Agus Setiaman


PERSPEKTIF EVOLUSI
November 25, 2008, 7:39 am
Filed under: SOSIOLOGI KOMUNIKASI

PENDAHULUAN

Umumnya orang berpendapat bahwa ide mengenai kemajuan –salah satu tipe dasar perkembangan linier—hanya akan ditemukan jika kita memasuki era modern. Konsep linier tentang sejarah terlihat dari karya St. Augustine yang menulis secara rinci mengenai kebangkitan, kemajuan, dan tujuan yang ditentukan dari dua kota yakni kota Tuhan dan kota Dunia. Sejarah adalah proses interaksi antara dua kota itu. Kota yang satu menderita gangguan setan dan yang satunya lagi mendapat rahmat tuhan. Kedua kota itu mempunyai keyakinan, harapan dan cinta yang berbeda..

Di dunia modern ide kemajuan menjadi tema dominant dan di abad ini saja kemajuan itu muncul dalam pikiran manusia. Teoritisi perkembangan percaya bahwa pada dasarnya evolusi manusia dan masyarakat itu berjalan lambat namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik.

Perkembangan masyarakat menurut August Comte

Comte (1798-1857) umumnya telah dikenal sebagai Bapak Sosiologi sebagian karena ia menciptakan nama sosiologi, kalau dilihat karyanya Comte sebenarnya bukan penemu tetapi lebih sebagai orang yang mensistematiskan karya sosiologi. Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Aspek statis sosiologi serupa dengan apa yang kita sebut sekarang ini dengan struktur social, system social dan aspek dinamisnya mengacu pada perubahan social, kebudayaan.

Studi sosiologi dinamis mengkaji tentang urutan perkembangan manusia dan masyarakat dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Tugas sosiologi adalah menemukan hokum-hukum yang menentukan urutan-urutan perkembangan itu. Penemuan hokum-hukum itu selanjutnya akan menyediakan basis rasional bagi memudahkan kemajuan umat manusia.

Dalam menemukan hokum-hukum rentetan sejarah perkembangan manusia dan masyarakat sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya yaitu: tingkat teologis atau khayalan, tingkat metafisik atau abstrak, tingkat ilmiah atau positif.

Ketiga tibgkat itu Comte menyebutnya sebagai hokum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan.

Tahap Teologis

Pada tingkat ini fikiran berfungsi mengira semua fenomena diciptakan oleh zat adikodrati.

Comte membagi lagi tahap ini menjadi tifa tingkat yaitu:

1. Kepercayaan terhadap kekuatan jimat ( fetishisme)

Kepercayaan terhadap jimat menandai awal teologis umat manusia. Di tingkat ini manusia membayangkan semua benda yang ada di alam ini dihidupkan oleh kekuatan yang sama yang menghidupkan dirinya. Pada tingkat ini kekuasaan mulai muncul ( kekuasaan ketua suku, dukun, dll). Prilaku lebih banyak didasarkan pada kepasrahan dan kepura-puraan disbanding dengan pertimbangan akal. Mulai ada usaha menaklukan alam. Kehidupan keluarga mulai muncul.

2. Kepercayaan terhadap banyak dewa (polyteisme)

Pada periode ini mumcul kehidupan kota, pemilikan tanah menjadi institusi social, muncul system kasta dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng

3. Kepercayaan terhadap keesaan Tuhan (monotheisme)

Tahap ini mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja gagal memberikan basis yang langgeng bagi kehidupan social. mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan Negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat local kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.

Tahap Metafisik atau Abstrak

Tingkat ini merupakan modifikasi dari tingkat pertama yang mengasumsikan fikiran bukan ciptaan adikodrati tetapi ciptaan kekuasaan abstrak, sesuatu yang benar-benar dianggap ada, yang melekat dalam diri seluruh manusia dan mampu menciptakan semua fenomena..

Seiring dengan perkembangan pemikiran dalam tahap ini maka kekuasaan gereja dan militer mulai merosot.

Tahap Positif atau Ilmiah

Di tingkat ini fikiran manusia tidak lagi mencari id-ide absolute, yang asli dan yang mentakdirkan alam semesta dan yang menjadi penyebab fenomena tetapi mencari hukum-hukum yang menentukan fenomena artinya menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah-ubah dan kesamaannya. Nalar dan pengamatan menjadi alat utama dalam berpikir. Tata masyarakat yang akhirnya akan lahir dari berpikir ini akan menjadi suatu keadaan ideal dimana faktor-faktor materiil, pikiran dan moral akan digabungkan dengan tepat untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

Ditingkat positif agama dan kemunusiaan akan muncul, sosiolog akan menjadi pendeta agama baru dan akan membingbing manusia dalam kehidupan yang harmonis.

Kemajuan terjadi melalui penggunaan nalar dalam tingkat positif dari sejarah.

Menurut Comte tiga faktor yang menyebabkan manusia ingin maju yaitu:

1. Tingkat kebosanan

2. Lamanya umur manusia

3. Faktor demografi (pertambahan jumlah penduduk, tingkat kepadatan, mobilitas penduduk).

Perkembangan masyarakat menurut Herbert Spencer

Dalam pandangannya perkembangan masyarakat dianalogikan dengan perubahan masyarakat homogen ke masyarakat heterogen seperti masyarakat primitive dan masyarakat modern. Suku-suku primitive serupa dalam seluruh bagian-bagiannya tetapi masyarakat modern semua struktur dan fungsinya tidaklah sama. Selanjutnya seriring dengan peningkatan heterogenitas meningkat pula hubungannya.

Apa yang menggerakan mekanisme pertumbuhan ini? Dalam pandangan Spencer mekanismenya adalah perjuangan mempertahankan hidup antara berbagai masyarakat. Kesekuruhan proses penggabungan dan penggabungan ulang, perubahan dari homogenitas ke heterogenitas mustahil tanpa terjadinya konflik antara suku-suku dan antara bangsa-bangsa. Karena kelompok yang menyerang dan yang bertahan memerlukan kerjasama yang selanjutnya akan menuju ke peradaban. Dengan mengakui kengerian yang dihasilkan dari konflik itu Spencer berpendapat bahwa bila umat manusia terlepas dari konflik maka dunia ini tentu masih tetap dihuni oleh manusia lemah yang hidup di gua-gua dan hidup dengan mengumpulkan makanan dari hutan dan sungai.

Sebaliknya begitu manusia keluar dari pertumpahan darah antara masyarakat yang suka berperang itu, maka konflik antara manusia tdk diperlukan lagi. Ini membawa pikiran kita pada dua tipe masyarakat yang dapat diklasifikasikan dalam yaitu masyarakat militant dan masyarakat industri yang merupakan tipe umum evolusi manusia. Tetapi kedua tipe ini tidak saling meniadakan dalam teori dan kenyataannya., kedua tipe ini saling bercampur baur. Namun kecenderungan evolusi adalah dari tipe militant ke tipe masyarakat industri..

Karakteristik masyarakat militant:

1. Diorganisasikan berdasarkan kerjasama yang diwajibkan

2. Masyarakat militant mempunyai kekuasaan sentral, kekuasaan mutlak terhadap prilaku individu

3. Individu dikuasai oleh Negara

4. Pemeliharaan masyarakat menjadi perhatian utama sementara pemeliharaan individu bisa menjadi perhatian nomor sekian.

5. rakyat memiliki jiwa patriotisme yang berlebih-lebihan

6. Kepatuhan terhada kekuasaan mereka anggap penting dan tak terelakkan.

Sementara Karakteristik Masyarakat Industri:

1. Kebebasan yang semakian berkembang

2. Kesetiaan semakin berkurang

3. Keyakianan kecil kepada penguasa/pemerintah

4. Patriotisme mulai memudar

5. Penghormatan terhadap individualitas orang lain semakin besar.

Jadi Spencer memiliki pandangan terhadap suatu masyarakat dimana control pemerintah minimal dan setiap orang mengejar kebahagiaan mereka sendiri secara relative bebas sama dengan pandangan Adam Smith, Herbert Spencer yakin bahwa tujuan akhir masyarakat adalah masyarakat bebas (laissez fair society)

Teori Evolusi Dalam Konteks Modernisasi

Satu perangkat asumsi teori modernisasi berasal dari konsep-konsep dan metafora yang diturunkan dari teori evolusi. Menurut teori evolusi perubahan social pada hakekatnya merupakan gerakan searah, linier, progresif dan perlahan-lahan yang membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju atau modern dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur yang serupa.

Dibangun dari premis seperti ini, para teoritisi modern secara implicit membangun kerangka teori dgn ciri-ciri sebagai berikut:

§ Modernisasi merupakan proses yang bertahap

§ Modernisasi dapat dikatakan sebagai homogenisasi sehingga masyarakat terbentuk dengan tendesi dan struktur yang serupa.

§ Modernisasi terkadang mewujudkan dirinya dalam bentuk lahirnya sebagai proses Erofanisasi atau Amerikanisasi

§ Moderinisasi merupakan proses yang tidak dapat mundur karena tidak bisa dihentikan

§ Modernisasi merupakan perubahan progresif artinya memang diinginkan dan diperlukan

§ Modernisasi memerlukan waktu yang panjang.


2 Comments so far
Leave a comment

Agus? I like your blog. I don’t understand the language, but I like your blog nonetheless.

Comment by tancred62

ide yang sangat menarik walaupun sedikit kontroversial.,,
keren juga nih pak

Comment by Luzman




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: