Agus Setiaman


MEDIA TELEVISI DAN PRODUK BUDAYA MASSA
November 14, 2008, 4:21 am
Filed under: KAJIAN MEDIA MASSA

Pendahuluan

Setiap saat, setiap waktu, dari bangun sampai menjelang tidur sekalipun sadar atau tidak, suka ataupun tidak kita berada atau berhadapan dengan televisi. Sajian media televisi sepertinya sulit kita hindari, tayangan si kotak ajaib ini sepertinya menyihir setiap akativitas kita lalu dampak seperti apa yang muncul kemudian ketika kita santap dengan lahap setiap tayangan media ini mulai dari tayangan politik, butik, musik, sampai dengan mistik? Apa yang terjadi kemudian ketika media televisi langsung ataupun tidak menyebarkan ideologi baru, menyemai bibit benih baru yang sering disebut orang sebagai budaya massa.

Sekedar mengingat kembali sekitar awal Pebruari sampai pertengahan Maret tahun 2003 lalu, bahkan mungkin sampai saat ini, perhatian sebagian orang sempat tertuju pada fenomena goyang Inul Daratista. Artis pendatang baru di dunia musik dangdut, asal kota santri Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ketika itu, tidak hanya orang dewasa yang membicarakan goyang ngebor Inul, remaja dan bahkan anak-anak SD ramai meniru goyang Inul. Tidak hanya dikota-kota besar, bahkan dipelosok pedesaan terpencil sekalipun orang ramai membahas goyang Inul. Lebih dari itu, pembicaraan tentang goyang Inul menghiasi hampir seluruh media massa baik cetak maupun elektronik.

Berbagai komentar bermunculan dari berbagai kalangan baik mulai dari para artis, pengamat sosial, agamawan, budayawan, ilmuwan, mahasiswa, pelajar, karyawan, sopir bahkan tukang becak sekalipun. Komentar nya bermacam-macam ada yang merasa miris, resah, marah, prihatin, kagum, senang, dan berbagai perasaan lain yang mungkin berbeda-beda.

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menunjukkan sikap gerahnya dengan melakukan pelarangan tampil kepada artis Inul karena goyang ngebornya dinilai telah mengundang seksualitas penonton.

Lantas, apa sebetulnya yang membuat berbagai pihak “gerah”, menyaksikan goyang Inul padahal pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari fenomena goyang, gitek, dan geol yang bisa disaksikan dalam tari jaipongan, bajidoran, organ tunggal, dan sebagainya yang tak kalah panas dan tak kalah seronok dengan goyang ngebornya Inul Daratista.

Fenomena seperti itu tidak lepas dari ideologi media massa yang concern terhadap setiap fenomena sebagai sebuah produk yang harus dikemas, dipelihara sebagai sebuah komoditas yang siap disajikan kepada khalayak. Dengan konsep setiap fenomena merupakan komoditaslah yang menjadikan fenomena apapun akan makin menancapkan kukunya karena media massa baik cetak maupun elektronik kemudian mem-blow up berbagai komentar dari berbagai kalangan masyarakat baik yang keberatan maupun yang mendukung terhadap fenomena yang berkembang.

Di lain pihak, diakui ataupun tidak, perkembangan ekonomi yang semakin baik, interaksi dngan budaya luar memiliki dampak yang relatif luas, sehingga fenomena fun, fashion, dan fast food menempati pangsa pasar tersendiri pada masyarakat hedonestik yang sedang menggejala saat ini.

Tak pelak lagi kehadiran aneka macam hiburan, menjadi pusat perhatian dalam fenomena budaya massa akhir-akhir ini dengan goyang pinggul artis dangdut yang membuat semua mata laki-laki sulit berkedip menatap goyangannya, dengan gaya pakaian yang ditampilkan di televisi yang sulit membuat pemirsanya sukar menutup matanya, yang sajian makanan dan minumannya sulit menahan selera untuk segera mencicipinya

Fun, fashion, dan fast food adalah fenomena sebuah kehadiran ketika produk-produk budaya lahir yang dari mobilitas media. Hiburan, gaya pakaian, mode pakaian serta makanan cepat saja adalah fakta dari sebuah kehadiran dan wajah budaya pop yang dibesarkan oleh ideologi media. Dalam pandangan budaya massa publik adalah objek yang dihadapkan pada dua pilihan membeli atau tidak membeli.

Mitos Perempuan

Kelompok manusia yang sering disetarakan atau disebut-sebut dalam konteks budaya massa adalah kalangan perempuan suka ataupun tidak dalam pemahaman ini perempuan seringkali dikonsepkan secara kultural dan struktural sebagai mahluk yang cantik, lembut, sabar, emosional. Bahkan mahluk cantik yang bernama perempuan ini sering dikonsepkan sebagai mahluk yang tak bisa berpikir secara logis rasional. Perempuan katanya, mahluk yang cenderung berpikir menurut kata hatinya yang lembut dan emosional.

Isu yang senantiasa berkembang dalam permasalahan perempuan adalah tentang kodrat perempuan. Sering kita dengar perempuan boleh bekerja asal jangan melupakan kodratnya. Kodrat perempuan adalah mengurus anak, suami dan rumah tangganya. Kodrat perempuan seperti itu sepertinya benar padahal keliru karena mencerminkan kekurangpahaman orang akan penggunaan kata kodrat.

Dalam pemahaman R. Valentin Sagala, seorang aktivis perempuan, bahwa kodrat adalah ketentuan Tuhan. Karena itu, ia tak terbantahkan, kodrat perempuan adalah ia bervagina, memiliki rahim, mempunyai indung telur, berpayudara. Secara kodrati perempuan berbeda dengan laki-laki yang mempunyai penis, sperma dan buah zakar, karena itu fungsi reproduksi perempuan adalah melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Lain halnya dengan laki-laki yang tidak memiliki ketiga fungsi tersebut.

Kodrat berupa alat-alat biologis itu melekat pada manusia baik laki-laki maupun perempuan secara permanen dan universal serta tak dapat dipertukarkan antar keduanya. Perempuan tahun 1900-an sama dengan perempuan abad milenium sekarang ini. Universalitas kodrat perempuan dapat kita lihat perempuan di Jawa sama dengan perempuan di Sumatera, di Papua maupun di belahan bumi Eropa maupun Amerika sekalipun.

Dari paparan tersebut diatas, jelas bahwa mengurus anak, suami dan rumah tangga jelaslah bukan kodrat. Ini lebih merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa, salah kaprah, dari sini sebenarnya muncul konsep gender.

Gender adalah seperangkat ciri, sifat, karakteristik yang mengidentifikasikan kaum perempuan dan laki-laki yang dikonstruksikan oleh keadaan sosial dan kultural masyarakat. Berbeda dengan konsep kodrat yang permanen dan universal, gender dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dapat dipertukarkan dalam arti bahwa dalam kehidupan masyarakat dapat ditemukan ada perempuan yang rasional, perkasa dan sebaliknya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, dan keibuan misalnya.

Dalam konteks inilah, barangkali kehadiran perempuan yang tampil “berani” membuka auratnya, yang terbuka menyapaikan aibnya bisa menjadi bahan hujatan sebagian masyarakat kita, karena dalam mitos perempuuan di Indonesia, posisi perempuan masih dipertahankan dalam kodratnya sebagai perempuan yang mengurus anak, menyusui, mengurus suaminya di rumah.

Proses konstruksi sosial dan kultural yang melahirkan isu gender ini telah berlangsung secara bertahap dan terus-menerus di dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Posisi media massa dalam kaitannya dengan isu gender menjadi menarik karena media massa dapat mendorong atau bahkan menghambat terjadinya perubahan yang signifikan.

Bila media massa yang berfungsi sebagai media informasi bagi masyarakat masih meletakan unsur ketidakadilan gender pada produk dan institusinya maka sulit dibayangkan bagaimana proses pemberdayaan (empowering) berjalan dengan baik.

Proses pemberdayaan ini sendiri menjadi penting mengingat saat ini banyak pihak yang menyadari bahwa salah satu akar ketimpangan dan posisi marjinal perempuan sesungguhnya terjadi karena posisi tawar kaum perempuan dihadapan laki-laki. Dalam upaya menghapuskan terjadinya eksploitasi, diskriminasi dan marjinalisasi kaum perempuan maka pemberdayaan menjadi jalan keluar terbaik.

Dalam pandangan Caroline Moser aktivis perempuan, bahwa yang menjadi inti dari pemberdayaan perempuan itu bukanlah penciptaan perempuan yang lebih unggul dari laki-laki atau pendominasian balik dari yang satu terhadap yang lainnya, melainkan lebih pada pembentukan kerangka kapasitas perempuan meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal ( Soemandoyo, 1999 : 61-62).

Dengan demikian, yang seharusnya diperjuangkan dalam hal ini adalah dipenuhinya hak perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya serta memberikan kekuasaan kepada perempuan melalui pendistribusian kembali kekuasaan di dalam masyarakat, yang antara lain melalui media massa.

Fenomena gender dapat dengan mudah kita temukan dalam media massa berbagai berbagai tayangan program seperti film, sinetron, iklan, musik dan isi pemberitaan. Dalam tayangan iklan jamu atau kondom misalnya mensugestikan bahwa dengan mengkonsumsi jamu atau kondom seorang istri dapat mengikat suami agar betah dirumah. Dalam hal ini istri dipandang sebagai mahluk yang bernafsu, penuntut seks. Hal semacam ini menggambarkan betapa pengaruh patriarki telah subur di dalam diri para kreator iklan dan agensi-nya.

Media Massa dan Budaya Massa

Dalam perkembangan masyarakat saat ini, media massa dipandang sebagai pencipta kebudayaan massa. Di satu sisi media massa merupakan konsekuensi dari lahir dan adanya masyarakat industri, di sisi lain dengan kemampuannya sebagai extension of man dan potensinya melipatgandakan pesan media massa membawakan dan menyebarluaskan simbol-simbol budaya masyarakat industri yang kemudian me-massa. Tetapi juga harus dipahami media massa dilahirkan dari perut masyarakat industri. Dengan kata lain, kebudayaan massa lebih diartikan sebagai hasil lingkungan masyarakat industri yang telah berkembang. Karena industri biasanya berkembang di kota-kota, maka budaya massa juga terutama ada dan berkembang di kota-kota.

Dari sinilah timbul keyakinan bahwa kebudayaan kota merupakan hasil sentuhan lembaga-lembaga industri, perusahaan komersial dan lembaga lain yang kemunculannya menyusul dan berkaitan dengan berlangsungnya proses industrialisasi.

Dalam setting budaya massa aspek utama adalah pada faktor hiburan bukan kedalaman makna apalagi kedalaman filosofi yang dikembangkan dalam suatu tayangan. Hiburan telah menjadi semacam ideologi utama bagi industri media massa. Ini berarti segala sesuatu yang akan dijadikan acara atau program media massa akhirnya harus dikemas sebagai hiburan. Demikian pula dengan para pemirsa atau pembaca media massa memiliki predisposisi untuk menikmati hiburan. Sehingga tolok ukur penilaian bagus tidaknya suatu tayangan atau program ditentukan seberapa besar kandungan hiburannya.


1 Comment so far
Leave a comment

Comment by agus




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: