluruh) penginderaan manusia, namun dapat dirasakan dan disaksikan sebagai realitas.

Perubahan paradigma interaksi manusia di atas membawa manusia kepada dunianya yang baru, yaitu sebuah dunia yang sangat kecil sekaligus sebuah dunia yang tanpa batas dengan pola-pola hubungan sosial yang sangat luas dan transparan. Inilah dunia masa depan umat manusia, sebuah dunia baru yang dikonstruksikan oleh media baru setiap saat, setiap waktu sehingga sebenarnya dunia masa depan adalah sebuah dunia yang berada di atas ”telapak tangan” media.

3. Teknologi, Konvergensi Media dan Kepentingan Kapitalis

Pada dasawarsa sekarang kita melihat begitu banyak produk-produk teknologi media, persoalan ini menjadi penting untuk dibicarakan ketika teknologi menjadi prasarat sosial yang tidak saja penting dan fungsional namun juga menjadi subtansial dalam pranata-pranata sosial. Umpamanya seseorang tidak akan diterima di sebuah perusahaan kalau ia tidak dapat mengendarai mobil, begitu pula perusahaan-perusahaan hanya akan menerima pegawai yang dapat mengopersikan komputer. Sebaliknya, penciptaan teknologi yang laku di masyarakat hanyalah teknologi yang terpakai sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti teknologi rumah tangga yang tidak saja fungsional bagi keluarga namun juga fungsional bagi individu. Sehingga nantinya seorang pemuda tidak akan berani melamar anak gadis orang kalau ia belum bisa menggunakan dan menyediakan teknologi dalam keluarganya kelak. Begitu juga seorang gadis belum berani menikah kalau tidak dapat menggunakan teknologi rumah tangga dengan baik, karena teknologi-teknologi macam ini yang akan menemani mereka dalam rumah tangga kelak. Bahkan dalam kasus lain, begitu fungsionalnya teknologi di sebuah perguruan tinggi, sehingga mahasiswa misalnya tidak dapat melanjutkan studi ke semester berikutnya karena tidak mampy menggunakan mesin herregestrasi.

Konvergensi teknologi yang terbesar dalam pandangan sosial di zaman ini adalah ketika ditemukannya telepon, televisi dan komputer, kemudian ketiga teknologi ini dapat disatukan dalam sebuah teknologi baru yang bernama internet yang akhirnya berkembanga tanpa batas. Sehingga nantinya penemuan media rasa, media aroma, dan media sentuhan akan menciptakan teknologi yang serba manusiawi yaitu teknologi yang sangat akrab dengan manusia serta berbasis komputer dan internet jaringan. Misalnya saja seluruh komputer di dunia ini dapat disatukan dalam jaringan internet karena biaya telepon begitu murah atau justru internet sudah dapat menggunakan jaringan listrik sebagai basis jaringan. Penemuan teknologi nir-kabel sudah begitu meluas sehingga masyarakat tidal lagi membutuhkan tiang-tiang telepon dan tiang listrik. Dengan demikian tidak saja komputer di dunia ini yang dapat disatukan dalam jaringan global setiap saat namun alat-alat rumah tangga, pemanas air, lampu, AC, mesin cuci dan sebagainya. Dapat terkoneksi dalam jaringan-jaringan global tersebut. Contohnya robpt yang yang dapat mengkabarkan adanya kebakaran di rumahnya kepada pusat pemadam kebarakaran atau kulkas yang terkoneksi dengan pusat-pusat perbelanjaan sehingga ia dapat menginformasikan kepada supermarket kalau daging ayam atau buah-buahan sudah habis tanpa di suruh oleh pemilik kulkas itu, jasa hantaran sudah langsung mengirimkan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Begit pula dengan alat-alat teknologi rumah tangga lainnya dapat terkoneksi langsung dengan pusat-pusat kebutuhan rumah tangga sesuai dengan fungsi masing-masing.

Dalam dunia media massa saat ini dan akan datang konvergensi media massa tidak saja sebuah keharusan namun sebuah kebutuhan masyarakat itu sendiri, sehingga lahirlah media-media baru seperti radio online, televisi online, majalah online, journal online. Dengan demikian format media massa di waktu mendatang akan berubah menjadi media massa mixer. Karena sebuah perusahaan radio dengan kemampuan teknologi dan reporter-reporter mereka yang serba canggih, maka sayang sekali kalau informasi yang ada hanya dapat didengar oleh masyarakat melalui indera telinga, karena itu mereka dapat enerbitkan media cetak, koran atau majalah. Informasi itu masih sangat mubazir kalau tidak dapat dilihat pemirsanya, karena itu mereka perlu mendirikan televisi atau membuka web di internet dan sebagainya. Dengan demikian deversifikasi media massa bukan saja persoalan konvergensi namun sebuah kebutuhan idealisme media massa itu dengan kata-kata misalnya ”karena kita ingin semua indera dapat menangkap berita kami.”

Perkembangan sosioteknologi ini juga sangat erat dengan konstruksi sosial teknologi sebuah pendekatan sosiologikal lain terhadapa teknologi. Bahwa teknologi adalah sebuah pencitraan demand masyarakat yang dapat merubah citra masyarakat itu. Jadi, kebutuhan terhadap teknologi adalah benar-benar sebuah kebutuhan sosial itu sendiri dan bukan sekedar kebutuhan teknologi semata. Bahkan perkembangan teknologi hanya didasarkan pada kebutuhan sosial dan masyarakat terhadap teknologi itu serta upaya pencitraan terhadap teknologi. Citra terhadap teknologi tidak pernah lepas dari simbol dan kelas sosial masyarakat bahkan masyarakat memberi penghargaan kepada teknologi tidak saja karena fungsi teknologi itu bermanfaat untuk masyarakat namun karena teknologi itu menjadi simbol dan pencitraan terhadap kelas sosial seseorang. Dengan demikian teknologi memiliki dua fungsi yaitu:

1. Mekanik yang melekat sebagai sebab fungsional teknologi dan

2. Fungsi sosial bahwa teknologi adalah pencitraan terhadap masyarakat yang memakainya.

Fungsi-fungsi teknologi ini kadang tidak memiliki hubungan sebab-akibat bahwa fungsi mekanisasi teknologi tidak selamanya berhubungan dengan fungsi sosial. suatu contoh, seseorang yang membeli BMW tidak ada hubungan dengan manfaat mekanik yang ia peroleh karena kalau menaiki mobil mewah dan nyaman sebenarnya ia memiliki banyak mobil semacam itu, namun justru ia memperoleh manfaat sosial yang tinggi dan pencitraan kelas tertinggi bagi masyarakat yang menggunakan mobil mewah bermerk BMW.

Dengan demikian, konstruksi sosial terhadap fungsi-fungsi sosial teknologi berupa simbol kemegahan, simbol kecanggihan, simbol kenyamanan, simbol keselamatan, simbol kemajuan, simbol kemodernan dan sebagainya dari sebuah teknologi yang semuanya menjadi piranti-piranti kokoh dalam sebuah konstruksi pencitraan terhadap simbol kelas sosial yang tinggi di masyarakat. Sebaliknya simbol kelas sosial ini memiliki padanan terhadap nilai-nilai kebendaan yang tinggi pula dan dapat dipertukarkan serta melekat pada kelas sosial tertentu. Jadi misalnya HP (telepon genggam) adalah simbol kemodernan dan gaya hidup masyarakat modern dan karena itulah harganya relatif mahal atau biaya operasionalnya relatif mahal tetapi gaya hidup masyarakat modern tidak pernah mempersoalkan harga yang mahal yang penting ia dapat bergaya modern/gaul/gaya hidup kota metropolitan. Dengan biaya yang harus dikeluarkan mereka mendapat menikatai kesenangan apa saja yang ada pada telepon genggam itu dan semua kesenangan yang ada dalam masyarakat. Ada nilai yang sepadan antara gaya hidup orang kota dengan kemampuan ekonominya serta kenikmatan-kenikmatan yang diperolehnya di masyarakat. Karena itu pula maka hampir semua barang mewah selalu identik dengan kelas sosial tertentu, dengan uang, dengan wanita cantik. Sebuah padanan yang secara klasik selalu berhubungan satu dengan lainnya, yaitu kelas sosial dapat memobilisasi uang dan wanita cantik atau sebaliknya.

Dengan demikian model produksi teknologi media adalah untuk melayani kebutuhan kapitalis dan kebutuhan kapitalis selalui mengeksploitasi kepentingan masyarakat ke dalam kepentingan pribadi mereka untuk melipatgandakan kapitalnya sebanyak-banyaknya. Inilah akar persoalannya.

Jadi konvergensi media massa yang menggabungkan berbagai media massa menjadi media massa mixer dalam konsepsi komunikasi massa di satu sisi terkesan memanjakan masyarakat serta merupakan kebutuhan dan kemudahan artifak budaya masyarakat yang bernama teknologi itu, namun disisi lain pencitraan terhadap teknologi itu merupakan upaya kapitalisme untuk mencari untung di balik keuntungan teknologi tersebut. Sayangnya masyarakat seringkali tidak menyadari bahwa teknologi milik mereka, karya mereka, hak azasi mereka, karena itu tidak satupun kepentingan yang dapat memanfaatkannya untuk kepentingan yang lain, bahkan sebaliknya, justru masyarakat menjadi bagian terpenting dari sistem produksi kapitalis itu sendiri dengan memberi dukungan terhadap kaum kapitalis dengan cara mengkonsumsi teknologi (reproduksi kapitalis) tersebut. Semua ini karena masyarakat memang tidak berdaya dan kehilangan keberdayaannya ketika menghadapi kapitalisme. Memang paham ini yang memenangkan pertarungan hari ini dan esok tapi lusa dan kemudian hari siapa yang menang kita tanya saja pada rumput yang sedang bergoyang!!!???

4. Imperialisme Struktural

Salah satu kelompok teori yang paling keras mengecam dominasi negara maju atas negara berkembang dalam penyebaran arus informasi adalah kelompok Imperialisme, dengan salah satu tokoh terkemukanya adalah Johann Galtung. Beliau tidak masuk dalam jajaran ilmuwan komunikasi tetapi teori-teori yang dilontarkan sangat relevan untuk memahami gejala ketidakseimbangan arus informasi. Galtung memperkenalkan teori yang diberi nama Teori Struktural tentang Imperialisme. Menurut Galtung berlangsung sebuah pola hubungan antara negara maju dengan negara dunia ketiga yang tidak seimbang dimana negara maju endominasi negara lain dalam berbagai aspek kehidupan.

Galtung mendefinisikan imperialisme secara sederhana yaitu coraj hubungan dimana sebuah masyarakat mendominasi masyarakat lainnya, ini bisa berlangsung secara parsial ( sebagian-sebagain) atau secara struktural ( keseluruhan ). Misalnya saja bila buah-buahan Thailand mendominasi pasar di Indonesia sudah bisa dikatakan adanya dominasi Thailand di Indonesia; namun itu hanya dalam tahap parsial, itu berkembang menjadi dominasi yang bersifat struktural, bila dominasi berlangsung di segenap aspek penting kehidupan lainnya.

Imperialisme struktural dalam pandangan Galtung adalah sebuah imperialisme dalam sektor ekonomi, politik, militer, sosial, sosial, kultural dan komunikasi. Dan dominasi akan menemukan wujud yang optimal seandainya itu berlangsung secara serentak di semua wilayah dan segenap aspek kehidupan dengan tekanan khusus pada sektor kultural. Bila sifatnya imperialisme parsial maka setiap saat dominasi itu bisa diganti, misalnya buah-buahan tadi atau bahkan barang-barang elektronik Jepang, bila ada negara lain yang menawarkan produk unggul dengan harga lebih murah dengan mudah negara yang semula mendominasi akan disingkirkan, akan tetapi bila dominasi itu dalam bidang kebudayaan, komunikasi, ekonomi, politik dan sebagainya tentu saja tidak mudah suatu negara memilih mitra yang satu dan menyingkirkan mitra yang lain hanya karena “lebih murah” misalnya. Hubungan antara negara Barat dan negara berkembangan dalama Galtung berada dalam bentuk imperialisme struktural tersebut.

Menurut Galtung hubungan imperialistik ini sebetulnya berlangsung sudah sejak lama akan tetapi bentuknya yang berbeda-beda semula negara Barat menjajah dan mengeksploitasi negara non-Barat dengan cara pemaksaan menggunakan kekuatan militer, kini penjajahan dilakukan secara halus. Sebagai analogi penjajahan berlangsung secara halus tampak pada pola pertukaran yang didasarkan pada comparative advantages, misalnya negara berkembang memasok bahan menth (seperti minyak, gas bumi, hasil pertanian) sementara negara maju memasok barang manfaktur. Dalam pola hubungan ini seolah-olah terjadi interaksi yang simetris padahal sebuah jurang sangat mungkin terbuka dan akan melebar sebagai akumulasi dari apa yang diperoleh kedua belah pihak dari pertukaran itu.

Persoalannya menurut Galtung terdapat perbedaan mendasar dalam efek yang termuat di dalam interkasi. Ini terutama sekali terlihat dalam hal tingkat pengolahan (level of processing). Dalam negara produsen bahan mentah, hampir-hampir tidak ada efek intra-aktor( dalam negeri) yang posistif. Sementara dalam negara yang memproduksi manufactured goods, efeknya sangat luas karena kompleksitas produk dan keterkaitannya dengan masyarakat.

Contoh sederhana: negara yang memproduksi barang elektronik membutuhkan riset. Ide-ide baru tidak datang dengan sendirinya, namun membutuhkan pemikiran dan pengkajian serius yang terus menerus. Namun untuk bisa mengembangkan riset juga dibutuhkan infrastruktur, salah satunya adalah basis kultural di universitas. Dan ketika pusat-pusat penelitian dikembangkan, ini pada gilirannya memiliki efek dalam wilayah sosial, politik dan militer. Semakin tinggi tingkat pemrosesan (seperti komputer dibandingkan tekstil), semakin jauh efek ikutannya.

Bandingkan dengan negara yang terutama memproduksi bahan mentah, seperti minyak. Karena proses pengelohan minyak tidak rumit, tidak ada kebutuhan serius bagi pengembangan lembaga-lembaga riset. Karena tidak ada infrastruktur riset, negara-negara ini terpaku pada produk yang itu-itu saja. Ketika itu terus berlangsung, negara-negara tersebut terus tertinggal. Tambahan lagi tingkat elastisitas tuntutan kedua jenis kebutuhan itu juga berbeda. Kebutuhan akan bahan mentah terbatas. Berbeda sekali dengan kebutuhan akan barang konsumen yang sangat elastis. Bandingkan antara kebutuhan beras dan kebutuhan barang elektronik.!!!

Menurut Galtung agar eksploitasi terselubung ini bisa langgeng bertahan harus ada kerjasama antara elit di negara maju dengan elit di negara berkembang. Dalam hal mekanisme penetrasi merupakan faktor yang menentukan. Gagasan dasar dari penetrasi adalah negara maju memnetrasi “dibawah kulit” negara berkembang dengan membangun sebuah “bridgehead” (jembatan penghubung) disana. Yang disebut jembatan penghubung adalah elit-elit negara berkembang yang akan berperan penting dalam struktur keseluruhan imperialisme. Di negara berkembang elit ini adalah kalangan yang berpendidikan tinggi, memiliki status sosial ekonomi tinggi, memiliki mobilitas tinggi dan menempati posisi menentukan dalam proses pengambilan kebijakan.

Terdapat dua elemen dasar dalam mekanisme bridgehead yaitu:

1. Harmoni antara elit di negara manju dengan elit di negara berkembang untuk menjadikannya berfungsi maka bridgehead harus tetap memperoeh tingkat kehidupan yang sangat menyenangkan. Kaum elit di negara maju harus senantiasa bersedia menganugrahkan kepada kuam bridgehead ini sebagian besar daripada yang mereka sendiri nikmati dan miliki. Hubungan harmonis antara keduanya akan menjadi penjamin bagi kelanggengan dominasi. Dengan kata lain kaum elit harus dimanjakan kehidupannya, mereka harus dibuat seolah-olah menjadi bagian sah dari sebuah masyarakat elit dunia. Apa yang dinikmati atau menjadi simbol budaya kaum elit di negara maju harus bisa dinikmati dan menjadi simbol budaya kaum elit negara berkembang. Dalam hal ketersediaan segenap budaya populer (musik, film, fastfood) negara maju di negara berkembang merupakan bagian dari pemanjaan kaum elit tersebut.

Ketika kaum elit negara berkembang merasa menjadi bagian dari sebuah masyarakat elit dunia maka diteorikan mereka dengan sendirinya akan selalu mengacu pada kepentingan kaum elit negara maju. Dengan kata lain mereka tidak akan bersedia mengubah tatanan hubungan yang ada karena perubahan itu akan mengancam segenap kenikmatan yang selama ini mereka rasakan.

2. Dan sebagai akibat elemen pertama diatas maka berlangsung apa yang Galtung sebut sebagai “Distribusi Ketidakmerataan Yang Tidak Egaliter” (inegalitarian distribution of inequality) maksud konsepnya bukan hanya akan terdapat ketidakmerataan antara negara maju dan negara berkembang namun juga antara jurang yang jauh lebih buruk antara kaum elit dengan kaum alit di negara berkembang. Jadi dalam pandangan Galtungmengingat kehidupan rata-rata di negara berkembang jauh lebih rendah maka agar elit di negara berkembang bisa menikmati segenap kemewahan yang telah di miliki elit negara maju maka jumlah elit di negara berkembang harus berjumlah sedikit. Dengan kata lain jarak elit dan massa di negara berkembang pastilah besar.

Ini terjadi karena daya dukung ekonomi negara berkembang sebenarnya terbatas dan tidak mampu membiayai gaya hidup kaum elit di negara berkembang akibatnya kaum elit di negara berkembang terpaksa menyerap proporsi yang besar dari kekayaan ekonomi nasional, pembagian kekayaan di negara berkemabang menjadi tidak proporsional. Misalnya saja barang-barang kebutuhan mewah yang harus diimprot dari negara maju itu mahal, tuntutan gaji kaum elit menjadi sangat tinggi dibanding dengan tuntutan gaji massa.

Demikianlah menurut Johann Galtung pembentukan kesubmisifan antara antara kaum elit dengan massa di negara berkembang tergantung pada internalisasi total dari ideologi negara maju yang hanya bisa dicapai melalui proses penetrasi, dalam proses inilah komunikasi massa menjadi penting adanya

5. Imperialisme Kultural

Bila Galtung melahirkan teori imperialisme struktural dengan komunikasi sebagai salah satu komponen terpenting maka Herbert Schiller memberikan perhatian lebih khusus pada dominasi komunikasi di tingkat arus informasi internasional.

Schiller berangkat dari asumsi bahwa dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi oleh negara-negara Barat – terutama Amerika Serikat adalah bagian niscaya dari logika pembentukan sistem kapitalisme dunia, dengan negara-negara tersebut berada dalam puncak hirarki-nya.

Menurut Schiller, konsep imperialisme kultural adalah keseluruhan proses dengan mana sebuah masyarakat digiring ke dalam sistem dunia modern dan strata yang mendominasi (maksudnya elit) diiming-imingi, ditekan, dipaksa, dan kadang-kadang disuap untuk menjadikan pranata-pranata sosial serasi dengan atau bahkan mendukung nilai dan struktur pusat sistem yang mendominasi.

Dengan kata lain Schiller melihat dominasi komunikasi oleh Barat lebih spesifiknya lagi Amerika Serikat tidak lain adalah sarana perluasan pasar yang dibutuhkan dalam proses akumulasi kapital para industrialis Barat.

Menurut Schiller, dalam sebuah sistem kapitalisme dunia, negara-negara berkembang akan dipandang sebagai bagian dari pasar tunggal, dengan produksi yang ditentukan di pusat-pusat perusahaan multinasional (disebut juga MNC, Multinational Corporation). Untuk itu negara-negara maju berkepentingan untuk mempromosikan dan kemudia memasarkan barang-barangnya ke negara-negara berkembang tersebut. Masalahnya proses tersebut seringkali terganggu dengan adanya aturan-aturan yang menghambat kelancaran pemasaran barang, misalnya karena adanya aturan untuk menomorsatukan produksi atau budaya dalam negeri atau aturan yang sama sekali menolak sejumlah produk dari luar negeri (misalnya barang mewah)

Sikap protektif semacam ini dianggap menghalangi peluang untuk menjadikan dunia ini sebagai pasar tunggal. Karena itu harus ada upaya untuk menciptakan kesamaan nilai dan asumsi terutama di kalangan manajemen tingkat atas di negara-negara tersebut. Dalam hal inilah menurut Schiller, informasi dan komunikasi menjadi komponen-komponen vital. Melalui informasi yang terus menerus ke jajaran elit sebuah negara, akan berlangsung apa yang disebutnya sebagai pengambilalihan kebudayaan (cultural takeover) sebagaimana Johann Galtung, Herbert Schiller menyebut bahwa itu semua berlangsung melalui proses penetratif, melalui pendidikan, bisnis kebudayaan, bahasa, turism, dan tentu saja media massa. Karena itu, negara-negara maju berkepentingan sekali dengan kebebasan arus informasi antar negara karena itu sarana ampuh penyebaran ideologi dan nilai.

Dalam pandangan Schiller dominasi negara-negara maju—terutama Amerika Serikat diorganisir oleh sebuah kelompok komandan komersial yang sangat terkonsentrasi, meluas ke seluruh penjuru dunia, wilayah tersebut tumbuh secara signifikan dari tahun ke tahun. Dalam hal ini sebuah sistem komunikasi yang sangat berkekuatan hadir untuk mengamankan perluasan tersebut dengan mengidentifikasikan kehadiran Amerika dengan kebebasan—kebebasan perdagangan, kebebasan berbicara, dan kebebasan berusaha. Dengan kata lain, menurut Schiller, ketika AS bicara tentang kebebasan pers sebagai pilar utama demokrasi sebenarnya mereka sedang bicara tentang kebebasan untuk mempromosikan dan memasrkan barang-barangnya.

Dalam strategi ini, para pengusaha bisnis AS ini tidak berjalan sendiri melainkan didukung (bila tidak boleh dikatakan dilindungi?!) oleh para pengambil kebijakan pemerintah AS. Perjuangan kebebasan arus informasi dala hal ini dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai forum internasional.

Bila kita menggunakan kerangka berpikir Galtung dan Schiller

terlihat bahwa arus informasi dari negara maju ke negara berkembang pada dasarnya bukanlah hal yang essensial bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat negara berkembang sendiri. Perubahan nilai-nilai tradisional yang oleh kaum modernis dipandang sebagai prasyarat pembangunan justru dalam pandangan Galtung dan Schiller adalah sekedar prasyarat yang dibutuhkan agar negara berkembang dapat terus menjadi sarana eksploitasi atau menjadi pasar potensial bagi produk negara maju.

Michael Kunczik misalnya menyatakan, akibat dari membanjirnya arus informasi negara maju ke negara berkembang lahirlah apa yang disebutnya sebagai konsumerisme parasitik. Jadi, alaih-alih meniru sistem nilai yang menghasilkan tradisi kewiraswastaan yang ditemukan di negara maju, kaum elit negara berkembang hanya mengadopsi gaya konsumsi masyarakat negara maju yang menjadi panutannya. Padahal gaya konsumsi massa tinggi itu – seperti diteorikan Rostow — hanya bisa dijalankan pada tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah matang dan mapan. Ketika gaya semacam itu diadopsi saat tingkat pertumbuhan ekonomi rendah, yang terjadi adalah pengurasan tabungan untuk hal-hal yang tidak produktif, apalagi barang-barang mewah itu harus diimport; maka pembangunan ekonomi pun terhambat.

Tidak hanya itu saja sebenarnya sumber ke khawatiran lain adalah dampak budaya dari arus globalisasi ini, mengapa demikian? Sebuah produk budaya sesungguhnya tidaklah berdiri sendiri. Produk budaya itu dipengaruhi oleh gagasan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat yang melahirkannya; dipengaruhi oleh kondisi-kondisi politik-sosial-ekonomi yang tengah berlangsung pada saat dilahirkannya; dipengaruhi oleh kepentingan dan kepedulian para artis yang menciptakannya dan sebagainya. Ketika produk itu telah lahir dan disebarluaskan—sebagai barang dagangan atau tidak, misalnya sebagai kaset musik, film, acara televisi, berita, buku ilmiah bahkan komik—memang nampak seperti “berdiri sendiri” namun pada dasarnya ia tidak dapat dilepaskan dari kompleksitas unsur-unsur tadi.

Contohnya adalah produk-produk media Barat yang semakin permisif secara seksual. Ini harus dikaitkan dengan revolusi seks yang berkembang sejak tahun 1950-an, perkembangan desakralisasi seks, perubahan cara pandang mengenai keluarga, berkaitan pula dengan perubahan cara pandang mengenai kesucian agama serta keberagaman masyarakat Barat. Ini tercermin dalam berbagai produk media Barat; dari lirik musik sampai Iklan.

Ketika disebarkan di AS sendiri, produk-produk tersebut mungkin memang tidak menimbulkan masalah serius karena masyarakat yang mengkonsumsinya hidup dalam konteks kebudayaan yang sama. Namun ketika disebarkan di negara-negara berkembang, hal ini potensial sekali untuk terjadinya konflik dalam masyarakat karena ketidaksesuaian dengan budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Contoh lain, adalah film Amerika yang dihasilkan saat ini mencerminkan sebuah masyarakat kapitalistik yang mencapai kemajuan ekonomi yang sangat mengagumkan—yang antara lain dicirikan dengan konsumsi massa bahkan terhadap barang-barang mewah. Ketika masyarakat negara berkembang menyaksikan dan mengagumi gaya hidup semacam itu, itu akan menimbulkan masalah karena ekonomi negara-negara berkembang sebenarnya belum siap menganut gaya hidup semacam itu.

Budaya dalam hal ini juga berarti budaya politik. Informasi dipandang sebagai sesuatu yang ditentukan oleh sistem politik yang sangat mewarnai budaya politik yang berlaku di masing-masing negara. Misalnya dalam hal kebebasan pers. Di negara-negara berkembang, dinamika politik yang sangat diwarnai konflik tidak menjadi karakteristik budaya politik mereka. Di negara-negara tersebut, tidak ada anggapan bahwa harus ada oposisi atau bahwa pers harus berperan sebagai lembaga pengontrol pemerintah. Juga tingkat penghormatan kepada pimpinan politik di Barat jauh lebih rendah dibanding dengan di Timur. Akibatnya dominasi teknologi komunikasi dan arus informasi melalui media massa negara maju yang diwarnai budaya mereka sendiri dianggap potensial menciptakan konflik.

6. Konsumerisme sebagai Produk Budaya Global

Masyarakat kapitalisme global dibangun di atas iklim persaingan yang tinggi. Persaingan yang ketat antar perusahaan mendorong strategi untuk menciptakan persaingan dalam gaya hidup; antar kelas, antar golongan, antar tetangga, antar umur,. Kehidupan sosial kemudian dikonstruksi atas dasar budaya perbedaan; penampilan, gaya, gaya hidup yang senantiasa berubah dengan tempo yang semakin tinggi. Diciptakan fobia terhadap sesuatu yang usang; dikondisikan gaya belanja yang berlebihan, diciptakan kegandrungan terhadap citra ketimbang fungsi atau subtansi.

Konsumsi dalam bentuknya yang sekarang di dalam masyarakat kapitalisme global tidak lagi sekedar berkaitan dengan pemenuhan nilai fungsional dalam pengertian yang sempit; ia kini adalah cara pemenuhan material sekaligus simbolik.

Memenuhi kegiatan konsumsi dengan makna-makna simbolik tertentu (prestise, status, kelas) dengan pola dan tempo pengaturan tertentu, itulah sebetulnya hakikat dari apa yang disebut budaya konsumerisme. Budaya konsumerisme adalah sebuah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan diferensi secara terus menerus lewat penggunaan citra, tanda, dan makna simbolik dalam proses konsumsi. Ia adalah juga budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya di dorong oleh logika hasrat (desire), dan keinginan (want) ketimbang logika kebutuhan (need).

Oleh sebab itulah, mesin kapitalisme global disebut juga sebagai mesin hasrat artinya disamping memproduksi barang-barang, kapitalisme juga memproduksi hasrat sekaligus. Barang-barng yang diproduksi sebagai cara untuk mengeksploitasi dorongan-dorongan hasrat pada diri manusia yang tanpa batas. Kapitalisme adalah sebuah sistem self-production hasrat yang tanpa henti. Salah satu fondasi dari produktifitas hasrat di dalam sistem kapitalisme global adalah sebuah kondisi yang diciptakannya sehingga seolah-olah hasrat itu selalu dilegitimasi oleh kebutuhan, artinya ada upaya-upaya secara sistematis untuk menjadi hasrat sebagai kebutuhan yaitu dengan cara menciptakan kebutuhan yang bukan essensial melainkan artifisial.

Dalam hal ini, kapitalisme selalu menciptakan perasaan kurang (lack) atau perasaan tidak sempurna (imperfection) pada diri setiap orang, yang mendorong mereka untuk terus mengkonsumsi, semata-mata agar proses produksi kapitalisme dapat terus berlanjut.

Di dalam kapitalisme global yang mengalir dari satu kawasan ke kawasan lain tidak hanya sekedar barang atau produk akan tetapi juga energi-energi hasrat yang beroperasi di balik barang atau produk itu. Yang mengalir dari satu negara ke negara lain tidak hanya sekedar body lotion, video clip, slimming master atau trendy suit akan tetapi juga meliputi kegairahan, kemabukan, kecabulan global, dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan ekspansi teritorial, kapital, dan pasar akan tetapi lebih dalam lagi ekspansi terhadap nilai-nilai kultural, adat, moral, dan keagamaan lewat perputaran energi libido bersamanya.

Sebuah mini suit tidak hanya mengajak setiap orang bergerak bebas tetapi juga mengajak mereka untuk meninggalkan ajaran moral, ajaran adat bahkan agama yang telah diwarisi.

Logika budaya lain kapitalisme adalah logika kecepatan. Kecepatan dan percepatan di dalam wacana kapitalisme global adalah sebuah kebutuhan bagi percepatan dalam perputaran dan akumulasi modal sehingga diciptakan tempo konsumsi yang tinggi. Apa yang disebut dengan percepatan turn-over tidak lain dari upaya percepatan produksi, sirkulasi, dan konsumsi barang-barang konsumtif. Dalam kapitalisme waktu perputaran modal ini cenderung semakin diperpendek, dengan cara mempercepat tempo produksi dan dengan demikian mempercepat tempo kehidupan secara total.

Kapitalisme global adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun berdasarkan sebuah keyakinan laissez faire yang memberikan kepercayaan penuh pada mekanisme pasar dalam menentukan arah pertumbuhan (ini tercermin dari prinsip pasar bebas). Salah satu bentuk utama dari mekanisme pasar adalah bahwa agar pertumbuhan tetap berlangsung, maka di satu pihak industri harus tetap berproduksi, di lain pihak orang harus tetap mengkonsumsi. Dengan perkataan lain agar tetap hidup kapitalisme global harus memproduksi konsumsi itu sendiri.

Memproduksi konsumsi artinya menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial, luks atau semu, yang sebenarnya tidak essensial. Masyarakat dikonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah untuk memenuhi segala bentuk hasratnya (prestasi, status, simbol)

7. Penutup

Wajah globalisasi adalah wajah paradoks. Paradoks globalisasi tercipta sebagai akibat hadirnya secara bersamaan—dan dalam ruang waktu yang sama—dua sifat yang saling bertentangan satu sama lain secara kontradiktif, misalnya: globalitas vs lokalitas, homogenisasi vs heterogenisasi. Di satu sisi ada kecenderungan terciptanya unifikasi, aliansi dan kesalingbergantungan; terjadinya homogenisasi, standarisasi dan generalisasi; terciptanya dunia tanpa batas (borderless world), masyarakat terbuka (open society), dan pasar bebas (free market) sementara di sisi lain berkembang separatisme, otonomi, dan desentralisasi, pluralisme.

Di Indonesia sendiri berkembangkan pola-pola yang kontradiktif yang seperti itu mewarnai perubahan sosial dan kultural akhir-akhir ini: kontradiktif antara integrasi atau disintegrasi, globalisme atau lokalisme, sentralisasi atau desentralisasi. Di satu pihak kehidupan sosial masyarakat kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai bentuk konflik sosial dan kultural yang dilandasi oleh berbagai sentimen kesukuan, keagamaan, ras dan kedaerahan yang kemudian berkembang ke dalam berbagai bentuk konflik dan kekerasan, kerusuhan dan pembataian. Berbagai bentuk konflik dan kekerasan tersebut tidak dapat dipisahkan pula dengan berbagai gagasan otonomi, separatisme bahkan kemerdekaan yang disuarakan oleh kelompok suku, agama dan daerah tertentu, yang menciptakan sebuah ancaman disintegrasi baik pada tingkat geopolitik maupun pada tingkat geokultural.

Di lain pihak, pola-pola kehidupan sosial dan kultural sehari-hari masyarakat akhir-akhir ini memperlihatkan berbagai pengaruh yang amat kuat dari apa yang disebut sebagai pola-pola kehidupan masyarakat global (global society) dan budaya global (global culture). Lewat berbagai teknologi (teknologi informasi, telekomunikasi, televisi, internet), lewat berbagai agen (kapitalis, produsen, artis) dan berbagai produknya (barang, tontonan, hiburan) budaya global tak henti-hentinya melancarkan serangan terhadap masyarakat etnis, yang sampai satu titik mereka menerima berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup bahkan pandangan hidup yang dilain pihak telah mengancam eksistensi berbagai bentuk warisan adat, kebiasaan, nilai identitas nasional, dan simbol-simbol dari budaya lokal.

8. Sumber Buku Rujukan

MacBride, S, 1983, Aneka Suara, Satu Dunia, PN Balai

Pustaka-Unesco, Jakarta.

Mahayana, Dimitri, 1999, Menjemput Masa Depan, Remaja

Rosdakarya, Bandung.

McLuhan, Marshal, 1999, Understanding Media, The Extension

Of Man, The MIT Press, London.

Mulyana, Deddy, 1999, Nuansa - Nuansa Komunikasi,

Rosdakarya, Bandung

Piliang, Yasraf Amir, 2004, Posrealitas Realitas Kebudayaan

dalam Era Posmetafisika, Jalasutra, Yogyakarta.

Tester, Keith, 2003, diterjemahkan Muhammad Syukri, Media,

Budaya, Moralitas, Kerjasama Juxtapose dan

Kreasi Wacana, Yogyakarta.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.